Skip to content

Syihabuddin Al-Mallawi, Pakar Ilmu Aqli dan Naqli Didikan Al-Azhar

Nama Syekh Al-Mallawi tidaklah asing bagi para penuntut ilmu agama. Sosok alim dari Al-Azhar yang karyanya sangat banyak dan ilmunya menyamudera.

FOTO Sampul kitab karya Syekh Syihabuddin Al-Mallawi terbitan Al-Azhar.
FOTO Sampul kitab karya Syekh Syihabuddin Al-Mallawi terbitan Al-Azhar.

Kala iseng mencari biografi Syihabuddin Al-Mallawi berbahasa Indonesia di mesin pencarian, sosok alim Al-Azhar yang namanya masyhur di kalangan para penuntut ilmu agama ini malah terbilang tidak dikenal khalayak. Meski karya tulisnya senantiasa hadir mewarnai dunia turats Islam hingga kini.

Ia adalah tokoh kenamaan Al-Azhar yang dikenal akan kepakarannya dalam ilmu aqli dan naqli. Dua unsur keilmuan yang seyogianya melekat dalam jiwa seorang alim. Tidak boleh terpisah. Dengan minimnya informasi mengenai sosok ini dalam bahasa Indonesia, kiranya sangat layak, jika tokoh besar yang karyanya banyak tersebar ini juga diperkenalkan kisah hidupnya di tengah masyarakat. Selain itu, beberapa perbedaan riwayat hidup yang ditulis oleh para sejarawan pun perlu kita tilik ulang.

Nama, Nisbah, dan Kelahiran

Sosok ini bernama lengkap Abu Al-‘Abbas, Syihabuddin, Ahmad bin Abdulfattah bin Yusuf bin Umar, Al-Mujiri Al-Mallawi Al-Qahiri Al-Hasani Al-Asy’ari Asy-Syafi’i Al-Azhari. Kesemuanya merupakan kunyah, laqab, nama, nasab, dan nisbah yang disepakati oleh kalangan sejarawan, kecuali Abdulhay Al-Kattani, yang menjadikan kedudukan Umar (yang seharusnya buyut) sebagai kakek, dengan menghilangkan Yusuf (kakek yang semestinya).

Nisbah Al-Mujiri yang melekat di akhir namanya merujuk kepada salah satu kabilah Arab lama bernama Mujir. Sedangkan nisbah Al-Mallawi dan Al-Qahiri, ialah nisbah kepada daerah Mallawi dan Kairo. Tidak diketahui, apakah yang dimaksud bahwa ia lahir di Mallawi, lalu pindah dan menetap di Kairo, atau kelahirannya justru di Kairo, dengan tetap menisbahkan dirinya ke daerah Mallawi, sebagai tanda bahwa usulnya berasal dari sana. Mengingat, tidak ada sejarawan yang menuliskan secara jelas maksud dari kedua nisbah ini, kecuali Az-Zirikli di dalam Al-A’lam, yang mengatakan bahwa Al-Mallawi lahir di Kairo, meski murid dan orang yang semasa dengannya justru tidak menyebutkan demikian.

Meski tidak diketahui secara gamblang mengenai tempat kelahirannya, sosok alim Al-Azhar ini pernah menuturkan langsung kepada salah satu muridnya, Murtadha Az-Zabidi (pengarang Taj Al-‘Arus min Jawahir Al-Qamus dan Ithaf As-Sadah Al-Muttaqin bi Syarh Ihya ‘Ulum Ad-Din) bahwa ia lahir pada fajar hari Kamis, 2 Ramadan 1088 H, yang oleh si murid, tanggal lahir dan nasab gurunya ini kemudian ia tuliskan di dalam bukunya yang berjudul Al-Mu’jam Al-Mukhtash, lalu dinukil oleh para sejarawan yang semasa dan setelahnya, termasuk Al-Jabarti dalam ‘Ajaib Al-Atsar. Hanya satu sejarawan yang berbeda dalam menuliskan tanggal lahir sosok kali ini, yakni Al-Muradi dalam Silk Ad-Durar. Ia justru menuliskan 3 Ramadan 1088 H. Bisa jadi, ini adalah sebuah keluputan, mengingat penulisan angka 2 dan 3 dalam manuskrip Arab terbilang mirip.

Al-Mallawi juga menuturkan, bahwa ia lahir dari rahim seorang ibu bermarga Hasani (syarifah) bernama Aminah binti ‘Amir bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Saifuddin bin Sulaiman bin Shalih. Karena itu, di belakang nama Al-Mallawi terdapat nisbah Al-Hasani, mengingat Niqabah Al-Asyraf Mesir sejak dulu hingga kini menetapkan bahwa nasab ahlulbait tidak terputus melalui jalur ibu.

Mengenai nasab mulia ini, salah satu muridnya, Syekh Abdurrahman bin Mushthafa Al-‘Aydarus menyebutkan dalam Diwan-nya, “Meski beliau adalah seorang syarif dan klaim nasabnya sah, namun beliau justru ingin hal tersebut tidak dikenal (thalaban li al-khumul).”

Masa Belajar dan Mengajar

Sejak kecil, Al-Mallawi sudah menyantri di Al-Azhar. Di sini, ia belajar kepada banyak para pembesar ulamanya. Dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash, Murtadha Az-Zabidi menyebutkan sejumlah gurunya sesuai dengan mazhab fikih mereka.

Dalam mazhab Syafi’i, ia berguru kepada Syekh Ahmad bin Al-Faqih, Syekh Manshur Al-Munufi, Syekh Abdurrauf Al-Bisybisyi, Syekh Muhammad Al-Athfihi, Syekh Ahmad Al-Khulaifi, Syekh ‘Id An-Numrusi, Syekh Abdulwahhab Ath-Thantadawi, Syekh Muhammad Al-‘Ajmi, Syekh Abdurabbih Ad-Diwi, Syekh Ridhwan Ath-Thukhi, Syekh Abduljawwad Al-Mahalli, Syekh Ali ‘Amir Al-Atyadi, Syekh Ali Al-Bautihi, dan Syekh Muhammad Al-Maliji.

Dalam mazhab Maliki, ia berguru kepada Syekh Muhammad Al-Warzazi, Syekh Muhammad Abdulbaqi Az-Zurqani, Syekh Umar At-Tithawani, Syekh Ahmad Al-Hasytuki, Syekh Muhammad As-Sijilmasi, Syekh Ahmad An-Nafarawi, Syekh Abdullah Al-Kanaksi, Syekh Ibnu Abi Dzikri, Syekh Sulaiman Al-Hushaini, dan Syekh Ahmad Asy-Syubrakhiti.

Sedangkan dalam mazhab Hanafi, ia berguru kepada Syekh Ali bin Ali Al-Hasani, yang masyhur dengan sebutan Iskandar.

Pada tahun 1122 H, ia pergi ke tanah Haram (Hijaz) dan mengambil sanad dari Syekh Abdullah bin Salim Al-Bashri, Syekh Ahmad An-Nakhli, Syekh Muhammad Thahir Al-Kurani, Syekh Idris Al-Yamani, dan Syekh Mulla Ilyas bin Burhanuddin Al-Kurani.

Dari hasil didikan para gurunya, keilmuan dan kepakaran Syihabuddin Al-Mallawi benar-benar terbangun. Banyak generasi setelahnya pun berguru kepadanya. Baik yang berguru kepada di Masjid Al-Azhar, di Masyhad (sekarang: masjid) Imam Al-Husain, ataupun di kediaman beliau. Keberhasilan Al-Mallawi dalam mengajar bisa dilihat dari sejumlah muridnya yang kelak menjadi ulama besar. Sebut saja seperti Syekhul-Azhar Muhammad Salim Al-Hifni, Syekhul-Azhar Ahmad Al-‘Arusi, Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi, Syekh Yusuf Al-Hifni, Syekh Murtadha Az-Zabidi, Syekh Hasan Al-Jabarti, Syekh Ali Ash-Sha’idi, Syekh Ahmad Ad-Dardir, Syekh ‘Athiyyah Al-Ujhuri, Syekh Abdurrahman Al-‘Aydarus, Syekh Tsu’ailib Al-Fasyni, dan Syekh Muhammad Ash-Shabban.

Dari kalangan ulama Nusantara, ada Syekh Abdushshamad Al-Falimbani yang mengambil ijazah kitab Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Makkudi li Al-Alfiyyah dari Al-Mallawi langsung selaku pengarang. Al-Mallawi juga mengijazahkan seluruh karya tulisnya kepada ulama Nusantara tersebut. Hal inilah yang mengindikasikan bahwa keduanya pernah bertemu, hanya saja belum diketahui, apakah pertemuan ini terjadi ketika di Mesir atau ketika sedang pergi ke Hijaz.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Karya Tulis

Kepakaran Al-Mallawi dalam ilmu aqli dan naqli telah diakui oleh ulama sezamannya. Dalam banyak buku disebutkan, bahwa ia adalah alim yang memiliki banyak karya tulis. Namun, menuliskan semua karyanya akan membuat oretan kecil ini menjadi sangat panjang. Oleh karena itu, pada tulisan kali ini, setidaknya tiap-tiap fan keilmuan dipaparkan satu atau dua contoh dari tiap karya tulis Al-Mallawi. Setidaknya dapat memberikan gambaran, bahwa ia tidak hanya berkonsentrasi pada satu fan, namun menyamudera dalam banyak fan ilmu.

Dalam akidah, beliau mengarang Syarh Al-Manzhumah Al-Mallawiyyah fi ‘Aqaid Al-Asy’ariyyah dan Hasyiyah ‘ala Ithaf Al-Murid Syarh Jauharah At-Tauhid. Dalam mantik, ada Hasyiyah ‘ala Al-Mathla’ dan Syarh As-Sullam Al-Muraunaq (versi besar dan kecil). Dalam fikih, ada Ikhtishar Al-Ghayah wa Bulugh Al-‘Inayah (ikhtisar Matn Abi Syuja’), yang kemudian disyarahi kembali dalam Al-Kifayah bi Syarh Ikhtishar Al-Ghayah. Dalam tasawuf, ada Al-Ushul Ats-Tsalatsun fi At-Tashawwuf. Dalam nahwu, ada Syawahid Al-Alfiyyah ‘ala Matn Al-Ajurrumiyyah. Dalam balaghah ada Syarh Risalah As-Samarqandi fi Al-Isti’arat (besar dan kecil). Dan masih banyak lagi.

Akhir Hayat

Al-Mallawi adalah sosok yang luar biasa dalam mengabdikan hidupnya kepada ilmu. Hampir seluruh hari-harinya dipenuhi dengan nuansa keilmuan, bahkan di saat masa tuanya, kala ia sudah terbaring di atas kasur karena sakit hingga tidak mampu lagi berdiri. Untungnya, semua panca indra yang dimilikinya masih berfungsi baik.

Meski dalam sakitnya, selama masa itu, ia terus menulis dan mengajar para murid setiap hari dalam berbagai fan yang berbeda. Akhirnya, rumah sang alim ini pun menjadi salah satu tempat mengaji (talaki). Banyak khalayak yang berdatangan. Ada yang belajar, berziarah, meminta doa dan berkah, hingga ijazah. Jika tidak kuat menulis sendiri, Al-Mallawi pun mengimlakan. Menyuruh sejumlah muridnya untuk membantu menuliskan karyanya. Makanya, dalam sejumlah manuskrip ditemukan beberapa narasi yang bertuliskan seumpama “… ditulis oleh Fulan atas perintah/izin guru Fulan.”.

Dalam ‘Ajaib Al-Atsar, Al-Jabarti menuturkan bahwa Al-Mallawi sakit dan terbaring di atas kasur sekitar 30 tahun sebelum wafat. Namun, pernyataan ini bisa dibilang berlebihan. Pertama, dalam menulis biografi Al-Mallawi, hampir bisa dikatakan bahwa Al-Jabarti menukil semua yang ditulis oleh Murtadha Az-Zabidi dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash. Hanya ada sedikit variasi dan tambahan, yang salah satunya adalah narasi “sekitar 30 tahun”, yang justru tidak ada di dalam sumber yang ia rujuk. Kedua, dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash disebutkan bahwa Al-Mallawi masih mengajar Syarh Al-Alfiyyah li Al-Usymuni di Masjid Al-Azhar pada tahun 1167 H. Jika tahun tersebut dikurangi tahun kewafatannya, itu artinya 14 tahun sebelum wafat, Al-Mallawi masih aktif mengajar di luar. Ketiga dan yang paling menarik, pada tahun di mana Al-Mallawi mengajar Syarh Al-Alfiyyah di atas, Abdurrahman Al-Jabarti baru lahir. Meski ia orang yang sezaman, bagaimana bisa ia mengeklaim bahwa Al-Mallawi sudah sakit dan terbaring di kasur 30 tahun sebelum kewafatannya?

Setelah menghabiskan banyak hal dalam belajar, menulis, dan mengajar, beliau akhirnya menutup mata pada umur 93 tahun. Selain Syekh Abdulhay Al-Kattani yang menyebut kewafatan Al-Mallawi pada tahun 1182 H, semua sejarawan yang sezaman dan yang setelahnya menyebutkan bahwa Syihabuddin Al-Mallawi wafat pada tahun 1181 H, di pertengahan bulan Rabiulawal.

Jasad Syekh Syihabuddin Al-Mallawi kemudian dimakamkan di tempat yang telah disiapkan sebelum kewafatannya, yaitu di Masyhad Imam Al-Husain, Kairo, tempat beliau dulu kerap mengajar. Meski sayangnya, posisi persis makamnya pada hari ini sudah tidak diketahui, karena adanya proyek perluasan Masjid Imam Al-Husain pada masa Khedive Ismail Basya, satu setengah abad yang lalu.

Dalam Tsabat Al-Amir Al-Kabir dituliskan, bahwa kala Syekh Al-Amir meminta ijazah kepada Al-Mallawi, ada hal menarik yang diimlakan oleh muqri-nya, yakni Syekh Ahmad As-Sukkari. Di akhir ijazah, Al-Mallawi meminta kepada Al-Amir Al-Kabir untuk tidak lupa mendoakannya, seraya melanjutkannya dengan kalimat spesifik, “Semoga Allah menutup usianya (Al-Mallawi sendiri) dengan keimanan yang kokoh.” Amin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest