Syekh Mushthafa Ismail, Qari' Para Raja, Napas Panjang Melegenda

“Ia [Mushthafa Ismail] adalah bintang yang istimewa, berbeda dari para qari' lain semasanya. Dengan nuansa, panjang, aroma, dan pola suaranya yang bisa naik-turun dengan pas. Dengan penguasaannya yang mendalam pada ilmu qira'at. Dan dengan kepiawaiannya dalam menghadirkan cahaya kekhusyukan sepanjang apa pun tilawahnya.”

—Syekh Ali Muhammad Adh-Dhabba’, Syekhul-Maqari' Al-Mishriyyah

Kalimat pembuka di atas adalah pujian dari Syekh Ali Muhammad Adh-Dhabba’, Syekhul-Maqari' Al-Mishriyyah, kepada Syekh Mushthafa Ismail—qari' yang dikenal luas dengan julukan Qari' Al-Muluk wa Ar-Ru'asa'. Suaranya yang lembut namun penuh kekuatan, dengan napas panjang yang melegenda, telah menggetarkan hati pendengar dari istana Raja Faruq hingga pelosok Asia Tenggara. Bahkan Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi pernah berkata, “Jika kita mencari napas panjang dan merdu, maka Syekh Mushthafa Ismail.” Ia bukan hanya seorang hafiz dan qari' Al-Quran, tetapi simbol seni tilawah paripurna—menguasai lebih dari 19 maqamat musiqiyyah seperti rast, bayati, hingga nahawand. Tapi, siapa sebenarnya sosok di balik suara yang meneduhkan itu?

Latar Belakang dan Pendidikan Awal

Ia bernama lengkap Mushthafa bin Muhammad bin Al-Mursi bin Ibrahim Ismail. Dilahirkan pada 17 Juni 1905 M (13 Rabiulakhir 1323 H) di Desa Mit Ghazal, Markaz As-Santhah, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir. Mushthafa lahir dari keluarga makmur dan terpandang bernama Abu Ismail. Sehingga nama dari anggota keluarga pada akhir namanya dinisbahkan kepada Ismail. Ayahnya adalah seorang petani yang memiliki tanah seluas 12 faddan (sekitar 5 hektar).

Menghafal Al-Quran di Kuttab

Sejak usia 6 tahun Mushthafa dimasukkan ke kuttab desanya. Selama di desa, Mushthafa belajar pada beberapa guru:

●      Syekh Abdurrahman Abu Al-‘Ainain (menghafal Al-Quran dan belajar dasar-dasar ilmu agama)

●      Syekh Abdullah Syahatah (mengkhatamkan hafalan Al-Quran)

●      Syekh Mahmud Hasyisy (mengkhatamkan Qira'ah Sab’ah)

●      Syekh Idris Fakhir (mengkhatamkan Qira'ah ‘Asyrah dan memantapkan tilawah)

Masa ini ditempuh Mushthafa kecil sekitar 10 tahun. Setelah itu ia dibawa kakeknya ke Thantha memperdalam ilmu Qira'at di Masjid Al-Ahmadi. Kemudian dilanjutkan ke Masjid Al-Azhar sebelum akhirnya pulang ke desanya.

Awal Mula Ketenaran

Pada tahun 1922, tersiar kabar wafatnya seorang tokoh terkemuka di Kota Thantha, Husain Al-Qashabi Bik. Masyarakat berbondong-bondong menyambut jenazah yang tiba dari Istanbul, dan sebuah majelis takziah besar pun digelar. Dalam acara itu, Mushthafa Ismail—qari' muda yang tengah menapaki awal kariernya—ikut diundang untuk mengisi tilawah, karena keluarganya memiliki hubungan dekat dengan keluarga almarhum.

Ternyata, keluarga almarhum juga turut mengundang Syekh Muhammad Rif’at, qari' senior yang sangat dihormati. Mushthafa muda pun didudukkan berdampingan dengan Syekh Muhammad Rif’at di atas sebuah dikkah (kursi panjang) di atas panggung. Meski Mushthafa telah dikenal luas di Provinsi Al-Gharbiyyah, saat itu Syekh Muhammad Rif’at belum mengenalnya secara pribadi.

Setelah Syekh Muhammad Rif’at menyelesaikan bacaannya dan turun dari panggung, giliran Mushthafa muda tampil. Tak disangka, tilawahnya yang merdu dan khusyuk berhasil memikat hati Syekh Muhammad Rif’at yang masih berada di lokasi. Beliau pun memberi isyarat agar Mushthafa melanjutkan bacaannya, dan baru berhenti setelah mendapat isyarat darinya.

Tilawah itu berlangsung selama lebih dari satu setengah jam, disambut dengan sorak takbir dan kekaguman para hadirin. Seusai acara, Syekh Muhammad Rif’at mendatangi Mushthafa, memuji kemampuannya, dan menyemangatinya agar terus mengembangkan bakatnya. Sejak saat itulah, nama Mushthafa Ismail mulai dikenal luas di Mesir dan menapaki jalan menuju puncak ketenaran.

Dari Tilawah ke Pelaminan

Pada tahun 1927, wafatlah Sa’ad Zaghlul, tokoh revolusi Mesir 1919. Majelis-majelis takziah digelar di berbagai provinsi, termasuk di Kota Dumyath. Dalam salah satu acara takziah itu, Syekh Mushthafa Ismail diundang untuk mengisi tilawah.

Tilawahnya yang menyentuh hati menarik perhatian seorang tokoh lokal bernama Muhammad Umar, yang kemudian mengundangnya kembali untuk membacakan Al-Quran di kediamannya. Tanpa diduga, Mushthafa jatuh hati pada putri sang tuan rumah yang bernama Fathimah.

Pada tahun berikutnya, 1928 M, Mushthafa pun meminang Fathimah melalui kakak perempuannya, karena ayah Fathimah telah wafat. Di usia 23 tahun, ia resmi menikahi Fathimah binti Muhammad Umar, dan dari pernikahan ini mereka dikaruniai 6 orang anak: 3 laki-laki dan 3 perempuan.

Munakahat

Kumpulan tulisan dengan topik pernikahan dan keluarga islami dapat teman-teman temukan

di sini

Tilawah Bersejarah di Masjid Imam Al-Husain

Awal tahun 1943 M, Syekh Mushthafa Ismail berangkat ke Kairo untuk keperluan membeli kain. Dalam perjalanan, terlintas di benaknya pesan para gurunya agar ia bergabung dengan Rabithah Al-Qurra', organisasi perkumpulan para qari' yang dianggap bisa menjadi pintu menuju pengakuan nasional.

Niat itu pun ia wujudkan. Ia berhasil menemui ketua Rabithah, Syekh Muhammad Ash-Shaifi, dan menyampaikan maksud kedatangannya. Setelah diminta membaca, Syekh Ash-Shaifi dibuat takjub dengan suara dan penguasaan qira'at Mushthafa, dan segera melihat potensi besar di dalam dirinya.

Keesokan harinya, Mushthafa diminta hadir dalam sebuah acara tilawah nasional yang akan disiarkan langsung dari Masjid Imam Al-Husain. Saat itu, qari' yang dijadwalkan tampil adalah Syekh Abdulfattah Asy-Sya’sya’i, namun secara mendadak beliau berhalangan hadir tanpa pemberitahuan lebih dulu.

Dalam situasi mendesak tersebut, Syekh Ash-Shaifi mengajukan Syekh Mushthafa Ismail sebagai pengganti. Panitia sempat menolak karena Mushthafa belum memiliki lisensi resmi untuk siaran nasional. Namun Syekh Ash-Shaifi bersikukuh, “Biarkan dia membaca. Aku yang bertanggung jawab atasnya.”

Akhirnya, Mushthafa diizinkan tampil. Ia membuka tilawah dengan membaca Surah At-Tahrim, mengikuti protokol selama setengah jam. Namun ketika hendak meninggalkan tempat, hadirin justru memintanya melanjutkan bacaan. Suasana pun larut dalam kekhusyukan hingga menjelang tengah malam.

Peristiwa ini menjadi titik balik karier Mushthafa Ismail. Dari sebuah kesempatan darurat, ia justru mencuri perhatian dan membuka jalan menuju gelar yang kelak melekat erat padanya: Qari' Al-Muluk wa Ar-Ru'asa'—qari' para raja dan pemimpin.

Qari' Para Raja

Tilawah Syekh Mushthafa Ismail yang disiarkan dari Masjid Imam Al-Husain tidak hanya memukau masyarakat umum, tetapi juga menarik perhatian Raja Faruq. Tak lama kemudian, Syekh Mushthafa diundang ke Kairo dan bertemu dengan Murad Basya Muhsin, Kepala Urusan Istana. Dalam pertemuan itu, ia diberi tahu bahwa Raja Faruq sangat mengagumi tilawahnya dan ingin mengangkatnya sebagai Qari' Istana.

Tugas khusus pun diberikan: mengisi tilawah Al-Quran pada malam-malam bulan Ramadan di dua istana utama, yakni Istana Ra's At-Tin dan Istana Al-Muntazah di Kota Al-Iskandariyyah.

Sejak saat itu, gelar Qari' Al-Muluk wa Ar-Ru'asa' (Qari' Para Raja dan Petinggi) pun melekat pada diri Syekh Mushthafa Ismail, bukan sekadar julukan, melainkan pengakuan atas keistimewaannya. Bahkan, pada 28 April 1943, ia kembali diundang untuk mengisi tilawah dalam peringatan tujuh tahun wafatnya Raja Fuad I, sebuah kehormatan besar yang semakin mengukuhkan posisinya di antara para qari' Mesir.

Qari' Al-Azhar dan Lisensi Siaran

Tahun 1944 M, Syekh Mushthafa Ismail menetap secara permanen di Kairo. Saat itu, kondisi ekonominya tergolong sangat baik—ia tinggal di Hotel Shepheard, sebuah hotel mewah yang hanya dihuni kalangan elite dan turis asing.

Tiga tahun kemudian, pada 1947 M, Wizarah Al-Auqaf (Kementerian Wakaf Mesir) menetapkannya sebagai qari' resmi yang akan mengisi tilawah nasional dari Masjid Al-Azhar setiap hari Jumat. Keputusan ini mengejutkan sebagian kalangan qari', karena Syekh Mushthafa saat itu belum mengantongi lisensi siaran resmi dari negara.

Protes pun muncul. Namun situasi segera mereda berkat dukungan dari tokoh-tokoh penting seperti Syekh Abdulfattah Al-Qadhi (Guru Besar Ilmu Qira'at Al-Azhar), Syekh Ali Adh-Dhabba’ (Syekhul-Maqari' Mesir), Murad Basya Muhsin (Kepala Urusan Istana), dan Muhammad Basya Haidar (Panglima Tentara Nasional Mesir). Dengan dukungan para pembesar tersebut, tidak ada lagi yang berani mempertanyakan keabsahan peran Mushthafa di Masjid Al-Azhar.

Suara indahnya pun mulai menggema dari Masjid Al-Azhar, memikat hati para jamaah dan pendengar di seluruh penjuru Mesir. Ia mengemban tugas sebagai qari' tetap Al-Azhar selama hampir tiga dekade.

Barulah setahun kemudian, pada 1948 M, Syekh Mushthafa mengikuti ujian resmi lisensi siaran nasional. Di antara para pengujinya adalah dua tokoh besar: Syekh Ali Muhammad Adh-Dhabba’ dan Syekh Abdulfattah Asy-Sya’sya’i. Ujiannya berjalan lancar, dan ia pun resmi menyandang status qari' bersertifikat nasional—sebuah pengakuan formal atas bakat luar biasa yang telah lebih dulu diakui publik.

Jejak Pengaruh: Syekh Mushthafa dan Presiden As-Sadat

Menurut penuturan Wahid Mushthafa Ismail, putra sang qari', ayahnya memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Presiden Anwar As-Sadat. Presiden kerap mendengarkan tilawah Mushthafa Ismail, bahkan menirukan gaya tilawah khasnya saat membaca Al-Quran di dalam penjara—sebuah pengaruh yang tidak hanya musikal, tetapi juga spiritual.

Seorang ajudan Presiden As-Sadat juga pernah mengungkap bahwa alasan pengangkatan Syekh Ahmad Nu’aina’ sebagai Qari' Nasional tak lepas dari peran Mushthafa Ismail. Sebab, Syekh Nu’aina’ merupakan murid langsung dari madrasah tilawah Mushthafa—sebuah gaya yang kemudian menjadi identitas Mesir modern dalam seni qira'at.

Safari Tilawah, Penghargaan, dan Warisan Abadi

Dalam perjalanannya sebagai qari', Syekh Mushthafa Ismail kerap diundang untuk mengisi tilawah di berbagai negara. Safari tilawahnya membentang dari Paris, Bonn, Munchen, dan London, hingga Karachi, Al-Quds, Suriah, Arab Saudi, Qatar, Irak, serta Indonesia dan Malaysia. Di setiap negara, suaranya menjadi duta spiritual yang menembus batas bahasa dan budaya.

Seiring reputasinya yang terus menanjak, berbagai penghargaan pun diterimanya, antara lain:

  • Wisam Al-Jumhuriyyah Tingkat III dari Presiden Jamal Abdunnashir pada peringatan ‘Id Al-‘Ilm, tahun 1965,
  • Penghargaan dari Presiden Turki Fahri Korutürk pada tahun 1973, diserahkan langsung di Istana Negara, Ankara,
  • Wisam Al-Aruzz dari Libanon, tahun 1958,
  • Wisam Al-Imtiyaz dari Presiden Husni Mubarak, tahun 1985.

Hingga kini, warisan tilawahnya tetap hidup dan menginspirasi generasi baru. Suaranya terdokumentasi lengkap dalam 30 juz mushaf murattal dan mujawwad, yang bisa diakses di berbagai platform digital:

🔗 Mushaf Murattal

🔗 Mushaf Mujawwad

Menghembuskan Napas Terakhir

Pada Jumat, 22 Desember 1978 M, di usianya yang telah melewati kepala tujuh, Syekh Mushthafa Ismail diundang untuk mengisi tilawah dalam acara peresmian Masjid Al-Bahr di Kota Dumyath. Usai mengisi acara tersebut, beliau tiba-tiba tak sadarkan diri di penginapannya akibat pendarahan otak, dan segera dilarikan ke rumah sakit di Al-Iskandariyyah.

Syekh Mushthafa Ismail mengalami koma selama tiga hari. Hingga akhirnya, pada Selasa, 26 Desember 1978 (26 Muharam 1399 H), suara qari' legendaris itu terdiam untuk selamanya. Ia wafat di Al-Iskandariyyah dan kemudian dimakamkan di kampung halamannya, Desa Mit Ghazal, di samping masjidnya.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Ahmad Wildan