Wakilul-Azhar: Forum Isma’ wa Itkallim adalah Rangkaian Penting Al-Azhar dalam Melindungi Generasi Muda
TAWAZUN.ID — Wakilul-Azhar menegaskan bahwa edisi ketiga Forum Observatorium Al-Azhar untuk Memerangi Ekstremisme yang bertajuk “Dengarkan dan Bicaralah” mewakili sebuah tautan baru dalam rangkaian yang berkesinambungan dengan edisi pertama yang telah dimulai pada bulan Mei 2018 M. Forum ini menjadi penting mengingat dunia yang sarat dengan benturan intelektual, polarisasi yang tajam, dan upaya putus asa untuk menghancurkan negara dan masyarakat dengan menggunakan berbagai cara, menyasar materi inti bangsa, yaitu generasi muda dan berupaya memisahkan generasi muda dari keyakinan, sejarah, dan identitas mereka.
Wakilul-Azhar menambahkan dalam pidatonya pada forum yang diadakan di Auditorium Al-Azhar pada Rabu (08/05/2024) bahwa jika setiap bangsa memiliki kekayaan yang bisa dibanggakan, keseimbangan yang bisa disimpan untuk masa depan, dan untuk membangun kejayaan dan kebangkitannya, maka yang terdepan dari kekayaan ini adalah para pemuda, yang dianggap sebagai pilar dasar masyarakat, dan kekayaan hidup yang hakiki, dan harapan yang dinantikan selamanya. Salah satu wujud peradaban dan kemajuan bangsa adalah bahwa mereka peduli terhadap generasi muda dan membekali mereka dengan apa yang akan menjadikan mereka orang-orang yang kuat dan kompeten, yang atas nama mereka dapat didirikan suatu bangsa.
Wakilul-Azhar berkata, "Judul forum ini mengingatkan semua orang akan keterampilan hidup yang akan segera hilang dari kehidupan manusia dari berbagai macam tingkatan, yaitu keterampilan berbicara dan mendengarkan."
Ilmu Al-Azhar telah memberitahukan kepada kita bahwa ucapan adalah ungkapan yang bermanfaat sesuai dengan definisi Syekh Jamaluddin ibnu Malik dalam kitab Alfiyah-nya: "Ucapan (kalam) kita adalah lafaz yang bermanfaat, seperti contoh istaqim (istiqamahlah): yaitu kata isim, kata kerja dan huruf."
Bahasa Arab
Kumpulan tulisan terkait bahasa Arab dan khazanah ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniWakilul-Azhar mengisyaratkan ucapan (kalam) yang dimaksud bukan hanya sekedar geraknya lidah pada mulut seseorang saja, maka betapa banyak penuturnya jika demikian. Melainkan ucapan yang kami maksud adalah sesuai dengan perkataan Imam Hasan Al-Bashri RA. “Lisan orang yang berakal keluar dari balik hatinya, maka ketika ia hendak berbicara, ia akan berpikir terlebih dahulu. Dan jika perkataannya bermanfaat kepadanya maka ia berkata, dan jika hal (perkataan) itu madharat padanya, maka ia menahan untuk berbicara. Sedangkan lisannya orang yang bodoh itu terdapat dari balik lisannya. Maka ketika ia berkeinginan untuk berbicara, ia akan berbicara apa saja manfaat atau madharat baginya. Ini adalah pengertian makna dari perkataan penyair Al-Akhthal dalam syairnya. "Sungguh, kalam (pembicaraan) itu letaknya dalam hati # Lisan hanya sebagai alat untuk mengekspresikan perasaan hati."
Wakilul-Azhar Syekh Muhammad Adh-Dhuwaini melanjutkan bahwa di balik perkataan ada hati yang waspada, dan lidah yang mengetahui, atau begitulah seharusnya di belakang ucapan ada pikiran yang sadar akan makna dan tujuan ucapan. Atau begitulah seharusnya dengan ucapan ada kesadaran akan waktu dan tempat perkataan, tahu seharusnya demikian, dan setiap pembicara jika mengamati hal-hal tersebut; mengontrol sebelum ia melontarkan lisannya terhadap apa yang diketahuinya dan apa yang tidak diketahuinya, serta apa yang bermanfaat dan apa yang tidak bermanfaat, maka akan meninggalkan banyak pembicaraan dan akan menghindarkan masyarakat serta generasi muda kita dari bencana penyimpangan intelektual dan moral.
※ Sepercik Tata Krama Para Ulama Nahwu
Ia juga menjelaskan bahwa mendengarkan juga memiliki etika tersendiri yang bersamaan dengan etika berbicara sehingga menghasilkan dialog yang positif dan berkelas. Dan tema pertemuan kita hari ini adalah “Dengarkan dan bicaralah,” bukan: “Bicaralah dan dengarkan.” Karena prinsip dasarnya adalah mendengarkan terlebih dahulu, mempelajari dan memahami terlebih dahulu, kemudian berbicara. Maka, perkataan itu datang berdasarkan pada pilar ilmu pengetahuan, pemahaman, hikmah dan sastra.
Al-Azhar mengutip sebuah kejadian dari sejarah Nabi 1400 tahun yang lalu pada hari ketika ‘Utbah bin Rabi’ah bangkit di antara para teman-temannya yang menghalangi manusia dari seruan dakwah Rasulullah SAW, dan mereka memasrahkan segala kemampuannya untuk bisa memberhentikan dakwah Rasulullah. Maka Ia (‘Utbah) berkata kepada mereka (teman-temannya): Wahai kaum Quraisy, apakah aku tidak boleh berdiri dan berbicara dengan Muhammad dan menyampaikan perkara-perkara kepadanya, semoga saja dia mau menerima sebagian masalah sehingga kami dapat memberikan kepadanya apa pun yang Ia inginkan dan sehingga ia pun menahan diri dari kami? Mereka berkata: Ya, Abal-Walid, temuilah dia dan bicaralah padanya. Maka ‘Utbah berdiri di hadapan (Nabi) sampai dia duduk di sebelah Rasulullah SAW dan berkata: Wahai keponakanku, kamu adalah salah satu dari kami, karena kamu telah mengetahui otoritas dalam keluarga kami dan kedudukan dalam garis nasab. Dan engkau datang kepada kaummu dengan membawa urusan yang besar yang dengan urusan itu engkau memecah belah persatuan mereka. Dengan urusan itu membodohkan mimpi-mimpi mereka, dengan itu engkau mencela tuhan-tuhan mereka dan dengan itu mereka mengkafirkan nenek moyang mereka yang telah meninggal dunia. Maka dengarkan apa yang akan kami tawarkan kepadamu dengan harapan sudilah engkau menerima walaupun hanya sebagian saja
※ Mendaras Uswah Hasanah dalam Al-Quran
Kemudian Rasulullah menjawab: Wahai Abul-Walid aku akan mendengarkan. ‘Utbah berkata, wahai anak saudaraku, jika dengan apa yang kamu bawa dari perkara besar ini, kamu menginginkan harta, maka kami akan mengumpulkan harta bagimu sehingga engkau paling banyak hartanya dari pada kami. Jika kamu dengan hal itu berkeinginan mendapatkan kemuliaan maka akan kami jadikan engkau sebagai tuan bagi kami sehingga kami tidak memutus sesuatu denganmu, jika engkau dengan hal itu menginginkan kerajaan, kami akan jadikan engkau raja bagi kami. Dan jika ini yang terlintas di benakmu sebagai sebuah pandangan dan visi yang kamu lihat dan kamu tidak dapat menolaknya sendiri, kami telah memintakan dokter medis dan kami akan memasrahkan harta kami untuk itu sampai kami bisa menyembuhkanmu. Sampai ketika ‘Utbah selesai bicara, Rasulullah berkat, iya, dengarkanlah diriku. Ia berkata aku akan mendengarkanannya. Maka Nabi pun membacakan padanya Surah Fussilat, adapun ‘Utbah dia mendengarkannya dan meletakkan dua tangannya pada punggungnya berpegang pada dua tanggan sambil ia mendengarkan darinya, kemudian Rasul mengakhiri bacaannya sampai ayat sajdah dari Surah Fuslilat. Kemudian Rasul sujud dan berkata kamu telah mendengar wahai Abul-Walid apa yang kamu dengar. Maka kamu pun sama.
Wakilul-Azhar membenarkan bahwa kejadian ini menunjukkan keagungan dan keindahan akhlak, kesucian hati, serta ajakan kepada Allah dengan hikmah dan mauizhah yang baik. Dan mari kita berhenti dengan kalimat berikut: “Sudah selesai, wahai Abul-Walid? ” “Maka dengarkan aku,” dan akhirnya dia berkata kepadanya: “Kamu telah mendengar, wahai Abul-Walid, apa yang kamu dengar, kamu adalah itu.” Bahasa apa yang menggambarkan keindahan dan keagungan ini?
Wakilul-Azhar juga berbicara tentang apa yang terkandung dalam peristiwa ini dalam seni mendengarkan, yang merupakan seni yang tidak dikuasai oleh banyak para pemuda, dan banyak orang bijak tidak memiliki kesabaran terhadapnya, dan bahkan jika beberapa orang pandai dalam bidang sastra, mereka tidak pandai dalam bidang seni, karena mendengarkan adalah sastra dan seni pada saat yang sama, menunjukkan bahwa ‘Utbah berbicara dan melontarkan tuduhan dalam konteks pembicaraannya tentang apa yang dianggapnya sebagai peluang baik bagi orang yang berdakwah. Dan ia mengumpulkan semua argumen dan buktinya, dan menyajikan realitas yang dilebih-lebihkan dalam presentasinya sebagai upaya untuk memalsukan dan membujuk.
Wakilul-Azhar mengikuti sikap Rasulullah SAW mengenai apa yang dikatakan ‘Utbah. Beliau menerima semua ini dengan penuh perhatian, pendengaran, dan minat. Kesopanan ini, perhatian ini, dan rasa ini ketika beliau Rasulullah yang dikuatkan oleh wahyu berkata: “Apakah kamu sudah selesai, wahai Abul-Walid?” “Jadi, dengarkan aku?” Apakah kita menemukan etika agung dan karakter mulia ini dalam realitas kita, dewan rakyat kita, forum kita, dan pertemuan publik dan pribadi kita?
Wakilul-Azhar membahas pentingnya mendengarkan dalam kehidupan semua manusia dengan mengatakan: "Dokter tidak akan dapat mendiagnosis penyakit dengan baik jika dia tidak mendengarkan pasiennya dengan baik, dan bahwa pedagang akan kehilangan pelanggannya jika dia tidak mendengarkan dengan baik. Menurut pandangan mereka bahwa pejabat atau orang yang diberi tanggung jawab pun mungkin tidak dapat memanfaatkan kemampuan pegawainya dengan baik jika dia tidak menemukan bakat mereka dengan baik."
Adapun para pengkhotbah dan pembaharu yang ingin membimbing masyarakat, merekalah yang paling membutuhkan seni mendengarkan dan memperhatikan. Wakilul-Azhar berpendapat bahwa pertemuan yang mempertemukan generasi muda dan memberikan kesempatan untuk mendengarkan dan berbicara dengan mereka adalah suatu keharusan. Agar generasi muda kita memiliki pengetahuan yang sadar tentang apa yang terjadi di sekitar mereka di dunia yang selalu berubah dengan cepat ini, dan juga agar kita dapat mengambil manfaat dari visi mereka dan memahami kebutuhan mereka terutama isu-isu sensitif yang sedang ditangani oleh Observatorium Al-Azhar, dan yang akan disampaikan dalam forum ini oleh para ahli spesialis. Tentunya, dengan harapan agar permasalahan dapat terselesaikan secara kognitif sehingga menanamkan harapan pada masyarakat dan menginspirasi mereka menuju kemajuan dan peradaban, dan inilah metode Al-Azhar Asy-Syarif.
Wakilul-Azhar menjelaskan bahwa Islam adalah ajaran murni yang bisa menerangi hati orang beriman, syariat yang berdenyut untuk memperbaiki keadaan manusia dalam kehidupannya dan (kehidupan) di akhiratnya. Juga Islam adalah sistem akhlak yang luhur yang mengharumi kehidupan masyarakat memancarkan keharuman kedamaian dan ketenangan.
Umat Islam serta umat beriman di setiap negara, setiap zaman, dan setiap generasi senantiasa dan tetap berkomitmen terhadap Islamnya, menjaga agama dan kesuciannya, bangga dengan nilai-nilai dan orisinalitasnya, berupaya untuk bersatu pada diri mereka sendiri dan perkataan mereka, sadar akan risalah Islam yang selalu menghargai status budaya mereka di antara bangsa-bangsa, cahaya iman tidak akan pernah padam di dalamnya. Justru umat Islam akan merasakan kelezatan selamanya dengan pikiran yang mencerahkan yang memahami teks dan memahaminya konteks. Sehingga menghubungkan erat dengan ikatan yang sangat kuat antara keaslian dan modernitas, sehingga umat menjadi bertambah keimanan dan keyakinannya kepada Tuhannya serta ketaatan pada prinsip dan akhlak agamanya.
Wakilul-Azhar memperingatkan kaum muda akan bahayanya orang-orang yang berprasangka buruk yang berusaha menjelekkan yang baik dan membaikkan yang jelek, yang mencoba memutarbalikkan keadaan para panutan dan menghina simbol-simbol, dan yang mencoba meremehkan kejahatan dalam jiwa anda kalian sehingga Anda sekalian tidak memiliki identitas tetap yang melindungi dan menjaga kalian.
Kita semua, dan seluruh penanggung jawab yang jujur menyadari bahwa tanggung jawab yang ada di pundak lembaga-lembaga keagamaan dan ulama sangatlah besar. Mengingat perlunya membaca realitas masyarakat dan tantangannya di segala bidang kehidupan: politik, ekonomi, masyarakat, pendidikan, dll, dan perlunya menghadirkan wacana paralel yang menentang wacana menyimpang, sehingga menjaga keimanan masyarakat kepada Tuhannya, menjaga kemampuan masyarakatnya, dan menjaga mereka tetap aman serta sehat.
Di akhir pidatonya, Wakilul-Azhar menyerukan semua orang untuk bersatu, individu dan lembaga, masyarakat dan pemerintah, bangsa dan masyarakat, untuk menghadapi arus luas yang cepat yang menginginkan anak-anak kita kehilangan identitas mereka, menghilangkan jati diri mereka sendiri dari nilai-nilai agamanya dan mengingkari prinsip-prinsip, nilai-nilai dan moralnya.
"Apa yang diarahkan kepada para pemuda dari penargetan ini adalah bahaya. Tentu membutuhkan semua kemampuan untuk menghadapi dan menghilangkannya, karena terdapat konsekuensi dari nilai negatifnya. Sesungguhnya menjadi tugas waktu yang mengharuskan kita semua untuk mendengarkan generasi muda sebelum kita berbicara kepada mereka. Karena mereka mempunyai pertanyaan dan kita harus menjawab, membimbing dan memberi nasihat."