Kedatangan dua tokoh agama internasional Syekhul-Azhar, Ahmad Ath-Thayyib pada Juli dan Paus Fransiskus pada tanggal 5 September lalu dapat menjadi angin segar bagi masa depan toleransi umat beragam di Indonesia. Mengingat peran besar mereka berdua dalam melawan intoleransi dan ekstremisme dalam beragama. Meski berbeda dalam agenda kunjungan, keduanya sama-sama membawa misi kemanusiaan dan toleransi antar umat beragama.
Kesamaan visi antara Syekhul-Azhar dan Paus Fransiskus semakin terlihat dalam penyampaian pidato dan poin-poin kerja sama dalam penguatan toleransi antar umat beragama. Keduanya menekankan humanisme dalam beragama: menghormati manusia sejauh ia manusia berikut hak-haknya yang sah. Hal itu bisa dilihat dari sikap keduanya terhadap isu-isu penindasan yang terjadi di dunia.
Misalnya, sikap Syekhul-Azhar terhadap genosida di Palestina, penindasan muslim minoritas di Rohingnya, dan sebagainya. Sementara di sisi lain, Paus Fransiskus yang dalam kepemimpinannya terekam peduli dan perhatian terhadap hak-hak pengungsi dan para pencari suaka di Pulau Lampedusa.
※ Kisah Kedermawanan Syekh Salim Al-Bisyri
Saat di Indonesia, masyarakat menyaksikan kesederhanaan dan wibawa keduanya: Paus Fransiskus yang naik pesawat komersial, menumpangi mobil Innova, dan menginap di hotel kelas bawah. Di sisi lain, Syekhul-Azhar bercerita cita-citanya di akhir jabatannya sebagai Imam Akbar ingin menjadi seorang guru ngaji biasa dan mendirikan kuttab (tempat belajar Al-Quran).
Pada Deklarasi Istiqlal, poin pertama yang diserukan oleh Paus Fransiskus adalah menekankan solidaritas persaudaraan antar umat beragama. Kemudian dikuatkan dengan poin ketiga yang berbunyi, “Oleh karena terdapat satu keluarga umat manusia di seluruh dunia, dialog antar umat beragama harus diakui sebagai sebuah sarana yang efektif untuk menyelesaikan konflik-konflik lokal, regional, dan internasional.”
Di sisi lain, di akhir pidatonya saat di UIN Syarif Hidayatullah Syekhul-Azhar menyinggung pentingnya toleransi antar agama sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Quran. Surah Yusuf ayat 118 menegaskan bahwa manusia secara fitrah memang cenderung berbeda-beda. Jika dalam banyak hal manusia cenderung berbeda, maka—dawuh Imam Akbar—demikian juga manusia akan memiliki perbedaan dalam keyakinannya. Oleh sebab itulah, Allah menjamin perbedaan keyakinan itu di dalam ayat yang lain, “Tidak ada paksaan dalam beragama”.
Di balik kedatangan Syekhul-Azhar dan Paus Fransiskus, ada banyak pelajaran baru yang dapat kita refleksikan dalam beragama. Selain soal toleransi, kesederhanaan, dan pesan-pesan lainnya, kita perlu terlebih dahulu memahami peran penting di balik pertemuan diplomatis tokoh-tokoh agama yang berkunjung ke Indonesia.
Al-Quran
Kumpulan tulisan dengan kata kunci Al-Quran dan cabang ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniPeran Diplomatis Tokoh Agama Internasional
Sepanjang sejarah di dunia, langkah-langkah diplomatis dapat menjadi solusi strategis dalam berbagai masalah: ekonomi, politik, hingga agama. Dalam hubungan internasional, langkah-langkah komunikasi baik bilateral maupun mutilateral, terbukti banyak dilakukan oleh berbagai negara untuk menyelesaikan berbagai masalah. Maka kehadiran Syekhul-Azhar dan Paus Fransiskus lalu bisa dipahami sebagai salah satu langkah diplomatis bilateral antar kedua negara di bidang maslahat keagamaan.
Dalam sejarah NKRI, kita tahu kunjungan-kunjungan Presiden Sukarno ke negara-negara muslim untuk membicarakan isu-isu keagamaan. Bahkan, hubungan Indonesia dan Mesir bisa dilacak sejarahnya sejak masa Presiden Sukarno. Tak hanya Syekhul-Azhar Ahmad Ath-Thayyib yang pertama ke Indonesia. Dari masa ke masa, hampir setiap Syekhul-Azhar pernah melakukan kunjungan ke Indonesia (baca: Kunjungan Para Imam Akbar ke Indonesia Dari Masa ke Masa). Begitu pula kunjungan Paus Fransiskus kemarin menjadi kunjungan ketiga kali, setelah terakhir pada tahun 1989. RI menjadi negara pertama yang dikunjunginya dalam perjalanan apostolik atau kerasulannya ke Asia Pasifik.
Masalah-masalah disintegrasi, intoleransi, dan ekstremisme memang tidak secara langsung terselesaikan dengan acara-acara tersebut. Namun kehadiran mereka pada pertemuan diplomatis tokoh-tokoh agama bisa dipahami sebagai simbol toleransi yang mampu menghilangkan “kegamangan” dan “kekakuan” keberagamaan masing-masing umat beragama di dalamnya.
Selain itu, kedatangan Syekhul-Azhar dan Paus Fransiskus kemarin mencerminkan sikap negara Indonesia yang menjunjung tinggi keberagamaan secara moderat. Baik di dalam tubuh Islam maupun Kristen, masing-masing memiliki persoalan internal tersendiri, yaitu, ekstremisme beragama. Syekhul-Azhar adalah simbol moderatisme Islam, di samping Paus Fransiskus adalah simbol pimpinan tertinggi umat Katolik yang bersikap inklusif, mengedepankan dialog, dan berpihak pada yang lemah.
Dengan demikian, kita berharap kedatangan Syekhul-Azhar dan Paus Fransiskus dapat menjadi masa depan toleransi umat beragama di Indonesia. Terutama untuk menekan corak keberagamaan yang instrumental: kaku dan cenderung pada instrumen-instrumen dogmatis. Sebaliknya, dapat menghadirkan keberagamaan yang humanis, inklusif, dan toleran.
Terakhir dan sebagai penutup, kemarin terdapat momen yang amat menyentuh hati dalam kunjungan Fransiskus. Sebagaimana diberitakan oleh kumparan (4/09/2024), dalam agendanya di Graha Pemuda, kompleks Gereja Katredal Jakarta, terekam sosok ibu bernama Ana Nur Awalia menangis membacakan kesannya selama bekerja menjadi guru di gereja. Ia menyatakan keharuannya karena perlakuan baik umat kristiani yang menyediakan masjid persis di depan gereja tempat ia bekerja. Ia menyebut hal itu sebagai simbol toleransi nyata yang ia amat syukuri. Sontak kesaksian guru muslimah tersebut membuat Paus turut terharu dan mengungkapkan terima kasih. Tabik!