Skip to content

Bertemu Dewan Eropa, Syekh Al-Azhar Tanggapi Dualisme Standar Eropa terhadap Gaza

Syekhul-Azhar bertemu Dewan Eropa di Azerbaijan. Ia mengkritik standar ganda Eropa dalam krisis Gaza, menyerukan perdamaian serta keadilan global.

FOTO Syekh Ahmad Ath-Thayyib bersama Presiden Dewan Eropa Charles Michel. (alimamaltayeb.com)
FOTO Syekh Ahmad Ath-Thayyib bersama Presiden Dewan Eropa Charles Michel. (alimamaltayeb.com)

TAWAZUN.ID — Pada pertemuan di Baku, Azerbaijan (12/11/2024), Syekh Ahmad Ath-Thayyib bertemu dengan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel. Dalam kesempatan tersebut, Syekhul-Azhar menekankan pentingnya dialog untuk mendengarkan keprihatinan bersama terkait tragedi kemanusiaan yang melampaui batas akal dan logika. “Kami berdoa kepada Allah agar semua ini segera berakhir,” ujar Imam Akbar Syekh Ahmad Ath-Thayyib.

Sebagai pemimpin Majlis Hukama Al-Muslimin, Syekhul-Azhar juga menjelaskan bahwa Al-Azhar telah melangkah lebih jauh untuk membuka diri dan membangun perdamaian global. Upaya ini telah menghasilkan sejumlah inisiatif penting yang memprioritaskan persaudaraan dan pemahaman lintas budaya di atas kepentingan ekonomi dan materi. Salah satu pencapaian utama adalah penandatanganan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan antara Al-Azhar dan Vatikan, yang kini diperingati dunia setiap 4 Februari sebagai Hari Persaudaraan Manusia Internasional.

Syekhul-Azhar juga mengkritik pendekatan standar ganda yang digunakan dalam menangani isu-isu Timur Tengah, termasuk konflik di Gaza. Menurutnya, banyak negara Barat tampak mengabaikan nilai-nilai agama dan hukum internasional, lebih memilih mendukung pihak yang kuat secara ekonomi dan militer daripada membela yang tertindas. Ia menyoroti penderitaan yang dialami warga Gaza sebagai penyimpangan dari norma-norma agama, kemanusiaan, dan moralitas global.

Dalam pertemuan tersebut, Syekhul-Azhar menyampaikan harapan agar lembaga internasional, seperti Uni Eropa, Dewan Keamanan, dan PBB, mengambil peran aktif dalam menyelesaikan konflik. Ia juga mengecam sikap beberapa negara Eropa yang terus memasok senjata kepada pihak-pihak yang terlibat agresi di Gaza, meski darah orang-orang tak berdosa mengalir di hadapan mata mereka. Kontradiksi ini, menurutnya, bertentangan dengan aspirasi masyarakat Eropa yang menuntut diakhirinya pembantaian perempuan, anak-anak, dan lansia di Gaza.

“Allah adalah Dzat yang Maha Adil. Berdasarkan keyakinan saya pada keadilan-Nya, saya yakin mereka yang mendiamkan kejahatan ini suatu hari akan mengalami dampaknya,” tegas Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib. Ia menambahkan bahwa kurangnya dukungan terhadap Palestina membuat banyak orang meragukan adanya solusi untuk kekacauan dunia, seolah tidak ada kekuatan yang cukup untuk menghentikan agresi ini dan menyelamatkan nyawa orang-orang tak bersalah.

Syekhul-Azhar mengingatkan bahwa menghentikan konflik Palestina-Israel yang dimulai 7 Oktober lalu sebagai "reaksi" harus dipahami secara benar. Ia mengecam anggapan bahwa serangan di Gaza adalah “perang seimbang antara dua pihak bersenjata,” yang menurutnya adalah ketidakadilan terhadap perjuangan Palestina. Serangan ini, katanya, adalah aksi sepihak dari militer yang memiliki persenjataan berat terhadap warga sipil tak bersenjata.

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang mengangkat isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Syekhul-Azhar juga menggarisbawahi bahwa beberapa pejabat Barat tampak tidak memahami kondisi di Gaza, sehingga pernyataan mereka lebih banyak berupa “objektivitas abstrak” yang mencoba netral tanpa memihak kebenaran. Setiap minggu, Syekhul-Azhar menerima pengaduan dari mahasiswi Palestina yang melarikan diri dari agresi, berusaha melanjutkan studi mereka di Universitas Al-Azhar. Sebagian besar dari mereka bahkan tidak tahu apakah keluarga mereka masih hidup atau sudah meninggal.

Syekhul-Azhar mengimbau para pejabat Barat untuk menciptakan wacana baru yang sesuai dengan besarnya kekacauan dan penderitaan yang terjadi di Gaza. Ia juga memperingatkan bahwa agresi ini telah menciptakan tembok kebencian yang dalam antara Timur dan Barat, yang akan memerlukan waktu lama untuk dihancurkan dan digantikan dengan jembatan saling pengertian berbasis prinsip hormat dan kesetaraan.

Charles Michel, di sisi lain, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya Syekhul-Azhar dalam menyebarkan persaudaraan dan toleransi. Ia menegaskan pentingnya peran Al-Azhar sebagai otoritas agama yang moderat dan berpengaruh di dunia. Michel setuju dengan Syekhul-Azhar tentang bahaya pendekatan "standar ganda" dalam konflik dunia dan menyebutkan bahwa Uni Eropa mengutuk ekspor senjata ke Israel, mendorong pelarangan hingga pihak-pihak terkait menghentikan pelanggaran hukum internasional.

Michel juga menekankan bahwa Piagam Persaudaraan Kemanusiaan adalah pesan harapan dan inspirasi bagi masyarakat dunia. Ia menyampaikan bahwa Eropa perlu mendukung Al-Azhar dalam melatih para imam di Eropa dengan manhaj moderat yang menolak ekstremisme, menekankan hidup berdampingan, dan mempromosikan nilai kebersamaan.


💡
Baca juga warta lain di rubrik BERITA atau pilih ragam tulisan lain di Situs Tawazun ID

Latest