Istikamah Sebagai Bahasa Cinta Kekasih

Berbicara tentang istikamah, kita tentu pernah mendengar ungkapan “Istikamah itu lebih baik dari seribu karamah”. Ungkapan ini tidaklah berlebihan. Di baliknya terkandung pesan bahwa dalam Islam, kemuliaan spiritual tertinggi bukanlah keajaiban atau kelebihan yang biasa kita kenal dengan karamah. Melainkan kesetiaan, konsistensi, dan keteguhan hati dalam perjalanan menuju Allah. Dalam tulisan ini, saya akan mengajak pembaca untuk meneguk spirit istikamah sebagai bahasa cinta dan kerinduan.

Mula-mula para salafus shalih mengatakan: “Al-Istiqamah Lubb Al-Islam” — “Istikamah adalah inti dari Islam.” Nabi Muhammad SAW pernah ditanya oleh Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi: “Wahai Rasulullah, ajarkan aku satu hal dalam Islam, yang aku tidak perlu bertanya lagi kepada orang lain setelah engkau.” Maka Nabi bersabda, “Qul Amantu Billah, tsumma istaqim.” (Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, lalu istikamahlah).

Pesan Nabi tersebut memang sederhana namun menunjukkan kedalaman maknanya. Hal ini menunjukkan bahwa iman tidak sekedar ucapan atau pengakuan secara zahir. Ia butuh pembuktian secara konsisten di mana pada titik tersebut manusia paling sering gagal. Rasulullah bahkan mengakui beratnya amanah ini. Dalam hadits lain beliau bersabda: “Istaqimu wa lan tuhshu” (Bersikaplah konsisten kalian, namun kalian tidak akan mampu).

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami dalam Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah menukil hadits Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa ayat paling berat yang diturunkan kepada Rasulullah adalah ayat 112 dari Surah Hud: “Maka istikamahlah sebagaimana engkau diperintahkan.” Rasulullah bersabda: “Surah Hud dan saudara-saudaranya telah membuatku beruban.”

Umumnya sebagian dari kita mungkin mengira bahwa ayat berat bagi Rasulullah adalah ayat tentang perang, azab, atau kematian. Namun bagi Rasulullah, justru perintah untuk istikamah adalah yang paling berat hingga membuatnya ‘beruban’—sebagaimana menurut mayoritas ahli tafsir; sebuah isyarat akan amanah yang amat besar. Hal ini tidak lain karena istikamah itu menyangkut seluruh aspek kehidupan dan menuntut konsistensi total.

Lingkungan

Kumpulan tulisan yang menyoroti isu lingkungan dapat teman-teman baca

di sini

Maqam Istikamah: Jalan Para Kekasih Allah

Imam Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah Al-Qusyairiyyah menjelaskan bahwa istikamah bukan hanya tuntutan dalam Islam, melainkan maqam—tahapan spiritual tinggi dalam perjalanan menuju Allah. Hanya para akabir (orang besar) yang mampu menjalaninya dengan penuh kesadaran. Imam Al-Qusyairi lebih lanjut membagi istikamah dalam perjalanan menuju Allah dalam tiga fase: 1) Bidayah (awal): saat amal seorang salik tidak dicemari kelalaian (Fatrah). 2) Wasaith (pertengahan): saat perjalanan seorang salik tidak disertai perhentian atau kemunduran (Waqfah). 3). Nihayah (puncak): saat kedekatan seorang salik dengan Allah tidak terhijab oleh apapun.

Ia juga menukil gurunya, Abu Ali Ad-Daqqaq, yang menjelaskan tiga tahapan istikamah dengan tiga frasa: 1) Taqwim: fase meluruskan jiwa (Ta'dib An-Nufus). 2) Iqamah: fase meneguhkan hati (Tahdzib An-Nufus). 3) Istiqamah: fase penyempurnaan hubungan rahasia dengan Tuhan

Ayat yang sering dikutip para sufi tentang istikamah adalah dalam Surah Al-Jin ayat 16: “Dan sekiranya mereka tetap istiqamah di atas jalan itu, niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.” Air dalam ayat ini diartikan sebagai simbol keberkahan, ketenangan hidup, dan kecukupan lahir-batin. Imam Al-Qusyairi menafsirkan bahwa istikamah mendatangkan karamah—yakni kemuliaan spiritual—secara terus-menerus.

Walhasil, istikamah adalah bahasa cinta seorang kekasih; bahasa jiwanya, bahasa hatinya, dan bahasa kesadarannya yang konsisten, menyatu, dan lurus menuju Sang Kekasih. Sebagai bahasa cinta, istikamah menuntut perjuangan dan pengorbanan yang amat besar; melampaui ego, tabiat, dan hawa nafsu manusiawi yang cenderung berubah-ubah. Itulah jalan terjal seorang kekasih agar bisa ‘sampai’ dan menyatu bersama kekasihnya. Tabik!


💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim