Syekh Abdulghani Ar-Rajihi, Mahaguru Tafsir Al-Azhar dengan Kiprah Internasional

"Tokoh-tokoh besar tidak benar-benar mati. Mereka hidup abadi melalui karya, peninggalan, dan metode yang mereka wariskan semasa hidup. Metode itu dilanjutkan oleh generasi setelah mereka dan diwujudkan dalam kehidupan nyata."

Begitulah kalam Syekh Abdulghani Ar-Rajihi dalam salah satu artikel Majalah Al-Azhar kala mengulik biografi para tokoh. Sosok penulis ini pun telah wafat 37 tahun yang lalu dengan mewariskan karya, peninggalan, dan metode.

Sosok ini masyhur dengan karyanya yang berjudul Dirasat Mutasyabih An-Nazhm fi Qashash Al-Quran Al-Karim Muqaranah wa Tahlil, sebuah studi perbandingan dan analisis tafsir mengenai kesamaan atau kemiripan ayat-ayat kisah dalam Al-Quran.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhan

Ia bernama lengkap Abdulghani bin ‘Awadh Ar-Rajihi Asy-Syirbini Asy-Syafi’i Al-Azhari. Ar-Rajihi di belakang namanya merujuk kepada kabilah Arab lama yang tersebar di Mesir dan Arab Saudi. Asy-Syirbini merujuk kepada daerah Syirbin, Mesir. Adapun Asy-Syafi’i merujuk kepada mazhab Imam Asy-Syafi’i dalam fikih. Sedangkan Al-Azhari merujuk kepada Al-Azhar tempat ia belajar.

Meski bernisbahkan Asy-Syirbini, Syekh Abdulghani Ar-Rajihi lahir di Desa Mit Asy-Syuyukh, Markaz Fariskur, Provinsi Ad-Daqahliyyah (sekarang masuk Provinsi Dumyath), Mesir. Ia dilahirkan pada hari Senin, 14 Syawal 1331 H (15 September 1913 M).

Masa kecilnya ia lalui dengan baik. Ia dimasukkan ke kuttab desa untuk menghafal Al-Quran dan belajar baca-tulis layaknya anak-anak Mesir kala itu sebelum masuk ke jenjang berikutnya. Di sini, Ar-Rajihi kecil merampungkan hafalan Al-Qurannya pada usia 10 tahun.

Masa Belajar

Mengenai masa belajar Ar-Rajihi, banyak sekali sumber dan referensi yang asal-asalan dalam menyebutkan tahun selesai tiap jenjangnya, baik dari jenjang Al-Ibtida'i (SD) hingga Al-‘Alimiyyah (doktoral). Jika dipaparkan dan dikritik satu-satu, oretan pendek ini akan jadi panjang hanya untuk membenarkan banyaknya tanggal yang keliru.

Secara ringkas, Ar-Rajihi menamatkan jenjang Al-Ibtida'i pada tahun 1931 M setelah menempuh pendidikan selama 4 tahun, lalu melanjutkan jenjang Ats-Tsanawi hingga tamat pada tahun 1935 M setelah menempuhnya selama 4 tahun juga.

Setelah rampung, ia melanjutkan jenjang belajarnya di bangku kuliah. Ia pun pergi ke Kairo untuk belajar di Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar hingga meraih gelar S1 pada tahun 1939 M, tahun yang sama dengan tahun tamatnya Syekh Muhammad Husain Adz-Dzahabi. Di masa ini, ia meraih ranking ke-4 dari seluruh mahasiswa Al-Azhar kala itu.

Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikannya di Qism At-Takhashshush (Dirasat Ulya) pada jurusan Tafsir dan Hadits (jurusannya masih gabung; sekarang dipisah antara tafsir dan hadits). Kala itu, pembelajaran di pascasarjana tidak seperti hari ini yang melalui jenjang tamhidi selama dua tahun, lalu menulis tesis, kemudian melanjutkan jenjang doktoral dan menulis disertasi. Kala itu, pascasarjana layaknya jenjang tamhidi selama 5 tahun, lalu pelaksanaan imtihan seluruh diktat di tahun terakhir untuk kelayakan menulis di jenjang doktoral.

Sebagaimana tertulis dalam buku Kulliyah Ushuliddin wa ‘Amiduha Al-Jalil, ia sekelas dengan 4 sahabat lainnya, yaitu Syekh Muhammad Husain Adz-Dzahabi, Syekh Muhammad As-Sayyid Nada, Syekh Muhammad Abu Zahwu, dan Syekh Muhammad Abu Syahbah. Setelah menyelesaikan pembelajaran selama 5 tahun pada tahun 1944 M, ia mengajukan disertasi berjudul Dirasat Mutasyabih An-Nazhm fi Qashash Al-Qur'an Al-Karim Muqaranah wa Tahlil. Penulisan disertasi ini ia tulis selama dua tahun, hingga kemudian disidang pada tahun 1946 M.

Jenjang Karir

Setelah menamatkan jenjang doktoral, Syekh Ar-Rajihi memulai karirnya dengan mengajar di Ma’had Al-Azhar Kairo hingga tahun 1384 H (1964 M), karena pada tahun ini ia dipindah-tugaskan sebagai dosen di Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar.

Karier akademiknya terus meningkat. Ia menjadi profesor madya pada tahun 1388 H (1968 M), lalu menjadi profesor tafsir pada tahun 1393 H (1973 M), kemudian menjadi Dekan Fakultas Usuludin cabang Provinsi Usyuth, Mesir pada 1394-1396 H (1974-1976 M). Pada tahun 1397 H (1977 M), ia mendapat mandat menjadi Rais Qism At-Tafsir (Kepala Prodi Tafsir) di Fakultas Usuludin Kairo selama setahun, hingga pensiun pada tahun berikutnya di usia 65 tahun.

Di sela-sela mengajar di Mesir, untuk umumnya pengajar Al-Azhar kala itu, Syekh Ar-Rajihi termasuk yang sangat sering menjadi dosen terbang ke sejumlah negara lain. Ia pernah ke Lebanon untuk mengajar di Kampus Islam Al-Maqashid dari tahun 1947-1950, ke Irak pada 1951, lalu ke mendirikan ma’had Islam di Qatar dan mengajar di sana pada tahun 1957-1960, kemudian ke Universitas Islamabad Afganistan pada tahun 1964 dan 1965, ke Universitas Muhammad bin Sanusi Libya pada tahun 1966-1973, ke Universitas Malik Ummul Qura Makkah pada tahun 1975, lalu ke Universitas Islam Madinah pada tahun 1976, dan ke Universitas Umm Durman Sudan pada tahun 1979.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Karya Tulis

Selain mengajar, Syekh Abdulghani Ar-Rajihi juga menulis sejumlah karya ilmiah dari berbagai fan keilmuan, utamanya dalam bidang tafsir dan ilmu Al-Quran. Adapun karya-karya tersebut seperti:

  • Al-Madkhal li ‘Aqidah Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah;
  • Al-Manhaj Al-Qawim fi Tafsir Ayat Adz-Dzikr Al-Hakim;
  • Al-Manahij Al-Jadidah fi Tafsir Ayatillah Al-Majidah;
  • Fi Rihab As-Sunnah An-Nabawiyyah;
  • Fi Rihab Al-Qur'an;
  • Fi Al-Qashash Al-Qur'ani;
  • Al-Islam Anshaf Al-Mar'ah Abathil Tadfa’uha Haqa'iq;
  • Al-Ardh wa Asy-Syams fi Manzhur Al-Fikr Al-Islami;
  • Al-Manhaj Al-Hadits fi Tafsir Ahsan Al-Hadits;
  • Dirasat Maudhu’iyyah tahta Adhwa' Al-Quran wa As-Sunnah;
  • Al-Manhaj Al-Qadim fi Dirasat ‘Ulum Al-Quran Al-Karim;
  • Al-‘Ilm wa Al-Iman fi Bina Al-Umam wa Al-Mujtama’at;
  • Limadza Narfudh Al-Markisiyyah;
  • Adam ‘Alaihi As-Salam kama Tahaddatsa ‘anhu Al-Quran Al-Karim;
  • At-Tijarah fi Dhau'i Al-Quran wa As-Sunnah;
  • Al-Muhkam wa Al-Mutasyabih min Al-Qur'an;
  • Al-Bayan Al-Wadhih fi At-Tafsir (ditulis bersama Syekh Muhammad Ahmad Al-Qasim dan Syekh Masmu’ Abu Thalib);
  • Muhadharat fi At-Tafsir (ditulis bersama Syekh Muhammad Abdulmun’im Al-Qi’i, Syekh Ibrahim Khalifah, dan Syekh Ibrahim Salamah);

Ditambah dengan sejumlah artikel ilmiah intens di Majalah Al-Azhar dari tahun 1947-1952, Majalah Al-‘Irfan Lebanon dari tahun 1947-1950, Majalah Al-Hadyu Al-Islami Lebanon dari tahun 1966-1969, dan Majalah Minbar Al-Islam dari tahun 1962-1972.

Para Guru dan Murid

Melihat kisah hidup Syekh Ar-Rajihi dan semua perjalanan hidupnya, seyogianya kita tahu siapa saja tokoh yanh telah membentuk sosok ini. Tanpa mereka, sosok besar tafsir ini tentu tidak akan terlahir.

Selama masa belajar, ia berguru kepada Syekhul-Azhar Muhammad Mushthafa Al-Maraghi, Syekhul-Azhar Muhammad Ma'mun Asy-Syinnawi, Syekhul-Azhar Ibrahim Humrusy, Syekh Abdulmajid Al-Labban, Syekh Yusuf Ad-Dijwi, dan Syekh Abdurrahman Al-Jaziri.

Dari para guru besar, terlahir pula para murid yang pakar, seperti Syekh Ibrahim Khalifah, Syekh Abdulghafur Mushthafa, Syekh Muhammad As-Sayyid Jibril, Syekh Abdulhayy Al-Faramawi, Syekh Muhammad Salim Abu ‘Ashi, Syekh As-Sayyid Ismail, Syekh Hasan Jabr, Syekh Abdulfattah Al-‘Iwari, Syekh Muhammad Hasan Sibatan, Syekh Salim As-Sukkari, dan Syekh Muhammad Abdurrahman.

Akhir Hayat

Setelah banyak berkiprah dalam mengajar dan mencetak generasi selanjutnya, khususnya dalam mencetak para pakar tafsir dan ilmu Al-Quran pada hari ini, Syekh Abdulghani ‘Awadh Ar-Rajihi menutup mata pada Fajar Rabu, 24 Safar 1409 H, bertepatan dengan 5 Oktober 1988 M, di umur beliau yang ke-78. Jenazah beliau dibawa ke tempat akhirnya di Pemakaman Al-Qaththamiyyah, New Cairo, Mesir. Semoga segala jerih payahnya dalam mengajar dan berkiprah di dunia pendidikan senantiasa menjadi amal jariahnya hingga akhirat kelak. Amin.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin