Pemilu berada di penghujung acara. Pemungutan suara telah usai. Pemenang dalam kontestasi pemilu presiden-wakil presiden pun telah terlihat jelas. Suara rakyat adalah penentu. Suara rakyat adalah suara Tuhan, begitulah dalam sistem demokrasi. Maka estafet kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf akan dilanjutkan kepemimpinannya oleh pasangan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029.
Baik dalam hasil hitungan Quick Count dan Real Count yang dihasilkan dari rekapitulasi KPU telah menunjukan perolehan telak untuk pasangan Prabowo-Gibran. Dengan nilai skor di kisaran 56,00%-58,00%. Artinya menang satu putaran dengan angka yang menakjubkan.
Selain menunggu penetapan hitungan pemilu KPU usai semua, sudah seharusnya kita sebangsa setanah air bersyukur serta mendoakan dan mendukung siapapun pemenangnya. Kita juga patut memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara Pemilu yang telah berjuang sedemikian amannya sehingga pemilu berjalan dengan lancar.
Kini saatnya, yang menang harus merajut hubungan kembali tanpa harus menjatuhkan yang kalah, dan yang kalah harus bisa menerima dan legowo. Lalu, semua peserta kontestasi pemilu capres-cawapres hendaknya menyuarakan dan mengajak para pendukung untuk menghormati dan mengakui kemenangan yang terpilih. Hal itu agar mendinginkan suasana dan tidak ada lagi polarisasi paslon 01-02-03.
Mari kita sama-sama menjadi masyarakat Indonesia yang terus menjaga dan mencintai kerukunan, yang selalu mengedepankan keguyuban daripada kebencian dan dengki, yang sadar pentingnya pendekatan cinta dan kasih sayang.
Khutbah
Kumpulan teks khutbah Jumat, hari raya, dan pidato hari besar Islam dapat teman-teman temukan
di siniDalam pidato Pak Prabowo di Istora Senayan, Jakarta -setelah kemenangan telak dalam hitungan Quick Count- ia beriktikad akan merangkul semua pihak dan mau mengajak yang kalah. Artinya, Pak Prabowo mengajak rekonsiliasi untuk bersama-sama mengabdi untuk negara ini. Iktikad baik ini tentu perlu didukung oleh semua pihak. Adapun jika tidak mau bergabung ke dalam kabinet dari pihak yang kalah, maka tak jadi masalah. Karena yang paling penting adalah memperlihatkan jiwa kepemimpinan ke publik dengan tetap menjalin kerukunan dan damai.
Persaudaraan sesama muslim dan persaudaran setanah air adalah keharusan demi menjadikan negara menjadi kuat dan maju. Prabowo-Gibran meyakini bahwa semua rakyat yang hidup di negara ini adalah saudara sebangsa yang harus dijaga dan dihormati. Maka, bagus bagi pemimpin mempunyai sikap demikian. Kecintaan terhadap tanah air mengharuskan mencintai seluruh saudaranya. Mencintai seluruh rakyat yang hidup di tanah air ini.
Tentu, sikap seperti itu sikap yang bagus, sikap negarawan. Karena yang dibutuhkan dari pemimpin selain bisa kerja adalah kemampuan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemimpin yang diharapkan mampu merangkul semua elemen masyarakat.
Ajaran demikian, sangat sejalan dengan ajaran agama Islam yang mengajarkan dan mendahulukan persaudaraan dibanding kepentingan pribadi. Sebab persaudaraan memperkuat kekokohan bangsa dan negara. Dalam Islam Rasulullah telah mengajarkan:
Artinya: Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman (dengan keimanan yang sempurna) sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
Maka, pemimpin sejati adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, rela berkorban demi saudaranya, yakni rakyat-rakyatnya.
※ 6 Tokoh Pejuang Palestina Alumni Al-Azhar
Pemimpin terpilih harus bisa mengayomi seluruh elemen masyarakat dengan menguatkan satu sama lain, dengan mengajak yang kalah juga mengajak masyarakat untuk saling bekerja sama mendukung program yang memajukan bangsa Indonesia. Rasul mengatakan:
"Orang mukmin dengan mukmin yang lainnya seperti bangunan. Yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain"
Maka, salah satu caranya adalah dengan bersatu. Persatuan itu harus didahulukan dengan merangkul seluruh elemen kekuatan yang akan menjadikan negara adil dan makmur.
Dalam suatu kesempatan, Syekhul-Azhar Syekh Ahmad Ath-Thayyib mengatakan:
Persatuan berdiri atas tiga pondasi yang kuat yaitu:
1. Persaudaran dalam iman;
2. Kesetiaan terhadap negara; dan
3. Keadilan serta kesetaraan di antara para penduduk negara atas dasar nilai kebangsaan tanpa perpecahan dan membedakan satu sama lain.
Penulis optimis negara kita akan selalu aman dan damai, selagi persaudaraan masih jadi nilai tertinggi bagi bangsa ini. Semua sepakat tak ada lagi jalan yang terbaik selain kita sama-sama mendoakan dan mendukung pemimpin yang terpilih agar bisa menjalankan tugasnya dengan amanah dan berupaya menyejahterakan rakyat.