Skip to content

Memoar Syekh Asy-Sya’rawi dengan Gurunya, Syekh Ibrahim Humrusy

Syekh Asy-Sya’rawi mengisahkan salah satu guru yang sangat berkesan bagi dirinya. Ialah Syekhul-Azhar ahli bahasa bernama Syekh Ibrahim Humrusy.

FOTO Syekh Ibrahim Humrusy (kiri) dan Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi semasa muda.
FOTO Syekh Ibrahim Humrusy (kiri) dan Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi semasa muda.

Sosok Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi (1911-1998) adalah alim Al-Azhar yang namanya senantiasa dikenang hingga hari ini. Kepakarannya dalam berdakwah membuatnya dikenal di kalangan luas dengan sebutan Imam Ad-Du’at (Imam Para Dai). Terlebih, dengan rekaman tafsir Al-Quran dari awal hingga akhir yang dapat menyentuh berbagai elemen masyarakat. Kepiawaian alumnus Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar, Mesir ini tentu tak lepas dari didikan para gurunya. Salah satu yang paling ia kenang adalah Syekh Ibrahim Humrusy (1880-1960), sosok ulama ahli bahasa yang di kemudian hari menjadi Syekhul-Azhar.

Syekh Asy-Sya’rawi berkata, “Syekh Ibrahim Humrusy adalah sosok yang sangat membekas dalam kehidupan saya. Tidak ada sosok yang seperti beliau. Tidak ada seorang pun yang datang untuk meminta sesuatu, melainkan ia akan keluar dalam keadaan mendapatkan faedah yang langka, hikmah, maklumat, ilmu, dan banyak hal lainnya. Ilmu bahasa beliau melimpah ruah. Saat pendirian Majma’ Al-Lughah Al-‘Arabiyyah (lembaga kebahasaan resmi Mesir), beliau dipilih menjadi anggota pionir bersama sepuluh ulama lainnya. Sampai-sampai mereka dikenal kala itu dengan sebutan Al-‘Asyrah Ath-Thayyibah (10 Tokoh Terbaik).”

Ketika masih menjadi talib, Syekh Asy-Sya’rawi juga menceritakan kenangan yang takkan ia lupakan kala bersama sang guru. Dalam memoarnya ia berkisah:

“Aku tidak akan pernah melupakan jejak guru agung yang menduduki kursi Syekhul-Azhar ini. Syahdan, aku menyelesaikan masa belajarku di kuliah ketika beliau menjabat dekan [Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar]. Pada tahun terakhir, situasi perpolitikan menggeluti diriku. Saat itu, aku menjadi bagian dari Partai Al-Wafd, yang cinta dengan ketuanya, Mushthafa An-Nahhas. Rahasia kecintaanku kepadanya karena ia adalah politikus yang dekat dengan Tuhannya. Dari sinilah hubunganku dengan Al-Wafd berasal.

Suatu hari, ia memintaku untuk melaksanakan salah satu tugas politik yang menghabiskan waktuku untuk mengikuti imtihan Syahadah Al-‘Aliyah, yaitu imtihan tahun terakhir di kuliah. Aku pun menyetujuinya, meski ayahku sempat marah karena perbuatanku ini. Aku akhirnya menangguhkan imtihanku ke putaran kedua (daur tsani) karena permintaan delegasi politik dari Mushthafa An-Nahhas, sosok yang mengatakan kepadaku, ‘tangguhkan imtihanmu ke putaran kedua.’

Salah satu rasa syukurku atas nikmat Allah ialah, aku merupakan talib yang senantiasa dipuji keilmuannya oleh para guru dan sahabatku. Aku pun mengikuti imtihan putaran kedua, hingga berakhir pada hari Kamis, hari terakhir masa kerja dalam sepekan (karena Jumat sudah libur). Hanya saja, hari Sabtu adalah hari terakhir pengajuan diri untuk mengikuti tes menjadi guru di ma’had Al-Azhar. Sedang aku baru mengikuti imtihan pada hari Kamis dan masih menunggu nilai yang entah kapan keluarnya. Saat itu, tes untuk menjadi guru hanya berlangsung 4 tahun sekali. Artinya, jika aku tidak mengikuti tes tahun ini, aku mesti menunggu selama 4 tahun untuk tes berikutnya.

Namun, di sinilah aku merasakan kecintaan yang hakiki dari diri Syekh Ibrahim Humrusy. Di hari yang sama setelah melaksanakan imtihan, kala itu, aku sedang berada di kantor beliau karena suatu urusan. Melihatku, beliau teringat mengenai cerita tes untuk menjadi guru ma’had. Beliau kemudian menelepon Syekh Muhammad Mushthafa Al-Maraghi (1881-1945), Syekhul-Azhar saat itu, supaya menangguhkan pelaksanaan tes menjadi guru ma’had minggu depan, agar para talib yang mengikuti imtihan putaran kedua dapat mengikuti tes tersebut. Syekhul-Azhar menolak seraya berkata, ‘Mereka yang mengikuti putaran kedua adalah anak-anak yang mengecewakan. Tidak layak menjadi pengajar di ma’had Al-Azhar.’

Biografi

Sepilihan riwayat hidup para tokoh dapat teman-teman temukan

di sini

Percakapan berakhir. Namun, aku mendengar Syekh Humrusy berujar, ‘Semoga saja, ya.’ Setelah itu, beliau segera mengumpulkan seluruh pengajar di Fakultas Bahasa Arab dan meminta kepada mereka dengan ucapan lembut untuk memeriksa lembar jawaban imtihan hari itu juga (hari Kamis).

Beliau berkata, ‘Siapa saja dari kalian yang mencintaiku, silakan ikut serta dalam memeriksa. Jika kalian setuju, bagilah lembaran ini sama rata. Jika masih ada lembaran lebih, silakan diperiksa oleh mereka yang kecintaannya kepadaku lebih banyak.’

Jumlah lembar jawaban tidak terlalu banyak, karena jumlah talib saat itu masih sedikit. Pemeriksaan berakhir pada sore hari itu juga. Keterangan talib yang najah (lolos) pun dihitung. Hanya saja, pengumuman milai belum bisa diumumkan pada hari itu, karena belum disahkan dan diberi cap oleh dekan fakultas.

Pada Sabtu pagi, di hari terakhir pendaftaran tes menjadi pengajar di ma’had, Syekh Ibrahim Humrusy datang ke kantornya pada pukul 9 pagi untuk mengumumkan nilai. Beliau juga memanggil salah satu pegawai di kantornya, ‘Tolong pergi ke kantor dan ambilkan formulir nomor 176 ain ha (ع، ح).’

Aku mengisi formulir tersebut dan menyerahkannya ke Al-Azhar sebelum pukul 2 siang agar tidak terlambat dari masa pendaftaran. Ketika hari tes menjadi guru di ma’had tiba, aku menduduki peringkat satu dan menjadi orang pertama yang dilantik sebagai pengajar pada tahun ini.

Mengajar di Al-Azhar adalah suatu kegembiraan yang luar biasa, karena ia adalah sebuah profesi, yang siapa saja menapakinya dianggap sebagai seorang ulama. Hingga saat ini, aku senantiasa mengingat indahnya hari bersama Syekh Ibrahim Humrusy. Semoga Allah senantiasa merahmatinya.”

Kisah yang diceritakan Syekh Asy-Sya’rawi ini menjadi salah satu kisah yang memberi banyak pelajaran. Memoar yang akan senantiasa berkesan selama masa hidupnya. Kisah ini juga mengajarkan bahwa di balik kesuksesan seorang murid, terdapat para guru yang senantiasa berusaha semaksimal mungkin untuk berkhidmah kepada para muridnya.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest