Syekh Abdulwahhab Fayed, Pelopor Ilmu Infiltrasi dalam Tafsir Al-Quran
Di era kontemporer, ketika mengambil spesialisasi Tafsir dan Ilmu Al-Quran di perguruan tinggi, kita akan disuguhi salah satu mata kuliah Ad-Dakhil fi At-Tafsir (Infiltrasi dalam Tafsir). Sebuah mata kuliah yang membahas hal-hal yang seharusnya tidak ada dalam penafsiran Al-Quran yang autentik (baca: Ashil).
Jika melihat ke beberapa dekade silam, sebelum akhirnya dikodifikasi menjadi sebuah fan keilmuan, embrionya sudah mulai terlihat dari sejumlah tulisan Syekh Muhammad Husain Adz-Dzahabi dalam Al-Isra'iliyyat fi At-Tafsir wa Al-Hadits dan Syekh Muhammad Abu Syahbah dalam Al-Isra'iliyyat wa Al-Maudhu’at fi Kutub At-Tafsir, yang kedua buku tadi ditulis untuk dipresentasikan dalam Muktamar Akbar Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Lembaga Riset Islam) Al-Azhar setengah abad lalu.
Sejak saat itu, tulisan mengenai hal-hal yang “merusak” tafsir terus berkembang, hingga datanglah Syekh Abdulwahhab Fayed, murid dari dua tokoh di atas. Ia mengumpulkan semua pembahasan tokoh terdahulu, menyelianya, menilik ulang, lalu mengodifikasinya menjadi sebuah fan ilmu dakhil dalam bukunya yang berjudul Ad-Dakhil fi Tafsir Al-Quran Al-Karim.
※ Tafsir Ar-Razi terkait Krisis Ekologi
Hingga kini, fan ilmu dakhil (infiltrasi) terus menerus diajarkan dalam banyak perguruan tinggi Islam di seluruh dunia, salah satunya di Universitas Al-Azhar. Tentu, ini adalah juhud yang luar biasa dalam rangka memfilter siapa saja yang ingin menafsiri Al-Quran.
Kelahiran dan Masa Kecil
Sosok pelopor ilmu infiltrasi dalam tafsir ini bernama lengkap Abdulwahhab bin Abdulwahhab bin Mabruk bin Ali bin Hasan Fayed, atau yang masyhur dengan nama Abdulwahhab Abdulwahhab Fayed.
Ia dilahirkan pada tahun 1355 H (1936 M) di Desa Diminkah, Markaz Dusuq, Provinsi Kafr Asy-Syaikh (Sekarang masuk Provinsi Al-Gharbiyyah), Mesir. Di desa ini, ia menghabiskan masa kecilnya dalam sebuah keluarga yang taat beragama. Ayahnya, Syekh Abdulwahhab Fayed (w. 1965 M) adalah seorang ulama sekaligus pembesar di Al-Jam’iyyah Asy-Syar'iyyah Mesir pada masanya. Sang ayahlah yang mendidiknya sedari kecil.
Selain ayahnya, ia juga dididik oleh kakak tertuanya, Syekh Mahmud Abdulwahhab Fayed yang telah lahir 15 tahun lebih dulu sebelum dirinya.
Dari keluarga bermarga Fayed inilah ia bertumbuh-kembang. Di samping didikan keluarga, ia juga dididik di sebuah kuttab di desanya. Di sinilah ia mempelajari baca-tulis, menghafalkan Al-Quran, hingga mempelajari ilmu-ilmu dasar.
Masa Belajar
Setelah menyelesaikan pendidikan di kampung halaman, Abdulwahhab Fayed muda melanjutkan pendidikannya ke jenjang Al-Ibtida'i di Ma’had Al-Azhar Dusuq pada tahun 1951 M, tepatnya di usia 15 tahun, usia minimum kala itu untuk memasuki jenjang Al-Ibtida'i. Ia menamatkan jenjang Al-Ibtida'i pada tahun 1955 M setelah melaluinya selama 4 tahun. Di tahun yang sama, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang Ats-Tsanawi di ma’had yang sama hingga tamat pada tahun 1959 M.
Setelah merampungkan pendidikannya di Ma’had Al-Azhar Dusuq, Abdulwahhab Fayed muda merantau ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya pada jenjang perkuliahan. Di sini, ia memilih jurusan Tafsir-Hadits di Fakultas Usuludin, Universitas Al-Azhar yang kala itu masih bertempat di Madrasah Al-Khazindarah, Syubra. Ia menamatkan strata 1 tersebut pada tahun 1383 H (1963 M) dengan nilai mumtaz serta meraih peringkat 1 dari seluruh mahasiswa jurusan Tafsir-Hadits yang tamat pada tahun itu. Daftar nama-nama peraih ranking 1 tersebut termaktub dalam buku Al-Azhar Asy-Syarif fi ‘Idihi Al-Alfi. Hal yang menarik adalah, pada tahun 1946 M kakaknya, Syekh Mahmud Abdulwahhab Fayed juga meraih ranking 1. Artinya, dua kakak-beradik ini adalah pelajar yang cerdas dan tangkas.
Selanjutnya, ia melanjutkan jenjang pendidikannya di strata 2 (Magister) pada universitas dan fakultas yang sama. Pada masa ini, ia melalui tamhidi selama 4 tahun sesuai Qanun Al-Azhar kala itu (sekarang: 2 tahun). Ia menamatkannya pada tahun 1967 M dengan nilai Jayyid Jiddan sebagaimana termaktub dalam buku Ad-Dirasat Al-‘Ulya fi 10 Sanawat. Di dalam buku ini juga tertulis sejumlah sahabatnya yang mengambil jurusan tafsir dan tamat di tahun yang sama, seperti Syekh Abdulbasith Bulbul, Syekh Fadhl Hasan ‘Abbas, Syekh Muhammad Ahmad Al-Qasim, dan Syekh Abdulghafur Mahmud Mushthafa.
Setelah melalui imtihan tamhidi, ia mulai mengajukan tesis di strata 3 (Doktoral) berjudul Manhaj Ibn ‘Athiyyah fi Tafsir Al-Quran Al-Karim dengan Syekh Ahmad As-Sayyid Al-Kumi selaku mentor. Tesis ini kemudian diujikan 4 tahun setelahnya, tepatnya pada tanggal 31 Maret 1971 M. Ia berhasil mempertahankan tesisnya hingga meraih nilai Martabah As-Syaraf Al-Ula. Dua tahun setelahnya, tesis ini dicetak secara resmi oleh Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah pada tahun 1393 H (1973 M).
Masa Pengabdian
Pasca menamatkan semua jenjang pendidikan Al-Azhar dari Al-Ibtida'i hingga Doktoral, Syekh Abdulwahhab Fayed memulai debut kariernya sebagai asisten dosen di Universitas Al-Azhar. Tak berselang lama, ia naik menjadi dosen, lalu profesor madya, hingga terakhir menjadi profesor (guru besar) tafsir pada tahun 1401 H (1981 M) setelah mengajukan riset berjudul Ad-Dakhil fi Tafsir Al-Quran Al-Karim.
Selain mengajar di kampus Universitas Al-Azhar, ia juga beberapa kali diutus sebagai dosen terbang. Ia menjadi pengajar di Universitas Benghazi, Libya pada 1393-1397 H (1973-1977 M), lalu di Universitas Umdurman, Sudan pada 1401 H (1981 M), dan terakhir di Universitas Ummul Qura, Makkah pada 1401-1419 H (1981-1999 M).
Pengabdiannya selama hidup tak hanya sebatas di dunia pendidikan formal. Ia juga pernah tergabung dalam Majma’ Al-Fiqh Al-Islami di Makkah, Rabithah Al-Adab Al-Hadits, Nadwah Syu’ara Al-Islam, Jama’ah Syu’ara Al-‘Urubah, Al-Jam’iyyah Asy-Syar’iyyah di Mesir.
Karya Tulis
Di sela-sela mengajar, Syekh Abdulwahhab Fayed juga menulis sejumlah karya tulis, yang nantinya akan digunakan sebagai diktat kuliah di jurusan tafsir Universitas Al-Azhar kala itu. Hanya saja, hingga saat ini tidak ada satupun karya tulisnya yang dicetak ulang setelah berlalu hampir setengah abad. Bahkan untuk memiliki karyanya, kita hanya bisa menemukannya jika sering berkunjung ke beberapa toko buku bekas di Kairo, Mesir. Sebuah hal yang juga banyak terjadi pada buku ulama Al-Azhar kontemporer lainnya. Adapun sejumlah karyanya yang dapat penulis jumpai adalah sebagai berikut:
- Alhan As-Sahar. Sebuah buku berisi gubahan syair dan pujian. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1958 M, kala masih duduk di bangku Ats-Tsanawi;
- Manhaj Ibn ‘Athiyyah fi Tafsir Al-Quran Al-Karim. Kitab ini adalah risalah doktoral pada tahun 1971 M yang kemudian diterbitkan pertama kali pada tahun 1973 M saat masih menjabat dosen;
- Zad Ath-Thalib fi At-Tafsir. Kitab ini ditulis bersama Syekh Al-Husaini Abu Farhah. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1978 M saat masih menjabat profesor madya;
- Dirasat fi Tafsir Al-Quran Al-Karim. Sebagaimana Zad Ath-Thalib fi At-Tafsir, kitab ini ditulis bersama Syekh Al-Husaini Abu Farhah. Diterbitkan pertama kali juga pada tahun 1978 M saat masih menjabat profesor madya;
- Mabahits fi Tafsir Al-Quran Al-Karim. Kitab ini ditulis bersama Syekh Al-Husaini Abu Farhah dan Syekh Abdulbasith Bulbul. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1979 M saat masih menjabat profesor madya;
※ Tafsir Ontologis Alif Lam Mim
- ‘Ulum Al-Quran Al-Karim. Kitab ini ditulis bersama Syekh Muhammad Ahmad Al-Qasim dan Syekh Mani’ Abdulhalim Mahmud. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1980 M saat masih menjabat profesor madya;
- Ad-Dakhil fi Tafsir Al-Quran Al-Karim. Kitab tiga juz ini ditulis sebagai riset untuk mendapatkan gelar profesor tafsir di Universitas Al-Azhar. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1980 M saat masih menjabat profesor madya;
- Muhadharat fi At-Tafsir. Kitab ini ditulis bersama Syekh Abdul’azhim Al-Ghabasyi dan Syekh Abdulbasith Bulbul, namun tidak diketahui tahun terbitnya.
Akhir Hayat
Tidak banyak sumber tulisan yang mengonfirmasi tarikh wafat Syekh Abdulwahhab Fayed secara lengkap. Untuk saat ini, hanya diketahui bahwa ia wafat di Kairo pada tahun 1420 H (1999 M). Lokasi makamnya juga belum penulis ketahui, begitupun dengan kabar anak-cucunya. Semoga mereka, para ahli waris, sebagai orang yang paling dekat dengan almarhum tergerak untuk menghidupkan kembali turats Syekh Abdulwahhab Fayed. Semoga Allah merahmati alim besar tafsir Al-Azhar ini. Amin.