Salah satu yang membuat bulan Ramadan begitu istimewa adalah karena adanya Lailatul Qadar, yakni malam kemuliaan dan keutamaan (lailatusy syaraf wal fadhl) serta malam di mana turunnya ayat-ayat pertama Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW. Di malam Lailatul Qadar ini, Jibril menampakkan diri kepada Nabi Muhammad dan menyampaikan sebuah firman dari Allah, yakni Iqra’ yang berarti bacalah. Satu kata yang mempunyai makna yang sangat mendalam dan berimplikasi luas.
Pada malam Lailatul Qadar ini, tidak hanya Jibril yang turun ke bumi, bahkan Allah SWT mengutus para malaikat lain untuk turun ke langit dunia dengan membawa tugas masing-masing. Di antara mereka ada yang bertugas mencatat rezeki, ada yang bertugas mencatat ajal, ada yang mencatat jodoh, ada pula yang mencatat kebaikan dan keburukan manusia selama satu tahun, terhitung sejak malam Lailatul Qadar hingga datangnya Lailatul Qadar selanjutnya.
Malam Lailatul Qadar juga merupakan satu momen yang paling dinanti seluruh umat Muslim di berbagai belahan dunia. Sebab, pada malam Lailatul Qadar, Allah SWT menjanjikan ampunan dan keberkahan yang sangat besar bagi hamba-hamba yang beruntung bisa menemuinya.
Malam Lailatul Qadar juga merupakan sebuah anugerah khusus dari Allah SWT untuk umat Muhammad yang mana lebih mulia dari seribu bulan dan merupakan sebuah jawaban Allah SWT atas keresahan yang sebelumnya menimpa Nabi Muhammad SAW. Yakni keresahan yang termaktub dalam hadits yang dikutip Ibnu ‘Arabi, tatkala beliau mengutip penjelasan Imam Malik dalam Al-Muwaththa' yang menyebutkan riwayat Ibnu Qasim dan yang lainnya:
Artinya: “Aku mendengar seorang yang terpercaya berkata, “Sungguh, Rasulullah SAW pernah diperlihatkan usia umat-umat terdahulu. (Melihat itu) Nabi pesimis bahwa usia umatnya tidak akan mampu untuk mencapai amal ibadah yang dilakukan umat-umat tersebut. Kemudian Allah SWT memberikan Nabi (dan umatnya) malam Lailatul Qadar dan menjadikannya malam yang lebih utama dari seribu bulan.” (Lihat Ahkamul Qur’an li Ibni ‘Arabi, juz 4, hal. 428)
Terkait keistimewaan khusus itu, Syekh Abu Muhammad Badruddin Al-‘Aini (wafat 855 H) dalam salah satu kitab haditsnya menegaskan salah satu pendapat bahwa Lailatul Qadar adalah pemberian dan anugerah khusus dari Allah SWT yang hanya diberikan kepada umat Nabi Muhammad. Dalam kitabnya itu disebutkan:
Artinya: “Sungguh malam Lailatul Qadar hanya terkhusus bagi umat ini (umat Nabi Muhammad) dan tidak ditemukan di umat sebelumnya,” (Syekh Al-‘Aini, Umdatul Qari Syarah Shahihil Bukhari, [Darul Ihya’ At-Turats: 2006], juz XVII, halaman 168)
Menurut Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi dalam Ahkamul Quran-nya, beliau menyebutkan bahwa Lailatul Qadar memang merupakan kado istimewa bagi umat Nabi Muhammad yang nilainya tidak tertandingi oleh apapun (Lihat Ahkamul Qur’an li Ibni ‘Arabi, juz 4, hal. 428). Bahkan di dalam satu hadits terkait malam Lailatul Qadar, Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: "Sesungguhnya bulan ini (Ramadan) telah datang kepada kalian. Di dalamnya, terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi darinya, sungguh ia telah terhalangi dari semua kebaikan. Dan tidak ada yang terhalangi (dari Lailatul Qadar), kecuali orang yang memang terhalangi dari kebaikan.”
Sebagai satu momen teristimewa bagi umat Islam, Lailatul Qadar menjadi malam yang paling didamba dan diharapkan bisa dijumpai oleh setiap muslim di setiap bulan Ramadan. Hanya saja, posisi dan kedatangan malam Lailatul Qadar sengaja oleh Allah SWT didesain tidak bisa dipastikan waktunya kapan dan hingga kini masih terus menjadi misteri Ilahi. Kita umat Islam pada akhirnya hanya bisa menduga-duga dan memprediksi, sambil selalu menghidupkan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan agar tidak melewatkan moment malam Lailatul Qadar.
Bahkan sekelas Nabi Nabi Muhammad SAW saja melakukan optimalisasi ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadan demi mendapatkan Lailatul Qadar. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Muslim:
Artinya: “Dari Aswad dari Sayidah Aisyah RA, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW meningkat amal-ibadahnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan melebihi di waktu yang lainnya,” (HR. Muslim)
Secara lebih spesifiknya, Rasulullah SAW memberi petunjuk lebih lanjut, bahwa Lailatul Qadar jatuh pada malam-malam ganjil di 10 hari akhir Ramadan. Sebagaimana dawuh:
“Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)”. (HR. Al-Bukhari)
Adapun terkait prediksi, menurut Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 1449 M) dalam Fathul Bari, beliau mengatakan bahwa ada sekurang-kurangnya 45 pendapat terkait prediksi Lailatul Qadar. Hanya saja, menurut Imam Ibnu Hajar, memang pendapat yang paling unggul adalah yang mengatakan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada tanggal-tanggal ganjil sepuluh akhir Ramadan, sebagaimana penyataan Rasulullah SAW dalam hadits sahih riwayat Imam Al-Bukhari di atas. Lebih spesifiknya lagi, Imam Asy-Syafi'i lantas mengatakan bahwa Lailatul Qadar berpotensi besar akan jatuh pada tanggal 21 dan 23 Ramadan. Ada pula pendapat mayoritas ulama lain yang mengatakan akan jatuh pada malam tanggal 27 Ramadan. Pendapat terakhir ini didukung pula oleh Syekh Nizhamuddin An-Naisaburi dalam Gharaib Al-Quran wa Raghaib Al-Furqan. (Fathul Bari, juz 5, hal. 569)
Dalam konteks ini, ulama sekaliber Imam Al-Ghazali (sebagaimana saya nukil dari Kitab I’anatut Thalibin) pun ikut memprediksi Lailatul Qadar dengan prediksi matematisnya yang terkenal cukup jitu. Syahdan, Syekh Abu Al-Hasan Asy-Syadzuli adalah salah satu ulama besar yang dikenal mengimani dan menggunakan rumusan prediksi matematisnya Imam Al-Ghazali. Sampai-sampai Syekh Syadzuli mengeluarkan testimoni, “Semenjak saya menginjak usia dewasa, Lailatul Qadar tidak pernah meleset dari jadwal atau kaidah (Imam Al-Ghazali) yang saya imani itu."
Berikut ini penjelasan prediksi Lailatul Qadar ala Al-Ghazali sebagaimana dipublikasikan banyak literasi, baik berupa tulisan di kitab, maupun suguhan data online. Yaitu:
1. Jika awal Ramadan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadarnya jatuh pada malam ke-29.
2. Jika awal Ramadan hari Senin, maka Lailatul Qadarnya jatuh pada malam ke-21.
3. Jika awal Ramadan hari Selasa atau Jumat, maka Lailatulnya Qadar jatuh pada malam ke-27 Ramadan.
4. Jika awal Ramadan hari Kamis, maka Lailatul Qadarnya jatuh pada malam ke-25.
5. Jika awal Ramadan hari Sabtu, maka Lailatul Qadarnya jatuh pada malam ke-23.
Selain dari prediksi berdasar hari, Lailatul Qadar menurut berbagai kajian hadits Nabi juga bisa diketahui berdasar ciri-ciri dan kondisi alam yang ada. Di antaranya bisa dirasakan pada pagi harinya, sinar matahari tidak terlalu panas dan cuaca terasa sejuk. Kemudian, di malam hari saat Lailatul Qadar, langit terlihat bersih, tidak terdapat awan, suasana terasa tenang dan sunyi. Udara pada malam Lailatul Qadar tidak dingin dan juga tidak panas. Prediksi ini berdasar hadits Rasulullah SAW:
Artinya, “Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi harinya, matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan.” (HR Ath-Thayalisi dan Al-Baihaqi)
Adapun terkait bonus dan keistimewaan orang yang menemu Lailatul Qadar, Rasulullah SAW lantas menegaskan dan menggaransi ganjaran ampunan bagi siapa saja yang menjumpai dan mengoptimalkan ibadahnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:
Artinya: “Barang siapa beribadah pada malam Lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu”. (HR Al-Bukhari)
Hikmah di Balik Kerahasiaan
Menurut Syekh Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib, hikmah agung di balik dirahasiakannya Lailatul Qadar itu adalah bahwa Allah SWT sengaja merahasiakannya agar manusia berlomba-lomba untuk memperolehnya. Jadi kapan pun, tidak terpaku waktu ataupun tempat tertentu, umat Islam harus berusaha menggapainya.
Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT telah merahasiakan malam Lailatul Qadar karena beberapa alasan. Pertama, Allah telah merahasiakannya, sebagaimana Ia rahasiakan beberapa hal. Sebagaimana Allah rahasiakan rida-Nya dalam ketaatan, sehingga manusia menyukai semua ketaatan. Allah merahasiakan dikabulkan doa di antara doa-doa, agar manusia bersungguh-sungguh dalam setiap doanya. Merahasiakan ismul a’zham di antara nama-nama-Nya, agar manusia mengagungkan semua nama-Nya. Merahasiakan shalatul wustha di antara semua shalat lima waktu, agar manusia menjaga semua waktu shalat. Allah merahasiakan diterimanya taubat di antara taubat-taubat, supaya manusia bersungguh-sungguh dalam setiap taubatnya. Allah merahasiakan kematian di dalam kehidupan, supaya manusia takut kepada Allah. Demikian pula Allah SWT merahasiakan malam Lailatul Qadar di antara malam-malam Ramadan, supaya manusia bersungguh-sungguh beribadah pada semua malam Ramadan.” (lihat Mafatih Al-Ghaib, juz 32, hal 28)
Sementara Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bari-nya menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar sengaja Allah rahasiakan agar demi meraih malam Lailatul Qadar, manusia berlomba-lomba dan bersungguh-sungguh beribadah pada seluruh malam di bulan Ramadan. Sebab akan berbeda jika waktu Lailatul Qadar sudah ditentukan, orang-orang hanya akan bersungguh-sungguh ibadah hanya di malam itu saja. (Lihat Fathul Bari, juz 5, hal. 155). Dalam redaksi dan keterangan yang berbeda, Syekh Nizhamuddin An-Naisaburi dalam tafsirnya, Gharaib Al-Qur’an wa Raghaib Al-Furqan, beliau berkata:
Artinya: “Hikmah dirahasiakannya malam Lailatul Qadar di antara malam-malam bulan Ramadan adalah seperti dirahasiakannya kematian dan hari kiamat. Tujuannya agar manusia dengan penuh suka cita menjalankan ibadah, bersungguh-sungguh, tidak lalai, dan tidak bermalas-malasan.” (Gharaib al-Quran wa Raghaib al-Furqan, juz 6, hal 537)
Demikian tulisan sederhana ihwal Lailatul Qadar, prediksi dan hikmah di balik misterinya, semoga bisa menjadi stimulus kita untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah di hari-hari terakhir bulan suci Ramadan ini. Semoga kita semua bisa meraih malam Lailatul Qadar dan juga meraih keridaan Allah SWT. Semoga!