Pada paruh kedua abad 19 M, kajian yang berkaitan dengan fikih menemukan bentuk barunya. Kajian sejarah hukum Islam (tarikh tasyri’) sangat membantu memetakan posisi fikih dan sampai di mana pergerakannya dalam menjawab tantangan zaman. Di samping mempertahankan dan menggali lagi kajian klasik, seperti fikih mazhab, fikih perbandingan mazhab (fiqh muqaran), kaidah fikih dan usul fikih, kajian mengenai maqashid syari’ah juga mulai difokuskan kembali.
Bukan hanya itu, pergulatan dan persaingan dengan hukum yang dibawa oleh para penjajah membawa fikih untuk tampil dengan pakaian yang baru. Hal ini bukan berarti mengubah dan mengganti esensinya. Salah satu tampilan baru dari fikih adalah ia tersaji dalam bentuk nazhariyyah fiqhiyyah. Di mana para pionirnya adalah orang-orang yang di samping bergelut dengan fikih, ia juga berkutat dengan hukum.
Di antara pionir kajian nazhariyyah fiqhiyyah adalah Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah. Beliau merupakan ulama Al-Azhar pertama yang mendapatkan Syahadah Al-‘Alimiyyah min Darajah Al-Ustadz. Beliau juga sangat aktif mengampanyekan kajian nazhariyyah fiqhiyyah lewat sejumlah karyanya. Berikut adalah sepenggal biografinya.
※ Fatwa-fatwa Muslimah Era Kekinian
Masa Muda Ahmad Fahmi Abu Sunnah
Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah lahir di Provinsi Al-Jizah (Giza), Mesir, pada 1909 M. beliau berasal dari keluarga terpelajar dan dari kalangan ulama. Ayahnya merupakan ulama Al-Azhar. Kakeknya juga merupakan seorang ulama.
Ahmad Fahmi Abu Sunnah muda berhasil menghafalkan Al-Quran melalui kakeknya, Syekh Mahmud Khalifah Abu Sunnah. Di samping menghafal Al-Quran, ia juga mempelajari ilmu tajwid dan ilmu nahwu dari sang kakek. Memang di zaman itu, kuttab memiliki peranan penting dalam memberikan pondasi keilmuan kepada anak-anak yang baru mulai belajar menghafal, membaca, dan menulis.
Pada tahun 1921 M, Ahmad Fahmi Abu Sunnah hijrah ke Kairo dan mulai belajar di Al-Azhar. Di pertengahan masa belajar mengajar, banyak para pelajar Al-Azhar yang ikut terjun mendemo kebijakan Inggris yang tidak memihak rakyat. Sehingga di tahun itu, kegiatan belajar-mengajar diberhentikan dan secara otomatis ujian kenaikan kelas juga ditiadakan. Pada tahun ajaran selanjutnya, 1922/1923 M, kegiatan belajar mengajar baru dimulai kembali.
Dalam waktu 4 tahun, Ahmad Fahmi Abu Sunnah berhasil lulus dari jenjang Ibtidaiyyah pada 1926 M. Ia kemudian melanjutkan belajarnya di jenjang Tsanawiyyah pada tahun ajaran 1926/1927 M. Kala itu, Al-Azhar baru menerapkan kurikulum baru di jenjang Tsanawiyyah, di mana materi pelajaran yang diajarkan adalah kombinasi antara kitab-kitab matn dan hasyiyah dalam ilmu syariah dan bahasa dengan materi ilmu umum, seperti IPA, matematika, geografi, dan sejarah. Hal ini diterapkan di masa Syekh Muhammad Abu Al-Fadhl Al-Jizawi menjabat sebagai Syekhul-Azhar.
Jenjang Tsanawiyyah Al-Azhar waktu itu ditempuh selama 5 tahun. Sehingga Ahmad Fahmi Abu Sunnah berhasil lulus Tsanawiyyah pada 1931 M. Di tengah masa belajarnya di Tsanawiyyah, ia mengalami pergantian jabatan Syekhul-Azhar sebanyak dua kali, yaitu Syekh Muhammad Mushthafa Al-Maraghi pada 1928 M dan Syekh Muhammad Al-Ahmadi Adz-Dzawahiri pada 1929 M.
Guru-guru di Jenjang Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah
Selama Sembilan tahun di jenjang Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah, Ahmad Fahmi Abu Sunnah belajar kepada banyak ulama, di antaranya adalah Syekh Yusuf Hijazi sebagai pengajar fikih, Syekh Abdurrauf Ar-Rifa’i sebagai pengajar nahwu, Syekh Muhammad Mudallil dan masih banyak lagi.
Memasuki Jenjang Kulliyyah
Setelah lulus dari jenjang Tsanawiyyah, Ahmad Fahmi Abu Sunnah langsung melanjutkan di jenjang Aliyyah pada tahun ajaran 1931/1932 M. Saat itu kegiatan belajar di jenjang Aliyyah di Al-Azhar masih menggunakan sistem lama, meski qanun perubahan jenjang Aliyyah menjadi Kuliyyah sudah diterbitkan. Sehingga ia belajar dengan sistem lama yang dilaksanakan di Masjid Al-Azhar. Pada tahun itu juga, Kuliyyah Al-Adab (sastra) Universitas Kairo membuka lebar pintunya untuk para pelajar Al-Azhar dan Darul Ulum. Sementara itu, ia sangat tertarik untuk belajar dengan sistem kuliah. Sehingga, ia pun mengikuti pelajaran di Kulliyyah Al-Adab Universitas Kairo.
Selama hampir satu tahun, Ahmad Fahmi Abu Sunnah mengikuti pelajaran di dua institusi ini secara bersamaan. Namun, ketika kegiatan belajar mengajar hampir tuntas di tahun itu, sang ayah mengetahui apa yang dilakukannya. Akhirnya beliau menasihati sang anak untuk kembali ke Al-Azhar dan berusaha meyakinkannya. Apalagi para pengajar di Kulliyyah Al-Adab, seperti Amin Al-Khuli, Ahmad Amin, dan Ibrahim Mushthafa adalah teman-teman ayahnya. Sehingga sang ayah juga berusaha meyakinkan mereka agar Ahmad Fahmi kembali ke Al-Azhar.
Pada 1932 M, Ahmad Fahmi Abu Sunnah berhasil naik tingkat di Al-Azhar, setelah lulus imtihan an-naql (uiian kenaikan). Pada tahun itu pula Al-Azhar secara resmi membuka Kulliyyah-nya dengan tiga fakultas, yaitu Syari’ah, Ushuluddin, dan Bahasa Arab. Dengan demikian, para pelajar yang seangkatan dengannya diperkenankan langsung naik ke tingkat dua. Sementara tempat belajar yang semula berada di Masjid Al-Azhar, bagi Kulliyyah Syari’ah, dipindah ke Ma’had Al-Baramuni di Distrik Sayyidah Zainab yang semula adalah Madrasah Al-Qadha' Asy-Syar’i. Akhirnya, ia bisa menikmati pendidikan sistem kuliah di Al-Azhar. Pada 1935 M, ia berhasil lulus menjadi sarjana Al-Azhar angkatan pertama.
Setelah lulus dari Kulliyyah Syari’ah, ia melanjutkan pendidikannya di jenjang takhashshush (Dirasat Ulya) bidang fikih dan usul fikih. Di jenjang ini, ia juga termasuk angkatan pertama yang menggunakan sistem baru. Karena ia mengambil takhashshush maddah, ia harus menempuh pendidikan selama empat tahun. Jika dinyatakan lulus imtihan, maka untuk mendapatkan gelar Al-‘Alimiyyah min Darajah Al-Ustadz harus menulis risalah (disertasi) yang akan disidangkan di depan khalayak umum.
Pada 1940 M, Ahmad Fahmi Abu Sunnah berhasil menuntaskan risalahnya. Sebelumnya, ia telah diuji oleh tujuh ulama senior Al-Azhar sebagai ujian tahap awal. Tujuh ulama yang dimaksud adalah Syekhul-Azhar Muhammad Mushthafa Al-Maraghi, Mufti Agung Mesir Abdulmajid Salim, Syekh Ibrahim Al-Jabali, Syekh Ahmad An-Nashr, Syekh Muhammad Abdulfattah Al-‘Anani, Syekh ‘Isa Mannun, dan Syekh Mahmud Abu Daqiqah. Ujian tahapan ini sering disebut sebagai ujian Muhadharah dan Ta’yin.
Setelah dinyatakan lulus dari tahapan ini, ia mulai menulis risalah yang berjudul Al-‘Adah wa Al-‘Urf fi Ra’yi Al-Fuqaha wa Al-Ushuliyyin yang selesai pada 1940 M. Pada Januari 1941 M, risalah ini disidangkan di depan khalayak umum. Anggota penguji terdiri dari lima ulama senior Al-Azhar, yaitu Syekhul-Azhar Muhammad Mushtafa Al-Maraghi, Mufti Agung Mesir Syekh Abdulmajid Salim, Syekh Ahmad Ibrahim, Syekh Mahmud Syaltut, dan Syekh Yusuf Al-Marshafi. Tempat untuk menguji risalahnya berada di tempat diselenggarakannya kegiatan belajar mengajar jenjang Kulliyyah Syari’ah, yaitu Ma’had Al-Baramuni, Distrik Sayyidah Zainab.
Hari itu menjadi hari bersejarah bagi Al-Azhar. Sebab di hari itu, risalah pertama Al-Azhar dengan sistem kuliah disidangkan secara terbuka. Orang-orang yang menyaksikan sidang ini berjejal sampai tempat tidak mampu menampungnya. Termasuk di antara yang hadir dalam sidang sebagai tamu undangan adalah Syekh Ahmad Ibrahim Bik, dosen senior di Fakultas Hukum (Kulliyah Al-Huquq), Universitas Kairo, yang juga seorang pakar fikih, usul fikih, dan hukum. Akhirnya Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah berhasil lulus dengan meraih Syahadah Al-‘Alimiyyah min Darajah Al-Ustadz. Syahadah ini pada tahun 1965 M berubah menjadi gelar Doktor.
Kiprah dan Jabatan
Usai mendapat Syahadah Al-‘Alimiyyah min Darajah Al-Ustadz, Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah langsung diangkat menjadi pengajar di Kulliyyah Al-Azhar. Pada 1960/1961 M, beliau mengajar di Universitas Damaskus. Kemudian 1962 M, beliau mengajar di Kulliyyah Al-Huquq (fakultas hukum) Universitas Libya. Pada 1967 M, beliau mengajar di Universitas Baghdad. Pada 1972 M, beliau mengajar di Universitas Ummul Qura, Makkah.
Pada 1980 M, Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah diangkat menjadi anggota Majma Al-Buhuts Al-Islamiyyah. Pada 1983 M, beliau diangkat menjadi anggota Al-Majma’ Al-Fiqhi yang berada di bawah naungan Rabithah Al-‘Alam Al-Islami. Dan di tahun itu juga, beliau mendapat kehormatan sebagai peraih bintang kehormatan tingkat pertama di bidang ilmu dan seni tepat di hari ulang tahun Al-Azhar yang ke-1000 tahun.
Karya
Di samping berkiprah sebagai professor di sejumlah Universitas Al-Azhar, Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah juga aktif menulis karya. Di antara karyanya adalah sebagai berikut :
1. Al-‘Urfu wa Al-‘Adah fi Ra’yi Al-Fuqaha wa Al-Ushuliyyin
2. Kitab Al-Washith fi Ushul Al-Fiqh
3. Nadhariyyah Al-Haq fi Al-Fiqhi Al-Islami
4. Huquq Al-Mar’ah As-Siyasiyyah fi Al-Islam
5. Nadhariyyah Al-‘Aqd fi Al-Fiqhi Al-Islamy
6. ‘Aqdu Az-Zawaj
7. Maqashid Asy-Syari’ah
8. Al-Iqtishad Al-Islami
9. Muhadharat fi Ushul Al-Fiqh
10. Nadhariyyah Al-‘Aqd wa Nadhariyyah Al-Milki wa Nadhariyyah Adh-Dhaman
Kontribusi dalam Kajian Teori Hukum Islam
Kajian fikih melalui nazhariyyah fiqhiyyah digawangi oleh para pakar fikih yang sekaligus pakar hukum. Di Mesir, kajian ini mulai terlihat melalui sosok Syekh Ahmad Ibrahim Bik. Kemudian, dilanjutkan oleh sejumlah muridnya, seperti Syekh Muhammad Abu Zahrah, Syekh ‘Ali Khafif, dan Syekh Abdulwahhab Khalaf. Kemudian disusul dengan nama Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah dan Syekh Mahmud Syaukat Al-‘Adawi, mantan dekan Fakultas Syari’ah wa Al-Qanun Universitas Al-Azhar. Tokoh di atas memiliki sejumlah karya yang mengkaji secara khusus teori hukum Islam.
Di saat yang sama, di Negeri Syam juga muncul nama Syekh Mushthafa Az-Zarqa. Tokoh ini juga terhitung sebagai pionir kajian nazhariyyah fiqhiyyah sebelum nama Syekh Wahbah Az-Zuhaili, Syekh Fathi Ad-Darini, dan generasinya mengudara.
Dalam sebuah muktamar, Syekh Musthafa Az-Zarqa pernah berbeda pandangan dengan Syekh Muhammad Abu Zahrah. Syekh ‘Ali Khafif sependapat dengan pandangan Syekh Musthafa Az-Zarqa. Sementara Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah sependapat dengan Syekh Muhammad Abu Zahrah. Hal ini semakin memperjelas posisi Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah sebagai tokoh yang sefrekuensi dengan tiga tokoh tersebut. Apalagi kemudian muktamar memutuskan sesuai dengan pendapat Syekh Muhammad Abu Zahrah.
Mungkin untuk lebih memperjelas status Syekh Abu Sunnah sebagai pionir, kita bisa melihat sejumlah karyanya yang membawa nama nazhariyyah. Hal ini cukup sebagai bukti bahwa beliau merupakan salah satu pionir kajian di bidang ini, terutama di Al-Azhar. Di samping itu, beliau juga pakar di bidang maqashid syari’ah.
Akhir Hayat
Setelah menjalani khidmah yang begitu panjang, Syekh Ahmad Fahmi Abu Sunnah memenuhi panggilan Rabbnya untuk kembali kepada-Nya. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada 23 Rajab 1424 H (20 September 2003 M) pada usia yang cukup senja. Setelah disalatkan, jenazah beliau disemayamkan di kampung halamannya di Al-Jizah, Mesir. Semoga rahmat dan berkah-Nya selalu mengalirinya, Amin…