TAWAZUN.ID — Imam Akbar Al-Azhar Syekh Ahmad Ath-Thayyib kembali menegaskan komitmen Al-Azhar dalam menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan moderasi Islam kepada dunia. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan delegasi Royal College of Defence Studies (RCDS) dari Kerajaan Inggris, yang dipimpin oleh Philip Parham, Direktur Senior Bimbingan RCDS, pada Rabu (8/5/2025) di Gedung Masyakhah Al-Azhar, Kairo.
Dalam sambutannya, Imam Akbar menekankan bahwa Al-Azhar bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang semakin kehilangan arah. Sejak berdiri lebih dari 1080 tahun lalu, Al-Azhar mengemban tanggung jawab global untuk mengajarkan Islam yang benar dan moderat kepada para pelajar dari seluruh penjuru dunia.
“Kami menanamkan nilai-nilai perdamaian, pengertian, dan persaudaraan dalam diri para mahasiswa kami melalui kurikulum yang moderat dan menjauhkan mereka dari pemikiran ekstremis,” ujar Syekh Ahmad Ath-Thayyib.
Saat ini, Al-Azhar menjadi rumah bagi sekitar 60.000 pelajar dari 110 negara. Mereka dipersiapkan untuk kembali ke masyarakatnya dengan membawa ilmu fikih yang sahih dan pemahaman agama yang damai, sebagai bekal dalam membangun harmoni sosial serta membentengi masyarakat dari paham radikal.
※ Langkah Strategis Al-Azhar Melawan Terorisme
Kritik Keras atas Kekejaman di Gaza
Dalam pertemuan tersebut, Syekhul-Azhar menyoroti tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan di Gaza Palestina. Ia menyebut bahwa kekejaman yang terjadi selama lebih dari satu setengah tahun terakhir adalah bentuk kebrutalan yang bahkan tak terbayangkan terjadi di Abad Pertengahan.
“Dunia saat ini telah berubah menjadi seperti hutan, tempat yang kuat memangsa yang lemah. Nilai-nilai kemanusiaan ditinggalkan, dan kekejaman terjadi setiap hari di depan mata kita, bahkan di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Slogan hak asasi manusia pun menjadi tak lebih dari sekadar retorika kosong,” tegas Imam Akbar Al-Azhar.
Kecaman terhadap Kekerasan Atas Nama Agama
Syekhul-Azhar juga mengecam kelompok-kelompok yang menggunakan agama sebagai dalih untuk melakukan kekerasan. Ia menyebut mereka sebagai “senjata sewaan”—bergerak sesuai kepentingan dan pihak yang mengendalikan mereka.
“Kelompok-kelompok itu tidak mewakili Islam. Mereka ibarat senjata yang sewaktu-waktu bisa digunakan oleh siapa pun, untuk tujuan apa pun,” ujar beliau menegaskan.






Membangun Dialog dan Menghapus Sekat Sosial
Al-Azhar, lanjut Imam Akbar, telah membuka diri untuk menjalin kerja sama dengan berbagai institusi keagamaan di dalam dan luar negeri. Salah satu inisiatif terpenting adalah pendirian Bait Al-‘Ailah Al-Mishriyyah bersama gereja-gereja di Mesir, yang berhasil meredam ketegangan sektarian di berbagai provinsi.
Hasil signifikan lainnya adalah adopsi istilah “kewarganegaraan” untuk menggantikan kata “minoritas”, sebuah terobosan penting yang lahir dari Konferensi Internasional Al-Azhar bertajuk “Kebebasan dan Kewarganegaraan: Keberagaman dan Integrasi.”
※ Memoar Al-Batasyti di Negeri Jambi
Hubungan lintas iman juga diperkuat dengan gereja-gereja Barat. Syekhul-Azhar telah mengunjungi Gereja Canterbury, Vatikan, dan Dewan Gereja Dunia. Kolaborasi ini menghasilkan berbagai kesepakatan konstruktif, termasuk penandatanganan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan bersama Paus Fransiskus pada 2019.
“Dokumen itu menawarkan solusi nyata bagi berbagai krisis global—asal nilai-nilainya dijalankan dengan sungguh-sungguh,” jelas beliau.
Apresiasi dari Delegasi Inggris
Delegasi RCDS menyatakan rasa bahagia dan penghargaan tinggi atas sambutan yang mereka terima di Al-Azhar. Mereka mengapresiasi peran Imam Besar dalam menjembatani hubungan antara Timur dan Barat, serta usahanya dalam memajukan dialog antaragama dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian serta hidup berdampingan di antara umat manusia.
