Ahmad Bik Al-Husaini, Pelestari Karya Imam Asy-Syafi'i

Sebagai muslim yang hidup di Nusantara, tentu nama Imam Asy-Syafi'i tidaklah asing dan telah terpatri di sanubari. Sebab, mayoritas atau bahkan seluruh muslim Nusantara menganut mazhab beliau dalam berfikih. Seorang muslim yang mengikuti sang imam seyogianya pun mengenal lebih dekat sosoknya maupun karya-karyanya.

Sebagai seorang ulama pencetus mazhab, Imam Asy-Syafi'i agak sedikit berbeda dengan imam-imam yang lain. Di samping berijtihad dan menggali hukum langsung dari sumbernya, beliau juga mengodifikasikan sendiri hasil ijtihadnya. Bukan hanya itu, beliau juga membukukan kerangka berijtihad. Dengan kata lain, beliau telah membukukan sendiri ushul dan furu' mazhab ini.

Dunia Itu Hanya Untuk Empat Golongan
Di Majalah Al-Azhar, terdapat tulisan terbaru ulama sepuh di Al-Azhar Syekh Ahmad Umar Hasyim. Beliau berbicara tentang prototipe manusia di dunia.

Dalam kesempatan ini, penulis akan menyuguhkan biografi sosok ulama Al-Azhar yang mempunyai kontribusi besar dalam berkhidmah terhadap karya-karya Imam Asy-Syafi'i. Sebagai buah dari kontribusinya, sampai sekarang kita masih bisa membaca atau sekedar menyaksikan karya agung yang telah ditulis oleh Imam Asy-Syafi'i. Melihat besarnya buah dari jerih payah tersebut, sangat patut bagi kita untuk mengenal lebih dekat sosok alim dari Al-Azhar Asy-Syarif berikut ini.

Sayid nan Alim

Sosok alim, sayid, juga bernisbah Azhari yang dimaksud adalah Syekh Ahmad Bik Al-Husaini. Ia bernama lengkap Ahmad Bik bin Ahmad bin Yusuf bin Ahmad bin Ahmad bin Abdullathif Al-Husaini Asy-Syafi'i Al-Azhari. Ia berlakab Syihabuddin. Nisbat Al-Husaini menandakan bahwa ia merupakan seorang sayid, bagian dari Ahlulbait dari jalur Sayidina Husain, cucu Rasulullah SAW. Sementara Asy-Syafi'i merujuk kepada mazhab fikih yang dianut. Dan Al-Azhari adalah nisbah kepada institusi pendidikan tempat ia belajar.

Sang sayid nan alim ini dilahirkan pada tahun 1271 H (1854 M). Ia berasal dari keluarga yang mencintai ilmu dan gemar berkumpul dengan para ulama. Hal ini bisa kita telusuri melalui tulisannya dalam mukadimah Syarah Al-Umm karya beliau. Dalam mukadimah syarah tersebut, beliau menjelaskan kaidah dan istilah-istilah dalam mazhab Syafi'i. Setelah itu, beliau menjelaskan biografi ulama Syafi'iyyah dari masa ke masa hingga generasi para guru beliau.

Ketika menjelaskan biografi Syekh Hasan Al-'Aththar (w. 1250 H), beliau berkata, "Antara Syekh Hasan Al-'Aththar dan kakekku Yusuf Al-Husaini, terdapat ikatan nasab. Sebab, kakekku menikah dengan saudari Syekh Hasan Al-'Aththar. Dari pernikahan itu, lahirlah ayahku. Jadi, Syekh Hasan Al-'Aththar adalah paman dari ayahku." Dari penuturan ini, kita bisa membayangkan bagaimana nuansa keilmuan dalam keluarga Syekh Ahmad Bik Al-Husaini.

Di awal kehidupannya, Ahmad kecil tumbuh dalam pangkuan ayahnya. Ayahnya merupakan pemuka para pengrajin tembaga (Syekhun-Nahhassin). Setelah cukup umur, ia pun belajar di Masjid Al-Azhar. Di masjid ini, ia belajar pada banyak ulama besar, di antaranya adalah Syekh Burhanuddin As-Saqqa (Syekh As-Sadah Asy-Syafi'iyyah), Syekh Muhammad Al-Khudhari (pengarang Hasyiyah Al-Khudhari 'ala Syarh Ibnu 'Aqil) dan Syekh Syamsuddin Al-Anbabi (Syekhul-Azhar w. 1313 H). Pada guru terakhir ini, Ahmad Bik muda bermulazamah selama 15 tahun.

Kontekstualisasi Fikih di Era Kiwari
Selain ubudiah, fikih belum bisa membumi secara aplikatif & efektif dalam masyarakat. Padahal mayoritas masyarakat Indonesia memeluk agama Islam.

Di samping mempunyai latar belakang keluarga yang luhur dan guru-guru yang agung, Ahmad Bik Al-Husaini juga memiliki jejaring kolega yang solid. Pada gilirannya, ia dan para koleganyalah yang mengemban amanat estafet keilmuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Usai mendapat ijazah dari Syekhul-Azhar Syamsuddin Al-Anbabi, Ahmad Bik Al-Husaini resmi menjadi bagian dari para ulama Al-Azhar. Meski demikian, beliau tetap belajar. Beliau senantiasa berdiskusi dengan para koleganya, baik dari sesama ulama Al-Azhar maupun dari luar Mesir, terutama mereka yang bermazhab Syafi'i.

Mereka membentuk komunitas diskusi. Komunitas ini biasa berkumpul berdiskusi di rumah kediaman Syekh Ahmad Bik Al-Husaini. Di antara ulama yang menjadi pionir dalam menghadiri diskusi ilmiah ini adalah Syekh Muhammad bin Muhammad Al-Halabi Asy-Syarqawi, Syekh Muhammad Musa Al-Bujairimi (Syekh As-Sadah Asy-Syafi'iyyah, w. 1329 H), Syekh Khalifah Fathulbab Al-Fasyani, Syekh Imam bin Burhanuddin As-Saqqa, Syekh Muhammad Hasanain Makhluf, Syekh Ali Ash-Shalihi, dan masih banyak yang lainnya.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Sang Muhami Kolektor Kitab

Ketika lembaga peradilan Al-Mahkamah Al-Ahliyyah Mesir resmi dibuka pada tahun 1302 H, Syekh Ahmad Bik Al-Husaini diangkat menjadi advokat. Beliau menjalankan tugas ini secara profesional. Selain itu, beliau juga ditunjuk sebagai anggota lajnah undang-undang.

Di samping dikenal sebagai sosok yang menggandrungi diskusi ilmiah, Syekh Ahmad Bik Al-Husaini juga dikenal sebagai sosok yang gemar mengoleksi kitab. Beliau menyiapkan tempat khusus untuk menampung kitab koleksinya tersebut. Sehingga, sebagaimana dituturkan Jurji Zaidan, perpustakaan milik beliau merupakan perpustakaan pribadi yang luar biasa. Perpustakaan ini bertempat di rumah kediaman beliau. Kitab koleksinya tersusun rapi disesuaikan dengan tema isinya. Selain itu, perpustakaan itu juga memiliki katalog dan petugas perpustakaan. Koleksi kitabnya mencapai 4780 jilid. Dari jumlah itu, mayoritas berupa kitab fikih, undang-undang, sastra, dan sejarah. Kitab-kitab ini bebas diakses oleh para pembaca pada waktu yang telah dijadwalkan setiap minggunya.

Tradisi Membaca Surah An-Nas sebagai Alat Perlindungan
Oleh para mufasir, Surah An-Nas digambarkan sebagai surah yang mengandung petunjuk untuk berlindung kepada Tuhan dari godaan jin dan juga manusia.

Di samping sebagai kolektor kitab, Syekh Ahmad Bik Al-Husaini juga merupakan sosok yang produktif dalam mengarang kitab. Karya-karya beliau dikenal sangan bagus dan teliti. Karya-karya ini beliau cetak dangan cetakan yang bagus, kemudian dibagikan kepada para pelajar secara cuma-cuma.

Di antara karya Syekh Ahmad Bik Al-Husaini adalah kitab Bahjah Al-Musytaq fi Hukmi Zakat Al-Auraq, Al-Qaul Al-Fashl fi Qiyam Al-Far' Maqama Al-Ashl, Tuhfah Ar-Ra'yi As-Sadid Al-Ahmad li Dhiya At-Taqlid wa Al-Mujtahad, dan masih banyak yang lainnya.

Khidmah untuk Al-Umm

Di samping karya-karya di atas, karya terbesarnya adalah penerbitan kitab Al-Umm karya Imam Asy-Syafi'i. Kitab ini telah lama tertimbun di berbagai perpustakaan dan masih tercerai berai. Tentu kitabnya masih berupa manuskrip. Dengan semangat yang tidak mengenal tua, Syekh Ahmad Bik Al-Husaini mengumpulkan manuskrip kitab ini dari berbagai negeri, dari Mesir, Hijaz, Syam, Yaman bahkan sampai daratan Eropa. Kemudian, beliau mentahkik dan menerbitkannya dengan biaya pribadi.

Kitab Al-Umm yang beliau terbitkan merupakan kitab Al-Umm yang lengkap dan utuh setelah sebelumnya tercerai berai. Yang menarik lagi adalah kitab ini merupakan kitab Al-Umm yang pertama kali lahir kembali di era modern.

Dalam menerbitkan kitab Al-Umm, Syekh Ahmad Bik Al-Husaini menyertakan karya-karya Imam Asy-Syafi'i yang lain. Sehingga, hasil penerbitan ini menjadi ensiklopedia karya Imam Asy-Syafi'i. Karya lain yang dimaksud adalah Ar-Risalah, Ikhtilaf Al-Hadits, Jima' Al-'Ilmi, Ar-Radd 'ala Siyar Al-Auza'i, Ikhtilaf Malik wa Abi Hanifah, Ar-Radd 'ala Muhammad bin Hasan, Ibthal Al-Istihsan, dan yang lainnya. Turut diterbitkan pula kitab Mukhtashar Al-Muzani. Bahkan, seandainya kitab Mukhtashar Al-Buwaithi saat itu telah beliau temukan, pastilah beliau akan menerbitkannya bersama kitab-kitab di atas.

Perempuan dalam Lintas Sejarah Peradaban Islam
Ulasan singkat atas karangan seorang alamah Syekh Ali Jum’ah. Buku tipis ini menyajikan bagaimana perempuan dalam lintas sejarah peradaban Islam.

Tidak cukup menerbitkan ensiklopedia karya Imam Asy-Syafi'i, Syekh Ahmad Bik Al-Husaini juga berkontribusi dalam memberi syarah kitab tersebut. Seandainya kitab syarah ini berhasil diselesaikan, mungkin akan menjadi kitab terbesar di masa itu. Namun sayang, sebelum kitab syarah itu berhasil diselesaikan, beliau terlebih dahulu dipanggil oleh Sang Pemilik SWT pada hari Selasa, 15 Zulkaidah 1330 H (27 Oktober 1912 M). Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat atas kuburnya.

Syarah kitab Al-Umm karya Syekh Ahmad Bik Al-Husaini diberi judul Mursyid Al-Anam fi Barri Ummi Al-Imam yang berarti Petunjuk Umat Manusia dalam Berbakti kepada Kitab Al-Um karya Sang Imam.

Manuskrip karangan Syekh Ahmad Bik Al-Husaini.

Kitab ini diawali dengan mukadimah setebal dua jilid. Lalu berlanjut dengan Syarah Ar-Risalah. Setelah selesai memberi syarah terhadap kitab Ar-Risalah, beliau melanjutkan memberi syarah terhadap kitab Al-Umm bagian 'Ibadat. Baru selesai pembahasan ibadah, beliau lalu dipanggil oleh Pemiliknya SWT.

Kitab setebal 24 jilid ini sekarang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Nasional Mesir yang terletak di samping Sungai Nil. Semoga suatu saat kitab ini mendapat perhatian hingga diterbitkan sebaik mungkin dan disebar luas ke seluruh dunia Islam. Amin..


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin