Aqidah Al-‘Awam merupakan sebuah nazam dalam ilmu tauhid yang relatif kecil bentuknya namun memiliki kandungan ilmu dan faidah yang besar. Dalam 57 bait, Syekh Ahmad Al-Marzuqi mampu menyajikan seluruh akidah yang wajib diketahui dan diyakini oleh seluruh umat Islam. Oleh sebab itu, kitab ini sering dijadikan sebagai bahan ajar dasar ilmu akidah di madrasah diniyyah, musala, dan pesantren. Bahkan di sebagian tempat di Nusantara, kitab ini masih dibaca secara rutin bersama-sama setelah salat Subuh sebagai bentuk wirid.
Sambutan yang begitu luas ini tidak terlepas dari berkah doa Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Syekh Ahmad Al-Marzuqi, sang penulis, dalam mimpinya. Dalam syarah Aqidah Al-‘Awam yang berjudul Tahshil Nail Al-Maram, Syekh Ahmad Al-Marzuqi sendiri menyebutkan bahwa pada akhir malam Jumat, 6 Rajab 1258 H, beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpi tersebut, beliau diperintah oleh Baginda Rasul untuk membacakan sebuah nazam tauhid yang bisa membawa penghafalnya masuk surga dan mengantarkannya menggapai cita-cita. Beliau pun bertanya mengenai nazam tersebut. Akhirnya, para sahabat yang waktu itu berdiri di kanan dan kiri Rasulullah SAW memerintahkan beliau untuk mendengarkan langsung dari Rasulullah SAW. Kemudian Baginda Rasul SAW membacakan nazam yang dimaksud sebanyak 26 bait. Ketika bangun, beliau masih mengingat dengan jelas nazam yang dibacakan oleh Baginda Nabi di dalam mimpi.
Setelah orang-orang mengetahui nazam tersebut, mereka menanyakan beberapa hal kepada Syekh Ahmad Al-Marzuqi. Pertanyaan-pertanyaan yang telah dikumpulkan akhirnya dijawab oleh beliau dalam nazam lanjutan Aqidah Al-‘Awam, sehingga yang semula terdiri dari 26 bait bertambah menjadi 57 bait. Pada malam Jumat, 28 Dzulhijjah, beliau kembali bermimpi bertemu Rasulullah SAW dan diperintahkan untuk membacakan nazam yang telah ditulisnya di hadapan Baginda Nabi dan para sahabat yang berada di samping kanan dan kirinya. Setiap kali beliau selesai membacakan satu bait, para sahabat berdoa dengan membaca Amiin. Hal ini berlanjut sampai akhir nazam. Setelah selesai, Rasulullah SAW mendoakan beliau, "Semoga engkau mendapatkan taufik, semoga nazam ini diterima dan memberi manfaat kepada para hamba, serta semoga engkau dan segenap umat muslim diberi keberkahan."
Riwayat yang disampaikan langsung oleh Syekh Ahmad Al-Marzuqi ini kemudian dinukil oleh para pensyarah kitab Aqidah Al-‘Awam, seperti dalam kitab Nur Azh-Zhalam karya Syekh Muhammad Nawawi Banten dan Jala' Al-Afham karya Sayid Muhammad Al-Maliki. Barangkali latar belakang spiritual inilah salah satu sebab tersebar luas dan diterimanya kitab Aqidah Al-‘Awam atau yang biasa diucapkan Aqidatul Awam di berbagai kalangan. Lantas, siapa sebenarnya Syekh Ahmad Al-Marzuqi selaku pengarangnya ini?
Nama dan Nisbah
Beliau bernama lengkap Abulfauz Ahmad bin As-Sayyid Ramadhan bin Manshur Al-Marzuqi Al-Hasani Al-Maliki. Jika ditelusuri ke atas, nasabnya akan bersambung dengan Syekh Marzuq Al-Kafafi, seorang wali besar yang makamnya berada di Kafafah, sebuah kampung di pantai antara Makkah dan Madinah. Karena jalinan nasab inilah, beliau bernisbah Al-Kafafi, sebagaimana disebutkan sendiri dalam kitab Tahshil Nail Al-Maram. Syekh Marzuq Al-Kafafi sendiri, menurut Syekh Ahmad Al-Marzuqi, memiliki ayah yang nasabnya tersambung hingga Sayidina Hasan bin Sayidina Ali RA dan nasab ibunya tersambung hingga Sayidina Husein bin Sayidina Ali RA. Oleh sebab itu, di belakang namanya terdapat nisbah Al-Hasani, mengikuti jalur nasab laki-laki.
※ Di Balik Nama Qashidah Burdah dan Bur'ah
Di Mesir, keturunan Syekh Marzuq Al-Kafafi sangat banyak dan tidak sedikit yang menjadi tokoh besar, di antaranya Syekh Abdulwahhab Al-‘Afifi. Beliau adalah tokoh dalam Tarekat Syadzuliyyah yang membaiat Syekh Muhammad Ash-Shabban, penulis hasyiyah atas syarah nazam Alfiyah Ibn Malik, sebagai salah satu murid dekatnya. Salah satu cicitnya, Syekh Musthafa Al-‘Afifi, berkiprah di Tanah Hijaz dan menjadi guru bagi banyak ulama Nusantara seperti Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Syekh Mukhtar Bogor, Syekh Mahfudz Termas, dan Syekh Khalil Bangkalan.
Adapun kata Abu Al-Fauz, yang berada di depan namanya, merupakan sebuah kuniah yang diberikan oleh Syekh Ahmad Wafa Abu Al-Iqbal, Syekh As-Sajadah Al-Wafa'iyyah pada masa itu. Marga sayid dan tarekat ini memang sering kali memberikan kuniah kepada sejumlah ulama sebagai bentuk penghormatan dan kedekatan. Ulama lain yang mendapatkan kuniah dari keluarga ini adalah Syekh Muhammad Ash-Shabban, yang diberi kuniah Abu Al-‘Irfan oleh Sayid Muhammad Wafa Abu Al-Anwar.
Lahir dan Belajar
Syekh Ahmad Al-Marzuqi lahir di Kampung Sunbath, Provinsi Al-Gharbiyyah, Mesir, pada 1205 H. Informasi ini dinyatakan oleh saudaranya, Syekh Muhammad Al-Marzuqi, dalam sebagian karyanya dan dikutip oleh Syekh Abdussattar Ad-Dihlawi dalam Faidh Al-Malik Al-Wahhab Al-Muta’ali. Keterangan ini juga disebutkan dalam karya teman seperjuangannya Syekh Abu Al-Khair Mirdad dalam Nasyr An-Nur wa Az-Zahar yang kemudian disebutkan kembali oleh Al-‘Amudi dalam mukhtasharnya. Memang Syekh Muhammad Al-Marzuqi memiliki syarah atas salah satu karya saudaranya ini. Mungkin keterangan ini disebutkan di kitab syarah tersebut.
Dalam tiga kitab yang disebutkan tadi, keterangan mengenai kapan dan di mana tempat belajar Syekh Ahmad Al-Marzuqi tidak dijelaskan. Begitu juga terkait siapa saja guru-gurunya. Sumber tersebut fokus menyoroti saat beliau telah berkiprah di Hijaz dan menjadi Mufti Malikiyyah di sana. Hal serupa juga terjadi pada saudaranya, yaitu Syekh Muhammad Al-Marzuqi. Sehingga informasi pengembaraan ilmu keduanya masih menjadi misteri. Untung saja ada As-Sa’ati yang menyebutkan salah satu nama gurunya dalam kitab Imta’ Al-Fudhala bi Tarajim Al-Qurra’. Nama guru yang disebutkan di kitab tersebut adalah Syekh Ibrahim bin Badawi Al-‘Ubaidi yang menjadi guru qira’at masyhur di Mesir dan merupakan murid dari Syekh Muhammad As-Samannudi dan Syekh Ali Al-Badri.
Jika melihat keterangan Syekh Ad-Dihlawi, dua bersaudara ini (Ahmad dan Muhammad) terkesan datang ke Hijaz di waktu masa belajar. Namun, hal ini agak aneh jika melihat pemberian kuniah yang diberikan oleh Sayid Abu Al-Iqbal di atas. Mestinya mereka berdua datang ke Hijaz di kala keilmuan mereka sudah matang, sebagaimana yang terjadi pada Syekh Utsman Ad-Dumyathi, Syekh Abdulghani Ad-Dumyathi, dan Syekh Muhammad Syatha Ad-Dumyathi. Dugaan ini semakin menguat ketika kita merujuk pada kitab Fihris Al-Faharis karya Al-Kattani.
Dalam kitab tersebut, Al-Kattani mendapatkan sanad tsabat Syekh Al-Amir, Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi, dan Syekhul-Azhar Muhammad bin Ali Asy-Syanawani melalui jalur dua bersaudara Al-Marzuqi ini. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa guru-guru Syekh Ahmad Al-Marzuqi dan saudaranya adalah Syekh Ibrahim Al-‘Ubaidi, Syekh Muhammad Al-Amir Al-Kabir, Syekhul-Azhar Abdulllah Asy-Syarqawi, dan Syekhul-Azhar Muhammad bin Ali Asy-Syanawani. Kita juga bisa menyimpulkan bahwa dua bersaudara Al-Marzuqi ini datang ke Hijaz setelah keilmuan mereka berdua matang di Al-Azhar.
Kiprah dan Jabatan
Setelah sampai di Hijaz, Syekh Ahmad Al-Marzuqi berkiprah sebagai pengajar di Masjid Al-Haram. Beliau mengajarkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari Al-Quran, qira'at, tafsir, fikih, dan ilmu lainnya. Di samping menjadi pengajar, beliau juga menjabat sebagai Mufti Malikiyyah di Makkah pada 1261 H, menggantikan saudaranya, Syekh Muhammad Al-Marzuqi, yang sebelumnya memegang jabatan tersebut hingga wafat.
Murid dan Karya
Sebagai pengajar di Masjid Al-Haram, tentu Syekh Ahmad Al-Marzuqi memiliki banyak murid. Di antara murid-murid beliau adalah Syekh Ahmad Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Ad-Dumyathi, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasabillah. Murid yang berasal dari Nusantara juga banyak, di antaranya adalah Syekh Abdulghani Bima, Syekh Mukhtar Bogor, dan Syekh Ismail bin Abdullah Minangkabau.
※ Hunian Orang-orang Jawi di Masjid Al-Azhar
Adapun karya-karya Syekh Ahmad Al-Marzuqi yang telah diterbitkan antara lain:
- Nazam Aqidah Al-‘Awam dan syarahnya Tahshil Nail Al-Maram
- Bayan Al-Ashl fi Lafdz Ba Fadhl
- Manzhumah fi ‘Ishmah Al-Anbiya’
Dan karya-karya lainnya:
- Syarh Maulid Syaraf Al-Anam (berjudul: Bulugh Al-Maram)
- Tashil Al-Adzhan fi Taqwim Al-Lisan
- Al-Fawaid Al-Marzuqiyyah Syarh Al-Ajurrumiyyah
- Manzhumah fi Qawa’id Ash-Sharf wa An-Nahw
- Nazhm fi ‘Ilm Al-Falak, yang kemudian disyarah oleh saudaranya.
Akhir Hayat
Di hari-hari terakhirnya, Syekh Ahmad Al-Marzuqi menjabat sebagai Mufti Malikiyyah di Kota Makkah. Beliau mengajar kitab tafsir Al-Baidhawi di Masjid Al-Haram hingga akhirnya wafat pada 1262 H. Jenazah beliau dimakamkan di Pemakaman Al-Ma’la, Makkah. Semoga rahmat dan keberkahan selalu tercurah kepada beliau. Amiin..
