Skip to content

Syekh Abdullah Al-Munufi, Pemilik Keramat nan Fakih

Biografi mahagurunya Syekh Khalil Al-Jundi, sahib Mukhtashar dalam fikih Maliki. Ialah wali nan fakih yang kisah hidupnya dipenuhi suri teladan.

FOTO Makam Syekh Abdullah Al-Munufi di Qarafah Mujawirin, Kairo.
FOTO Makam Syekh Abdullah Al-Munufi di Qarafah Mujawirin, Kairo.

Guru Imam Abdulwahhab Asy-Sya'rani, Burhanuddin Ibrahim Al-Matbuli berkata, “Jikalau kalian memiliki hajat kepada Allah SWT, bertawasullah kepada (Abdullah) Al-Munufi. Jika belum dikabulkan, maka kepada Syarafuddin Al-Kurdi di Al-Husainiyyah (daerah di seberang Babul Futuh). Jika belum, kepada Imam Asy-Syafi’i. Dan jika belum juga, maka pergilah kepada Sayidah Nafisah.”

Sosok pada biografi ini adalah wali agung nan fakih, seorang guru yang ikhlas mengajarkan murid dekatnya, Khalil Al-Jundi Al-Maliki, yang keberkahannya mengalir hingga hari ini. Ia bernama Abdullah bin Muhammad bin Sulaiman Asy-Syaburi Al-Munufi Al-Maghribi Al-Maliki Asy-Syadzuli. Ia dilahirkan di Desa Syabur, sebuah desa di Provinsi Al-Buhairah, Mesir, pada tahun 686 H (1287 M). Ayah dan ibunya berasal dari Maghrib, lalu hijrah ke Mesir, dan menetap di Syabur. Maka dari itu, ia juga menyandang nisbah Al-Maghribi pada akhir namanya.

Ia sudah menjadi yatim sedari kecil, karena ayahnya meninggal dunia di umurnya yang menginjak 9 tahun. Adapun menurut riwayat Imam Al-Munawi, umur 7 tahun. Sebelum meninggal, ayahnya berpesan kepada sang ibu, “Jangan kamu keluarkan Abdullah dari kuttab, tempatnya mengaji.” Ibunya menjawab, “Bagaimana mampu aku memenuhi kebutuhannya, sedangkan aku hanyalah seorang wanita yang fakir?”

Ayahnya lalu kembali menimpali, “Allah akan selalu mengasihi dirimu dan dirinya (Abdullah Al-Munufi).”

Kanti Utama: Simbol Krisis Ekonomi dan Keberislaman Kita
Kabar ibu yang membunuh anaknya di Brebes heboh sejak seminggu yang lalu. Ia menjadi simbol krisis ekonomi sekaligus keberislaman kita hari ini.

Setelah sang ayah meninggal, ibunya duduk termenung beberapa hari, hingga datanglah Syekh Sulaiman At-Tanukhi Asy-Syadzuli beserta rombongan pelajar dari daerah Al-Munufiyyah untuk belajar Al-Quran. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh ibundanya. Sang ibu kemudian turut menyerahkan anaknya untuk belajar di bawah bimbingan Syekh Sulaiman.

Masa Kecil dan Belajar

Syekh Sulaiman bukan hanya sekadar guru Al-Quran saja. Beliau salah satu wali besar pada masanya yang banyak membentuk kepribadian rohani Abdullah kecil. Kendati demikian, beliau lebih memilih untuk mengasuh anak-anak kecil dan mengajarkan adab dan kebaikan. Karena didikan belajar akan lebih masuk dan melekat jika dimulai sedari kecil.

Syekh Khalil Al-Jundi, murid Syekh Abdullah Al-Munufi berkata dalam kitab Manaqib Al-Munufi, bahwa gurunya pernah bercerita, “Syekh Sulaiman itu berkerja sebagai penempah kunci dari pohon Tamariska yang berwarna sangat putih, lalu meletakkan kunci tersebut di dekat tempat pemanggang roti. Setelah beberapa saat, kunci tadi mulai menghitam. Ia berkata kepada para muridnya, ‘Wahai anak-anakku, lihatlah bagaimana ia yang putih berubah warna menjadi hitam. Maka, janganlah kalian pernah bergelut kecuali dengan orang-orang baik.”

Petuah ini begitu membekas di dalam hati Abdullah kecil. Ia pun makin bertambah cinta kepada gurunya dan meluangkan semua waktunya untuk berkhidmah kepada sang guru hingga akhir hayatnya.

Sebelum gurunya wafat dan sakit tua, ia mengurusi segala keperluan sehari-hari sang guru, bahkan sampai urusan cebok. Ia telah menganggap gurunya sebagai orang tuanya sendiri, yang mana seorang anak harus berbakti kepadanya.

Bahaya Belajar Agama Islam Tanpa Guru
Mempelajari agama Islam menjadi berbahaya jika dilakukan secara autodidak tanpa guru. Para ulama di Al-Azhar masih menjaga betul sanad keilmuan.

Suatu hari, beliau pernah menyuruh kepada para murid untuk membersihkan sisa hajat besarnya, semuamelarikan diri kecuali Syekh Al-Munufi. Dengan segera ia membersihkannya. Gurunya kemudian datang dan berkata kepadanya, “Wahai Abdullah, mana anak-anak yang lain?”

Abdullah Al-Munufi muda terdiam bisu tanpa mampu berkata. Mengetahui isyarat diam dari muridnya tersebut, sang guru berkata, “Silahkan mereka pergi! Tidak ada yang akan sukses dan berhasil selain engkau.”

Setelah beberapa waktu, ia diberi izin oleh sang guru untuk menetap di Kairo. Salah satu tujuannya adalah Masjid Al-Azhar dan beberapa khanqah (tempat para sufi). Pergilah ia merantau. Di sana, ia belajar dan mendalami fikih mazhab Maliki, ilmu usul, tasawuf, dan bahasa (nahwu, sharaf, balaghah, dan adab) dengan Syamsuddin At-Tunisi, Syarafuddin Az-Zawawi, Shadruddin Ibnu Al-Murahhal, Ruknuddin Ibnu Al-Qauba’, Jalaluddin Al-Mu’abbar, Majduddin Al-Aqfahsi, dan lainnya.

Ia pernah berkata, “Para guruku menganjurkanku untuk selalu menelaah kitab-kitab tasawuf, terlebih kitab Ihya ‘Ulum Ad-Din karya Imam Al-Ghazali, seraya berkata, ‘Tidaklah sempurna (keilmuan) seorang fakih hingga ia bertasawuf’.”

Masa Mengajar

Saat mencapai umur 40 tahun, Syekh Abdullah Al-Munufi memulai pelatihan diri dan memperbanyak beribadah. Ibadah yang beliau maksud ialah menjadikan jiwanya berkhidmah untuk para muridnya, sementara raganya selalu bersama Rabb-nya.

Beliau pernah berkata, “Aku pernah meminta izin kepada Baginda Nabi SAW untuk memutuskan diri dengan manusia (khalwat), akan tetapi Nabi tidak mengizinkanku.” Beliau pun memutuskan untuk fokus mengajar.

Asal Mula Tradisi Berziarah Saban Jumat di Al-Azhar
Para talib Al-Azhar mempunyai tradisi ziarah saban Jumat. Guru besar Al-Azhar Syekh Fathi Hijazi mengisahkan riwayat ini dari gurunya.

Beliau mengajar di Madrasah Ash-Shalihiyah, di Jalan Al-Muiz, dekat dengan Khanqah Sa’id As-Su’ada. Di sana, beliau mengajar kutubusitah, Syarẖ Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah karangan Syekh Abdulmu’thi As-Sakandari, Asy-Syifa Qadhi ‘Iyadh, Al-Madkhal ila Tanmiyyah Al-A’mal Ibnu Al-Hajj, dan lainnya. Pun demikian, beliau lebih banyak belajar, mengajar, dan membaca kitab-kitab fikih. Beliau bergumam, “Kitab fikih adalah seutama-utamanya ilmu.”

Selain di Madrasah Ash-Shalihiyyah, beliau juga pernah diminta oleh Syekh ‘Alauddin Al-Qanawi At-Turki, Direktur Khanqah Sa’id As-Su’ada untuk mengajar dan tinggal di sana. Beliau menolak seraya berkata, “Orang yang mewakafkannya mensyaratkan bahwa orang yang tinggal di dalamnya hanyalah para sufi. Sedangkan aku bukanlah seorang sufi.”

Ketika mengajar, beliau lebih banyak menjelaskan dan mengajarkan kitab fikih dibandingkan yang lainnya. Dalam menjelaskan pelajaran, beliau selalu melihat sesuai kemampuan para murid, karena itu adalah hak mereka. Beliau mengajari mereka dengan berbagai cara. Adakalanya dengan membuat perumpamaan, kisah-kisah, bahkan terkadang dengan anekdot lucu agar hati para murid tidak tegang dalam belajar. Pada waktu senggang, beliau juga mengisahkan pengalaman pribadinya kepada murid-murid sebagai at-tahadduts bi an-ni’mah agar para murid mengambil pelajaran darinya.

Sifat dan Akhlak

Syekh Abdullah Al-Munufi memiliki sifat yang amat mulia. Suatu hari, ada seorang pemuda yang mengundang beliau ke acara walimah, lalu menyuruh beliau dan murid-muridnya untuk duduk di teras tempat sandal-sandal seraya berkata, “Tunggulah terlebih dahulu! Jangan makan, hingga orang lain telah selesai.”

Setelah orang lain selesai dan kembali, pemuda tadi kemudian datang kepada Syekh Abdullah Al-Munufi membawakan sisa makanan para budak dan anak-anak kecil. Beliau berkata kepada muridnya, “Nikmatilah berkahnya orang yang makan. Belajarlah berbaik sangka terhadap manusia. Seandainya mereka menganggap kita orang yang saleh —padahal hati kita mati—, tentu mereka tidak mendudukkan kita di samping sandal dan tidak memberi kita makan sisa.”

Beliau orang yang tidak pilah-pilih. Beliau selalu menerima semua khalayak yang ingin belajar, baik anak kecil maupun dewasa, lelaki atau perempuan, pemerintah atau rakyat kecil, dan seterusnya. Dengan keluasan ilmu yang dimiliki, beliau tidak pernah merasa lebih tinggi. Beliau berkata kapada para muridnya, “Aku ini bukanlah seorang guru. Aku duduk hanya agar kita semua saling belajar dan menimba ilmu. Jikalau di antara kalian ada yang menemukan kebenaran, silakan menegurku.”

Beliau juga berkata, “Aku duduk tidak lain hanya untuk membenarkan pemahaman kalangan mubtadi'in (pemula) saja.”

Rasulullah

Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan

di sini

Beliau tidak pernah mengendarai keledai selama hidupnya, walaupun sedang bepergian jauh. Beliau bergumam, “Ini sebagai rasa syukur karena diberikan nikmat kaki.”

Beliau juga pernah ditanyai oleh anaknya, Muhammad ketika dalam perjalanan jauh, “Apakah ayahanda mau naik kendaraan?” tanyanya. Beliau menjawab, “Wahai anakku, bagaimana bisa keledai mengendarai keledai yang lain!”

Beliau mempunyai kebiasaan mewajibkan dirinya untuk selalu membersihkan kakus (kamar kecil) dan menyikatnya dengan tangannya sendiri hingga bersih. Beliau berkata, “Kalaulah bukan karena mengajar, gentong ini sudah saya isi penuh dengan cadangan air untuk para pelajar.”

Beliau juga dikenal sebagai seorang yang ringan dalam melaksanakan salat fardu. Beliau berkata, “Ini adalah salatnya wali abdal. Orang seperti kita tidak mampu untuk berdiri lama di hadapan Sang Rabb tanpa keluarnya hati dari memikirkan perkara-perkara duniawi.”

Kebiasaan Baik

Kehidupan sehari-hari Syekh Abdullah Al-Munufi begitu bermakna. Setelah melaksanakan salat Subuh dan terbit fajar, beliau pergi ke Madrasah Ash-Shalihiyyah untuk mengajar hingga senja, lalu pulang ke rumah sembari menyenandungkan ayat Al-Quran. Setibanya di rumah, beliau berkumpul bersama masyarakat untuk membaca Al-Quran bersama dan mengadakan pengajian umum. Setelah selesai, mereka makan bersama-sama.

Beliau kerap memberi makan masyarakat. Tidak kurang dari 60-70 orang setiap harinya. Setelah mereka pulang, beliau segera menghanyutkan diri di hadapan Sang Rabb hingga pagi hari.

Kisah Kedermawanan Syekh Salim Al-Bisyri
Banyak kisah menarik dari kehidupan para ulama. Salah satunya kisah Syekhul-Azhar Salim Al-Bisyri, alim yang dikenal murah hati nan penderma.

Suatu ketika, beliau pernah merasakan kantuk yang sangat berat saat berkumpul bersama masyarakat. Beliau lantas tertidur pulas dengan tiada satu pun jamaah yang berani membangunkannya. Mereka terdiam hingga beliau kembali sadar sendiri dan berkata, “Kenapa kalian diam saja? Kalian telah melewatkan kebaikan yang banyak pada waktu ini.” Pun dengan kantuk tersebut, tak jarang beliau berdiri dan memegang sesuatu agar tidak tertidur saat kajian. Beliau berjalan menuju kakus agar kantuknya hilang.

Syekh Abdullah Al-Munufi tidak meninggalkan karangan kitab. Akan tetapi, beliau dianugerahi murid-murid yang selalu bermulazamah kepada beliau selama hidup. Sehingga, semua yang beliau ajarkan dicatat dan disimpan oleh para muridnya di dalam kitab-kitab mereka. Khususnya oleh muridnya yang bernama Khalil Al-Jundi dalam Mukhtashar-nya. Banyak sekali ditemukan nukilan mazhab Maliki dari gurunya di dalam kitab tersebut. Bayangkan saja, betapa banyak perkataan beliau yang dikutip sejak abad ke-7 Hijriah hingga hari ini dan dijadikan patokan dalam berfatwa.

Fatwa-fatwa Muslimah Era Kekinian
Lembaga fatwa Darul Ifta Mesir kerap menerbitkan buku yang membahas fikih kekinian. Salah satunya buku bertopik wanita muslimah yang diulas ini.

Akhir Hayat

Kehidupan di dunia telah berlalu 63 tahun saat Syekh Abdullah Al-Munufi mulai terserang sakit. Beliau terkena penyakit taun yang kala itu sedang mewabah di negeri Mesir. Banyak orang yang berziarah ke kediaman beliau untuk menjenguk, menyemangati, dan mendoakan.

Ada salah satu peziarah dari negeri Maghrib pernah berkata kepada beliau, “Wahai tuanku, ingatlah kepada Allah Taala!” Mendengar hal tersebut, Syekh Abdullah Al-Munufi lalu menjawab dengan tegas, “Bagaimana bisa aku melupakan Zat, yang aku tidak akan tahu perkara-perkara yang baik kecuali dari-Nya!”

Syahdan, kala itu, Mesir sedang dalam puncak wabah. Dan wabah tersebut makin menguat pada bulan Rajab, Syakban, dan Ramadan. Para penguasa negeri kemudian mengumumkan agar semua masyarakat, tanpa terkecuali, berkumpul di tanah lapang, tepatnya di dekat kediaman Syekh Abdullah Al-Munufi di Qarafah Mujawirin. Pemerintah juga menulis surat serta undangan resmi kepada beliau untuk hadir pada hari itu.

Syekh Abdullah Al-Munufi pun berkata kepada Khalil Al-Jundi, “Ya, Aku akan berada di sana pada hari itu. Tetapi tidak kelihatan.” Muridnya belum memahami isyarat gurunya kala itu. Ternyata itu adalah isyarat gurunya bahwa ia akan wafat pada hari itu. Memang benar, ia meninggal pada hari Sabtu, 7 Ramadan 749 H (7 Desember 1348 M) setelah Asar, dan dikebumikan keesokan harinya pada pagi hari Ahad di tempat yang dekat dengan kediamannya di kawasan Qarafah. Tubuhnya membawa semerbak misik yang memenuhi ruangan. Semua masyarakat yang berkumpul kala itu langsung berubah haluan menuju kediaman almarhum. Dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra karangan Imam Asy-Sya’rani dan dinukil kembali oleh muridnya, Imam Al-Munawi dalam Al-Kawakib Ad-Durriyyah disebutkan bahwa yang hadir dalam pemakaman jenazah saat itu sekitar 30 ribu orang.

Tempat pemakaman beliau dahulunya dikenal dengan nama Ash-Shahra, lain dengan hari ini yang masyhur dengan nama Qarafah Mujawirin, berdekatan dengan Madrasah Sultan Asyraf Qaitbay. Turut dimakamkan di samping beliau Burhanuddin Ibrahim Al-Munufi (anak), Syekh Ahmad Ibnu Ya’qub Al-‘Athfihi Al-Azhari, Syekh Ahmad Abu Thaqiyyah, Syekh Nuruddin Ali As-Sanhuri, Syekh Abdurrahman bin Muhammad Al-Usymuni, Syekh Muhammad bin Marahimuddin Asy-Syarwani, dan masih banyak ulama lain yang dimakamkan di sampingnya. Hanya saja, bangunan makam yang masih memiliki kubah besar itu, kini hanya terdapat beberapa makam sahaja yang tampak. Sisanya, hanya bisa dilihat melalui kitab sejarah.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest