Di Nusantara, banyak dari kita telah mengenal sosok Syekh Ahmad Al-Khathib Al-Minkabawi (Minang), seorang imam dan khatib di Masjidilharam sekaligus mufti mazhab Syafi’i. Ia adalah salah satu guru KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan, pendiri dua organisasi besar di Indonesia yang terus eksis hingga kini. Selain itu, ia juga masyhur dengan banyaknya karya, terutama karyanya yang berjudul Hasyiyah An-Nafahat ‘ala Syarh Al-Waraqat dalam usul fikih.
Sosok alim itu dianugerahi banyak anak, salah satunya adalah Abdulhamid Al-Khathib, seorang alim, sastrawan, sekaligus politikus di Arab Saudi. Ia bernama lengkap Abdulhamid bin Ahmad bin Abdullathif bin Abdullah Al-Khathib Al-Makki Al-Minkabawi Al-Azhari. Dari nisbah yang menempel terakhir di belakang namanya, ia adalah seorang civitas akademika Al-Azhar, nisbah yang membuat sosok ini perlu diperkenalkan kepada khalayak ramai melalui rubrik biografi Tawazun ID.
Masa Pertumbuhan
Syekh Abdulhamid Al-Khathib dilahirkan di Kota Makkah pada 24 Safar 1316 H (13 Juli 1898 M) sebagaimana disebut oleh berbagai sumber pustaka. Namun beda halnya dengan Adham Al-Jundi. Dalam A’lam Al-Adab wa Al-Fan miliknya, ia justru menyebutkan bahwa Abdulhamid Al-Khathib lahir pada tahun 1326 H (1908 M). Bisa jadi hal ini adalah sebuah keluputan dalam penulisan angka 1 dan 2 dalam aksara Arab, yang menjadi penyebab perbedaan antara penanggalan Hijriah dan Masehi, karena yang benar adalah apa yang diriwayatkan oleh banyak sejarawan yang menukil dari Umar Abduljabbar dalam Siyar wa Tarajim, selaku orang yang berinteraksi langsung dengannya.
Nisbah Al-Makki pada namanya merujuk kepada Kota Makkah tempat ia dilahirkan. Meski dilahirkan di sana, ia juga dinisbahkan dengan Al-Minkabawi yang merujuk kepada Minangkabau, tanah kelahiran ayahnya di Indonesia.
Dalam masa pertumbuhannya, ia dididik langsung oleh sang ayah dengan didikan yang baik, sesuai dengan ajaran Islam. Selain itu, ia juga melalui masa pertumbuhannya dengan belajar ilmu dasar kepada sejumlah pembesar ulama di Masjidilharam kala itu, seperti Syekh Sa’id Yamani dan Syekh Umar Bajunaid. Masa-masa ini ia pergunakan untuk mengambil ilmu sebanyak-banyaknya, khususnya dalam bidang sastra Arab.
Pergi ke Mesir
Setelah melalui masa belajar di negeri yang menjadi kiblatnya salat, Abdulhamid Al-Khathib muda melanjutkan jenjang belajarnya di negeri yang menjadi kiblatnya ilmu, yaitu Mesir. Di sini, ia pergi ke Mesir pada masa kepemimpinan Syarif Husain bin Ali Al-Hasyimi. Saat itu ia cukup beruntung, karena saat itu saudaranya yang bernama Abdulmalik Al-Khathib menjadi duta pelajar dari Kerajaan Hijaz Al-Hasyimiyyah (sebelum datangnya keluarga Saud) di Mesir. Pada fase ini ia menetap selama 15 tahun; belajar di Al-Azhar dan bergaul dengan banyak alim ulama.
Selain itu, ia juga berprofesi sebagai reporter di jurnal dan surat kabar Arab, seperti Al-Ahram, Al-Muqaththam, dan Al-Wathan. Ia juga menjadi salah satu pendiri Jam’iyyah Asy-Syubban Al-Hijaziyyin Al-Khairiyyah di Mesir. Sebuah wadah bagi anak-anak Hijaz yang menetap di Mesir sekaligus badan amal. Selama di sini, ia menyempatkan diri untuk mengunjungi Eropa dua kali dalam rangka rekreasi. Hal ini ia lakukan demi melihat dunia Barat yang selama ini hanya bisa ia dengar dan baca dari media. Ditambah, jarak Mesir cukup dekat dengan Eropa bila dibandingkan dengan Hijaz.
Tokoh Kerajaan Arab Saudi
Ketika Kerajaan As-Sa’udiyyah menggulingkan Kerajaan Hijaz Al-Hasyimiyyah dan menduduki Hijaz, Syekh Abdulhamid Al-Khathib termasuk salah satu pendukung Kerajaan Al-Hasyimiyyah. Ia bahkan turut serta dalam Revolusi Ibnu Rafadah yang terjadi pada tahun 1928 M hingga 1932 M.
Ketika Malik Ibnu Saud membebaskan semua tawanan secara umum dan mengampuni peristiwa sebelumnya, ia mengajak Syekh Abdulhamid Al-Khathib dan beberapa rombongannya untuk kembali ke tanah air mereka jika mereka benar-benar ikhlas untuk mengabdi dan saling memahami. Dari jawaban mereka nanti, sang malik akan mempertimbangkannya lagi.
※ Gelora Pembaruan Syekh Hasan Al-'Aththar
Mereka pun akhirnya mau menerima panggilan malik. Beliau pun bertemu dengan malik dan bernegosiasi. Dalam salah satu negosiasi, beliau berkeinginan untuk kembali ke Mesir. Namun, malik ingin beliau tetap berada di Makkah serta melantiknya menjadi anggota parlemen negara. Beliau lalu menerimanya dan menekuni profesi ini hingga tahun 1367 H (1948 M).
Selama menjabat sebagai anggota parlemen, beliau dimandati sebagai ketua utusan perwakilan Kerajaan Arab Saudi ke Indonesia. Apalagi beliau masih memiliki darah Indonesia. Utusan ini diberangkatkan dalam rangka pengakuan Arab Saudi atas Negara Indonesia yang merdeka pada tahun 1945 M. Selama di Indonesia, beliau disambut oleh murid ayahnya dulu yang telah menjadi pembesar ulama dan politikus di Indonesia.
Pada tahun 1367 H (1948 M), Syekh Abdulhamid dilantik menjadi Duta Saudi untuk Negara Pakistan yang merdeka pada tahun 1947 M. Beliau menjadi duta pertama sejak kemerdekaan negara tersebut.
Karya Tulis
Syekh Abdulhamid Al-Khathib meninggalkan banyak karya tulis, baik yang sudah dicetak maupun yang masih berbentuk manuskrip. Beliau tidak menyukai sifat malas dalam dirinya. Karena itu, beliau banyak menulis di surat kabar, majalah, dan karya tulis. Adapun karya tulisnya seperti berikut:
- Munajatullah. Sebuah nazam syair pertamanya seputar munajat kepada Allah pada tahun 1938 M dan disiarkan di Radio Mesir, sampai-sampai ia mendapat sambutan baik atas syair tersebut. Ia juga menazamkan Nahj Al-Burdah;
- Fi Hubbillah wa Rasulihi. Berisi kumpulan kasidah, yaitu Nahj Al-Burdah, Tahiyyah Al-Habib, Hamziyyah Al-Khathib, Banat Su’ad, dan Uhibbuka Ya Rabbi;
- Sirah Sayyidi Walad Adam. Berisi 2 ribu bait yang menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW;
- Asma Ar-Risalat. Kumpulan risalah-risalah seputar dakwah;
- Ta'iyyah Al-Khathib fi Sirah Al-Mushthafa Al-Habib. Berisi 5 ribu bait seputar pujian kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu bait, beliau berharap mendapatkan syafaat Nabi pada hari kebangkitan kelak dengan untaian bait ini;
- Mustaqbaluka fi Yadik. Sebuah ensiklopedia motivasi yang menghimpun 3 buku, yaitu Mata Watsiqta bi Qudratik, Mata ‘Arafta Rabbak, dan Mata Fahimta Haqiqah Nafsik;
- Tafsir Al-Khathib Al-Makki. Tafsir yang berfokus kepada makna linguistik, penjelasan ayat, serta istinbat hukum dan cara memahaminya. Hanya saja beliau wafat sebelum menyempurnakan tafsirnya yang baru rampung 23 juz;
- Jauhar Ad-Din. Berisi penjelasan seputar jalan Islam yang benar dan hakikat berdakwah kepada Allah;
- Muhadharat Al-Khathib bi Al-Masjid Al-Haram. Sebuah catatan muhadarah dan pengajian di Masjidilharam;
- Al-Imam Al-Malik Al-‘Adil. Buku seputar biografi Malik Abdul’aziz; dan
- Hikmah At-Tasyri’ Al-Islami.
Akhir Hayat
Pada tahun 1374 H (1955 M), Syekh Abdulhamid Al-Khathib mengajukan permintaan pensiun kepada Kerajaan Arab Saudi sebab sakit jantung yang dideritanya. Para dokter juga menyerukannya untuk beristirahat dan menetap di daerah yang sejuk. Karena tidak boleh banyak bergerak, beliau pun berdakwah melalui surat kabar dan forum-forum yang sekiranya mampu beliau hadiri.
Setelah pensiun, beliau kemudian pindah ke Desa Az-Zabadani (beberapa sumber lain: Desa Dummar), Damaskus dan menetap di sana. Di samping membangun rumah, beliau juga membangun rumah megah khusus untuk menjadi tempat berkumpul para ulama, penyair, dan penulis.
Beberapa tahun pasca menderita sakit sembari terus berdakwah, beliau kemudian wafat menuju ke hadirat Tuhannya pada fajar hari Selasa, 18 Rabiulawal 1381 H (30 Agustus 1961 M), lalu dimakamkan di sana. Beliau meninggalkan banyak harta benda untuk 18 anaknya. Sebagaimana disebut oleh Adham Al-Jundi dalam kitab A’lam Al-Adab wa Al-Fan, beliau mempunyai banyak gedung dan flat di Mesir dan Jeddah.