Skip to content

Syekh Hasan Jabr, Mufasir Sepuh Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar

Riwayat hidup seorang guru besar tafsir Al-Azhar, Syekh Hasan Jabr. Ia yang memuliakan Al-Quran dan memancar cahaya cinta pada Rasulullah SAW.

FOTO Syekh Hasan Jabr saat sedang mengajar. (Fb.com/academyofsufism)
FOTO Syekh Hasan Jabr saat sedang mengajar. (Fb.com/academyofsufism)

Hari ini, 25 Januari 2025 adalah tahun ke-74 di mana guru kami, Syekh Prof. Dr. Hasan Jabr dilahirkan, tepatnya pada 25 Januari 1951 M (18 Rabiulakhir 1370 H). Beliau dilahirkan di sebuah desa kecil bernama Al-Munahrit, Markaz Diyarb Najm, Provinsi Asy-Syarqiyyah, Mesir. Desa kecil ini menjadi saksi tumbuhnya seorang anak yang dididik dalam naungan nilai-nilai agama yang kokoh, di mana suara Al-Quran menjadi alunan yang mengisi hari-harinya sejak dini.

Sejak kecil, ia yang bernama lengkap Hasan Ahmad Muhammad Jabr telah menunjukkan kecerdasannya. Ia dapat menghafalkan Al-Quran dalam usia yang sangat muda. Apalagi saat itu hafal Al-Quran adalah syarat wajib untuk masuk ke Al-Azhar.

Bangku Sekolah

Pada tahun 1963, di usia 12 tahun, yaitu usia minimum untuk masuk ke jenjang Al-I’dadiyyah di Al-Azhar, ia mengikuti ujian seleksi masuk dan lulus seleksi dengan nilai gemilang. Ia pun mulai belajar di Ma’had Al-Azhar Az-Zaqaziq, ma’had yang paling dekat dari kediamannya. Masa belajar jenjang Al-I’dadiyyah saat itu berlangsung selama empat tahun, yang ia akhiri dengan keberhasilannya meraih Syahadah Al-I’dadiyyah pada tahun 1967.

Perjalanan menuntut ilmunya tidak berhenti di sana. Hasan Jabr muda melanjutkan studi pada jenjang selanjutnya di tempat yang sama, yaitu jenjang Ats-Tsanawiyyah. Jenjang ini juga ditempuh selama empat tahun pada saat itu. Ia pun menyelesaikan jenjang ini dengan prestasi gemilang dan tepat waktu, hingga berhasil meraih Syahadah Ats-Tsanawiyyah pada tahun 1971.

Bangku Perkuliahan

Jalan panjang dalam rangka menuntut ilmu telah menuntun Hasan Jabr ke Kairo, ibu kota Mesir, tempat ia memulai babak baru sebagai mahasiswa Universitas Al-Azhar. Di universitas ini, ia memilih Fakultas Usuludin, jurusan Tafsir dan Hadits (pada saat itu jurusan tafsir dan hadits masih belum dipisah). Pilihan ini mencerminkan kecintaannya yang mendalam terhadap Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW.

Ia melalui jenjang S1 selama empat tahun hingga menyelesaikan studi sarjananya pada tahun 1975 dengan predikat Jayyid Jiddan ma’a Martabah Syaraf, sebuah nilai yang menegaskan bakat dan dedikasinya dalam menuntut ilmu.

Tak lama setelah kelulusannya, ia diangkat menjadi asisten dosen (mu’id) di jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Quran (jurusan tafsir dan hadits sudah dipisah).

Di samping menjadi asisten dosen, langkah Syekh Hasan Jabr di dunia akademik terus berlanjut. Ia melanjutkan studi pascasarjana di fakultas yang sama dan berhasil meraih gelar master pada tahun 1980. Tesis yang ia ajukan berjudul Al-Isti'dzan fi Al-Quran Al-Karim (Meminta Izin dalam Al-Quran). Sebuah studi tafsir tematik mengenai adab dan hukum "izin" dalam Al-Quran serta hubungannya dengan dimensi sosial dan moral dalam Islam. Tesis ini diterima dengan predikat Mumtaz dan menjadi karya yang diakui dalam studi tematik Al-Quran. Pasca tesis, ia naik pangkat dari asisten dosen (mu’id) menjadi dosen madya (mudarris musa’id).

Tak berhenti disitu, ia melanjutkan jenjang doktoral dengan mengajukan disertasi tahkik Nazhm Ad-Durar fi Tanasub Al-Ayat wa As-Suwar li Al-Imam Al-Biqa’i Tahqiq wa Dirasah Suratay Ali ‘Imran wa An-Nisa. Sebuah kajian tekstual dan analitis atas dua surah: Ali Imran dan An-Nisa. Rangkaian proyek yang sama dengan disertasi doktoral Prof. Dr. M. Quraish Shihab yang disidangkan pada tahun 1982.

Syekh Hasan Jabr menulis disertasinya selama empat tahun. Dimulai dari tahun 1980, hingga selesai dan disidangkan pada tahun 1984 dengan meraih predikat Martabah Asy-Syaraf Al-Ula. Dengan pencapaian tersebut, ia kemudian diangkat menjadi dosen tetap (mudarris) di jurusan Tafsir.

Masa Pengabdian

Perjalanan karier Syekh Hasan Jabr di Universitas Al-Azhar terus berkembang. Ia naik jabatan ke profesor madya (ustadz musa’id), lalu akhirnya menjadi profesor (ustadz) tafsir di Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar. Dalam perannya sebagai pengajar dan peneliti, ia tidak hanya mentransmisikan ilmu kepada para mahasiswa, tetapi juga membimbing mereka untuk mencintai Al-Quran sebagai sumber utama kehidupan.

Al-Quran

Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan

di sini

Sebagai orang yang pernah belajar langsung dengan beliau ketika jenjang pascasarjana, penulis bersaksi bahwa beliau benar-benar sosok yang memuliakan Al-Quran. Dari dalam diri beliau memancar kecintaan yang penuh terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW. Sampai-sampai sangat jarang ditemukan jam mengajar beliau tanpa adanya suguhan kisah tentang Baginda Nabi. Bahkan, ada senior yang pernah bercerita jika ada lembar jawaban mahasiswa saat ujian yang menulis nama Nabi Muhammad tanpa didahului "Sayyidina", beliau akan salahkan meski jawabannya benar.

Meski sudah memasuki usia pensiun pada umur 60 tahun, dedikasinya terhadap ilmu tidak berhenti. Ia tetap aktif sebagai profesor emeritus (ustadz mutafarrigh), melanjutkan pengajaran, penelitian, dan bimbingan ilmiah dengan semangat yang sama seperti ketika ia masih muda.

Pengabdian Syekh Hasan Jabr di dunia keilmuan mendapat pengakuan yang luas di tengah lingkungan ulama. Pada 27 Februari 2020 lalu, ia diangkat menjadi anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama (Dewan Ulama Senior) di Al-Azhar. Ia diangkat bersama tiga ulama besar Al-Azhar lainnya, yaitu Syekh (Alm.) Prof. Dr. As-Sa’id As-Sayyid ‘Ubadah, Syekh Prof. Dr. Mahmud Taufiq Sa’d, dan Syekh Prof. Dr. Muhammad Husni Ibrahim.

Karya Tulis

Selain mengajar, Syekh Hasan Jabr juga mempersembahkan sebagian karya tulisnya ke dalam perpustakaan dunia Islam. Beberapa di antaranya seperti:

• Al-Furqan fi Bayan An-Naskh fi Al-Qur'an

• Al-Hidayah fi Adab At-Tilawah

• I'tilaf Muhim At-Tanaqudh wa Al-Ikhtilaf fi Al-Qur'an al-Karim

• Kitabat al-Qur'an Al-Karim wa Rasm Al-Mushaf

• Tarjamah al-Qur'an Al-Karim

• Ayat Ar-Riba fi Al-Qur'an: Dirasah Tahliliyyah

• Al-Ahkam Al-Muta’alliqah bi Ayat Ar-Riba fi Al-Qur'an Al-Karim: Dirasah Maudhu’iyyah

• Aqbas min Hayat Ar-Rasul fi Al-‘Ahd Al-Madani fi Dhau'i Al-Kitab wa As-Sunnah, dan

• Ma Qila fi Takarrur An-Nuzul wa Tahqiq Al-Qaul fi Dzalik

Kini, usia Syekh Hasan Jabr telah memasuki tahun ke-74. Semoga Allah senantiasa memberikan beliau kesehatan, keberkahan usia, dan keberlimpahan ilmu kepada beliau, sebagai aset berharga bagi umat, inspirasi bagi generasi muda, dan teladan dalam perjalanan para penuntut ilmu.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Amirul Mukminin

Latest