Skip to content

Komponen Kemanusiaan dalam Al-Quran

Resensi buku Dr. Ahmad Ibrahim Muhanna tentang komponen kemanusiaan dalam Al-Quran. Mengupas sisi keimanan, akhlak, dan hakikat manusia.

FOTO Sampul Majalah Al-Azhar edisi Jumadil Awal 1446 H.
FOTO Sampul Majalah Al-Azhar edisi Jumadil Awal 1446 H.

Majalah Al-Azhar Asy-Syarif pada bulan Jumadil Awal 1446 H mempersembahkan hadiah kepada para pembacanya sebuah buku berjudul "Komponen Kemanusiaan dalam Al-Quran" yang ditulis Dr. Ahmad Ibrahim Muhanna. Buku ini menyuguhkan seputar elemen atau komponen yang diperlukan bagi keberadaan umat manusia yang berbudi luhur berdasarkan Al-Quran.

Penulis menyatakan –dalam pendahuluan bukunya– bahwa jika sifat dasar manusia itu akan bisa cocok untuk cenderung pada kebaikan dan cenderung pada kejahatan, maka pembelajar kitab suci Al-Quran akan dapat menyimpulkan bahwa kecenderungan pada kebaikan adalah aspek utama dari sifat ini dan bahwa jika dibiarkan tanpa faktor-faktor kerusakan yang menyerangnya, maka ia tidak akan menyimpang dari jalan yang lurus. Sekaligus untuk menyatakan bahwa seseorang yang menjaga sisi kemanusiaannya, ia harus berjuang melawan kekuatan-kekuatan tersebut dan membentengi dirinya dengan sesuatu yang dapat menghalau serangan-serangan mereka dan melemahkan pengaruh mereka, berkat kemurahan Tuhan atas hamba-hamba-Nya bahwa Dia tidak membiarkan mereka tanpa rahmat-Nya. Untuk membantu mereka dalam perjuangan berkelanjutan mereka sepanjang keberadaan mereka dalam kehidupan ini; Dia menerangi jalan bagi mereka, menunjukkan kepada mereka petunjuk-petunjuk-Nya, dan memberi mereka pesan-pesan sepanjang hidup mereka yang menunjukkan kepada mereka apa yang dibutuhkan kehidupan yang baik di setiap zaman.

Penulis menegaskan bahwa kemanusiaan sejati memiliki komponen-komponen yang tidak dapat tanpanya dan komponen-komponen ini memperoleh kehidupannya sebagaimana dipahami dari kitab suci Al-Quran melalui indera yang membuahkan hasil, serta melalui pikiran yang mengarah ke jalan yang lurus.

Penulis mengingatkan bahwa jika banyak perintah dan larangan yang ditujukan kepada seluruh umat manusia dalam ayat-ayat Al-Quran –maka bahasa Al-Quran mengatakan bahwa mereka yang akan mendapat manfaat dari ketaatan mereka terhadap hal tersebut hanyalah orang-orang yang beriman kepada Tuhannya. Dan keimanan mereka menjadi landasan amal saleh mereka. Adapun orang-orang kafir kepada Allah, tidak ada buah atas amal-amalnya. Karena telah kehilangan landasan asli yang menjadi pijakannya, maka hal ini menunjukkan bahwa mengikuti ayat-ayat yang menjelaskan gambaran orang-orang beriman dan ayat-ayat yang memberi petunjuk dan memberi penunjuk arah kepada jalan yang benar, baik dengan memerintahkan untuk melakukan sesuatu, maupun dengan melarang melakukan sesuatu –memudahkan tugas kita; Ia menerangi jalan kita dan selama keimanan adalah fondasi dari keseluruhan bangunan, tanpanya tidak ada bangunan yang akan dibangun. Adalah logis bahwa unsur-unsur keimanan adalah makna yang kita cari, dan dengan memperjelas unsur-unsur ini maka maknanya menjadi jelas bagi kita apa yang diperlukan untuk melestarikan gambaran kemanusiaan yang dimaksud dalam Al-Quran, dan dari sini; Kita dapat menganggap semua akhlak mulia dan cita-cita luhur yang diperintahkan Allah untuk ditaati sebagai landasan membangun komponen-komponen bangunan kemanusiaan yang ingin kita definisikan, dan bahwasanya keimanan adalah landasan untuk mencapai sejatinya kemanusiaan dalam diri individu, dan tanpanya ia tidak akan ada.

Al-Quran

Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan

di sini

Penulis menjelaskan bahwa sifat-sifat yang mana kebenaran keimanan yang sempurna tidak dapat ditemukan kecuali jika sifat-sifat itu tercapai dan anak turun Adam tidak dapat disebut sebagai manusia kecuali jika ia menghiasi diri dengannya dan semuanya, sifat-sifat itu adalah sebagai berikut:

Pertama: Hendaknya seseorang senantiasa berzikir kepada Tuhannya, mengharap rahmat-Nya dan takut terhadap siksa-Nya, merenungkan manifestasi kekuasaan-Nya agar keimanannya bertambah, beriman kepada hikmah dan keadilan-Nya agar keyakinannya kepada-Nya berlipat ganda, dan berpuas dengan apa yang telah Dia bagikan kepadanya dan memurnikan diri (ikhlas) berserah diri kepada Penciptanya, agar dia bisa berkomunikasi kepada-Nya dalam salatnya dan menunaikan hak-haknya sebagaimana yang diperintahkan.

Kedua: Seseorang harus menjadi fondasi yang baik dalam membangun masyarakat di mana ia tinggal. Ia berusaha memperkuatnya dengan memerintahkan kebaikan, menyucikannya dari faktor-faktor yang merusak dan melarang apa yang mungkar, dan mengambil manfaat dari semua nikmat yang telah Tuhan berikan kepadanya dengan menahan diri dari omong kosong dalam apa yang dia katakan dan apa yang dia kerjakan.

Ketiga: Hendaknya seseorang menjadi teladan ideal dalam perlakuan yang baik. Ia adalah orang yang cinta damai, tidak mengenal agresi, menghargai diri sendiri dan tidak mengenal merendahkan diri, serta berusaha semaksimal mungkin agar tidak ada orang yang merasa tidak adil darinya. Dia mempunyai kekuatan kemauan yang mencegahnya tergelincir ke dalam kecenderungan-kecenderungan buruk, serta punya pengendalian diri yang memperindah seseorang dengan ketabahan dan kesabaran tatkala ditimpa musibah.

Keempat: Mengetahui akidah secara benar, karena baginya iman itu lebih berharga daripada dirinya sendiri, anak-anaknya, dan hartanya. Semua itu tidak menghalanginya untuk memperjuangkannya sebagai rasa syukur kepada Penciptanya, sebagai pengakuan atas rahmat-Nya dan untuk memastikan bahwa firman-Nya tetap berada pada posisinya yang layak.

Buku ini mencakup beberapa pembahasan: Yang paling menonjol di antaranya adalah: pendefinisian makna komponen sisi kemanusiaan yang luhur, keimanan, keimanan kepada Allah, keimanan kepada malaikat, keimanan kepada hari akhir, ciri-ciri orang mukmin, rasa takut kepada Allah dan ketakwaan hati, meningkatkan keimanan tatkala mendengar ayat-ayat Allah, bertawakal kepada Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, menjaga orang-orang mukmin, perintah kebaikan, larangan dari kemungkaran, ketaatan kepada Allah dan utusannya menunaikan amanah dan janji, tetapnya akidah, jihad di jalan Allah, kedamaian yang konstruktif dan tidak agresif, keadilan dalam segala dimensinya, ketaqwaan kepada Tuhan, ikhlas, rasa syukur atau pengakuan keindahan, kemauan kuat dan kuatnya pengendalian diri.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik RESENSI atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein

Latest