Syekh Hasan Al-‘Idwi, Sosok Ulama yang Mendermakan Segalanya Untuk Masyarakat
Para peziarah Imam Al-Husain sedikit-banyak tentunya tahu sebuah masjid yang berada di sebelah timur Makam Imam Al-Husain. Jika peziarah keluar dari gerbang timur Masjid Imam Al-Husain lalu berjalan lurus ke arah timur melewati lorong yang dipenuhi pedagang, hingga mendapati tanah lapang. Di sebelah kiri dari sana berdiri sebuah masjid yang memiliki beberapa anak tangga sebelum memasukinya. Itulah Masjid Syekh Hasan Al-‘Idwi.
Masjid yang tidak terlalu besar, tapi mampu menampung puluhan jemaah. Masjid ini dilengkapi tempat wudu dan toilet. Di dalam masjid juga terdapat makam seorang ulama Al-Azhar, ia tenar sebagai ahli hadits dan namanya acapkali muncul di beberapa sanad dan tsabat (himpunan genealogi keilmuan seseorang). Berikut biografi sang alim ini.
Nama dan Kelahiran
Namanya adalah Nuruddin, Abu Ali, Hasan bin Hamzawi bin ‘Abdulkarim Al-Hamzawi Al-‘Idwi Al-Maliki Al-Asy’ari Al-Khalwati Al-Azhari. Al-Hamzawi adalah nisbah keluarga besar Syekh Al-‘Idwi. Al-‘Idwi merupakan nisbah yang merujuk kepada tempat kelahirannya yaitu Desa Al-‘Idwah, Markaz Maghaghah, Provinsi Al-Minya (sekarang Al-‘Idwah menjadi markaz yang masuk dalam cakupan Provinsi Al-Minya). Al-Maliki adalah nisbah mazhab fikih yang ia anut. Al-Asy’ari adalah nisbah mazhab akidah yang ia anut. Al-Khalwati adalah nisbah tarekat yang dianutnya, yaitu Tarekat Al-Khalwatiyyah. Sedangkan Al-Azhari adalah nisbah kepada tempat belajar dan mengajarnya, Masjid Al-Azhar.
Al-‘Idwi lahir di Desa Al-‘Idwah, Markaz Maghaghah, Provinsi Al-Minya tahun 1221 H/1806 M. Ia lahir dari keluarga bernasab mulia yang jika diurutkan sampai ke atas nasabnya sampai kepada Shahabah ‘Abdullah bin Mas’ud. Masa kecil ia habiskan untuk menghafal Al-Quran dan mempelajari matan-matan ilmu dasar di Al-‘Idwah. Pendidikan Al-‘Idwi ditunjang dengan pekerjaan ayahnya yang bekerja sebagai petugas pajak (multazim) di bawah pemerintahan masa itu, Muhammad Ali Basya, demikian menurut keterangan Muhammad Al-‘Idwi, zuriah Syekh Al-‘Idwi. Sehingga sejak kecil, Al-‘Idwi tidak mengalami masalah ekonomi yang signifikan. Ia dapat fokus mengembangkan bakatnya sehingga ia menyelesaikan hafalan Al-Quran dan matan-matan ilmu di usia belia.
Menimba Ilmu di Al-Azhar
Beranjak dewasa, Al-‘Idwi diutus untuk belajar di Masjid Al-Azhar. Ia meminum telaga ilmu di Al-Azhar dari ulama-ulama agung pada masanya. Ia belajar tafsir, hadis, dan fikih dari Syekh Muhammad Al-Amir Ash-Shaghir, belajar sastra dan mantik dari Syekhul-Azhar Hasan Al-Quwaisini, belajar Al-Muthawwal Syarh Talkhish Al-Miftah (ilmu sastra arab) dan Jam’ Al-Jawami’ (usul fikih) dari Syekh Mushthafa Al-Bulaqi.
Sungguh beruntung Al-‘Idwi dapat menimba ilmu dari dari pembesar-pembesar Al-Azhar di masanya, seperti Syekh Ibrahim Al-Bajuri, Syekh Muhammad Al-Fadhali, Syekh Ahmad Minnatullah, Syekh Hasan Al-Biltani, dan ulama-ulama lain seangkatan mereka. Meski demikian, Al-‘Idwi lebih banyak menghabiskan waktunya mengaji kepada Syekh Al-Amir Ash-Shaghir. Sehingga wajar saja jika kelak ia menjadi rujukan para pencari sanad keilmuan, khususnya hadits, karena Syekh Al-Amir Ash-Shaghir adalah putra dari Syekh Al-Amir Al-Kabir pemilik tsabat yang -boleh dikatakan- paling lengkap dan paling tinggi di Mesir.
Mengajar di Al-Azhar
Al-‘Idwi sangat tekun menyimak dan menghafal pelajaran yang disampaikan oleh para gurunya. Hingga akhirnya semua ilmu itu masuk dan bermuara di hatinya. Ia menguasai semua fan yang diajarkan padanya di Al-Azhar.
Pada tahun 1242 H/1828 M, yaitu di usia 21 tahun, Al-‘Idwi muda sudah memperoleh izin mengajar di Masjid Al-Azhar dan dari sinilah kiprahnya dimulai. Dalam mengajar, ia sering mendalilkan hadits dan tidak jarang pula ia menyelipkan kisah orang-orang saleh sehingga terkenal di kalangan murid-muridnya bahwa ia hafal banyak hadis dan sirah orang-orang saleh.
※ Bahaya Belajar Agama Islam Tanpa Guru
Ia dikenal sangat mencintai dan memperhatikan para muridnya, bahkan jika ada salah satu dari mereka ada masalah, Al-‘Idwi datang untuk menyelesaikannya. Perangainya yang demikian itu makin membuat para murid betah mengaji kepada Al-‘Idwi, halakahnya dipenuhi murid-murid dari berbagai penjuru dunia. Hingga kelak murid-muridnya ini menjadi orang besar, di antaranya Sayid Nuruddin Ali Al-Biblawi (yang kelak menjadi Syekhul-Azhar), Syekh Hasan Ath-Thawil, Syekh Mushthafa bin Yunus Al-Wardani, Syekh Abdulmajid bin Ibrahim Asy-Syarnubi Al-Maliki Al-Azhari, Syekh Ahmad bin Muhammad Al-Hadhrami Al-Makki Al-Hasyimi, Syekh Idris bin Abdulhadi At-Tihami Al-‘Alawi Asy-Syakiri, Syekh Muhammad Falih Azh-Zhahiri Al-Madani, Syekh Badruddin Al-Hasani, Syekh Ali bin Al-‘Arabi Al-Fasi, Syekh Mushthafa bin Khalil At-Tunisi, Syekh Muhammad Amin Ridhwan, Syekh Mahmud Khaththab As-Subki, Habib ‘Alawi bin Abdurrahman Al-Masyhur, dan masih banyak lagi untuk disebutkan.
Sayid Idris bin Abdulhadi Al-‘Alawi At-Tihami Asy-Syakiri dalam rihlah-nya menuliskan pengalamannya ketika menghadiri pengajian Syekh Hasan Al-‘Idwi. Saya menghadiri pengajiannya mulai terbitnya matahari di Al-Azhar. Beliau kala itu membaca tafsir Surah Al-Baqarah ayat 5 dan 6 dengan Tafsir Al-Jalalain dan Hasyiyah Al-Khafaji. Kemudian di waktu Duhanya, beliau membaca Risalah Ibni Abi Zaid di bagian pertengahan.
Kedermawanan
Tidak ada yang meragukan kedermawanan Al-‘Idwi. Kala ia mengajar di Al-Azhar, sudah tak terhitung berapa orang yang ia bantu, apalagi untuk murid-muridnya ia bahkan rela memberikan barang satu-satunya yang dimilikinya untuk murid yang membutuhkan.
Diceritakan satu ketika Al-‘Idwi didatangi salah satu muridnya, ia mengadu pada Al-‘Idwi atas lapar yang menderanya. Saat itu, Al-‘Idwi sedang duduk beralaskan sajadah satu-satunya yang dimilikinya. Tanpa pikir panjang Al-‘Idwi memberikan sajadah itu kepada muridnya itu dan berpesan, "Ambillah sajadah ini, juallah, dan belilah makanan yang kamu butuhkan." Bukan hanya itu, kala ia bermukim di Makkah saat pelaksanaan haji, ia membagi-bagikan kitab-kitab seperti Shahih Al-Bukhari dan lainnya kepada para talib di sana.
Kisah Unik Syekh Al-‘Idwi dengan Sultan Abdul’aziz, Penguasa Turki
Pada masa kepemimpinan Khedive Ismail, tepatnya pada Syawal tahun 1279 H/April 1863 M, Sultan Abdul‘aziz, Penguasa Turki, mengunjungi Mesir. Di sela-sela kunjungannya ini, ada acara penyambutan sultan di Benteng Shalahuddin. Pada saat itu, Khedive Ismail memilih empat ulama besar Al-Azhar untuk ikut menyambut dan memberi penghormatan kepada sultan. Empat ulama itu adalah Syekhul-Azhar Mushthafa Al-‘Arusi, Syekh Ibrahim As-Saqqa, Syekh ‘Ilisy, dan Syekh Hasan Al-‘Idwi. Ulama pertama dan kedua merupakan orang yang punya pengaruh besar dan lebih kooperatif. Ulama ketiga dari kalangan ahli tasawuf. Sedangkan ulama keempat adalah orang yang tidak peduli dengan kebesaran jabatan dan kehormatan manusia karena sifat warak dan ketawakalannya.
Kemudian, Khedive Ismail terkena sedikit dilema karena empat ulama ini tidak tahu bagaimana upacara resmi untuk penghormatan kepada sultan. Akhirnya Khedive Ismail meminta Kadi Agung Turki untuk mengajari mereka aturan upacara resmi untuk penghormatan kepada sultan. Dikirimlah empat ulama tadi ke sang kadi. Setelah sesi pengajaran selesai, empat ulama cukup heran dengan cara penghormatan kepada sultan, harus dengan membungkukkan badan, menyalami dengan tangan, seabrek upacara lainnya yang detail dan merepotkan. Apakah hanya dengan cara seperti itu tidak ada cara lain. Tapi sang kadi memantapkan hati mereka dan akhirnya mereka setuju.
Tibalah saat upacara resmi untuk penghormatan kepada sultan, Syekh Al-‘Arusi maju terlebih dulu, kemudian disusul oleh Syekh As-Saqqa dan Syekh ‘Ilisy. Mereka melakukan persis seperti instruksi dari sang kadi. Khedive Ismail tampak memperhatikan dengan saksama dan puas dengan pelatihan dari sang kadi. Hingga tiba giliran Syekh Hasan Al-‘Idwi, ia masuk, membungkukkan sedikit badannya, memberi salam kepada sultan, lalu berjalan biasa menuju sultan, tapi tidak mengulangi membungkukkan badan dan salam sesuai instruksi sang kadi. Paniklah Khedive Ismail. Ditambah lagi Syekh Hasan Al-‘Idwi naik ke panggung sultan dan mengucapkan salam, "Assalamualaikum ya Amiralmu'minin wa rahmatullah," sambil mendongakkan kepala berhadapan mata dengan sultan.
Semakin panik dan gusar Khedive Ismail, karena yang dilakukan Syekh Al-‘Idwi tidak sesuai etika dan ditakutkan Sultan Abdul‘aziz marah besar. Seandainya bukan karena di hadapan sang sultan, Khedive Ismail pasti sudah mendepak dan mengeluarkan Syekh Al-‘Idwi dari ruangan. Tapi alih-alih marah besar, sang sultan malah tersenyum kecil kepada Syekh Al-‘Idwi dan membalas salamnya dengan sedikit membungkukkan badannya.
Selepas itu Syekh Al-‘Idwi kembali membuat si khedive naik pitam, Syekh Al-‘Idwi malah memberi nasihat kepada Sang Sultan, mengingatkan kewajiban seorang pemimpin kaum mukminin, dan memperingatkan jika kewajiban itu tidak dipenuhi dengan baik, maka akan ada azab yang besar. Si khedive tampak semakin menyesali mengapa ia sampai memilih syekh bodoh ini. Tapi tetap tidak ada tanda-tanda kemarahan dari wajah sultan, ia asyik saja mendengar kalam Syekh Al-‘Idwi karena memang sang sultan tidak mengerti bahasa Arab.
※ Pertalian Ilmu Qiraat dan Ilmu Nahwu
Selesai menasihati sultan, Syekh Al-‘Idwi menutup dengan salam seperti ia awal tadi dan berjalan keluar ruangan. Para pejabat di luar yang sudah menunggu lalu memaki-makinya "Qadza fi al-‘uyun, mengotor-ngotori mata saja!" Karena perbuatannya tadi yang dinilai sangat tidak pantas di hadapan seorang sultan. Tapi Syekh Al-‘Idwi malah menjawab, "Aku memperlakukannya sebagaimana dia seorang amirulmukminin. Sedangkan kalian memperlakukannya sebagaimana dia sebuah patung, seakan-akan kalian menyembah berhala."
Lantas Sultan Abdul‘aziz bertanya siapa syekh tadi. Lalu dijawab bahwa dia adalah syekh fulan, dia ulama yang berpengaruh tapi dia majdzub, dan Khedive Ismail juga memintakan maaf atas perbuatan sang syekh. Tapi sang sultan malah membalas, "Tidak, tidak. Aku bahkan malah belum pernah sesenang ini sebelumnya seperti rasa senangku bertemu syekh ini."
Pada akhirnya, Sultan Abdul‘aziz memberi lencana (khil’ah) kehormatan untuk Syekh Al-‘Idwi dan menghadiahkan 1000 pound emas. Bahkan menurut Hasan Qasim dalam Al-Mazarat Al-Islamiyyah, 1000 pound emas tadi masih belum termasuk tambahan Khedive Ismail yang memberinya 1000 pound lagi, sehingga menjadi genap 2000 pound emas. Kisah ini diceritakan oleh cucu Syekh Hasan Al-‘Idwi, Syekh Muhammad ‘Asyur Ash-Shidfi, kadi di Al-Mahakim Asy-Syar’iyyah, kepada Ilyas Al-Ayyubi dan ditulisnya dalam bukunya Tarikh Mishr fi ‘Ahd Al-Khidiwi Isma’il Basya.
Perjuangan Melawan Penjajah
Pada masa penjajahan Inggris Syekh Al-‘Idwi termasuk tokoh pembesar dalam Revolusi ‘Urabi. Ia menentang keras kekuasaan para penjajah atas tanah Mesir. Ia juga yang melawan Khedive Taufiq ketika, sang khedive diperalat oleh Penjajah Inggris untuk memuluskan tujuan mereka.
Selain itu, Syekh Al-‘Idwi merupakan orang pertama yang menandatangani Keputusan Al-Jam’iyyah Asy-Sya’biyyah. Keputusan yang menyatakan untuk meneruskan kepemimpinan kepada Ahmad ‘Urabi dan menolak segala keputusan Khedive Taufiq. Hal inilah yang membuat Syekh Al-‘Idwi ditangkap, lalu diajukan ke Mahkamah Militer pasca kegagalan Revolusi ‘Urabi.
Syekh Al-‘Idwi dengan gagah berani mengakui ialah yang menandatangani keputusan tersebut. Ia pulalah yang menemani Ahmad ‘Urabi pergi ke Al-Iskandariyyah dan Kafr Ad-Dawar untuk menggelorakan semangat para pejuang di sana dalam melawan serangan Inggris. Ia bahkan mengajak beberapa murid dan pengikutnya untuk ikut serta. Di sana mereka duduk membaca Shahih Al-Bukhari dan Dala'il Al-Khairat untuk kemenangan rakyat Mesir.
Perjuangan Syekh Hasan Al-‘Idwi terekam panjang bak epik dalam memoarnya Ahmad ‘Urabi dan buku A. M. Broadley, Kaifa Dafa’ana ‘an ‘Urabi wa Shahbihi (terjemah Arab) dan butuh berlembar-lembar halaman untuk menjabarkan semuanya.
Karya Tulis
Selain menyusun hati dan pikiran para muridnya supaya nanti bermanfaat untuk umat, Al-‘Idwi juga nenulis banyak kitab dalam berbagai ranah dan bidang. Sebagian besar karyanya telah diterbitkan, di antaranya:
Bidang hadits
● An-Nur As-Sari min Faidhi Shahih Al-Imam Al-Bukhari
● Al-Madad Al-Fayyadh bi Nur Asy-Syifa li Al-Qadhi ‘Iyadh
● Bulugh Al-Masarrat ‘ala Dala'il Al-Khairat
Bidang fikih
● Kanz Al-Mathalib fi Fadhl Al-Bait wa fi Al-Hijr wa Asy-Syadzarwan wa Ma fi Ziyarah Al-Qabr Asy-Syarif min Al-Ma'arib
● Tabshirah Al-Qudhah wa Al-Ikhwan fi Wadh’ Al-Yad wa Ma Yasyhadu Lahu min Al-Burhan
● Al-Faidh Ar-Rahmani ‘ala Syarh Al-Imam Abd Al-Baqi Az-Zurqani
● An-Nafahat An-Nabawiyyah fi Al-Fadha'il Al-‘Asyuriyyah
● Bulugh At-Tahani ‘ala Syarh Abi Al-Hasan li Risalah Ibni Abi Zaid Al-Qairawani
Bidang tauhid
● Irsyad Al-Murid fi Ma’rifah Khulashah Ilm At-Tauhid
● Al-Jauhar Al-Farid ‘ala Irsyad Al-Murid
Bidang tasawuf
● Masyariq Al-Anwar fi Fauz Ahl Al-I’tibar
Bidang sirah nabawiyah
● An-Nafahat Asy-Syadzuliyyah fi Syarh Al-Burdah Al-Bushiriyyah
Pulang ke Haribaan Sang Pencipta
Syekh Hasan Al-‘Idwi adalah ulama pakar hadits, pendidik murid dan masyarakat, penolong para talib, kedermawanannya memberi manfaat banyak orang, kewibawaannya bukan hanya di kalangan awam akan tetapi para umara dan pemegang kekuasaan juga memuliakannya. Ia menanamkan di hati para santrinya untuk mencintai para ahli bait keturunan Rasulullah, ia juga bercerita kepada para muridnya bahwa secara khusus ia mencintai Imam Asy-Syafi’i, Syekh Abdulwahhab Asy-Sya’rani, dan Syekh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi.
Perjuangan tiada henti mulai dari masjid sampai mahkamah militer, mulai dari cara halus sampai cara keras, mulai dari mengajar sampai diplomasi. Seorang ulama yang dengan sejati mengikuti ayat "tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati".
Orang yang hidupnya tiada henti diabdikan untuk masyarakat ini akhirnya pulang ke haribaan Tuhannya pada 1 Ramadan 1303 H (3 Juni 1886 M). Jenazahnya dikebumikan di samping makam Syekh Ahmad Asy-Syanawani dan Sayidah Halumah, di masjidnya yang berada di Kairo, di samping Masjid Imam Al-Husain. Semoga rahmat Allah senantiasa meliputi kuburnya.