Syekh Ahmad Ath-Thahthawi, Sang Azhari Pengarang Nazhm Al-Maqshud

Ilmu sharaf merupakan salah satu disiplin ilmu dalam Bahasa Arab yang memiliki peranan sangat penting. Jika ilmu nahwu berurusan dengan kata dalam Bahasa Arab yang sudah tersusun (murakkab), maka ilmu sharaf berkaitan dengan kata yang masih sendiri (mufrad). Melihat peranan ini, para ulama seringkali menyebut disiplin ilmu sharaf sebagai ibunya ilmu. Semenetara bapaknya adalah disiplin ilmu nahwu.

Di beberapa institusi pendidikan, khususnya di pesantren di Nusantara, bahan ajar ilmu sharaf sangat beragam. Sebagian kitab ajarnya berbentuk prosa (natsar) dan sebagiannya lagi berbentuk rangkaian bait (nazhm). Di antara kitab nazhm sharaf yang paling sering ditemui adalah kitab Nazhm Al-Maqshud. Di beberapa pesantren, kitab ini dipelajari setelah menamatkan kitab Matn Al-Bina dan Matn Tashrif Al-‘Izzi. Biasanya disandingkan dengan kitab Nazhm Al-‘Amrithi yang mempunyai nama asli Ad-Durrah Al-Bahiyyah dalam ilmu nahwu.

Meski Nazhm Al-Maqshud sering dipelajari, sosok pengarang kitab ini masih banyak yang belum mengenalnya. Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba untuk menggali lebih jauh sosok penganggit nazam fenomenal tersebut. Bagi santri yang pernah mempelajarinya, tentu nama pengarangnya sudah tidak asing. Sebab di bait kedua, nama pengarangnya disebut secara jelas, yaitu Syekh Ahmad bin Abdurrahim.

Nama dan Nisbah

Nama lengkapnya adalah Syekh Ahmad bin Abdurrahim bin Mas’ud bin Abi As-Su’ud Al-Qulti Asy-Syafi’i Ath-Thahthawi. Kata Al-Qulti merupakan nisbah kepada Markaz Saqiyah Qultah, Provinsi Suhaj, Mesir. Kini nama markaz ini disingkat menjadi Saqultah. Belum diketahui secara pasti alasan Syekh Ahmad bin Abdurrahim dinisbahkan kepada daerah tersebut. Tapi jika merujuk pada kitab Al-Khithath At-Taufiqiyyah, kemungkinan besar nisbah ini merujuk pada keluarga Al-Qultiyyah. Keluarga ini, sebagaimana disebut oleh Ali Basya Mubarak dalam kitab di atas, dikenal sebagai penyebar ilmu di daerah Thahtha. Jika demikian, Syekh Ahmad bin Abdurrahim berasal dari keluarga ahli ilmu dari satu generasi ke generasi.

Hal ini bisa dilihat dari latar keluarganya. Banyak dari anggota keluarga ini yang menjadi ulama. Saudaranya, Syekh Muhammad bin Abdurrahim, adalah seorang ulama Al-Azhar yang aktif di dunia surat kabar. Ayahnya sendiri, Syekh Abdurrahim bin Mas’ud, menjabat sebagai Mufti Syafi’iyyah di Thahtha. Pamannya, Syekh Ahmad Ar-Rifa’i bin Mas’ud merupakan Mufti Malikiyyah di daerah tersebut. Sementara kakeknya, Syekh Mas’ud, juga merupakan seorang ulama yang mengarang syarah atas kitab Khamriyyah karya Ibnu Al-Faridh.

Kata Asy-Syafi’i merujuk kepada mazhab fikih yang dianutnya. Sebab ayahnya adalah seorang Mufti Syafi’iyyah seperti disebut sebelumnya. Adapun Ath-Thahthawi merujuk kepada Markaz Thahtha, Provinsi Suhaj, Mesir.

Lahir, Tumbuh, dan Masa Belajar

Syekh Ahmad Ath-Thahthawi lahir di Markaz Thahtha pada 26 Dzulhijjah 1233 H (22 Oktober 1818 M). Di markaz ini pula ia dibesarkan dan dididik oleh sang ayah. Sehingga pada umur sembilan tahun, ia sudah berhasil menghafal Al-Quran. Setelah itu, ia mulai menghafalkan beberapa matan disiplin ilmu yang biasa dipelajari. Di tengah semangat belajar Ath-Thahthawi, Pada tahun 1247 H, sang ayah wafat. Kemudian ia berada di bawah pengawasan pamannya, yaitu Syekh Ahmad Ar-Rifa’i. Sang paman kemudian mengirimnya ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar.

Pada saat terjadi wabah (tha’un). Ia pulang ke Thahtha, tentu setelah menyelesaikan sebagian besar kitab yang lazim dipelajari di Al-Azhar, terlebih kitab fikih Mazhab Syafi’i, sehingga ia sudah mulai berfatwa dengan pengakuan dari mufti wilayah tersebut. Setelah kondisi aman, ia kembali lagi ke Al-Azhar untuk menyempurnakan keilmuannya. Ia mulai mempelajari kitab-kitab tingkat atas yang dikenal sangat susah dan rumit. Dalam waktu singkat, ia berhasil menyelesaikan berbagai disiplin ilmu yang biasa dipelajari di Al-Azhar.

Guru, Teman Belajar, dan Murid

Nama-nama guru Syekh Ahmad Ath-Thahthawi belum ditemukan dalam sumber-sumber pustaka. Namun, jika melihat tahun masuknya ke Al-Azhar, bisa diperkirakan bahwa di antara gurunya adalah Syekh Hasan Al-‘Aththar, Syekh Hasan Al-Quwaisini, Syekh Ibrahim Al-Bajuri, dan para ulama Al-Azhar yang sezaman.

Sementara teman seperjuangan belajar beliau bisa diperkirakan di antaranya adalah Syekh Muhammad ‘Ilisy, Syekh Ibrahim As-Saqqa, dan Syekh Rifa’ah Rafi’ Ath-Thahthawi.

Adapun murid Syekh Ahmad Ath-Thahthawi di antaranya adalah Ali Basya Mubarak, Amir Asy-Syu’ara Ahmad Syauqi, Muhammad Qadri Basya, dan masih banyak lagi.

Kiprah dan Jabatan

Setelah mendapat ijazah dari para syekh, pada tahun 1255 H, Syekh Ahmad bin Abdurrahim Ath-Thahthawi mulai mengajar ilmu nahwu dan sharaf di Madrasah Tajhiziyyah (Sekolah Persiapan). Madrasah ini merupakan madrasah tsanawiyyah (sederajat SMA di Indonesia) yang berstatus negeri yang pertama di Mesir dengan masa belajar selama empat tahun. Madrasah ini berdiri pada 1252 H (1836 M) dengan Syekh Rifa’ah Rafi’ Ath-Thahthawi, murid Syekh Hasan Al-‘Aththar, sebagai kepala madrasah pertamanya. Di kemudian hari Madrasah Tajhiziyyah berubah nama menjadi Madrasah Khidewiyyah.

Kemudian, Syekh Ahmad Ath-Thahthawi mengajar di Madrasah Al-Alsun. Madrasah ini merupakan sekolah tinggi bahasa dan terjemah modern pertama di Mesir. Madrasah ini berdiri pada 1251 H (1835 M) dan dikepalai oleh Syekh Rifa’ah Rafi’ Ath-Thahthawi. Di sini beliau mengajar materi nahwu, bayan, badi’, mantik, ‘arudh, tauhid, dan sastra.

Setelah itu Syekh Ahmad Ath-Thahthawi mengajar di Madrasah Al-Muhandiskhanah, sebuah sekolah tinggi modern di bidang engineering pertama di Mesir. Madrasah ini berdiri pada 1231 H (1816 M). Kemungkinan besar di sini beliau mengajar materi nahwu. Sebab di sini beliau menulis banyak kitab risalah tentang ilmu nahwu.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Syekh Ahmad Ath-Thahthawi juga mengajar di Madrasah Al-Harbiyyah, sebuah sekolah tinggi militer modern pertama di Mesir. Madrasah ini didirikan pada 1226 H (1811 M). kemungkinan besar beliau bertugas mengajar materi nahwu di madrasah ini. Sebab di sini beliau menulis syarah atas Matn Al-Ajurrumiyyah. Biasanya tulisan itu dijadikan diktat di madrasah tersebut.

Di samping mengajar di empat madrasah di atas, sebagai seorang Azhari, tentu Syekh Ahmad Ath-Thahthawi mengajar juga di Al-Azhar. Hal ini disampaikan oleh As-Sayyid Shalih Majdi dalam kitab Hilyah Az-Zaman. Di kitab ini sang penulis, sebagai salah satu murid Syekh Ahmad Ath-Thahthawi, menyatakan hal yang menunjukkan bahwa gurunya itu secara asal adalah pengajar di Al-Azhar, sementara kegiatan di luar Al-Azhar adalah jabatan sampingan.

Di samping sebagai pengajar, jabatan terakhir yang dipegang oleh Syekh Ahmad Ath-Thahthawi adalah editor utama Surat Kabar Al-Waqai’ Al-Mishriyyah. Sementara asisten editornya adalah saudaranya sendiri, yaitu Syekh Muhammad bin Abdurrahim Ath-Thahthawi. Surat kabar ini merupakan surat kabar pertama di Mesir yang terbit pertama pada 25 Jumada Al-Ula 1244 H (3 Desember 1828 M) dengan Syekh Hasan Al-‘Aththar sebagai editor pertamanya.

Karya

Di samping sebagai seorang pengajar yang ulung yang malang melintang di beberapa madrasah, Syekh Ahmad bin Abdurrahim Ath-Thahthawi juga dikenal sebagai penulis yang produktif. Di antara karya tulis yang lahir dari tangan dinginnya adalah sebagai berikut:

1.     Nazhm Al-Maqshud

Untaian bait ini ditulis sewaktu beliau mengajar di Madrasah Tajhiziyyah. Kemungkinan besar nazhm ini dijadikan sebagai bahan ajar juga di madrasah ini. Kemudian nazhm ini diberi syarah oleh sahabatnya sendiri, Syekh Muhammad ‘Ilisy, dengan judul Hallu Al-Ma’qud.

2.     Nihayah Al-Qashd wa At-Tawassul fi Fahmi Qaulah Ad-Daur wa At-Tasalsul

Kitab ini ditulis sewaktu beliau menjadi pengajar di Madrasah Al-Alsun. Ketika beliau mengajar Hasyiyah Al-Amir ‘ala Ithaf Al-Murid Syarh Jauharah At-Tauhid dan sampai pembahasan daur dan tasalsul, beliau akhirnya mengupas secara khusus pembahasan ini. Dari sanalah lahir kitab ini.

3.     Durr Asy-Syaraf Al-Munazhzham fi Madhi An-Nabi Al-A’zham

Kitab ini merupakan kumpulan syair (diwan) yang berisi pujian dan sanjungan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Ditulis berdasarkan urutan huruf hijaiyyah.

4.     Risalah fi ‘Ilmai Al-‘Arudh wa Al-Qawafi

Kitab ini dan sebelumnya ditulis sewaktu beliau menjadi pengajar di Madrasah Al-Alsun.

5.     An-Nuqthah Adz-Dzahabiyyah fi ‘Ilmi Al-‘Arabiyyah

Sebuah risalah tentang ilmu nahwu yang ditulis saat beliau mengajar di Madrasah Muhandiskhanah.

6.     Syarh Matn Al-Ajurrumiyyah

Syarah ringkas atas kitab Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah ini ditulis saat beliau mengajar di Madrasah Al-Harbiyyah.

Akhir Hayat

Setelah berkhidmah untuk agama dan negara dengan menjadi pengajar di berbagai madrasah, Syekh Ahmad bin Abdurrahim Ath-Thahthawi akhirnya fokus menjalani tugas sebagai editor utama Surat Kabar Al-Waqai’ Al-Mishriyyah di kediamannya. Tugas ini terus dijalankan hingga beliau dipanggil ke haribaan Sang Pemilik Nyawa. Beliau wafat pada hari senin di waktu duha 17 Ramadan 1302 H (30 Juni 1885 M) dalam keadaan berpuasa. Semoga rahmat dan berkah senantiasa tercurah di atas kuburnya. Amin...


💡
Baca riwayat hidup alim ulama di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad