Tarwiyah dan Arafah: Keutamaan, Amalan, dan Peluang Meraih Ampunan
Hari Tarwiyah menandai awal dimulainya rangkaian ibadah haji, terutama bagi jemaah haji tamattu’ seperti mayoritas jemaah Indonesia. Sementara itu, Hari Arafah adalah momen puncak pelaksanaan wukuf di Padang Arafah—rukun terbesar dalam ibadah haji. Kedua hari ini pun menjadi sangat penting bagi seluruh jemaah haji dari berbagai penjuru dunia.
Namun, keistimewaan Hari Tarwiyah dan Hari Arafah tidak terbatas pada jemaah haji saja. Umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji pun tetap bisa meraih limpahan pahala melalui amalan-amalan khusus di dua hari ini. Bahkan, Syekh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi menuliskan keutamaan dua hari ini dalam kitab khusus berjudul Fadhl Yaum At-Tarwiyah wa ‘Arafah, yang memuat hadits dan atsar pilihan seputar keduanya.
Asal Usul Nama
Secara bahasa, "tarwiyah" memiliki dua makna: membawa perbekalan air dan merenung. Makna pertama merujuk pada kebiasaan jemaah haji di masa lalu yang mengambil air dari Makkah sebelum berangkat ke Mina. Penjelasan ini, menurut riwayat yang dikutip dalam kitab karya Ibnu Qudamah, disampaikan oleh tokoh-tokoh seperti Imam Abu Ja’far dan Ibnu Syihab Az-Zuhri.
Makna kedua berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim yang merenungkan mimpinya tentang penyembelihan putranya di malam kedelapan Dzulhijjah. Apakah hanya bunga tidur atau memang benar-benar perintah dari Allah SWT.
Adapun "arafah" secara bahasa berarti mengenal atau mengetahui. Lokasi Arafah dikenal sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawa setelah terpisah sekian lama. Ada pula riwayat yang menyebut bahwa di tempat inilah Malaikat Jibril mengajarkan tata cara haji kepada Nabi Ibrahim, penjelasan ini dikutip dalam karya Ibnu Qudamah tersebut, dan dinisbahkan kepada Imam ‘Atha. Penamaan ini juga dikaitkan dengan suasana wukuf di mana umat Islam dari berbagai bangsa dan latar belakang bertemu dan saling mengenal di satu tempat yang sama.
Adapun penamaan hari kesembilan Dzulhijjah sebagai Hari Arafah merujuk pada waktu pelaksanaan rukun haji yang paling agung, yaitu wukuf di Arafah.
Keutamaan Hari Tarwiyah dan Arafah
Secara umum, Hari Tarwiyah dan Hari Arafah termasuk dalam empat bulan mulia (Al-Asyhur Al-Hurum) dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Karena itu, segala keutamaan yang melekat pada waktu-waktu tersebut juga menaungi kedua hari ini.
Bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram ditetapkan sebagai bulan-bulan mulia, salah satunya bisa jadi karena mengelilingi waktu pelaksanaan ibadah haji. Dalam bulan-bulan ini, peperangan dilarang demi menjamin keamanan jemaah haji yang datang dan kembali. Namun, larangan tidak terbatas pada peperangan saja; segala bentuk kezaliman, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, dikecam keras dan diberi sanksi dosa yang lebih berat dibanding bulan lainnya.
Sebaliknya, ibadah dan amal kebajikan yang dilakukan pada bulan-bulan ini mendapat ganjaran yang berlipat ganda. Oleh karena itu, syariat sangat menganjurkan untuk memperbanyak puasa, zikir, dan amal saleh lainnya.
Jika bulan-bulan sebelum dan sesudah Dzulhijjah saja mendapatkan kehormatan karena mengitarinya, maka bulan Dzulhijjah sendiri tentu memiliki keutamaan yang jauh lebih besar. Hal ini juga berlaku untuk sepuluh hari pertamanya, yang diberi perhatian lebih dibanding hari-hari lainnya dalam bulan tersebut.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniDalam pandangan Syekh Ibrahim Al-Hifnawi sebagaimana tercantum dalam Fatawa Syar’iyyah Mu’ashirah, kemuliaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah bertumpu pada kehadiran tiga hari agung: Tarwiyah, Arafah, dan Idul Adha, yang menjadi inti pelaksanaan ibadah haji.
Dalam hadits riwayat Ibnu ‘Abbas, Rasulullah SAW bersabda:
"Puasa pada Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) adalah penghapus dosa selama satu tahun, dan puasa pada Hari Arafah (9 Dzulhijjah) adalah penghapus dosa selama dua tahun."
Hari Arafah memiliki keutamaan khusus yang ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi. Di antaranya, Allah SWT bersumpah atasnya dalam Surah Al-Fajr ayat ke-3—“yang ganjil”—yang oleh sebagian mufasir dimaknai sebagai Hari Arafah.
Dalam sejumlah hadits, Hari Arafah juga digambarkan sebagai hari kasih sayang (rahmah), hari pembebasan dari neraka (‘itq), hari Allah membanggakan hamba-Nya (mubahah), hari yang membuat Iblis putus asa (al-hasrah li Iblis), serta hari raya bagi umat yang beriman (‘id). Penamaan-penamaan ini dirangkum dari berbagai riwayat yang menekankan kemuliaan dan keistimewaan hari tersebut.
※ Pendar Lampu Al-Azhar
Amalan di Hari Tarwiyah dan Arafah
1. Puasa
Puasa pada Hari Tarwiyah memiliki nilai pahala yang besar. Dalam hadits riwayat Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa puasa pada hari ini dapat menghapus dosa selama satu tahun. Jika puasa di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah secara umum disetarakan dengan puasa setahun—sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Abu Hurairah—maka puasa Hari Tarwiyah memiliki keistimewaan ganda: sebagai penghapus dosa setahun dan dengan pahala sebanding puasa setahun.
Adapun puasa Hari Arafah memiliki keutamaan yang lebih besar lagi. Rasulullah SAW bersabda:
“(Puasa Hari Arafah) menghapuskan dosa-dosa selama satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang.”
Perlu digarisbawahi bahwa kesunnahan puasa Hari Arafah hanya berlaku bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan wukuf di Arafah.
2. Menghidupkan Malam
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang menghidupkan empat malam dengan ibadah, maka surga menjadi wajib baginya: Malam Tarwiyah, Malam Arafah, Malam Nahr (Idul Adha), dan Malam Fitri (Idul Fitri)."
Menghidupkan malam dapat dilakukan dengan salat malam, zikir, atau doa. Khusus pada malam Arafah, terdapat doa istimewa yang diajarkan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Mas’ud. Beliau bersabda:
Artinya:
“Tidak ada seorang hamba—laki-laki maupun perempuan—yang membaca doa-doa ini sebanyak 1000 kali pada malam Arafah, kecuali Allah akan mengabulkan segala permintaannya, kecuali untuk perkara yang berkaitan dengan memutus silaturahmi atau permintaan yang berdosa. Doa-doa tersebut terdiri dari 10 kalimat, yaitu:
- Maha Suci Allah yang di langit ada ‘Arsy-Nya
- Maha Suci Allah yang di bumi ada tempat berpijak-Nya
- Maha Suci Allah yang di laut ada jalan-Nya
- Maha Suci Allah yang di neraka ada kekuasaan-Nya
- Maha Suci Allah yang di surga ada rahmat-Nya
- Maha Suci Allah yang di kubur ada keputusan-Nya
- Maha Suci Allah yang telah meninggikan langit
- Maha Suci Allah yang telah meletakkan bumi
- Maha Suci Allah yang di udara ada ruh-Nya
- Maha Suci Allah yang tidak ada tempat berlindung dari-Nya kecuali kepada-Nya.”
3. Memperbanyak Takbir
Membaca takbir pada Hari Arafah merupakan amalan yang sangat dianjurkan, dan disepakati oleh para ulama dari keempat mazhab fikih. Dalam mazhab Syafi’i, takbir muqayyad disunnahkan mulai sejak salat fajar pada Hari Arafah hingga shalat ashar di hari terakhir Tasyrik, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.
Kesunnahan ini didasarkan pada hadits riwayat sahabat Jabir RA yang menyatakan:
“Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bertakbir pada Hari Arafah, mulai dari shalat fajar hingga shalat ashar di hari terakhir dari hari-hari Tasyrik.”
4. Memperbanyak Doa
Hari Arafah merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Sebagian tabi’in dan ulama salaf bahkan rela menghindari keramaian agar dapat berdoa dengan khusyuk, khususnya pada waktu antara salat Asar dan Magrib. Banyak hadits dan atsar yang menganjurkan untuk memperbanyak doa pada hari ini.
Salah satu doa utama yang diajarkan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Ibnu Umar RA adalah sebagai berikut:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah. Dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku katakan adalah: ‘La ilaha illallah wahdahu la syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.’”
Hari Tarwiyah dan Arafah adalah dua hari yang dilimpahi berkah dan kemuliaan. Dengan memperbanyak ibadah di dalamnya, umat Islam berpeluang meraih ampunan dosa dan kedekatan dengan Allah SWT. Mari manfaatkan waktu-waktu istimewa ini untuk memperkuat iman dan menambah amal saleh.