Jika para penyair kebanyakan berlebihan dalam menyifati orang yang ia puji, maka itu tidak berlaku ketika memuji Rasulullah SAW. Karena tidak ada yang bisa menyifati Rasulullah dengan sebenarnya.
Syekh Fathi Abdurrahman Hijazi menjelaskan hal ini dalam video pengajian Syarah Al-Burdah di Masjid Al-Azhar berikut.
Teks Terjemahan Subtitle Syekh Fathi Abdurrahman Hijazi
Dalam memuji, selalu ada suatu khayalan. Khayalan tidaklah nyata. Maka dalam khayalan terdapat kebohongan. Bahkan seluruh khayalan yang keluar dari batas nyata, dan tentunya ia demikian, maka itu adalah kebohongan.
Kebanyakan syair menggunakan metode ini. Akan tetapi, bagi orang-orang yang mencintai Rasulullah SAW, mereka tidak akan mampu mencapai dengan kata-kata pada sifat sejati Rasulullah SAW dan hakikat yang dimiliki oleh Al-Mushthafa SAW. Sehingga, dari mana mereka bisa berbohong? Mereka tidak mampu mencapai hakikat sifat Rasulullah SAW.
Apa yang dikatakan oleh para pemuji?
“Apa mungkin para penulis bisa memahami sifat-sifat engkau. Demi Allah, andaikan lautan adalah tintanya dan rerumputan dijadikan pena untuknya”
“...maka jin dan manusia tidak akan mampu mengumpulkan satu hal kecil pun, selamanya, dan tidak akan mampu menemukannya”
Artinya, setiap orang yang memuji Nabi Muhammad SAW, mereka mengaku tidak mampu dan merasa gagal, dan tahu bagaimanapun mereka memuji Rasulullah SAW, mereka tidak akan sampai mampu menyifati satu hal dari Nabi SAW. Artinya mereka tidak akan sampai pada hal terkecil dari hakikat-hakikat kecil mengenai sifat Al-Mushthafa SAW.
Penerjemah: Ahmad Nasrullah
Penyelaras: M. Ali Arinal Haq