Skip to content

Karen Armstrong dan Wajah Nabi Muhammad di Barat

Di tengah kajian destruktif-revisionis, Karen berhasil memotret historiografi Nabi secara berbeda. Baginya Nabi adalah solusi problem Barat hari ini.

FOTO Karen Armstrong
FOTO Karen Armstrong

Sebagai umat Islam, mencintai Nabi Muhammad adalah suatu keniscayaan tersendiri. Bagi kita umat Islam bagian timur, ekspresi cinta tersebut diungkapkan secara ritus-kultural keagamaan. Seperti perayaan maulid Nabi, pembacaan Ad-Diba’i, sirah nabawiah, hingga panggung-panggung selawat seperti Syekher Mania yang begitu ramai. Namun, menurut saya, ada yang kurang dari ekpresi kecintaan terhadap Nabi tersebut. Yaitu perhatian untuk mengkaji historiografi Kanjeng Nabi secara mendalam. Alih-alih menuliskannya, referensi tulisan umat Islam tentang Kanjeng Nabi hampir tidak memiliki kebaharuan —selain tulisan klasik— di dalamnya. Kita, umat Islam Indonesia hampir rata-rata membaca sejarah Kanjeng Nabi melalui teks-teks terjemahan, yang bahkan ditulis oleh para sarjana Barat.

Dengan kenyataan ini, kita harus mengakui bahwa Barat telah jauh lebih maju dalam kajian historiografi Nabi Muhammad daripada kita, umat pemeluk Islam itu sendiri. Sosok Nabi Muhammad telah menjadi objek kajian Barat sejak abad 12 M, terlepas apa kepentingan di baliknya. Memang pada mulanya, studi Islam di Barat lahir sebagai Counter Attack terhadap Islam pasca peristiwa Perang Salib. Mereka mula-mula menyebarkan mitos-mitos dan citra buruk tentang Nabi Muhammad —sebagaimana menurut Annemarie Schimmel— sebagai bentuk permusuhan dan kebencian atas Islam. Schimmel juga menyebut itu sebagai perasaan takut akan kenyataan bahwa Islam adalah ancaman bagi keberlangsungan agama mereka. Mereka berusaha menutupi kenyataan bahwa peradaban Islam itu memiliki kekayaan dan potensi besar akan masa depan manusia. Tak berselang lama, pada abad ke-15 orientalisme lahir sebagai bentuk dinamika kajian studi Islam secara ilmiah. Termasuk di situ kajian tentang Nabi Muhammad berkembang dan menghasilkan berbagai perspektif, baik positif maupun negatif.

Sejarah Panjang Islam di Mata Sarjana Eropa
Catatan atas buku Al-Islam Din Al-Insaniyyah karya Annemarie Schimmel. Seorang orientalis yang dikenal objektif dalam memahami Islam.

Menjelang abad ke-20 di masa keemasan orientalisme, muncul sarjana revisionisme atau yang lebih dikenal dengan pendekatan kritik sumber. Meski pendekatan ini banyak dinilai reduktif-destruktif, tetapi kita tidak bisa memandang sebelah mata kajian mereka. Terlebih dalam historiografi Kanjeng Nabi. William Montgomery Watt adalah orientalis-revisionis pertama yang populer di era 60-an. Kita kemudian mendengar hasil kajiannya berhasil menempatkan Nabi Muhammad di urutan nomor satu sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia. Setelah Watt, para sarjana revisionis seperti Patricia Crone dan Michael Cook berbalik dan membuat kritikan dan antitesis terhadap hipotesis Watt. Patricia Crone dan Michael Cook dikenal sebagai revisionis radikal, ia tidak mempercayai sumber-sumber Islam tentang historiografi Nabi—seperti Ibnu Ishaq, Al-Waqidi—dengan dalil E-Silentio, tetapi lebih memilih sumber lain yang bersifat eksternal-arkeologis seperti bukti dari Armenian Cronik (bukti-bukti Kristen abad pertengahan).

Di antara banyak sarjana tersebut, yang akan saya ketengahkan di sini adalah kajian historiografi Karen Armstrong.Menurut saya, bukunya Muhammad Prophet for Our Time (2006) telah berhasil memotret Kanjeng Nabi dari sisi yang baru dan berbeda dari revisionis sebelumnya. Meski Armstrong dikenal sebagai sosiolog agamawan dengan karya-karya lainnya yang lebih populer, saya rasa publik—khususnya umat Islam—perlu mengetahui karyanya yang satu ini. Meski tergolong revisionis, Armstrong tidak segarang para pendahulunya dalam memberlakukan literatur Islam klasik. Ia justru menempatkannya sebagai sumber primer yang harus dipercayai, bahkan ia membela sumber-sumber tersebut dari tuduhan E-Silentio— bahwa ada lompatan sejarah sehingga menjadi tidak metodologis. Menurutnya tidak demikian, sumber-sumber tersebut sudah menyaring fakta sejarah dari berbagai sumber nukilannya secara metodologis.

Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam
Ulasan atas karangan guru besar hukum Al-Azhar Syekh Muhammad Muhanna yang membahas nilai-nilai terkait hak asasi manusia dalam ajaran Islam.

Muhammad Adalah Nabi Zaman Kita

Buku yang berjudul Muhammad Prophet for Our Time bukanlah buku pertama milik Karen tentang Nabi Muhammad. Sebelumnya ia menulis Muhammad: A Biography of the Prophet (1991). Tetapi, buku yang kita bahas kali ini lahir karena kegelisahan Armstrong akan masyarakat Barat yang memandang buruk Kanjeng Nabi. Pasca tragedi 11 September 2001, telah tersebar di Barat islamofobia akut bahwa Islam adalah agama teror, Nabi Muhammad disebut sebagai seorang teroris yang mengajarkan kekerasan. Selain itu, tragedi hukuman mati Salman Rushdie yang dijatuhkan oleh Khomeini akibat karangannya telah menambah perwajahan Islam yang keras. Salman dalam karyanya Ayat Syaithaniyyah, dianggap menghina Islam dan Kanjeng Nabi. Karen Armstrong melihat bahwa semua itu adalah bentuk fanatisme agama yang akan memecah belah toleransi, perdamaian antar-agama di dunia. Terlebih Barat saat itu baru saja terkena imbas Nazi, yang menewaskan jutaan umat Yahudi akibat motif rasisme.

Pemikiran

Kumpulan tulisan bertopik pemikiran dan keislaman bisa teman-teman temukan

di sini

Karut-marut tragedi tersebut mendorong Karen untuk menyajikan kembali Islam dan historiografi Nabi Muhammad ke masyarakat Barat, bahkan ke seluruh dunia. Tak heran kemudian judul dari karangan Armstrong begitu mendalam, Muhammad Adalah Nabi Zaman Kita. Kata-kata “Zaman kita” ini lahir bukan tanpa alasan atau semata-mata hiperbolis. Akan tetapi Karen benar-benar ingin menghadirkan Nabi Muhammad sebagai solusi permasalahan kini: fanatisme agama dan neojahiliah. Menurut Karen, masyarakat Barat telah terjerembap dalam sikap jahiliah (sebagai corak berpikir). Jahiliah menurutnya bukanlah suatu zaman periodik pra-Islam, akan tetapi itu adalah istilah Nabi untuk menyebut suatu cara berpikir yang keras dan ekstremis. Dan hal itu terjadi lagi di Barat hari ini.

Untuk itu ia berusaha membersihkan wajah Nabi Muhammad yang terlanjur buruk di Barat. Dalam kajian historiografinya, ia tetap memakai sumber klasik umat Islam (Ibnu Ishaq, al-Waqidi, Ibnu Saad dan Ath-Thabari) sebagai rujukan serta menjadikan Al-Quran sebagai sumber utama. Hal yang kemudian membedakan ia dengan para revisionis lainnya. Buku tersebut kemudian memotret Nabi dari sudut “perjuangan sosial-politik”. Sebab menurut Karen, risalah Islam yang dibawa Nabi bukan hanya mengacu pada soal teologi-metafisis, akan tetapi yang lebih mendalam dari hal itu adalah risalah perdamaiannya. “Al-Quran membebani mereka (umat Islam) dengan sebuah risalah: yaitu membangun masyarakat yang adil dan sejahtera, di mana ia akan berinteraksi dengan setiap individu dengan penuh penghormatan. Oleh sebab it,u perdamaian politik bagi masyarakat muslim akan senantiasa menjadi misi yang terpenting.” Sebut Karen.

Mewaspadai Hijrah Salah Arah
Banyak pelaku hijrah yang lantas keluar dari pekerjaannya usai menuruti doktrin panutan. Lalu, bagaimana sebenarnya ulama memaknai hijrah?

Bab-bab dalam buku tersebut membahas: Makkah secara sosial-historis, masa jahiliah, hijrah Nabi, jihad dan perdamaian. Dari situ kita membaca bahwa Karen memang mengambil “angle” sejarah perjuangan Nabi dalam mewujudkan perdamaian di kala itu. Dengan mempelajari peristiwa-peristiwa perpecahan sosial-politik (fanatisme kesukuan, dll) yang dihadapi Nabi, menurut Karen akan membuat kita mampu memecahkan masalah serupa di zaman kita. Yakni, problem karut-marut kesenjangan agama-agama di dunia: Islam, Kristen, Yahudi akibat fanatisme dan ekstremisme. Terlebih pasca tragedi 11 September.

Berdasarkan semua ini, hadirnya karya Armstrong itu sudah melupakan bukti konkret ekspresi kecintaan dia pada Islam—meski ia mengaku monoteis bebas—khususnya Nabi Muhammad SAW. Akhirnya, Karen berusaha membuka mata dunia untuk menyorot kembali sosok Nabi Muhammad; bahwa ia seorang revolusioner, pejuang, yang berhasil membawa perdamaian hakiki; bahwa kita butuh kehadirannya dan belajar dari perjuangannya; bahwa ia bukan hanya Nabi umat Islam saja, melainkan Nabi Zaman Kita. Terakhir, jika sosok Karen, yang terlahir dari tradisi protestan murni bisa menghayati Nabi Muhammad sedemikian mendalam, mengapa kita tidak bisa? Wallahu a’lam, Tabik!

💡
Baca juga artikel lain di rubrik ISLAMUNA atau tulisan menarik Lukman Hakim Rohim

Latest