TAWAZUN.ID — Pada Selasa (14/06) lalu, Imam Akbar Prof. Dr. Ahmad Ath-Thayyib, Syekhul-Azhar menerima kunjungan Menteri Lingkungan Hidup Mesir Dr. Yasmin Fuad di bilangan Masyakhah Al-Azhar, Ad-Darrasah, Kairo, Mesir. Dalam kunjungan itu, perbincangan yang diangkat adalah seputar persiapan negara Mesir untuk menjadi tuan rumah Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa 2022 atau yang lebih familiar dengan nama COP27. Gelaran muktamar tingkat dunia ini sedianya dihelat pada 8-20 November 2022 dan berlangsung di Sharm Asy-Syekh, Semenanjung Sinai Selatan, Mesir.

Sebagaimana dirilis dalam situs resmi Al-Azhar azhar.eg, dalam perbincangan itu, Syekh Ahmad Ath-Thayyib menuturkan, "Al-Azhar Asy-Syarif benar-benar telah siap untuk mengundang para pemuka dan tokoh agama dari berbagai negara sebagai rangkaian persiapan COP27 demi meningkatkan kesadaran krisis perubahan iklim. Hal ini berangkat dari ajaran Islam yang mendorong upaya pelestarian lingkungan dan kelangsungan sumber dayanya. Selain itu, hal ini juga sejalan dengan peran Al-Azhar dalam tataran global terkait peningkatan kesadaran terhadap adanya krisis yang menjadi ancaman bagi manusia, tumbuhan, benda tak bernyawa, dan hewan, juga efeknya yang mampu merusak seisi bumi."
Dalam kesempatan pertemuan itu, Imam Akbar Syekh Ahmad Ath-Thayyib juga menegaskan bahwa Al-Azhar akan berupaya semaksimal mungkin meningkatkan kesadaran akan krisis perubahan iklim ini. Salah satunya melalui program yang secara khusus menyasar segmen anak-anak dan pemuda. Orang nomor satu di Al-Azhar itu juga mengutarakan antusiasmenya untuk ikut serta dalam beragam pertemuan internasional sehingga mampu menyampaikan pesan terkait hak-hak lingkungan hidup dan krisis perubahan iklim.

Secara spesifik, Syekh Ahmad Ath-Thayyib juga menyinggung upaya terkait yang diusung Al-Azhar dalam lingkup akademis. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Universitas Al-Azhar telah menggelar konferensi ilmiah internasional pada awal tahun ini sekaligus menahbiskan 2022 sebagai Tahun Iklim. Konferensi ini secara spesifik mengangkat isu perubahan iklim dan berakhir dengan penyusunan langkah strategis untuk mempersiapkan para pemuda berjiwa pemimpin yang diharapkan mampu berperan aktif dalam peningkatan kesadaran soal krisis perubahan iklim dan bahayanya.
Dalam kunjungan itu pula, Menteri Lingkungan Hidup Mesir menyampaikan rasa hormat dan apresiasinya atas upaya Imam Akbar Syekh Ahmad Ath-Thayyib dalam menjelaskan pandangan Islam terkait lingkungan, utamanya soal kewajiban menjaganya.
Salah satu menteri perempuan Mesir itu juga mengapresiasi inisiatif Al-Azhar Asy-Syarif terkait isu ini. Dalam kesempatan itu, ia memuji langkah Al-Azhar yang menambahkan materi pengajaran bertema lingkungan yang ikut menaikkan kesadaran pentingnya pelestarian sumber daya alam dan bahayanya krisis perubahan iklim ini. Ia juga menegaskan peran sentral Al-Azhar dalam kesiapan COP27, utamanya dalam pertemuan para tokoh agama yang diharapkan mampu membawa perubahan besar dari aspek spiritual.
Selain Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib, kunjungan Menteri Lingkungan Hidup Mesir juga diterima oleh Wakilul-Azhar Muhammad Adh-Dhuwaini. Dengan orang nomor dua di Al-Azhar inilah dilaksanakan peresmian kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup Mesir dan Al-Azhar Asy-Syarif.

Perjanjian kedua lembaga negara itu diteken masing-masing oleh Dr. Yasmin Fuad (Menteri Lingkungan Hidup dari pihak pemerintah) dan Syekh Muhammad Adh-Dhuwaini (Wakilul-Azhar dari pihak Al-Azhar) serta disaksikan langsung oleh Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib. Sebagaimana dirilis situs resmi Al-Azhar, perjanjian dengan tenggang waktu 3 tahun ke depan itu berisi sejumlah poin, di antaranya seputar keikutsertaan Al-Azhar dalam sejumlah platform pemerintah Mesir yang bertema pelestarian lingkungan hidup dan melibatkan banyak elemen masyarakat, termasuk keagamaan. Lembaga tertinggi Ortodoks Koptik, yakni Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria pun telah lebih dahulu meneken kerja sama yang sama pada kunjungan senada dalam 3 hari sebelumnya, disusul lembaga tertinggi Koptik Injili Mesir, Coptic Evangelical Organization for Social Services.

Beberapa poin penting yang juga terdapat dalam perjanjian itu seperti kesepakatan untuk memberi dukungan penuh kepada para mahasiswa pascasarjana Universitas Al-Azhar yang meneliti lingkungan hidup, penyelenggaraan seminar lingkungan antar kampus, pembekalan para dai seputar wawasan lingkungan, hingga memproduksi makalah, tulisan, juga komik warna-warni. Program terakhir yang menyasar anak-anak itu sedianya melibatkan Majalah Nour, yakni majalah islami untuk anak-anak terbitan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) Pusat.
Yang juga tak kalah penting, perjanjian itu juga mencantumkan program pengalihan gedung-gedung Al-Azhar menjadi gedung yang ramah lingkungan dan hemat energi. Program yang juga telah lebih dulu berjalan di Universitas Al-Azhar sejak awal tahun lalu. Di antaranya dimulai dengan instalasi pembangkit listrik tenaga surya pada Gedung Pusat Administrasi Universitas Al-Azhar dan penghijauan sejumlah atap gedung kampus. (mhd)
