Skip to content

Syekh Muhammad Syatha, Sosok Azhari yang Mengajar di Tanah Suci

Biografi ayah Syekh Bakri Syatha. Ialah Syekh Muhammad Syatha, ulama didikan Al-Azhar yang dikenal cerdas dan aktif berkhidmah di Tanah Hijaz.

FOTO Masjid Al-Azhar di Kairo, Mesir. (Unsplash/Seif Amr)
FOTO Masjid Al-Azhar di Kairo, Mesir. (Unsplash/Seif Amr)

Dalam tradisi keilmuan di pesantren, nama Syekh Abu Bakar Syatha sangatlah terkenal. Sebab para murid dan karyanya berkontribusi besar dalam menjadi reaktor geliat ilmiah di Nusantara. Selain beliau, kedua saudaranya, juga memiliki peran yang sama. Ketiga bersaudara ini merupakan putra dari seorang Azhari yang hijrah ke Negeri Hijaz dan mendermakan dirinya menjadi pengajar di Masjid Al-Haram.

Berikut adalah sekelumit biografi Syekh Muhammad Syatha, sang Azhari cerdas yang mengajar di tanah Hijaz:

Nama, Nisbah, dan Lahir

Beliau bernama lengkap Syekh Muhammad Syatha Zainuddin bin Mahmud bin Ali Al-Husaini Asy-Syafi’i Ad-Dumyathi. Kata Al-Husaini menunjukkan bahwa beliau merupakan keturunan Rasulullah SAW melalui jalur Sayidina Al-Husain. Jika nasab yang telah disebutkan dilanjutkan ke atas, maka akan bersambung pada Sayidina Muhammad Ad-Dibaj bin Sayyidina Ja’far Shadiq. Tokoh dari keluarga ini yang terkenal di Mesir jauh sebelum Syekh Muhammad Syatha adalah Syekh Abu Al-Qasim Ath-Thahthawi (w. 762 H).

Kata Zainuddin merupakan nama laqab atau julukan bagi Syekh Muhammad. Sementara kata Ad-Dumyathi merupakan nisbah kepada daerah Dumyath, Mesir, yang kini menjadi sebuah provinsi. Beliau dilahirkan di daerah ini antara tahun 1187 H hingga 1191 H. Hal ini didasarkan pada keterangan dari Syekh Abdullah Mirdad dalam Nasyr An-Naur wa Az-Zahr bahwa saat wafat pada 1266 H, umur beliau mendekati 80 tahun. Keterangan ini didapatkan dari Syekh Umar bin Muhammad Syatha yang merupakan gurunya. Kemudian keterangan ini dinukil kembali oleh Al-‘Amudi dalam mukhtasar kitab tersebut.

Kitab Nasyr An-Naur wa Az-Zahr fi Tarajim Afadhil Makkah
Kitab Nasyr An-Naur wa Az-Zahr fi Tarajim Afadhil Makkah

Asal Usul kata Syatha

Kata Syatha barangkali merupakan kata yang sudah melekat erat dengan kata Muhammad. Bukan hanya itu, keturunan Syekh Muhammad ini di kemudian hari juga dikenal dengan keluarga Syatha. Lantas, dari mana kata Syatha ini berasal ?

Di Mesir, Syatha atau yang sering juga disebut Syekh Syatha merupakan nama sebuah daerah di Provinsi Dumyath. Jaraknya hanya sekitar 5 km di sebelah timur pusat kota provinsi. Di tempat ini terdapat makam Syekh Syatha yang menjadi destinasi wisata rohani bagi pengunjungnya. Bahkan Sultan Salim I -berdasarkan keterangan Aulia Jalabi- ketika memasuki kota tersebut, beliau menyempatkan berziarah ke makam tersebut.

Berdasarkan penuturan Al-Maqrizi dalam Al-Mawa’izh wa Al-I’tibar, kota yang terletak di antara Dumyath dan Tinnis ini dikenal sebab keberadaan Syatha bin Hamuk. Beliau merupakan sepupu dari Raja Muqauqis, penguasa Mesir. Sebab, ayahnya yang menjadi penguasa Dumyath itu merupakan paman dari Muqauqis.

Dalam kisahnya, pada saat Amr bin Al-‘Ash membebaskan Mesir dari cengkeraman kezaliman Romawi, dengan segera Syatha masuk Islam dan ikut menjadi pejuang di barisan umat Islam. Beliau dikenal sebagai pendekar yang gagah dan tangguh. Kemudian beliau syahid pada malam Jumat pertengahan bulan Sya’ban 21 H dan dimakamkan di daerah yang kemudian dikenal dengan nama Syatha atau Syekh Syatha.

Hingga zaman Al-Maqrizi, penduduk setempat masih merayakan haul Syekh Syatha di hari Nishfu Sya’ban. Bahan di masa Ali Mubarak Basya, peringatan ini juga masih lestari, sebagaimana keterangan di Al-Khithath At-Taufiqiyyah. Mungkin hingga hari, haul tersebut juga masih diadakan. Sebab memperingati pahlawan dan oleh salih bisa mendatangkan banyak keberkahan.

Kita kembali lagi ke pembahasan Syekh Muhammad yang kemudian dikenal dengan Syatha. Berdasarkan keterangan di atas, kata Syata yang menempel pada nama Muhammad bisa jadi adalah nama asli. Sebab beliau memang lahir di tempat keberadaan Syekh Syatha bin Hamuk, sehingga wajar kalau ayahnya bertafaul dengan memberi nama anaknya Syatha.

Di samping itu, kata Syatha juga mungkin menjadi nisbah. Sebab beliau memang lahir di daerah yang bernama Syatha. Hanya saja hal ini tidak sesuai dengan kaidah nisbah dalam bahasa Arab. Harusnya kalau memang nisbah jadinya adalah Syekh Muhammad Asy-Syathawi, bukan Muhammad Syatha. Sebagaimana pernyataan Al-Maqrizi ketika menyebutkan bahwa daerah ini adalah penghasil kain yang dikenal dengan Ats-Tsiyab Asy-Syathawiyyah, sehingga kemungkinan kata Syatha sebagai nisbah menjadi lemah.

Kemungkinan lain adalah bahwa kata Syatha merupakan julukan bagi Syekh Muhammad. Dijuluki demikian karena sewaktu masih di Mesir, beliau selalu bermulazamah di makam Syekh Syatha sehingga beliau dikenal dengan Muhammad Syatha. Barangkali kemungkinan ini yang paling dekat. Apalagi sebagian penulis juga menyatakan demikian.

Masa Belajar

Syekh Muhammad Syatha mengawali belajarnya di kampung halaman. Di sana beliau belajar baca tulis, menghafal Al-Quran dan mempelajari dasar-dasar keilmuan Islam dari para ulamanya. Kemudian beliau merantau ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar kepada para masyayikh yang agung. Demikian adalah keterangan yang terdapat dalam kitab Mukhtashar Nasyr An-Naur wa Az-Zahr.

Meski hanya sepenggal dan sangat global, informasi ini sangat penting. Setidaknya diksi para masyayikh yang agung ini mengisyaratkan pada para ulama besar yang waktu itu mengajar di Al-Azhar. Jika perkiraan tahun lahirnya, Syekh Muhammad Syatha kemungkinan besar berada di Al-Azhar bersama Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi dan Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri, sebab usia mereka tidak terpaut jauh. Meskipun kemungkinan besar yang paling tua adalah Syekh Muhammad Syatha.

Jika Syekhul-Azhar Ibrahim Al-Bajuri dan Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi datang ke Al-Azhar pada 1212 H, maka Syekh Muhammad Syatha kemungkinan juga demikian. Bahkan mungkin beliau lebih dulu. Jika demikian, guru-guru Syekh Muhammad Syatha adalah juga guru dari kedua ulama di atas. Sehingga keterbatasan informasi tentang daftar guru ini bisa ditambal dengan keterangan para guru dari dua tokoh tersebut. Apalagi mazhab fikih mereka bertiga itu sama, yaitu Syafi’i.

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Guru

Berdasarkan daftar guru Syekh Utsman bin Hasan Ad-Dumyathi, di antara guru Syekh Muhammad Syatha adalah Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi, Syekhul-Azhar Muhammad bin Ali Asy-Syanawani, Syekhul-Azhar Ahmad bin Ali Ad-Damhuji, Syekhul-Azhar Hasan Al-Quwaisini, Syekh Muhammad bin Arafah Ad-Dusuqi, Syekh Muhammad bin Ali Ash-Shabban, Syekh Muhammad Al-Amir Al-Kabir, Syekh Ahmad bin Muhammad Ath-Thahthawi, Syekh Mushthafa Al-Qal’awi, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Meski daftar guru tersebut tidak termaktub dalam buku biografi, setidaknya daftar ijazah fikih Syafi’i milik Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani yang ditulis dalam kitab Al-‘Iqd Al-Farid bisa menjadi penguat. Sebab dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa Syekh Muhammad Mahfudz Termas mendapat ijazah dari ayahnya, Syekh Abdullah. Syekh Abdullah mendapatkannya dari ayahnya, Syekh Abdulmannan. Sementara Syekh Abdulmannan mendapatkannya dari Syekh Muhammad Syatha. Sedangkan Syekh Muhammad Syatha mendapatkannya dari Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi.

Mengajar di Hijaz

Syekh Muhammad Syatha kemudian hijrah meninggalkan Mesir menuju Hijaz. Mengenai kapan dan dengan alasan apa, belum ditemukan sumber yang menyebutkan. Yang jelas beliau mendatangi Makkah dan menjadikannya sebagai tempat tinggal hingga akhir hayat.

Di Makkah, Syekh Muhammad Syatha menjalani profesi sebagai pengajar di Masjid Al-Haram. Di samping dikenal dengan kedalaman ilmunya yang juga menyamudera, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang tawaduk dan mawas diri. Selain itu, hafalan dan kecerdasan yang menyala menjadi sesuatu yang paling dikenal dari sosoknya. Semua kelebihan ini disebutkan oleh Syekh Abdullah Mirdad dalam Nasyr An-Naur wa Az-Zahr.

Murid

Sebagai ulama yang mengajar di Masjid Al-Haram, tentu Syekh Muhammad Syatha memiliki banyak murid. Hanya saja informasi mengenai daftar muridnya hingga kini belum ditemukan oleh penulis. Untungnya Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani memberi secercah cahaya atas kebuntuan ini. Seperti disebutkan di atas bahwa Syekh Abdulmannan Dipomenggolo, pendiri Pesantren Tremas, tercatat sebagai salah satu murid dari Syekh Muhammad Syatha. Hal ini bisa menjadi titik terang hubungan ulama Nusantara dengan sosok Azhari ini.

Karya

Karya tulis Syekh Muhammad Syatha mungkin belum ditemukan karena tidak ada sumber yang menyebutnya. Namun ketiga putranya, yaitu Syekh Umar, Syekh Utsman, dan Syekh Abu Bakar merupakan karya besar yang jarang terulang dalam sejarah. Mereka bertiga memiliki kontribusi yang sangat besar dalam dunia keilmuan di Makkah. Terlebih kebanyakan santri asal Nusantara di zaman itu pasti berguru kepada ketiga tokoh ini. Sehingga keberkahannya meluber ke Nusantara juga.

Nusantara benar-benar mendapatkan berkah dari Syekh Muhammad Syatha dan putra-putranya. Lantaran banyak sekali kiai pendiri pesantren yang merupakan murid dari beliau maupun dari putra-putranya. Bahkan salah satu cucu Syekh Umar Syatha, yaitu Syekh Hamzah, kemudian mendatangi Nusantara dan menetap di Sedan, Rembang. Hal ini semakin menambahkan keberkahan keluarga Syatha bagi Nusantara.

Wafat

Setelah berkhidmah di Masjid Al-Haram dengan mengajar para santri, Syekh Muhammad Syatha menghembuskan nafas terakhirnya pada 1266 H (1850 M). Jenazah beliau kemudian dikebumikan di pekuburan Ma’la, Makkah. Saat beliau meninggal, Syekh Umar baru berumur tujuh tahun. Sedangkan Syekh Utsman berumur tiga tahun. Sementara Syekh Abu Bakar baru berusia tiga bulan.

Ala kulli hal, cahaya Al-Azhar yang ditebarnya mampu menerangi banyak tempat di penjuru dunia. Kontribusi dan dedikasi keturunannya mampu menerangi bumi Nusantara lewat para muridnya. Semoga rahmat dan barakah senantiara tercurah kepadanya. Amiin…


💡
Baca riwayat hidup alim ulama di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad

Latest