“Seseorang akan lebih mudah untuk berjalan di atas bara api yang mendidih daripada ia menempuh jalan Ma’rifat menuju Allah” Ali Bin Utsman Al-Hujwiri
Kasyf Al-Mahjub karangan Ali bin Utsman Al-Hujwiri merupakan salah satu warisan tasawuf penting abad 11 M. Namun kitab ini tidak sepopuler kitab-kitab induk tasawuf di tahun sebelumnya: Ihya’ Ulumiddin, Risalah Qusyairiyah, dkk. Di saat yang sama, belum banyak tulisan yang mengulas intisari dari kitab tersebut. Resensi-resensi yang ditulis sebelumnya sebagaimana saya temukan, terlalu ringkas serta tidak menyentuh jantung dari kitab tersebut. Misalnya, yang diterbitkan Alif.id terbatas membahas bahwa kitab Al-Hujwiri adalah inspirasi dari buku “Tuhan Tidak Perlu Dibela” milik Gus Dur. Padahal menurut saya, tema-tema yang diangkat Al-Hujwiri begitu penting dalam menjernihkan ajaran-ajaran tasawuf yang tereduksi. Oleh karena itu, saya ingin mengajak pembaca untuk tidak hanya berkenalan dengan kitab tersebut, melainkan juga paham dan mengerti mengapa kitab tersebut penting kita baca hari ini.
Mari kita mulai dengan mengupas judul dan latar belakangnya. Judul yang dipilih Al-Hujwiri yakni “Kasyf Al-Mahjub” berarti “membuka/menyingkap sesuatu yang terhijab”. Alasannya selain karena judul itu komprehensif, juga karena “hijab” adalah tema sentral yang belum banyak dibahas. Seolah judul itu berbunyi: bisa jadi kita telah jauh dan terhijab dari hakikat tasawuf karena waham-waham yang berasal dari pemikiran kita sendiri. Latar belakang mengapa Al-Hujwiri menulis kitab ini, disebabkan problematika pengaburan dan reduksi ajaran tasawuf yang banyak terjadi di zaman Al-Hujwiri. Bahkan, kitab ini juga ditulis karena sebelumnya, karya Al-Hujwiri menjadi korban pemalsuan di mana nama dirinya dihapus kemudian diaku oleh orang-orang tak bertanggung jawab.
Kegelisahan itu Al-Hujwiri ungkapkan di akhir mukadimah kitabnya, “Allah telah menciptakan kita di zaman di mana penduduknya menyebut kata “Syariat” berdasarkan syahwat mereka. Mereka anggap sikap sombong dan tamak sebagai “kemuliaan dan ilmu”: kemunafikan di antara manusia sebagai “rasa takut pada Allah”.....:sikap tamanni dan riya sebagai “fana’”.. Syahwat diri mereka sebagai “Cinta pada Allah”.” Bahkan Al-Hujwiri mengutip perkataan Al-Wasithi, “kita telah diuji dengan sebuah masa di mana tidak ada di sana adab Islam, tidak pula akhlak Jahiliyah, tidak pula hukum-hukum orang yang bermuruah”. Selain konteks di atas, ditulisnya Kasyf Al-Mahjub juga untuk menjawab pertanyaan sufistik salah seorang muridnya yang meminta penjelasan hakikat dari jalan para sufi dan mengapa terjadi banyak mazhab di dalamnya.
Isi dari kitab Kasyf Al-Mahjub membahas sebanyak 25 bab yang bisa saya bagi menjadi dua bagian: pertama, bagian pendasaran epistemologis dan historis yang terdiri dari empat belas bab. Mulai dari pembahasan hakikat ilmu, makrifat, makna fakir hingga apa makna tasawuf dan memakai pakaian lusuh. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan para imam tasawuf sejak zaman sahabat hingga tabiit-tabiin, lahirnya mazhab-mazhab dan maqam-maqam sufistik. Kedua, enam belas bab sisanya adalah bagian khusus membahas lebih jauh macam-macam hijab. Ada lima belas macam hijab yang diulas oleh Al-Hujwiri.
Dengan bahasa lain, Kasyf Al-Mahjub ditulis oleh Al-Hujwiri untuk menjernihkan tasawuf dari kekaburan-kekaburan makna yang justru menjadi hijab atau penghalang seseorang memahaminya. Di bawah ini, mari kita lebih jauh memahami apa hijab yang dimaksud oleh Al-Hujwiri dan seperti apa logika khas Al-Hujwiri yang akan menjernihkan kita dari kekaburan makna.
Jangan Terhijab oleh “Bungkus” dari Tasawuf
Dalam Kasyf Al-Mahjub, kita akan menjumpai logika khas Al-Hujwiri dengan redaksi yang mudah dipahami tanpa kehilangan kedalaman. Logika yang saya maksud dalam hal ini adalah bagaimana Al-Hujwiri mampu memalingkan kita dari pemahaman yang ‘dangkal’ semata dari tema-tema sentral tasawuf: seperti makna tasawuf, makrifat, tauhid, maqam, dan hal. Di mana pemahaman tersebut justru akan menjadi hijab bagi kita untuk memahami hakikat di balik tema-tema tersebut. Hal ini yang tidak mengherankan mengapa kitab tersebut menjadi buku saku yang sering dibaca sosok Gus Dur, bahkan menjadi inspirasi dari karyanya yang populer, “Tuhan tidak perlu dibela”.
Terlebih dahulu dibahas bagaimana Al-Hujwiri memaknai hijab. Dalam ulasannya, Al-Hujwiri membagi dua macam hijab yang ada pada manusia: Pertama, hijab yang sifatnya permanen (Hijab Ar-Rain) yang tidak bisa bahkan mustahil untuk dihilangkan. Hijab tersebut merujuk pada ayat “Kalla Bal Rana Ala Qulubihim Ma Kanu Yaksibun” di mana kata Rana tersebut bermakna “Al-Khatmu” yakni Menutup. Hijab ini berada pada orang kafir yang telah Allah tutup hatinya, sehingga mustahil mereka bisa mendapatkan hidayah.
Kedua, adalah hijab yang tidak permanen berupa sifat-sifat kotor manusia (Hijab Al-Ghain). Di mana hijab ini bisa dihilangkan alias dapat berubah sesuai dengan berubahnya subjek-manusia. Kadang kala disebut juga sebagai Khatharat. Al-Hujwiri menganalogikan dua model hijab ini ibarat sebuah cermin. Seseorang yang terhijab secara permanen, ibaratnya ia sudah menjadi batu. Cermin tidak akan bisa dibuat dari batu walau kita sudah menghadirkan puluhan tukang kaca. Nah, orang yang terhijab tidak permanen itu ibaratnya seperti cermin yang hanya retak, makadengan mudah ia akan kembali dengan dipoles. Itulah hijab yang sementara (Al-Ghain). Berdasarkan dua hijab ini, hadirnya kitab Kasyf Al-Mahjub adalah untuk menjadi pemoles “cermin yang retak” dari hati-hati manusia yang dijangkiti hijab Al-Ghain. (Shaqqalun li Al-Qulub Al-Maubuah bi Hijab Al-Ghain).
Termasuk hijab Al-Ghain, adalah kekaburan makna tasawuf yang berasal dari waham kita atau memang upaya penyelewengan para perusak tasawuf. Karena itu, Al-Hujwiri saat mengulas makna tasawuf, ia mengkritik orang-orang yang sibuk pada term tasawuf secara lilteral namun kehilangan maknanya. Sebagaimana diketahui, terjadi perdebatan mengenai asal kata (Isytiqaq) dari kata tasawuf. Menurut Al-Hujwiri term tasawuf justru tidak perlu didefinisikan dan dicari keabsahan etimologisnya dalam ilmu bahasa. Upaya-upaya pendasaran term tadi justru membuat sebagian orang terjebak pada ‘bungkus’ daripada melihat substansinya. Pendasaran etimologis juga tidak memadai untuk meringkas kedalaman dan keluasan substansi dari tasawuf.
Maka menurut Al-Hujwiri, berdasarkan atsar dari amaliyah para sahabat dan tabiin, substansi tasawuf justru terletak pada makna bersih (Ash-Shafa) yang kemudian orang-orangnya disebut As-Sufi, dan para pembelajarnya disebut Mutashawwifah. “Makna Sufisme yang dilekatkan pada kaum sufi sudah jelas ibarat cahaya matahari, sehingga tidak butuh ulasan dan penjelasan, sebab para sufi juga tidak butuh pengungkapan dan isyarat pada pengalamannya”. Ia kemudian menelusuri perkataan para pembesar sufi baik pada makna teoretis maupun praktis. Hasilnya tidak satupun dari mereka yang mendefinisikan dalam kerangka diskursif dan sistematis. Melainkan mereka mendefinisikan sesuai ahwal dan maqam yang mereka alami. Salah satu kutipan yang menarik dari Abu Bakar Asy-Syibli, “Tasawuf itu Syirik” sebab tasawuf yang dipahami “upaya menjaga hati dari selain Allah” mengandaikan sebuah afirmasi adanya wujud selain Allah. Maka itu adalah salah satu bentuk kesyirikan. Sebagai pemungkasnya, Al-Hujwiri mengutip perkatan Husain Al-Busyanji, “Hari ini tasawuf menjadi sekedar nama tanpa hakikat (substansi), setelah sebelumnya ia adalah hakikat (substansi) tanpa nama.”
Berdasarkan ulasan resensi di atas, saya bisa menarik benang merah: Kasyf Al-Mahjub hadir sebagai kitab yang menjernihkan akal dan hati kita dari waham-waham tasawuf. Kita tidak hanya disuguhi pendasaran epistemologis dan historis semata, namun juga pada celah-celah sesat pikir dan waham dari sekian tema sentral tasawuf. Waham terbesar itu adalah pemahaman tasawuf yang hanya terjebak pada term-wacana namun miskin substansi dan pengamalannya. Oleh sebab itu, kitab ini Fardhu Ain untuk kita baca dan refleksikan di tengah salingsengkarut problem dan kegilaan zaman. Wallahu a’lam.