Pertanyaan: Dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Nya (Surah Al-Baqarah: 186). Meski nyatanya, kita masih menjumpai sebagian orang mukmin yang memohon dengan doa yang baik, justru tidak dikabulkan. Bahkan, sampai meninggal pun doanya tak kunjung dikabulkan. Bagaimana sebenarnya penjelasan mengenai hal ini?
Jawaban: Maksud ijabah yang ada pada ayat itu bukanlah untuk mengabulkan apa saja yang diminta oleh orang yang berdoa, melainkan untuk membuktikan bahwasanya Allah taala itu Maha Dekat. Dia mendengar doa hamba-Nya, mengetahui keluh-kesahnya, dan akan menjawabnya dengan apa dan bagaimana yang Ia (Allah) kehendaki.
Mengijabahkan doa adalah hal yang niscaya, tidak ada keraguan di dalamnya. Namun dengan apa ijabah tersebut? Dalam bentuk apa? Apakah dengan memenuhi permohonan orang yang berdoa? Atau dengan cara lain? Hal ini telah dijelaskan oleh Baginda Nabi SAW dalam sejumlah hadis, yang inti dari semuanya bahwa: ijabah doa itu ada 3 bentuk: bisa berupa pengabulan yang diminta oleh si hamba, bisa berupa penebus dosa dan keburukannya, atau bisa juga berupa pahala yang disimpan untuknya.
Sebagaimana tidak terkabulnya doa yang diinginkan sang hamba karena kehendak Allah taala, (tidak terkabul) juga bisa disebabkan oleh hamba itu sendiri: apakah karena ia mengonsumsi makanan dan minuman yang haram, kandungan isi doa yang buruk dan zalim, atau terhijab karena si hamba tergesa-gesa dan kurang sabar. Bahkan, terkadang ijabah doa bisa berisi laknat dan kutukan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RA, bahwa Allah taala menurunkan wahyu kepada Nabi Daud AS:
“Katakan kepada orang yang zalim, ‘Mereka tidak mengingat-Ku. Sedang sudah menjadi hak-Ku untuk mengingat orang-orang yang mengingat-Ku. Sungguh, Aku mengingat mereka dengan melaknat mereka.’.” [HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ahmad].
Selanjutnya, sangat tidak masuk akal jika kita memahami--dari ayat tersebut--bahwa seorang hamba mempunyai hak agar Allah mengabulkan apa yang ia pinta. Karena sejatinya, seorang hamba sama sekali tidak mengetahui akibat dari suatu perkara. Bisa jadi, ia berdoa mengenai sesuatu yang menurutnya baik, padahal nyatanya, itu adalah keburukan dan kehancuran. Maha Benar Allah kala berfirman:
“Manusia (seringkali) berdoa untuk (mendapatkan) keburukan, sebagaimana (biasanya) berdoa untuk (mendapatkan) kebaikan ….” [Surah Al-Isra: 11].
Coba bayangkan, apa yang terjadi jika setiap orang yang ingin membalas orang lain cukup dengan mendoakan kehancurannya, lalu doanya terkabulkan? Bagaimana pula jika lawannya juga mendoakan hal yang sama, lalu doanya terkabulkan? Jika demikian, bukankah yang tersisa dalam kehidupan ini hanyalah kekacauan dan kesia-siaan?
Kalaulah keinginan setiap orang bisa terkabul hanya dengan berdoa, apakah masih ada dorongan untuk bekerja dan berjuang di dunia ini? Apa yang akan terjadi dengan dunia yang penuh imajinasi liar ini? Bukankah segala hal akan tercampur aduk, sampai kita tidak lagi tahu: apakah kita berada di dunia tempat taklif dan amal, atau sudah berada di alam kebahagiaan dan keabadian?