Perbedaan tingkat keutamaan antara satu orang, tempat, dan waktu dibanding yang lainnya merupakan takdir dan kuasa Allah SWT. Ia menjadikan seorang nabi lebih utama dari manusia pada umumnya, menjadikan Masjid Al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al-Aqsha lebih utama dari masjid lainnya, serta menjadikan bulan Ramadan melebihi bulan-bulan yang lain.
Selain bulan Ramadan, dua bulan sebelumnya, yakni Rajab dan Sya’ban, juga memiliki keutamaan. Dalam Tuhfah Al-Ikhwan fi Qira'ah Al-Mi’ad fi Rajab wa Sya’ban wa Ramadhan, Syekh Syihabuddin Al-Fasyni mengutip perkataan sebagian ulama:
"Bulan Rajab diutamakan karena sepuluh hari pertamanya, sebab terdapat keutamaan di malam pertama. Bulan Sya’ban diutamakan karena sepuluh hari pertengahannya, sebab terdapat Malam Nishfu Sya’ban. Bulan Ramadan diutamakan karena sepuluh hari terakhirnya, sebab terdapat Lailatul Qadar."
※ Terhijab dari Bulan Ramadan
Dalam Ad-Durr Al-‘Ali Asy-Sya’n ‘ala Lailah An-Nishf min Sya’ban, Syekh Syihabuddin Ahmad As-Suhaimi mengutip pernyataan Syekh Ibnu Abi Ash-Shaif Al-Yamani yang menyebut bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan selawat atas Rasulullah SAW. Sebab, di bulan ini, ayat tentang perintah berselawat diturunkan. Sehingga ada yang berpendapat bahwa membaca selawat di bulan Sya’ban lebih utama dibanding waktu lainnya.
Bulan Sya’ban menyimpan banyak keistimewaan, terutama pada sepuluh hari keduanya, karena terdapat Malam Nishfu Sya’ban. Keutamaan malam ini juga tercermin dari banyaknya nama yang dimilikinya, sebab dalam tradisi Islam, banyaknya nama menunjukkan kemuliaan sesuatu. Berikut adalah sepuluh nama Malam Nishfu Sya’ban beserta penjelasannya:
1. Lailah Al-Qismah wa At-Taqdir (Malam Penentuan Takdir)
Disebut demikian karena di malam ini, Allah SWT menentukan nasib seluruh makhluk-Nya, termasuk hidup, mati, rezeki, dan lainnya. Hal ini dijelaskan dalam ayat Al-Quran, hadis Nabi, atsar sahabat, dan perkataan para ulama.
2. Lailah Al-Hayah (Malam Kehidupan)
Disebut demikian karena Allah SWT menghidupkan hati orang yang mengisi malam ini dengan amalan yang dianjurkan. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban dan dua malam ‘Id, niscaya hatinya tidak akan mati saat hati-hati lain mati." (HR. Ibnu Majah)
Menurut Imam Al-Ghazali, matinya hati berarti hilangnya rasa takut kepada Allah, hilangnya kesedihan karena meninggalkan amal, serta hilangnya ingatan akan kematian dan Hari Kiamat. Sebagian ulama lain menafsiri matinya hati dengan kekafiran.
3. Lailah Ar-Rujhan (Malam Keunggulan)
Disebut demikian karena amal ibadah di malam ini mengungguli malam-malam lainnya, kecuali Lailatul Qadar. Keunggulannya terletak pada banyaknya pahala dan ampunan.
4. Lailah Asy-Syafa’ah (Malam Syafa’at)
Disebut demikian sebab, dalam sebagian riwayat, dikatakan bahwa Rasulullah SAW memohon syafa’at bagi umatnya di malam ini. Allah SWT pun mengabulkan permohonan tersebut, kecuali orang yang susah diatur seperti unta yang lari dari tuannya.
5. Lailah Al-Ijabah (Malam Mustajab)
Disebut demikian karena dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa doa di malam ini tidak akan ditolak. Rasulullah SAW bersabda:
"Lima malam yang di dalamnya doa tidak akan ditolak: malam pertama bulan Rajab, Malam Nishfu Sya’ban, Malam Jumat, dan dua malam ‘Id (Idul Fitri dan Idul Adha)." (HR. Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus)
Namun, tidak ditolaknya doa bukan berarti permintaan pasti terkabul sesuai keinginan. Yang dimaksud adalah bisa jadi permintaan yang dipanjatkan itu dikabulkan atau tidak dikabulkan di dunia tapi menjadi simpanan pahala di akhirat. Kemungkinan lain adalah diampuninya dosa sesuai kadar doa atau dihindarkan dari keburukan yang bakal menimpanya. Mungkin juga doa yang dipanjatkan tidak terkabul sesuai permintaan, tapi Allah SWT memberi sesuatu yang lebih dari daripada yang diminta.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di sini6. Lailah At-Takfir (Malam Peleburan Dosa)
Disebut demikian karena Syekh Taqiyuddin As-Subki, sebagaimana dikutip oleh Syekh As-Suhaimi dalam tafsirnya, menyatakan bahwa Malam Nishfu Sya’ban dapat melebur dosa selama setahun, Malam Jumat dapat melebur dosa selama sepekan, dan Malam Lailatul Qadar dapat melebur dosa sepanjang umur.
Namun, perlu digarisbawahi bahwa peleburan dosa ini tidak terjadi hanya dengan melewati malam-malam tersebut tanpa melakukan apa pun. Peleburan dosa diperuntukkan bagi mereka yang menghidupkan malam tersebut dengan melakukan amalan-amalan yang dianjurkan.
7. Lailah Al-Bara'ah (Malam Pembebasan)
Disebut demikian karena pada malam ini, orang-orang mukmin diberi jaminan bebas dari api neraka. Jaminan ini dijaga oleh malaikat yang bertugas hingga diserahkan kepada pemiliknya di Hari Kiamat.
8. Lailah ‘Id Malaikah (Malam Hari Raya Malaikat)
Disebut demikian karena para malaikat merasa gembira di malam ini, sebagaimana manusia bergembira di malam Idul Fitri dan Idul Adha, sebab banyaknya dosa manusia yang diampuni pada malam ini.
9. Lailah Al-Ghufran (Malam Pengampunan Dosa)
Disebut demikian karena di malam ini Allah SWT mengampuni dosa hamba-hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah SWT memberikan perhatian lebih kepada hamba-hamba-Nya di Malam Nisfu Sya’ban. Kemudian, Dia mengampuni seluruh penduduk bumi, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan." (HR. Ibnu Majah)
10. Al-Lailah Al-Mubarakah (Malam yang Diberkahi)
Disebut demikian karena banyak sekali keberkahan yang tersimpan di dalamnya. Abu Al-Abbas Ibnu ‘Atha, sebagaimana dikutip oleh Syekh Najmuddin Al-Ghaithi dalam Mawahib Al-Karim Al-Mannan, menyatakan bahwa Malam Nishfu Sya’ban merupakan malam yang diberkahi karena para malaikat mendekat dan mengelilingi manusia.
Syekh ‘Ali Al-‘Amrusi dalam risalahnya juga mengutip dari kitab Al-Jami’ Al-Kabir karya Syekh Jalaluddin As-Suyuthi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Allah SWT mengucurkan kebaikan (dengan deras) pada empat malam: Malam Idul Adha, Malam Idul Fitri, Malam Nisfu Sya’ban—di dalamnya ajal dan rezeki ditulis dan di dalamnya pula haji ditakdirkan—dan Malam Arafah (9 Dzulhijjah) hingga azan."
※ Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah
Selain sepuluh nama yang telah disebutkan, masih ada beberapa nama lain yang disematkan pada Malam Nishfu Sya’ban. Syekh As-Suhaimi mengutip Syekh Abu Al-Khair Ath-Thaliqani yang menyebutkan bahwa malam ini memiliki hingga 22 nama berbeda. Selain nama-nama di atas, beberapa di antaranya adalah:
- Lailah An-Naskhi (Malam Penulisan)
- Lailah Al-‘Itqi (Malam Pembebasan/Pemerdekaan)
- Lailah Al-Jaizah (Malam Pemberian Anugerah)
- Lailah At-Ta’zhim (Malam Pengagungan)
- Lailah Al-Lahzhi wa An-Nazhar (Malam Pemberian Rahmat dan Ampunan)
- Lailah Az-Zinah (Malam Hiasan)
- Lailah Al-Kitabah wa Ash-Shakak bi Al-Maghfirah (Malam Penulisan dan Pengecapan Ampunan)
- Lailah Al-‘Ardh (Malam Penyuguhan)
Nama-nama ini juga disebutkan oleh Syekh Muhammad Al-Jundi, Sekjen Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah, dalam tulisannya di Majalah Al-Azhar edisi Sya’ban 1446 H.
Dengan memahami berbagai nama dan makna di balik Malam Nishfu Sya’ban, kita diharapkan semakin termotivasi untuk menghidupkannya dengan amal ibadah dan kebaikan. Akan sangat disayangkan jika malam yang penuh berkah ini berlalu tanpa kita mengambil manfaat darinya.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita rahmat dan keberkahan dari malam istimewa ini, serta mengantarkan kita meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin.
