Jejaring Murid Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi di Hijaz dan Nusantara

Pada abad 18 dan 19 M, Mesir dan Hijaz memiliki hubungan yang dekat dalam bidang pendidikan. Kedekatan ini bisa dilihat dari sisi disiplin ilmu dan kitab yang menjadi bahan ajar. Di samping itu, kunjungan berkala ke Hijaz untuk keperluan ibadah dan mengajar juga sering dilakukan oleh sejumlah ulama Al-Azhar. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang kemudian menetap dan berkiprah di Hijaz, baik di Makkah maupun di Madinah, serta menjadi guru dari sejumlah besar ulama Nusantara.

Pada akhir abad 18 M dan awal abad 19 M, jabatan Syekhul-Azhar dipegang oleh Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi Al-Asy’ari Asy-Syafi’i Al-Khalwati. Beliau mulai menduduki jabatan ini sejak 1208 H (1794 M) sampai akhir hayatnya pada 1227 H (1812 M). Beliau dilahirkan di Provinsi Asy-Syarqiyyah, Mesir, pada 1150 H (1737 M). Karena tempat lahirnya inilah, beliau bernisbah Asy-Syarqawi.

Ketika datang ke Kairo dan belajar di Al-Azhar, Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi sezaman dengan Syekh Muhammad Al-Amir Al-Kabir Al-Maliki (w. 1232 H). Maka, wajar jika kita sering menemukan kesamaan guru dan murid beliau berdua. Pada masa yang lebih akhir dari keduanya, terdapat Syekhul-Azhar Muhammad bin Ali Asy-Syanawani (w. 1233 H) yang menduduki jabatan prestisius ini pasca wafatnya Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi. Ketiganya sama-sama memiliki kitab tsabat (silsilah riwayat dan keilmuan) yang menjadi kebanggaan para pewarisnya.

Di antara guru Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi adalah Syekh Ahmad Al-Mallawi (1088-1181 H), Syekh Ahmad Al-Jauhari (1096-1182 H), Syekh Muhammad Al-Bulaidi (1096-1176 H), Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni (1100-1181 H), Syekhul-Azhar Syekh Ahmad Ad-Damanhuri (1101-1192 H), Syekh Ali As-Saqqath (w. 1183 H), Syekh Yusuf bin Salim Al-Hifni (w. 1176 H), Syekh ‘Athiyyah Al-Ujhuri (w. 1190 H), dan Syekh Ali Ash-Sha’idi Al-‘Adawi (1112-1189 H). Barangkali tiga nama pertama adalah guru beliau yang paling senior, sebab semua guru yang disebutkan setelahnya merupakan murid dari ketiganya. Tiga guru agung ini juga murid dari generasi ulama didikan Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi (w. 1069 H), Syekh Syamsuddin Al-Babili (w. 1077 H), Syekh Ali Asy-Syubramillisi (w. 1087 H), Syekh Syamsuddin Asy-Syaubari (w. 1069 H), dan Syekh Sulthan Al-Mazzahi (w. 1075 H).

Di Mesir, murid Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi sangat banyak. Di antara yang berkiprah di Mesir yang paling terkenal adalah Syekhul-Azhar Ahmad Ad-Damhuji (w. 1246 H), Syekhul-Azhar Hasan Al-‘Aththar (w. 1250 H), Syekhul-Azhar Hasan Al-Quwaisini (w. 1254 H), dan Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri (w. 1277 H). Sementara itu, murid asal Mesir yang kemudian berkiprah di Hijaz di antaranya adalah Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi (w. 1265 H), Syekh Muhammad Syatha Ad-Dumyathi (w. 1266 H), Syekh ‘Abdulghani Ad-Dumyathi, Syekh Abulfauz Ahmad Al-Marzuqi (w. 1262 H), dan saudaranya, Syekh Muhammad Al-Marzuqi (w. 1261 H). Dari murid-murid yang berkiprah di Hijaz inilah, sanad dan silsilah keilmuan Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi tersebar secara luas di Nusantara.

Meski demikian, terdapat beberapa ulama Nusantara yang berguru langsung kepada Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi, di antaranya adalah Syekh Mahmud bin Kinan Al-Falimbani, Syekh Daud Al-Fathani, dan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari. Dalam Al-‘Iqd Al-Farid, Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani menyebutkan sanad kitab Hasyiyah Asy-Syarqawi ‘ala Syarh At-Tahrir sampai ke Syekh Mahmud bin Kinan Al-Falimbani yang mengambil langsung dari Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi. Dalam beberapa karyanya, Syekh Daud Al-Fathani menyebutkan bahwa Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi adalah gurunya.

Bahasa Arab

Kumpulan tulisan terkait bahasa Arab dan khazanah ilmunya bisa teman-teman temukan

di sini

Adapun hubungan Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari dan Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi terlihat jelas dalam kitab Ad-Durr An-Nafis. Dalam kitab ini, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari menyebut Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi sebagai gurunya sebanyak empat kali. Kitab ini disusun pada tahun 1200 H (1786 M) dan terbagi menjadi mukaddimah, empat bagian (fashl), serta khatimah.

Pada mukaddimah, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari menjelaskan hal-hal yang menghambat seorang salik dalam mencapai wushul. Pada bagian pertama, beliau menjelaskan tentang Tauhid Al-Af’al dan di pertengahan bagian ini, beliau mengutip perkataan Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi tentang surga dunia (ma’rifat) dan surga akhirat serta perbandingan antara keduanya. Beliau mengawali kutipan sepanjang sekitar tiga baris pada kertas lebar tersebut dengan: Syaikhuna Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Bahr Al-‘Ariq Maulana Syaikh Abdullah bin Hijazi Asy-Syarqawi Al-Mishri. Kalimat ini sangat tegas menyatakan bahwa Syekh Asy-Syarqawi adalah guru beliau.

Pada bagian kedua, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari menjelaskan Tauhid Al-Asma’. Di awal pembahasan ini, beliau mengutip perkataan Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi dengan permulaan: Syaikhuna Al-‘Alim Al-‘Allamah An-Nar Al-Muhriqah Maulana Syaikh Abdullah bin Hijazi Asy-Syarqawi Al-Mishri di dalam Syarah Wirdi As-Sahar. Pada bagian keempat yang menjelaskan Tauhid Adz-Dzat, beliau juga mengutip Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi dengan awalan yang serupa, tetapi mengganti An-Nar Al-Muhriqah dengan Al-Bahr Al-Mughriq. Sementara itu, pada bagian ketiga yang membahas Tauhid Ash-Shifat, nama Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi tidak disebutkan.

Dalam pembahasan khatimah, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari kembali mengutip perkataan Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi dengan permulaan yang mirip. Hanya saja, kali ini beliau mengganti Al-Bahr Al-Mughriq dengan Al-‘Arif Billah. Di dalam khatimah ini, beliau menjelaskan Maratib Tajalli Adz-Dzat, yang dibaginya menjadi tujuh tingkatan atau yang sering disebut dengan martabat tujuh.

Syekh Muhammad Nafis sendiri lahir pada 1148 H (1735 M) dan wafat pada 1227 H (1812 M), sehingga beliau sebenarnya lebih tua dua tahun dibandingkan dengan Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi. Pengakuan beliau dalam kutipan-kutipan ini semakin memperkuat fakta bahwa Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi adalah gurunya. Hubungan keilmuan semacam ini mempererat keterkaitan antara ulama Nusantara dan ulama Al-Azhar, sebagaimana yang telah terjalin sebelumnya, seperti hubungan Syekh Abdushshamad Al-Falimbani dengan Syekhul-Azhar Ahmad Ad-Damanhuri dan Syekh Ahmad Al-Mallawi.

Semoga jejaring keilmuan yang indah ini terus terjalin dan semakin erat, sehingga persatuan umat Islam dalam manhaj, keyakinan, dan pemikiran tetap terjaga. Amin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik SEJARAH atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin