Skip to content

Di Balik Nilai Moderasi dalam Ajaran Islam

Bersikap moderat adalah bagian dari muslim yang sejati. Wasathiyyah Al-Islam karangan ulama besar Al-Azhar merangkum apa di balik nilai moderasi.

FOTO Syekh Ahmad Umar Hasyim dan buku risalah (insert) bertema moderasi Islam. (OIAA)
FOTO Syekh Ahmad Umar Hasyim dan buku risalah (insert) bertema moderasi Islam. (OIAA)

Berusaha menjadi muslim yang sejati tentu tak lepas dari menjaga sikap moderat. Apabila kita menelaah bagaimana agama Islam didakwahkan dari masa ke masa, akan kita temukan betapa nilai-nilai untuk mengambil jalan tengah selalu ditekankan. Tapi, sebelum berbicara panjang dan berulang mengenai peneguhan kemoderatan Islam di tengah masyarakat muslim zaman ini, alangkah baiknya kita memperkaya wawasan mengenai moderasi atau yang dalam bahasa Arab disebut Wasathiyyah melalui kitab kecil (risalah) yang dikarang oleh Syekh Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim. Kitab yang menghimpun bukan hanya sepilihan nilai-nilai moderasi yang ada, melainkan juga hikmah di balik kemoderatan ajaran Islam.

Kitab yang secara fisik kecil dan tipis ini berjudul Wasathiyyah Al-Islam (Kemoderatan Islam). Meski hanya menghimpun 20 halaman, buku ini adalah gerbang yang memperkenalkan dan menegaskan bahwa nilai-nilai Wasathiyyah memang nyata dalam ajaran agama Islam. Di zaman banjir informasi sekarang ini, di saat membaca buku adalah kegiatan yang dirasa berat oleh banyak masyarakat muslim Indonesia atau bahkan dunia, buku tipis dan bisa dibaca sekali duduk macam ini adalah pilihan yang tepat. Selain bak gerbang, buku ini adalah sari-sari keilmuan dari sosok alim kabir, ahli hadis, guru besar Al-Azhar seperti Syekh Ahmad Umar Hasyim.

Mengapa Ahlussunnah Tetap Relevan Hari ini
Menjamurnya radikalisme dan islamofobia adalah problem terbesar dunia Islam hari ini. Ahlussunnah sanggup secara nyata merespon isu-isu tersebut.

Selayang Pandang Mualif

Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim bagi mahasiswa Indonesia di Al-Azhar juga bagi para alumnus era 90-an tentulah nama yang tidak asing. Beliau yang pernah menjabat rektor Universitas Al-Azhar dua periode adalah seorang profesor di bidang Al-Hadits wa 'Ulumuh yang lahir pada 6 Februari 1941 M. Ulama yang juga merupakan sayid ini dididik dalam keluarga yang mencintai ilmu dan mengamalkan tasawuf.

Beliau berkarir dalam dunia pendidikan dan menjadi bagian dari Universitas Al-Azhar selama setidaknya 38 tahun, jika kita hitung dari awal perkuliahan yang beliau selesaikan pada tahun 1961 M di Fakultas Usuludin.

Setelah berbagai jabatan dan khidmat mengajar yang terbilang panjang itu, beliau diangkat menjadi rektor pada 1995 M atas usulan Imam Akbar Syekhul-Azhar Jadal-Haq Ali Jadal-Haq (w. 1996 M) yang kemudian diresmikan melalui Ketetapan Pemerintah Mesir Nomor 301 Tahun 1995 M.

Setelah berlalu 4 tahun sesuai mandat, kepercayaan kembali tertuju kepada ulama yang dijuluki Singa Podium Al-Azhar ini. Pimpinan Al-Azhar di masa itu, yakni Imam Akbar Syekhul-Azhar Muhammad Sayyid Thanthawi (w. 2010 M) mengajukan nama beliau agar masa khidmah beliau diperpanjang dan kembali menahkodai Universitas Al-Azhar. Terbitlah Ketetapan Pemerintah Mesir Nomor 194 Tahun 1999 M yang meresmikan perpanjangan masa jabatan untuk periode 4 tahun selanjutnya.

Selain berkarir dalam kampus, alim nan saleh yang di masa mudanya sudah berkesempatan bertemu Rasulullah SAW dalam mimpi ini juga aktif berkarya. Banyak kitab beliau karang. Jumlahnya mencapai tujuh puluh judul. Yang terbesar adalah Faidh Al-Bari fi Syarh Shahih Al-Bukhari setebal 16 jilid dan ditulis selama 16 tahun.

Tetokoh

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Kini, Syekh Ahmad Umar Hasyim adalah salah satu ulama sepuh Al-Azhar yang memperoleh keanggotaan di lembaga elite Haiah Kibar 'Ulama Al-Azhar (Dewan Ulama Senior Al-Azhar). Beliau juga menjadi anggota Majma' Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Akademi Riset Keislaman) atau lembaga think thank milik Al-Azhar. Keanggotaan di dua lembaga ini adalah salah satu syarat seorang ulama Al-Azhar bisa menjadi kandidat Syekhul-Azhar di saat terjadi kekosongan pemimpin. Singkatnya, kealiman beliau tidak diragukan lagi, bak jabal dari banyak jabal yang dimiliki Al-Azhar di zaman ini.

Yang Menarik dari Buku Wasathiyyah Al-Islam

Buku ini saya dapat dari stan Al-Azhar di Bazar Buku Internasional Kairo pada tahun 2014 M. Meski saat itu Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) sudah tidak lagi menyandang nama 'ikatan' (ar-rabithah), masih banyak atribut wadah alumni ini yang masih belum diubah, termasuk di cetakan kala itu. Di tahun itu sejumlah buku-buku kecil yang ditulis para ulama besar Al-Azhar diterbitkan oleh organisasi alumni ini. Kesemuanya mengangkat judul yang mempertegas pesan-pesan Al-Azhar seperti moderasi dan anti-terorisme. Buku ini adalah salah satunya.

Dalam mukadimah, Syekh Ahmad Umar Hasyim membuka kalimat dengan tahmid dan selawat. Beliau mendasari buku ini dengan Surah Al-Hasyr ayat 7, meski pada catatan kaki terdapat kesalahan cetak, karena menyebutnya sebagai Surah Al-Baqarah ayat 143 padahal yang dimaksud adalah ayat yang berbunyi:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah."

Dengan ayat ini, beliau tampak ingin menjembatani pemaparan selanjutnya sehingga masuk ke bahasan yang menjadi otoritas beliau sebagai pakar hadis, bahwa sunnah Rasul SAW berperan menafsirkan dan memaparkan secara detail ayat-ayat dalam Al-Quran. Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa sunnah telah menjelaskan apa saja yang dibutuhkan umat manusia untuk meraih kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat. Sunnah juga berperan dalam peneguhan karakter Wasathiyyah (moderasi) dan I'tidal (tegak lurus) dalam ajaran Islam. Bahkan keduanya mempunyai peran yang besar dalam majunya dakwah Islam. Sejarah pun mencatat khalayak berduyun-duyun masuk Islam karena nilai toleransi yang diajarkan agama ini, lalu tersebar luas karena dakwah dengan hikmah dan pesan yang disampaikan dengan baik.

Mukadimah yang padat ini berhasil menarik hati saya ketika membaca buku ini untuk pertama kalinya.

Selain itu, tata letak buku dan adanya harakat, baik harakat tanda i'rab maupun harakat bangunan kata, juga membuat buku ini sekilas terlihat rapi. Meski di saat yang sama, pemberian harakat i'rab di beberapa titik justru menjadi fatal tersebab kelalaian penyunting atau penata letak. Kuat dugaan saya bahwa kesilapan bukanlah datang dari mualif, melainkan dari tim penerbit karena pada seluruh kitab yang diterbitkan berbarengan juga terdapat pemberian harakat, bahkan sebagiannya diharakati penuh.

Padahal, jika menilik tradisi dalam turats Islam, pemberian harakat dalam sebagian kondisi bisa dipahami sebagai penghinaan. Karena dengan adanya harakat itu, pembaca zaman baheula cenderung merasa dianggap tidak mampu membaca bahasa Arab secara benar, baik dari segi gramatikal (harakat akhir) dan apalagi bunyi kata. Namun, pemberian harakat juga terkadang menjadi nilai lebih atau sebentuk kehati-hatian, misalnya dalam konteks kitab-kitab tsabat (rantai keilmuan), kamus, atau kitab biografi yang penuh dengan nama. Terlepas dari persoalan yang mungkin dianggap remeh ini, pemberian harakat pada buku ini menurut saya adalah langkah yang tepat karena kitab-kitab kecil ini tentulah menyasar pembaca dari masyarakat umum, sebagaimana tertuang dalam misi OIAA.

Solusi Maraknya Kasus Pemerkosaan di Pesantren
Kasus pencabulan dan rudapaksa banyak terjadi belakangan. Mirisnya aksi itu dilakukan oknum pengajar agama. Kontrol sosial ialah jalan keluarnya.

Terkait isi, Syekh Ahmad Umar Hasyim membagi poin-poin pembahasan dalam buku ini menjadi 6 bagian:

  1. Definisi Wasathiyyah atau moderasi
  2. Pokok-pokok ajaran moderasi dalam Al-Quran dan sunnah
  3. Kemoderatan umat, berisi pemaknaan umat yang wasathan dalam ayat.
  4. Sejumlah perwujudan moderasi di dalam Islam, berisi sejumlah kemoderatan dalam beragam aspek, seperti akidah, syari'ah, ibadah, muamalah, pemberian mahar, kasab, dan akhlak.
  5. Nilai moderasi yang dipraktikkan dalam kehidupan Nabi SAW
  6. Faedah yang didapat dari kisah dua sahabat, yakni Salman dan Abu Darda

Dua bagian pertama adalah pemaparan terfavorit bagi saya. Pada bagian awal, beliau mendefinisikan Wasathiyyah dalam bahasa Arab. Secara bahasa, kata ini berasal dari wasath. Beliau merujuk alim bahasa kenamaan mualif Mu'jam Maqayis Al-Lughah bernama Ibnu Faris (w. 395 H) yang menjabarkan bahwa wa-sa-tha menunjukkan makna adil dan tengah. Yang paling adil (al-a'dal) semakna dengan al-awsath. Barulah di bagian ini dikutip Surah Al-Baqarah ayat 143.

Setelah itu, mualif mengomentari bahwa 'tengah' atau Wasath bukan sekadar suatu posisi di antara dua ujung. Sebagai misal, ungkapan fulan wasathun fi karamihi (fulan itu 'tanggung' dalam hal memberi) atau ungkapan wasathun fi dirasatihi (ia 'setengah-setengah' dalam belajar) dan malah yang dimaksud adalah tengah antara baik dan buruk. Pemahaman seperti ini, beliau tegaskan, meskipun banyak orang berpikiran ke arah sana, merupakan paham yang kurang dan tidak utuh. Pemahaman keliru seperti ini bisa berujung pada penistaan terhadap makna al-wasathiyyah (moderasi) sebenarnya. Jadi, al-wasath yang diinginkan dan dimaksud di sini adalah al-'adlu (adil), al-khiyar (terbaik), dan al-afdhal (terutama).

Bahasan favorit lain, sang mualif mendaftar sejumlah ayat Al-Quran yang menyebutkan kata wasath dan bentuk lain dari akar yang sama. Baru setelah itu, beliau memaparkan wasathiyyah dalam sunnah. Pada poin ini terdapat pesan yang bagi saya penting untuk menjadi perenungan. Dalam penjelasan hadis yang beliau nukil, bahwa Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash meriwayatkan, "Rasulullah SAW memanggil saya, 'Wahai Abdallah! Janganlah seperti si Fulan yang semalaman ia beribadah, sehingga (dengan sebab itu) malam selanjutnya ia tak lagi beribadah malam." Dengan kata lain, sesuai syarah beliau, at-tasyaddud atau berperilaku ekstrem adalah salah satu sebab tidak langgengnya amal si Fulan dalam salat malam karena telah penat bin loyo. Maka dari itu, bersikap moderat menjadi nilai yang penting demi adanya potensi keberlangsungan (al-istimrar) sehingga seorang muslim sejati mampu kontinu beramal dan beribadah.

💡
Baca juga artikel lain di rubrik TAKARIR atau tulisan menarik Mu'hid Rahman

Keterangan Foto Utama:

Syekh Ahmad Umar Hasyim ahli hadits dari Al-Azhar dan kitab risalah (insert) berjudul Wasathiyyah Al-Islam yang diulas kali ini.

Latest