Tinggalan Syekh Azh-Zhawahiri dalam Jagat Tasawuf

Sejatinya, Syekh Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri adalah sosok pembesar Al-Azhar yang tidak butuh kepada pengenalan rentetan kisah hidupnya. Apalagi sosok ini pernah menjadi pemangku jabatan tertinggi di Al-Azhar, yakni Syekhul-Azhar. Bahkan, tak hanya sampai di sini. Oleh alim tarikh Hasan Qasim, beliau juga sekaligus digelari dengan Syekhul-Islam. Dalam kitab Al-Mazarat Al-Islamiyyah karangannya ia mengatakan bahwa Syekhul-Azhar terakhir yang juga mendapatkan gelar Syekhul-Islam adalah Syekh Salim Al-Bisyri. Ia juga menambahkan, “Setelahnya, tidak ada Syekhul-Azhar yang memakai gelar ini kecuali Syekh Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri.”

Beliau juga dikenal sebagai Bapak Universitas Al-Azhar Modern dan Syekh As-Sadah Asy-Syafi’iyyah terakhir di Al-Azhar secara resmi serta masih banyak lagi. Namun, dari semua kisah dan jabatan yang pernah beliau emban, ada sebuah fakta yang jarang dikuak oleh orang sezamannya dan generasi setelahnya, yaitu sosok beliau dalam ranah tasawuf. Kisah hidup yang satu ini sangat jarang diangkat dan dipublikasikan ke khalayak. Beliau memiliki sisi sufistik dalam ranah kehidupannya. Meski tergolong dalam jajaran murid terdekat Syekh Muhammad Abduh, hal ini tidak mengurangi peran beliau dalam dunia tasawuf. Apalagi semua keluarganya, baik dari ayah, kakek, hingga buyutnya adalah para pengamal tasawuf. Terlebih, beliau adalah salah satu khalifah Tarekat Asy-Syadzuliyyah resmi pada masa itu.

Membumikan Tasawuf di Era Digital
Tasawuf hari ini belum merambah sektor dakwah Islam dan masyarakat secara luas. Hal itu karena dakwah Islam masih dikuasai nuansa Fikih-Oriented.

Dalam buku diari yang direkam oleh anaknya, dr. Fakhruddin Azh-Zhawahiri, Syekh Azh-Zhawahiri pernah bercerita tentang kehidupannya bersama tasawuf dan tarekat yang diikutinya. Beliau bercerita:

“Hobiku dalam membaca Hikam Ibnu Athaillah telah melahirkan kecenderungan dan rasa senang semenjak aku kecil. Dan kecenderungan ini adalah sebuah hubungan rohani kepada Dzat Allah SWT. Bisa jadi sebagian kecenderungan ini diwariskan dari ayah dan kakekku yang juga seorang sufi dan waliyullah.

Namun, sufi yang aku kehendaki bagi diriku ketika masih muda dulu ialah sufi yang berbeda dengan yang biasanya dilakukan oleh orang-orang pada saat itu yang justru menodai keagungan dan kemuliaan sufi dalam beragama. Dalam hal ini, aku telah menuangkan beberapa pendapatku dalam kitab Al-‘Ilm wa Al-‘Ulama yang aku tulis. Kamu bisa membacanya. Di sana, aku memperingatkan bahwasanya seharusnya para fuqaha itu ya sufi. Begitupun sebaliknya, para sufi itu ya fuqaha. Dan para ulama tak hanya mengajar, namun juga sebagai mursyid.

Dengan misi tersebut, setelah menyelesaikan masa belajar, aku ingin membuat gebrakan baru dalam dunia sufi dan membersihkannya dari khurafat dan hal-hal yang dapat menodainya sehingga kaum sufi dapat menaikkan martabatnya di sisi Allah SWT.”

Bahaya Laten Boneka Arwah (Spirit Doll) Menurut Islam
Mengoleksi boneka arwah atau spirit doll sedang menjadi tren. Bagaimana sebenarnya hukum memiliki dan mengoleksi boneka arwah menurut agama Islam?

Petikan kisah ini setidaknya dapat merepresentasikan keinginan luhur beliau dalam mengubah dan memperbaiki konsep dalam dunia tasawuf. Dari hal tersebut, selain menjadi ulama dan mursyid Tarekat Asy-Syadzuliyyah, beliau juga berdakwah dalam dunia tasawuf melalui sejumlah karya. Beliau memiliki beberapa karangan seputar tasawuf, seperti syarah atas Al-Wazhifah dan syarah atas Al-Yaqutiyyah, dua matan wirid yang menjadi bacaan sehari-hari para murid tarekat itu. Dua kitab ini dijadikan satu dan dicetak pertama kali oleh penerbit Dar Al-Adab Al-‘Arabi dan Maktabah wa Mathba'ah Muhammad Ali Shubaih pada tahun 1956 M silam dan tidak pernah diterbitkan kembali setelahnya, kecuali oleh Maktabah Al-Qahirah pada tahun 2006 M silam tanpa ada penyuntingan.

Selain dua kitab tersebut, beliau juga mewariskan karya berjudul Risalah Al-Akhlaq Al-Kubra. Kitab ini pada mulanya dijadikan sebagai diktat pelajaran akhlak untuk madrasah di bawah naungan Al-Azhar (Ma’had Al-Azhar) pada tahun 1911 M silam. Setelah beberapa dekade berlalu, kitab ini tidak pernah naik cetak kembali, hingga pada tahun 2001 silam, Dr. Abdurrahman Abu ‘Amir, dosen di Fakultas Dakwah, Universitas Al-Azhar kembali mencetaknya. Pun demikian, kitab ini tidak muncul ke permukaan publik dan hanya beberapa gelintir orang saja yang dapat mengakses kitab tersebut. Tidak diketahui pasti apakah setelah kembali dicetak, kitab itu dijadikan diktat di Ma’had Al-Azhar atau tidak. Di sini, sangat perlu rasanya mengenalkan salah satu kitab di atas, yaitu Risalah Al-Akhaq Al-Kubra.

Risalah Al-Akhlaq Al-Kubra

Buku yang kembali dicetak pada 20 tahun silam ini menguraikan banyak pelajaran penting dalam pengenalan ilmu akhlak (baca: tasawuf) dari dasar. Dalam mukadimahnya, Syekh Azh-Zhawahiri menyebutkan bahwa buku ini ia tulis sebagai penjelasan ringkas seputar adab dan akhlak bagi pelajar diniah tahun pertama di Ma’had Al-Azhar.

Jika melihat dari sejumlah sub judul yang tertera, buku setebal 91 halaman ini sangat runtut dan urut. Beliau mengurutkannya dengan memulai dari bahasan takwa, ilmu, hak-hak orang tua, kerabat, tetangga, dan bergaul sesama teman, adab-adab dalam bermajelis, masuk, pergi, makan, minum, tidur, hingga adab di masjid. Setelah itu, beliau melanjutkannya dengan pembahasan membersihkan lahir dan batin. Adapun lahir, yaitu dengan membersihkan badan, pakaian, dan tempat. Sedangkan batin, yaitu pembahasan penting seputar akhlak (tasawuf) setelah melalui semua tahap dari bab-bab di atas. Dari semua bab yang beliau paparkan kepada para pembaca, ada sejumlah bab yang kiranya bisa diuraikan pada tulisan kali ini.

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Bab pertama sebagai misal. Pada bab ini, sebelum memulai materi dari akhlak itu sendiri, beliau terlebih dahulu berbicara seputar takwa dan turunannya. Dalam salah satu isinya beliau berkata, “Wajib bagimu untuk menjadikan takwa sebagai sebuah prioritas pertama. Tanpa hal itu, maka engkau akan menjerumuskan dirimu ke dalam siksaan yang pedih.”

Yang lebih menariknya lagi, dalam bab awal ini beliau juga mengaitkan takwa dengan para pelajar yang bermalas-malasan. Beliau berkata, “Kami telah sering melihat sejumlah murid yang senantiasa berperilaku malas dan terlalu santai ketika masa belajar. Setelahnya, mereka merasakan akibat dari hal tersebut dengan keterpurukan, kegagalan, dan penyesalan. Begitupun halnya dengan orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah. Ia bermalas-malasan hingga akhirnya ajalnya dicabut dan (di akhirat) ia melihat orang-orang yang bertakwa mendapatkan kenikmatan surga, sedangkan ia sendiri terjatuh dalam lubang neraka, sembari menyesal di hari yang penyesalan pun sudah tidak berguna.”

Setelah membahas seputar takwa yang mesti dilalui oleh para pembaca, beliau memulai pembahasan ilmu, suatu hal yang mesti dimiliki oleh orang yang bertakwa dan orang yang ingin mempelajari adab. Hal ini sangatlah penting, mengingat masih banyak orang yang senantiasa membandingkan antara akhlak dan ilmu dengan berkata, “Lebih baik tidak berilmu tapi berakhlak, daripada berilmu tapi tidak berakhlak.”. Justru pernyataan seperti ini memunculkan sebuah pertanyaan, bagaimana bisa orang yang tidak berilmu tapi berakhlak. Padahal, dua hal ini adalah sesuatu yang seyogianya tidak dapat dipisah. Orang yang memiliki akhlak, tentulah ia berilmu.

Berkenaan dengan adab para pelajar, Syekh Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri menuliskan setidaknya dua belas adab bagi para penuntut ilmu. Dari beberapa adab tersebut, salah satunya adab agar tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Mengenai hal ini beliau berkata, “Sungguh, jika engkau tidak bersungguh-sungguh, maka engkau akan kembali kepada keluargamu dalam kegagalan, keterpurukan, dan masyarakat akan mencemoohmu. Para ulama juga tidak akan mencapai martabatnya seperti saat ini melainkan telah meluangkan waktunya hingga bergadang di malam hari dan memikul derita di masa-masa menuntut ilmu.”

Empat Tradisi Para Mujawir di Al-Azhar
Dari perayaan pamitan hingga tahlilan. Masjid Al-Azhar Kairo sebagai kiblat ilmu keislaman yang dipenuhi mujawirin pernah punya sejumlah tradisi.

Selain itu, Sang Syekhul-Islam juga menekankan kepada para pelajar agar senantiasa memfokuskan seluruh pikirannya kepada ilmu. Beliau bahkan berkata, “Orang yang tidak fokus selama belajar dan pelajaran tidak bisa berhasil.” Beliau juga menyerukan agar para pelajar bisa membagi waktu, mempunyai kitab yang dibutuhkan, senantiasa menghafal, menulis, memperhatikan guru, mengulang-ulang pelajaran, serta menjaga niat yang baik. Dan untuk yang terakhir, beliau berpesan kepada para pelajar, “Jangan pernah kamu menuntut ilmu agar menjadi orang yang terkenal ataupun untuk tujuan mencari kerja. Namun, tuntutlah ilmu sebagai bentuk perintah dari Allah SWT, yang dengannya kamu mendapat petunjuk dan dengannya pula kamu memberi petunjuk kepada orang lain.”

💡
Baca juga artikel lain di rubrik TAKARIR atau tulisan menarik Amirul Mukminin