Sebagaimana disebutkan dalam tulisan sebelum ini bahwa Al-Azhar selalu konsisten mendukung perjuangan rakyat Palestina. Bentuk dukungannya pun sangat beragam. Di antara bentuk dukungan Al-Azhar adalah kaderisasi para pejuang yang dibekali dengan spirit cinta tanah air dan semangat memperjuangkannya. Hal ini sangat penting mengingat pengaruh pemikiran lebih tajam daripada senjata, sebagaimana pengaruh dakwah lebih mengena daripada memanah.
Para kader Palestina alumni Al-Azhar berikut ini di kemudian hari menjadi para pemikir, dai, dan pemimpin perjuangan kemerdekaan. Dalam tulisan ini akan diulas beberapa nama tokoh perjuangan di Palestina yang pernah mengenyam pendidikan di Al-Azhar, Kairo, Mesir.
1. Syekh Muhammad Amin Al-Husaini
Syekh Muhammad Amin Al-Husaini lahir di kota Al-Quds pada tahun 1897 M. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota tersebut, beliau datang ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya di Al-Azhar. Setelah dianggap cukup belajar di institusi besar ini, beliau meninggalkan Mesir menuju Turki untuk ikut Perang Dunia (PD) I di barisan Turki Utsmani.
Usai PD I, beliau berperan aktif dalam Pergerakan Nasionalis Palestina (Al-Harakah Al-Wathaniyyah Al-Falisthiniyyah). Bukan hanya berhenti sampai di situ, beliau juga diangkat menjadi Mufti di Kota Al-Quds pada tahun 1921 M.

Perjuangan beliau terus berlanjut hingga perang 6 Oktober 1973 M yang dimenangkan oleh pihak Arab. Setahun kemudian, pada 1974 M, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
2. Syekh Izzuddin Al-Qassam
Nama Al-Qassam ini sangat dikenal karena akhir-akhir ini santer didengar. Sebab, nama ini kemudian menjadi nama sayap militer salah satu gerakan perjuangan di Palestina.
Syekh Izzuddin Al-Qassam lahir di Suriah pada tahun 1882 M. Meski bertanah kelahiran Suriah, beliau memfokuskan perjuangan di Palestina. Beliau tercatat pernah menimba ilmu di Al-Azhar, sebelum kemudian pulang dan berjuang bersama rakyat Suriah melawan penjajahan Prancis.

Pada Februari 1922 M, beliau terpaksa mengungsi ke Haifa, Palestina. Di Haifa, beliau fokus mengajar dan mendirikan madrasah. Begitu menyaksikan sikap Britania Raya yang lebih berpihak dan menguntungkan Zionis, beliau mulai menyusun strategi untuk melancarkan perlawanan.
Misi itu mendapatkan sambutan dari banyak rakyat yang tertindas. Sehingga meletuslah perlawanan tahun 1935 M. Beliau wafat sebagai syahid dalam perlawanan tersebut. Perlawanan inilah yang menjadi cikal bakal Revolusi 1936 M di Palestina.
3. Syekh Abdulqadir Al-Muzhaffar
Syekh Abdulqadir Al-Muzhaffar lahir di Kota Al-Quds pada tahun 1892 M. Ayahnya merupakan Mufti Mazhab Hanafi di kota suci itu.
Pasca sang ayah wafat, Syekh Abdulqadir Al-Muzhaffar datang ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Setelah mendalami berbagai bidang agama dan bahasa, beliau kembali ke Al-Quds untuk mengabdikan dirinya. Melihat kesewenang-wenangan pihak Zionis yang merampas tanah dan harta rakyat Palestina, beliau menyerukan suara perlawanan.

Pada Oktober 1933 M, Syekh Abdulqadir Al-Muzhaffar memimpin masa yang kesal dan marah untuk melakukan demo kepada pihak Britania Raya. Bukannya tuntutannya dipenuhi, pihak Britania Raya justru menangkap beliau dan para pimpinan demo yang lainnya. Setelah ditangkap, beliau dieksekusi sebagai syahid.
4. Syekh Abdulhalim Al-Jilani
Syekh Abdulhalim Al-Jilani dilahirkan di Kota Al-Khalil (Gallile), Palestina, pada 1890 M. Setelah membekali diri dengan dasar-dasar pengetahuan Islam di kota kelahiran, beliau mendatangi Mesir untuk belajar di Al-Azhar. Setelah sepuluh tahun belajar di pusat pendidikan Islam ini, beliau kembali ke Palestina.
Sesampainya di Palestina, Syekh Abdulhalim Al-Jilani diangkat menjadi imam dan khatib di Masjid Al-Ibrahimi, Kota Al-Khalil. Di samping menjadi imam dan khatib, beliau terlibat aktif dalam peristiwa Al-Buraq 1929 M dan Revolusi 1936 M. Beliau diangkat menjadi pimpinan perjuangan di Kota Al-Khalil sampai titik darah penghabisan.
Pada Oktober 1937 M, Syekh Abdulhalim Al-Jilani syahid dalam perjuangan melawan pasukan tentara Britania Raya.
5. Syekh Abdurrahim Muhammad
Syekh Abdurrahim Muhammad lahir di Kota Anabta, Palestina. Ayahnya, yakni Syekh Muhammad, adalah kepala salah satu perkampungan di daerah tersebut. Setelah belajar dasar-dasar ilmu di kampung halamannya itu, beliau merantau ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar.
Setelah enam tahun belajar di Al-Azhar, Syekh Abdurrahim Muhammad kembali ke Palestina dan menjadi pengajar di sana. Selain itu, beliau juga terlibat aktif dalam peristiwa Al-Buraq pada 1929 M dan Revolusi 1936 M. Bukan hanya itu, beliau bahkan menjadi pemimpin tertinggi dalam revolusi yang berlangsung selama 3 tahun (1936-1939 M).
Pada April 1938 M, Syekh Abdurrahim Muhammad dihujani peluru oleh tentara Britania Raya hingga berakhir syahid.
6. Syekh Amin Al-'Uri
Syekh Amin Al-'Uri dilahirkan kampung Bait 'Ur, wilayah utara Palestina. Ayahnya memegang jabatan dalam lembaga tinggi Islam (Al-Majlis Al-Islami Al-A'la) Palestina. Ketika umurnya mendekati 20 tahun, ayahnya mengirimkan Al-'Uri ke Mesir untuk belajar di Al-Azhar.
Setelah 12 tahun belajar di Al-Azhar, Syekh Amin Al-'Uri kembali ke Palestina dan menetap di Kota Al-Quds sebagai pengurus Masjid Ash-Shakhrah (Al-Qubbah Ash-Shakhrah). Di samping itu, beliau juga menjadi pengajar tafsir di masjid tersebut. Bukan hanya itu, beliau juga terlibat aktif dalam Revolusi 1936 M dan menjadi pemegang data rahasia pejuang yang berada di wilayah Al-Quds, Al-Jalil, dan Nablus. Dalam revolusi ini, beliau berperan juga sebagai pengatur strategi para pejuang.

Pada November 1936 M, Syekh Amin Al-'Uri menghembuskan nafas terakhirnya sebagai syahid dalam sebuah operasi perlawanan.
Enam tokoh di atas hanyalah sebagian kecil dari para pejuang tanah air Palestina yang merupakan lulusan Al-Azhar. Memang perjuangan itu pahit. Akan tetapi harkat dan martabat tanah air dan bangsa harus terus dijunjung setinggi-tingginya.
Wallahu A'lam bish-shawab