Dalam buku sirah nabi, terdapat banyak riwayat berkenaan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Baik itu perbedaan tanggal, bulan, maupun hari. Namun, perbedaan hari oleh para sejarawan tidak dianggap sama sekali, karena bertentangan dengan ucapan Nabi sendiri yang berkata bahwa ia dilahirkan pada hari Senin. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah pernah ditanyai mengenai puasa Senin yang kerap beliau lakukan dengan menjawab, “Itu adalah hari di mana aku dilahirkan.”
Artinya, tidak ada ikhtilaf soal pada hari apa Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Begitupun dengan kelahiran Nabi SAW yang terjadi pada Tahun Gajah (‘Am Al-Fil).
Perbedaan yang justru banyak terjadi adalah mengenai tanggal dan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Baik dulu hingga kini, perbedaan mengenai dua hal di atas terus terjadi. Seperti tanggal, misalnya, ada yang berpendapat bahwa Nabi SAW dilahirkan pada tanggal 2, 8, 9, 10, 12, 17, atau 22 Rabiulawal. Begitupun dengan bulan kelahiran Nabi SAW. Ada yang berpendapat bulan Rabiulawal, Rabiulakhir, Shafar, atau Ramadan.
※ Hukum Maulidan di Luar Rabiul Awal
Semua perbedaan di atas dapat dengan mudah ditemukan di banyak buku sirah Nabi Muhammad SAW. Tentu saja, hal ini terjadi karena perbedaan kultur tiap penulis, karena tidak setiap penulis adalah editor-ahli yang cakap (muhaqqiq), sejarawan, dan ilmuan. Dan hal itu sudah makruf. Kepakaran seseorang dalam bidang A tidak melazimkan kepakarannya dalam bidang B. Kepakaran dalam bidang A pun tidak melazimkan kebenaran semua pendapatnya dalam bidang A.
Ala kulli hal, setelah berlalu 14 abad sejak kewafatan Nabi Muhammad SAW, Mahmud Basya Al-Falaki (1815–1885 M), pakar astronomi Islam Mesir merasa perlu adanya kajian ulang mengenai tarikh yang tepat bagi kelahiran Nabi Muhammad SAW. Apalagi ini menyangkut sosok penting dalam sejarah Islam bahkan dunia. Tidak layak jika beberapa abad telah berlalu, namun tarikh yang disuguhkan oleh buku sirah dari era ke era selalu mengulang perbedaan kalender. Ia pun kemudian membuat sebuah buku berbahasa Prancis berjudul Mémoire sur le calendrier arabe avant l'islamisme, et sur la naissance et l'âge du prophète Mohammad (Kalender Arab Pra-Islam dan Investigasi Seputar Kelahiran Nabi Muhammad SAW).
Perjalanan Buku
Buku berbahasa Prancis ini diterbitkan pertama kali oleh Imprimerie Impériale, Paris (Prancis) pada tahun 1858 M, yaitu kala Mahmud Basya Al-Falaki berusia 43 tahun. Buku ini kemudian diterbitkan dalam bahasa Arab untuk pertama kalinya oleh Mathba’ah Al-Kubra Al-Amiriyyah, Kairo (Mesir) pada tahun 1887 M dengan Ahmad Dzaki Effendi sebagai penerjemahnya. Dua tahun setelah wafatnya Mahmud Basya Al-Falaki. Versi Arab buku ini pun diberi judul Nataij Al-Afham fi Taqwim Al-‘Arab Qabla Al-Islam wa fi Tahqiq Maulid An-Nabi wa ‘Umrihi.
Waktu pun berlalu. Buku ini telah melewati setengah abad sejak diterbitkan dalam bahasa Arab. Melihat pentingnya pembahasan buku ini, Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Lembaga Riset Islam) Al-Azhar kembali menilik ulang, lalu menerbitkannya pada tahun 1969 M dengan judul yang berbeda, yaitu At-Taqwim Al-‘Arabi Qabla Al-Islam wa Tarikh Milad Ar-Rasul wa Hijratuhu. Disesuaikan dengan terjemah yang sesuai dengan judul aslinya, karena terbitan tahun 1887 M menambahkan Nataij Al-Afham pada judul Arabnya yang tidak ada dalam bahasa Prancisnya.
Selanjutnya, buku terjemahan versi bahasa Arab ini sempat kembali dicetak beberapa tahun silam. Pertama oleh Dar Al-Manarah, Jeddah (Arab Saudi) pada tahun 2018 M dengan diberi kata pengantar oleh Syekh Ali Ath-Thanthawi. Lalu kedua oleh Nur Hauran, Dar’a (Suriah) pada tahun 2021 M dengan pengantar Dr. Mahmud Muhammad Khalaf. Hanya saja, dua cetakan termutakhir ini hanya menghimpun ulang apa yang pernah diterjemahkan oleh Ahmad Dzaki Effendi dengan tambahan beberapa catatan kaki dan komentar. Judul bukunya pun tidak ada koreksian ulang sebagaimana yang diterbitkan oleh Al-Azhar.
Tarikh Maulid Nabi Muhammad SAW
Sebagaimana judul buku yang bermakna Kalender Arab Pra-Islam dan Investigasi Seputar Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Mahmud Basya Al-Falaki memulai risetnya seputar maulid Nabi Muhammad SAW dengan mendefinisikan kalender, apakah Arab Jahiliah mengenal kalender Hijriah, nama-nama bulan pada masa itu, kenapa banyak yang memakai kalender dengan patokan peristiwa, perspektif ilmiah seputar ilmu astronomi, hingga terakhir pada pembahasan kelahiran Nabi SAW dan beberapa peristiwa penting pada masa kenabian.
Sebagai seorang cendekiawan Mesir, Mahmud Basya Al-Falaki hidup di zaman di mana Maulid Nabi dirayakan secara luas dan penuh khidmat. Meskipun ia lebih dikenal sebagai pakar astronomi, keterlibatannya dalam penanggalan keagamaan menunjukkan bahwa ia memahami pentingnya perayaan-perayaan seperti Maulid Nabi bagi umat Islam.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniBagi Mahmud Basya Al-Falaki, aspek astronomi dalam penentuan tanggal Maulid Nabi adalah hal yang esensial, mengingat perayaan ini seharusnya dilakukan tepat pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ia meyakini bahwa ilmu pengetahuan tidaklah bertentangan dengan agama, tetapi justru mendukungnya, terutama dalam hal penentuan waktu yang tepat untuk perayaan-perayaan suci. Dengan memanfaatkan ilmu astronomi, ia memastikan bahwa perayaan ini dilakukan pada hari yang benar dalam kalender lunar, tanpa adanya kesalahan dalam penghitungan fase bulan.
Perlu diketahui, Mahmud Basya Al-Falaki dikenal sebagai ahli astronomi yang memainkan peran besar dalam penentuan kalender Islam yang akurat. Tak hanya dalam buku ini, ia juga banyak berperan penting dalam penanggalan Kalender Hijriah pada saat itu, mengingat bahwa kalender Islam adalah kalender lunar yang didasarkan pada siklus bulan. Berbeda dengan kalender Gregorian (solar) yang didasarkan pada sikus matahari. Oleh karena itu, penentuan bulan-bulan dan hari-hari penting dalam Islam, seperti Ramadan, Idul Fitri, dan Maulid Nabi memerlukan pengamatan terhadap fase-fase bulan.
Mahmud Basya Al-Falaki menggunakan metode observasi astronomis yang lebih presisi untuk menghitung awal bulan Hijriah, khususnya dalam penentuan hari-hari penting. Pada masa hidupnya, banyak ketidakpastian dalam penentuan awal bulan Islam di berbagai wilayah karena keterbatasan teknologi dan adanya perbedaan dalam metode pengamatan. Oleh karena itu, ia memimpin upaya untuk menyelaraskan observasi astronomis dengan penanggalan yang lebih akurat di seluruh Dinasti Al-‘Utsmaniyyah kala itu.
Mahmud Basya meyakini bahwa pendekatan ilmiah ini penting untuk menjaga ketepatan ritual-ritual keagamaan, termasuk Maulid Nabi. Justru di sinilah seharusnya peran ilmu astronomi dimaksimalkan. Dengan penentuan waktu yang tepat, perayaan keagamaan dapat dijalankan secara serempak dan sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh syariat Islam. Dengan pengalamannya di bidang astronomi, ia memperkenalkan metode observasi bulan yang lebih ilmiah, yang kemudian diadopsi dalam penentuan kalender Islam di banyak negara muslim.
Sejujurnya, ketika membaca riset yang ada di dalam buku ini, saya sebagai pembaca juga tidak terlalu memahami apa-apa saja yang dituliskan oleh Mahmud Basya Al-Falaki pada bagian ia meriset seputar kalender Hijriah. Hal ini tentu karena saya tidak menguasai astronomi. Yang dapat saya pahami adalah bagian kala Mahmud Basya Al-Falaki membahas seputar sejarah kalender pra-Islam, tarikh yang digunakan orang Arab kala itu, nama-nama bulan, dan berbagai hal selain riset astronomi untuk penentuan tanggal presisi sebuah peristiwa.
Yang jelas, dalam riset yang banyak mengomentari buku-buku sirah terdahulu tersebut, Mahmud Basya Al-Falaki akhirnya dapat memunculkan hari presisi kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW. Ia berkata, “Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 9 Rabiulawal yang bertepatan dengan 20 April 571 M. Berpegang teguhlah dengan hasil penyelidikan ini dan jangan terbelenggu dengan tradisi terdahulu.”
Dengan hasil riset ini, apakah kita masih bermaulid di hari-hari lain, atau mau mengikuti apa yang sudah diobservasi oleh Mahmud Basya Al-Falaki dalam menentukan tarikh presisi kelahiran Nabi Muhammad SAW. Yang menarik, perayaan Maulid Nabi SAW di Mesir diadakan selama sebulan penuh dengan beragam acara. Bagaimana dengan Anda? Apapun itu, semoga rahmat dan kasih sayang Baginda Nabi SAW senantiasa hadir di dalam sanubari kita hingga hari di mana kita akan bertemu kembali dengan Nabi Muhammad SAW di telaga Kautsar-nya. Amin.