Syekh Ahmad Ad-Dardir, Pengarang Matan Al-Kharidah Al-Bahiyyah

Ia bernama Syihabuddin, Abu Al-Barakat, Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abu Hamid Al-‘Adawi Al-Asy’ari Al-Maliki Al-Khalwati Al-Azhari, yang masyhur dengan sebutan Ad-Dardir. Nisbah Al-‘Adawi yang berada di belakang namanya merujuk kepada Bani ‘Adi, sebuah kampung di Markaz Manfaluth, Provinsi Usyuth, Mesir, yang merujuk pada mulanya kepada kabilah Bani ‘Adi, keturunan Umar bin Al-Khaththab yang menetap di selatan Mesir (Sha’id).

Selain itu, ia juga bernisbah Al-Asy’ari, yang merujuk pada akidah Imam Ahlusunah waljamaah, Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, yang dalam hal ini bisa terlihat dari ketujuh karya tulisnya dalam ilmu akidah. Ia juga bernisbah Al-Maliki yang merujuk pada mazhab fikihnya. Adapun Al-Khalwati, merujuk pada Tarekat Al-Khalwatiyyah yang ia ikuti. Sedangkan Al-Azhari merujuk pada institusi Al-Azhar tempat ia menuntut ilmu.

Berkenaan dengan lakab Ad-Dardir, hal ini pada dasarnya adalah lakab kakeknya, lalu turun ke ayahnya, lalu kepadanya. Bahkan, lakab ini tak terkhusus untuk ia dan ayahnya, namun kepada semua keturunan dari sang kakek, sebagaimana yang ia sebutkan dalam Syarh Al-Kharidah Al-Bahiyyah miliknya.

Lahir dan Tumbuh

Ad-Dardir dilahirkan di Desa Bani ‘Adi pada tahun 1127 H (1715 M). Tahun kelahiran ini dituturkan langsung oleh Ad-Dardir sendiri, sebagaimana disebut oleh muridnya, Syekh Murtadha Az-Zabidi dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash. Meski menurut muridnya yang lain, Syekh Ahmad Ash-Shawi dalam Bulghah As-Salik li Aqrab Masalik, sang guru dilahirkan pada tahun 1128 H, dengan asumsi bahwa saat ayahnya wafat pada tahun 1138 H, Ad-Dardir berusia kira-kira 10 tahun. Namun, pendapat pertama lebih kuat karena mendengar langsung dari sang guru, sedangkan yang kedua hanya menyimpulkan dari tarikh wafat.

Ad-Dardir kecil dididik dan digembleng langsung oleh ayahnya, Syekh Muhammad Ad-Dardir. Kepadanya ia belajar Al-Quran, menghafal, dan menyempurnakan tajwidnya. Ayahnya dikenal sebagai sosok yang saleh, alim, dan ulung dalam Al-Quran. Kegiatan sehari-harinya diisi dengan mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak di kampung. Banyak yang belajar kepadanya. Sang ayah sendiri tidak mengambil upah sedikitpun dari apa yang ia ajarkan, bahkan ialah yang justru banyak memberi. Jika menukil perkataan anaknya dalam Asy-Syarh Ash-Shaghir, ayahnya jarang berbicara kecuali diperlukan. Waktunya selalu diisi dengan membaca Shalawat Ibnu Masyisy. Sejak kecil, sang anak telah diberi kabar gembira oleh sang ayah bahwa ia akan menjadi orang alim. Menjelang akhir hayat, ayahnya mengalami kebutaan. “Ayah wafat dalam keadaan syahid karena wabah pada tahun 1138 H. Umurku kala itu kira-kira 10 tahun. Banyak persaksian mengenai karamahnya.”

Selain menjadi pendidik, sang ayah juga menjadi panutan bagi diri Ad-Dardir kecil. Syahdan, kala itu kehidupan di desa sedang susah. Begitupun dengan keluarganya. Namun karena ayahnya dikenal sebagai sosok dermawan, di kala susah pun sang ayah tetap berusaha untuk berbagi dengan yang lain. Suatu hari, ayahnya membagikan makanan yang sedikit. Sebelum membagi-bagikannya kepada masyarakat, sang ayah terlebih dahulu membacakan Surah Quraisy di hadapan makanan itu. Qadarullah, makanan yang tadinya sedikit mampu mencukupi sejumlah masyarakat yang banyak.

Amalan ini kemudian ditiru oleh Ad-Dardir kecil. Ia pun senantiasa mengamalkan surah tersebut kala ingin membuka pintu yang terkunci. Sejak itu, ia juga dikenal sebagai Kuncen Tanpa Kunci.

Di Pangkuan Al-Azhar

Setelah merampungkan masa belajar di desa, Ad-Dardir muda mulai merantau ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar, terlebih sang ayah telah wafat beberapa waktu sebelum bepergian.

Di Al-Azhar, ia belajar kepada para pembesar ulama di masanya, seperti Syekh Syamsuddin Ad-Difari (w: 1161 H), Syekh Ibnu Az-Zubairi Ash-Shabbagh (w: 1162 H), Syekh Syihabuddin Al-Mallawi (w: 1181 H), Syekh Syihabuddin Al-Jauhari (w: 1182 H), Syekh Umar Ath-Thahlawi (w: 1181 H), Syekhul-Azhar Muhammad Salim Al-Hifni (w: 1181 H), dan Syekh Ali Ash-Sha’idi (w: 1189 H). Dari semua gurunya, ia paling banyak bermulazamah kepada dua nama guru terakhir, yakni Al-Hifni dan Ash-Sha’idi.

Hubungannya dengan para guru begitu kuat. Ia belajar berbagai fan keilmuan dari mereka, baik dari tauhid, hadits, fikih, tasawuf, dan masih banyak lagi. Saking masyhurnya ketekunan Ad-Dardir dalam belajar, ia akhirnya diperbolehkan mengajar dan berfatwa oleh para gurunya, dengan tetap menjunjung rasa rendah hati, zuhud, dan tawaduk, mengingat para gurunya masih banyak yang masih hidup kala ia mengajar.

Syekh Murthadha Az-Zabidi merekam dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash miliknya, bahwa ia sering membersamai sang guru dalam banyak hal, baik dari belajar, bertamu, hingga berziarah ke makam aulia beberapa kali.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Selama masa mengajar, ia mendapat anugerah banyak murid yang cerdas dan piawai. Di antaranya yaitu Syekh Muhammad ‘Ubadah Al-‘Adawi (w: 1193 H), Syekh Ahmad As-Samaliji (w: 1203 H), Syekh Muhammad Murtadha Az-Zabidi (w: 1205 H), Syekh Ahmad Ramadhan Ath-Tharabulsi (w: 1215 H), Syekh Shalih Muhammad Al-Falani (1218 H), Syekh Mushthafa Al-‘Uqbawi (w: 1221 H), Syekh Shalih Muhammad As-Siba’i (w: 1221 H), Syekh Muhammad ‘Arafah Ad-Dusuqi (w: 1230 H), Syekh Al-Amir Al-Kabir (w: 1232 H), dan Syekh Ahmad Ash-Shawi (w: 1241 H).

Pemuka Ahli Tasawuf dan Fikih

Selama periode belajar, telah disebutkan bahwa Syekh Ahmad Ad-Dardir bermulazamah paling banyak dengan dua guru, yaitu Syekhul-Azhar Muhammad Salim Al-Hifni dan Syekh Ali Ash-Sha’idi. Dari mulazamah ini, ternyata hubungan yang kuat antar guru dan murid terjalin. Bahkan, setelah Syekh Ahmad Ad-Dardir telah mengajar, hubungan ini terus ada. Jika dikerucutkan, ia banyak bermulazamah kepada Syekh Al-Hifni perihal tasawuf, hingga mengambil Tarekat Al-Khalwatiyyah dari sang guru. Adapun dengan Syekh Ash-Sha’idi, ia banyak bermulazamah perihal fikih mazhab Maliki.

Tak ayal, ketika Syekh Al-Hifni wafat pada tahun 1181 H, ia menjadi salah satu khalifah tarekat tersebut. Begitupun ketika Syekh Ash-Sha’idi wafat pada tahun 1189 H, ia diangkat menjadi Mufti As-Sadah Al-Malikiyyah sekaligus Syekh Riwaq Ash-Sha’ayidah di Al-Azhar. Jabatan-jabatan tinggi pada masa tersebut ini adalah jabatan resmi, yang perlu mendapatkan pengakuan dari para tokoh masa itu untuk kemudian ditetapkan oleh pemerintah.

Selain itu, di masa Amir Muhammad Bik Abu Dahab, ia dilantik sebagai salah satu mufti di madrasah yang dibangun oleh sang amir, yakni Madrasah Al-Muhammadiyyah yang berada di samping Masjid Al-Azhar. Di sini, ia menjadi mufti mazhab Maliki. Adapun mazhab Syafi’i, Syekh Hasan Al-Kafrawi menjadi muftinya. Sedangkan Hanafi, yaitu Syekh Abdurrahman Al-‘Arisyi.

Karya Tulis

Di sela-sela kehidupannya sebagai pelajar dan pengajar, Syekh Ahmad Ad-Dardir menulis sejumlah karya tulis dalam berbagai fan keilmuan. Dalam tauhid, ia mengarang Al-Kharidah Al-Bahiyyah, Syarh Al-Kharidah, Taqrir ‘ala Syarh Al-Kharidah, Al-‘Iqd Al-Farid fi Idhah As-Sual ‘an At-Tauhid, Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Hudhudi ‘ala Umm Al-Barahin, Syarh Fawaid Al-Faraid fi Dhabith Al-‘Aqaid, dan Risalah At-Tauhid.

Dalam fikih, ia mengarang Minah Al-Qadir Syarh Mukhtashar Khalil atau masyhur dengan nama Asy-Syarh Al-Kabir, Aqrab Al-Masalik li Madzhab Al-Imam Malik (belum selesai, lalu disempurnakan muridnya, Syekh Mushthafa Al-Qal’awi), Syarh Aqrab Al-Masalik atau masyhur dengan nama Asy-Syarh Ash-Shaghir, dan Syarh ‘ala Manzhumah Al-Bili.

Dalam tasawuf, ia mengarang Tuhfah Al-Ikhwan fi Adab Ahl Al-‘Irfan, Maulid Sayyid Al-Mursalin wa Imam Al-Awwalin wa Al-Akhirin atau masyhur dengan nama Maulid Ad-Dardir, At-Tawajjuh Al-Asna bi Nazhm Al-Asma Al-Husna, Al-Manhaj Ar-Raiq fi Ash-Shalah ‘ala Asyraf Al-Khalaiq, Minhaj Ash-Shadiqin wa Tibyan As-Salikin ‘ala Ash-Shirath Al-Mustaqim ila Hadhrah Ar-Rahman Ar-Rahim, Hasyiyah ‘ala Qishshah Al-Isra wa Al-Mi’raj, Syarh Wird Asy-Syaikh Karimuddin Al-Khalwati, Tuhfah As-Sair wa As-Suluk ila Malik Al-Muluk, dan Misykah Al-Asrar.

Dalam mantik dan ilmu debat, ia mengarang Syarh ‘ala Ar-Risalah Al-‘Adhudiyah fi Adab Al-Bahts wa Al-Munazharah, Taqrirat ‘ala Ar-Risalah Al-‘Adhudiyyah, Al-Fawaid As-Saniyyah fi Syarh Al-Asykal Al-Manthiqiyyah, dan Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Khabishi ‘ala At-Tahdzib.

Dalam balaghah, ia mengarang Tuhfah Al-Ikhwan fi Al-Ma’ani wa Al-Bayan, Syarh Tuhfah Al-Ikhwan, dan Taqrirat ‘ala Syarh Tuhfah Al-Ikhwan.

Dalam hadits, ia mengarang Syarh Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah (belum selesai), Tsabat berisi sanad keilmuannya dan Fath Al-Qadir fi Ahadits Al-Basyir An-Nadzir.

Dalam tafsir dan qiraat, ia mengarang Syarh Taudhih Ajwibah Al-Baidhawi li Al-‘Allamah Abdullah Afandi Ibn ‘Utsman, risalah seputar mutasyabihat Al-Quran berjudul Tuhfah Al-Qari li Kitab Al-Bari, dan risalah dalam qiraat Hafsh.

Akhir Hayat

Setelah melalui kehidupan yang panjang untuk berkhidmah kepada agama, bangsa, dan negara, Syekh Ahmad Ad-Dardir menutup mata setelah sebelumnya sakit dan menetap di tempat tidur beberapa saat.

Mengenai wafatnya, tidak ada ikhtilaf dalam bulan, tahun, maupun tempat wafatnya. Namun, perbedaan justru terdapat dalam tanggal kewafatan. Dan kedua-duanya diriwayatkan oleh para muridnya. Menurut Az-Zabidi dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash, lalu diikuti oleh Al-Jabarti dan sejarawan setelahnya, Syekh Ahmad Ad-Dardir wafat pada 6 Rabiulawal 1201 H. Adapun menurut Ash-Shawi dalam Bulghah As-Salik, sang guru wafat pada malam Jumat, 8 Rabiulawal 1201 H.

Perbedaan ini dirasa sukar untuk ditahkik. Mengingat keduanya adalah murid dari Syekh Ahmad Ad-Dardir. Namun, jika menilik tarikh penulisan Al-Mu’jam Al-Mukhtash dan Bulghah As-Salik, kitab pertama masih terus dalam proses penulisan (musawwadah) hingga Az-Zabidi wafat pada tahun 1205 H., tahun yang masih terbilang dekat dengan tahun wafat Ad-Dardir. Adapun kitab kedua ditulis pada tahun 1223 H, yakni 22 tahun setelah kewafatan sang guru. Artinya, Ash-Shawi menulis tarikh wafat ini setelah berlalu dua dekade. Bisa jadi ada beberapa ingatan yang telah luput dari yang seharusnya. Terlebih, riwayat Az-Zabidi juga dikuatkan oleh Al-Jabarti yang juga sezaman dengan Ad-Dardir.

Terlepas dari perbedaan di atas, jenazah Syekh Ahmad Ad-Dardir kemudian disalatkan di Masjid Al-Azhar, tempat di mana ia banyak belajar dan mengajar. Setelah itu, jenazahnya dimakamkam di zawiyah yang ia bikin tak jauh Al-Azhar, di Jalan Ad-Dardir, yang dahulu dikenal dengan Khuth Al-Ka’kiyyin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin