Skip to content

6 Ulama Al-Azhar Representasi Mazhab Syafi’i di Era Kitab Hasyiah

Ulama Al-Azhar berikut ini mewariskan kitab hasyiah dalam mazhab Syafi’i. Antar satu dengan yang lainnya pun terjalin hubungan guru dan murid.

FOTO Salah satu hasyiah atas Fath Al-Wahhab. (Perpustakaan Qatar)
FOTO Salah satu hasyiah atas Fath Al-Wahhab. (Perpustakaan Qatar)

Dalam perjalanannya, mazhab Syafi’i mengalami beberapa fase perkembangan. Pada abad ke-7 Hijriah, fase verifikasi dan filterisasi mencapai puncaknya. Puncak fase ini ditandai dengan tampilnya dua imam besar dalam mazhab, yaitu Imam Ar-Rafi’i (w. 623 H) dan Imam An-Nawawi (w. 676 H). Kedua imam ini sangat gigih memilih dan memverifikasi ragam pendapat dalam mazhab yang merepresentasikan mazhab tersebut. Sehingga meski sudah berumur hampir lima abad, kemurnian mazhab Syafi’i masih tetap terjaga.

Hampir tiga abad berlalu pasca kedua imam di atas, para ulama Syafi’iyyah terus mencurahkan kemampuan untuk mengkaji dan menilai ulang serta menyempurnakan capaian kedua imam tersebut. Hingga pada abad ke-10 Hijriah, verifikasi dan filterisasi tahap kedua mencapai puncaknya. Hal ini ditandai dengan lahirnya Tuhfah Al-Muhtaj karya Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) dan Nihayah Al-Muhtaj karya Syekh Syamsuddin Ar-Ramli (w. 1004 H). Setelah periode kedua tokoh ini, berdasasar kajian yang mendalam terhadap ragam pendapat dalam mazhab, para ulama Syafi’iyyah sepakat menjadikan kedua kitab tersebut sebagai representasi mazhab.

Pada abad ke-10 itulah, kitab jenis hasyiah dalam mazhab Syafi’i mulai banyak bermunculan. Bahkan pada abad selanjutnya kitab hasyiah menjadi tren di kalangan ulama. Upaya pengkajian dan penilaian ulang serta penyempurnaan terhadap capaian ulama sebelumnya mereka tuangkan dalam kitab hasyiyah. Pada gilirannya, abad ke-11 dan 12 Hijriah menjadi saksi lahirnya banyak hasyiah dalam fikih Syafi’i. Sehingga penentuan hasyiah apa saja yang dinilai merepresentasikan mazhab ini menjadi penting.

Di Tanah Hijaz, Syekh Muhammad bin Sulaiman Al-Kurdi (w. 1194 H) menulis Al-Fawaid Al-Madaniyyah untuk menjelaskan pendapat representasi mazhab, termasuk menentukan hasyiah yang membawa pendapat tersebut. Sementara di Al-Azhar, Mesir, Syekh Sulaiman Al-Jamal (w. 1204 H) menulis hasyiah atas kitab Fathu Al-Wahhab yang memuat intisari hasyiah representasi mazhab.

Syekh Al-Kurdi menyebutkan jika ada masalah fikih tidak dibahas oleh Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dan Syekh Syamsuddin Ar-Ramli, maka pendapat yang dinilai merepresentasikan mazhab secara berurutan adalah Syekh Zakariyya Al-Anshari, Syekh Al-Khathib Asy-Syirbini, Hasyiyah Az-Zayyadi, Hasyiyah Ibnu Qasim Al-‘Abbadi, Hasyiyah ‘Amirah, Hasyiyah Asy-Syubramillisi, Hasyiyah Al-Halabi, Hasyiyah Asy-Syaubari, dan Hasyiyah Al-‘Inani. Di sini Syekh Al-Kurdi menyebutkan tujuh kitab hasyiah yang semuanya ditulis oleh ulama Al-Azhar.

Penulis akan mengulas secara singkat biodata tujuh penulis hasyiah di atas. Namun karena Syekh ‘Amirah sudah dijelaskan di tulisan sebelumnya, maka yang akan dikupas di sini cukup enam tokoh saja. Keenam tokoh tersebut adalah sebagai berikut:

1. Syekh Nuruddin Az-Zayyadi

Tokoh ini bernama lengkap Nuruddin Ali bin Yahya Az-Zayyadi. Kata Az-Zayyadi merupakan nisbah kepada daerah bernama Mahallah Zayyad, sebuah daerah yang berada Provinsi Al-Buhairah, Mesir. Syekh Az-Zayyadi lahir pada tahun 930 H.

Beliau belajar di Al-Azhar kepada sejumlah ulama, di antaranya Syekh Syihabuddin Ar-Ramli, Syekh ‘Amirah, Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Syekh Syamsuddin Ar-Ramli, Syekh Abulhasan Al-Bakri.

Setelah mendapat izin mengajar oleh para gurunya, Syekh Az-Zayyadi mengajar di Masjid Al-Azhar dan Madrasah Ash-Shalahiyyah yang berada di samping makam Imam Asy-Syafi’i. Beliau memiliki banyak murid, di antaranya adalah Syekh Nuruddin Al-Halabi, Syekh Nuruddin Asy-Syubramillisi, dan Syekh Syamsuddin Asy-Syaubari. Beliau tercatat mempunyai sejumlah karya, di antaranya adalah syarah atas Al-Muharrar karya Imam Ar-Rafi’i, hasyiah atas Fathu Al-Wahhab, dan hasyiah atas Tuhfah Al-Muhtaj.

Di samping mengajar dan berkarya, Syekh Nuruddin Az-Zayyadi juga menjadi rujukan fatwa sehingga beliau tercatat sebagai Mufti Syafi’iyyah di masa itu. Pada malam Jumat, 15 Rabi’ul Awal 1024 H beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah disalatkan di Masjid Al-Azhar, jenazah beliau disemayamkan di Qarafah Mujawirin, Kairo, Mesir.

2. Syekh Ibnu Qasim Al-‘Abbadi

Tokoh ini bernama lengkap Syihabuddin Ahmad bin Qasim Ash-Shabbagh Al-‘Abbadi Al-Qahiri. Nisbah Al-Qahiri merujuk kepada Kota Kairo, tempat beliau tinggal dan berkiprah. Beliau belajar di Al-Azhar kepada sejumlah ulama, di antaranya adalah Syekh Syihabuddin Ar-Ramli, Syekh Syihabuddin Al-Burullusi atau Syekh ‘Amirah, Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, dan Syekh Syamsuddin Ar-Ramli.

Syekh Ibnu Qasim Al-Abbadi aktif mengajar dan menulis karya hingga lahir banyak murid dan karya dari tangannya. Di antara muridnya adalah Syekh Nuruddin Al-Halabi, Syekh Abu Bakar Asy-Syanawani, dan Syekh Umar Al-Bashri.

Di antara karyanya adalah hasyiah atas Fathu Al-Wahhab, hasyiah atas Tuhfah Al-Muhtaj, dan hasyiah atas Syarh Al-Ghurar Al-Bahiyyah ‘ala Al-Bahjah Al-Wardiyyah. Beliau wafat di Hijaz pada tahun 994 H dan jenazahnya dikebumikan di Madinah Al-Munawwarah.

3. Syekh Nuruddin Asy-Syubramillisi

Tokoh ini bernama lengkap Nuruddin Abu Adh-Dhiya ‘Ali bin ‘Ali Asy-Syubramillisi. Nisbah Asy-Syubramillisi merujuk kepada kampung Syubramillis, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir. Beliau lahir di kampung tersebut pada 997 H. Setelah berhasil menghafal Al-Quran di tempat kelahirannya, beliau pun menuju Al-Azhar pada 1008 H. Di sini, beliau belajar kepada sejumlah ulama, di antaranya adalah Syekh Nuruddin Al-Halabi, Syekh Syamsuddin Asy-Syaubari, dan Syekh Abdurrauf Al-Munawi.

Setelah mendapat izin untuk mengajar dan berfatwa dari para gurunya, Syekh Asy-Syubramillisi berkhidmah dalam dua dunia ini: mengajar dan berfatwa. Beliau aktif mengajar di Al-Azhar, sehingga banyak tokoh yang lahir dari tangannya. Di antaranya adalah Syekh Ahmad Al-Banna Ad-Dumyathi, penulis Hasyiyah Al-Waraqat, Syekh Muhammad Al-Budairi atau Syekh Ibnu Al-Mayyit, dan Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Birmawi, penulis Hasyiyah ‘ala Fath Al-Qarib.

Selain mengajar dan berfatwa, Syekh Asy-Syubramillisi juga aktif menulis karya. Di antara karyanya adalah hasyiah atas Nihayah Al-Muhtaj, hasyiah atas Fathu Al-Qarib, dan hasyiah atas Tuhfah Ath-Thullab. Pada tahun 1087 H, beliau dipanggil oleh Rabb-nya dan jenazahnya dimakamkan di pemakaman Qarafah Mujawirin, Kairo.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

4. Syekh Nuruddin Al-Halabi

Tokoh ini bernama lengkap Nuruddin Abulhasan ‘Ali bin Ibrahim bin Ahmad Al-Halabi Al-Qahiri. Beliau lahir di Kairo pada tahun 975 H. Beliau belajar di Al-Azhar kepada sejumlah ulama, di antaranya adalah Syekh Syamsuddin Ar-Ramli, Syekh Ibnu Qasim Al-‘Abbadi dan Syekh Nuruddin Az-Zayyadi.

Syekh Nuruddin Al-Halabi aktif mengajar dan berfatwa di Al-Azhar dan Madrasah Ash-Shalahiyyah. di antara tokoh yang tercatat menjadi muridnya adalah Syekh Nuruddin Syubramillisi, Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi, dan Syekh Syamsuddin Al-‘Inani. Selain mengajar dan berfatwa, beliau juga aktif menulis karya. Di antara karyanya adalah hasyiah atas Fathu Al-Wahhab, hasyiah atas Kanzu Ar-Raghibin, dan hasyiah atas Tuhfah Ath-Thullab. Beliau wafat di Kairo pada 1044 H dan jasadnya disemayamkan di kompleks pemakaman Qarafah Mujawirin.

5. Syekh Syamsuddin Asy-Syaubari

Tokoh ini bernama lengkap Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Asy-Syaubari. Kata Asy-Syaubari merujuk kepada kampung Syaubar, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir. Beliau lahir di kampung ini pada 21 Ramadhan 977 H. Beliau datang ke Kairo dan belajar di Al-Azhar kepada sejumlah ulama, di antaranya adalah Syekh Syamsuddin Ar-Ramli, Syekh Nuruddin Az-Zayyadi, dan Syekh Manshur Ath-Thablawi.

Setelah mendapat izin untuk mengajar dan berfatwa, Syekh Asy-Syaubari mengajar di Al-Azhar dan Madrasah Ash-Shalahiyyah. Di antara tokoh yang tercatat menjadi muridnya adalah Syekh Nuruddin Asy-Syubramillisi, Syekh Syamsuddin Al-Babili, dan Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Birmawi. Beliau aktif menulis karya. Di antaranya adalah hasyiah atas Fathu Al-Wahhab, hasyiah atas Tuhfah Ath-Thullab, dan hasyiyah atas Al-‘Ubab. Beliau wafat pada 1069 H dan jasadnya disemayamkan di pemakaman Qarafah Mujawirin.

6. Syekh Syamsuddin Al-‘Inani

Tokoh ini bernama lengkap Syamsuddin Muhammad bin Daud Al-‘Inani. Beliau belajar di Al-Azhar kepada sejumlah ulama, di antaranya Syekh Nuruddin Al-Halabi, Syekh Syamsuddin Al-Babili, dan Syekh Ibrahim Al-Laqani. Kemudian beliau aktif mengajar dan menulis karya.

Di antara murid yang tercatat belajar kepada Syekh Al-‘Inani adalah Syekh Al-Budairi, Syekh Syihabuddin Al-Khulaifi, dan Syekh Hasan bin ‘Ali Al-Burhani. Sementara karya yang beliau tuliskan di antaranya adalah hasyiah atas Tuhfah Ath-Thullab dan hasyiah atas‘Umdah Ar-Rabih ‘ala Hadiyyah An-Nashih karya Syekh Syamsuddin Ar-Ramli, yakni sebuah hasyiah atas syarah karya Syekh Ahmad Az-Zahid. Pada tahun 1098 H beliau menghembuskan nafas terakhirnya dan kembali kepada Sang Pemilik.

Dari pemaparan singkat ini dapat kita disimpulkan bahwa semua pemilik hasyiah yang merepresentasikan mazhab Syafi’i di era hasyiah berasal dari institusi pendidikan yang sama, yaitu Al-Azhar. Antara satu penulis hasyiah dengan yang lainnya pun terjalin hubungan guru-murid. Memang benar kata pepatah, “ilmu adalah ikatan bagi para pemiliknya”. Wallahu A’lam bi Ash-Shawab.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik MOZAIK atau tulisan menarik Munawar Ahmad

Latest