Ia bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Syalabi bin Nashr Al-‘Adawi Al-Maliki Al-Azhari, yang lahir pada tahun 1275 H (1859 M) di Desa Bani ‘Adi, Markaz Manfaluth, Provinsi Asyuth, daerah Sha’id Mesir. Di sanalah beliau menghafal Al-Quran, tepatnya di kuttab (taman belajar baca tulis Al-Quran) milik Syekh ‘Urabi Al-‘Adawi.
Ia hidup di tengah perkampungan yang dikenal sebagai penghasil para pembesar ulama di tiap masanya. Pembelajaran di masa kecilnya pun diisi dengan mempelajari dasar-dasar keilmuan. Ia belajar kepada Syekh Hasan bin Ahmad Ar-Rifa’i Al-Harawi Al-‘Adawi. Setelah itu, ia pergi ke Kairo untuk belajar di Al-Azhar. Di tempat ini, ia belajar kepada Syekh Abdurrahman Asy-Syirbini, Syekh Muhammad Khathir Al-‘Adawi, Syekh Muhammad Ali Al-Basyuni, Syekh Muhammad ‘Antar, Syekh Muhammad Ar-Rubi, Syekh Al-Buhairi, dan pembesar ulama lainnya.
Masa Pengabdian
Berkat pembelajarannya di bawah bimbingan para pembesar ulama Al-Azhar saat itu, Syekh Ahmad Nashr memperoleh lisensi tertinggi, yakni lisensi mengajar (Syahadah Al-Idzni bi At-Tadris) derajat pertama pada tanggal 29 Rajab 1309 H (27 Februari 1892 M), tepatnya ketika umur 34 tahun. Tidak diketahui dengan pasti apakah yang dimaksud dengan syahadah di sini adalah Syahadah Al-‘Alimiyyah. Karena, narasi yang ada dalam kitab Haiah Kibar Al-‘Ulama fi Siyar A’lamiha Al-Qudama yang merujuk kepada arsip lama Al-Azhar adalah Syahadah Al-Idzni bi At-Tadris. Namun, pada catatan kaki tertulis dengan narasi ‘Daftar ulama sesuai dengan urutan tanggal ujiannya dan alumni dari tahun 1287 H (1870 M) sampai 1343 H (1924 M)’. Dari hal itu, bisa saja yang dimaksud adalah tanggal Syekh Ahmad Nashr memperoleh Syahadah Al-‘Alimiyyah. Karena, Syahadah tersebut juga menjadi syarat diperbolehkannya mengajar. Apalagi beliau mendapatkan derajat pertama. Ala kulli hal, Syekh Ahmad Nashr diberi izin mengajar di Al-Azhar di umur tersebut.

Pada tahun 1321 H (1903 M), setelah memasuki umur 46 tahun, beliau dilantik menjadi wakil Riwaq Ash-Sha’ayidah, hunian di Masjid Al-Azhar untuk para talib asal Sha'id Mesir. Beliau adalah wakil yang dilantik secara resmi semenjak berdirinya riwaq tersebut. Di samping itu, beliau juga mengajar di Madrasah Al-Qadha Asy-Syar’i hingga pensiun pada tahun tahun 1341 H (1922 M) di umur 66 tahun.
Meskipun telah pensiun mengajar di sana, beliau tetap berkiprah di tempat lainnya, seperti menjadi anggota Majlis Idarah Qism At-Takhashshush di Masjid Al-Azhar tahun 1342 H (1923 M), Majlis Asy-Syuyukh tahun 1343 H (1924 M), Syekh Riwaq Ash-Sha’ayidah tahun 1350 H (1931 M), Syekh As-Sadah Al-Malikiyyah tahun 1351 H (1932 M), anggota Majlis Al-Azhar Al-A’la tahun 1353 H (1934 M), ketua Lajnah Imtihan Syahadah Al-‘Alimiyyah baik dengan sistem lama maupun baru, Lajnah Dukturah dan Takhashshush, pengajar di Darul Ulum, dan masih banyak lagi.
Manakib dan Kedudukan
Kehidupan Syekh Ahmad Nashr dipenuhi dengan majelis ilmu, belajar-mengajar, dan kebaikan. Syekh Muhammad Hamid Al-Jirjawi berkata, “Beliau adalah salah satu ulama yang mulia dan pembesarnya orang-orang yang bertakwa, wara’, dan zuhud.”
Syekh Muhammad Ali Makhluf berkata, “Beliau itu adalah hujah di dalam mazhab Maliki, senantiasa mengikuti jalan para salafussalih, dan banyak membaca Al-Quran. Beliau selalu melanggengkan wirid, membenci suap, mencari muka, dan tidak setuju dengan beberapa peraturan baru yang dimasukkan ke dalam pembelajaran Al-Azhar. Sosok beliau disegani dan penuh wibawa, jarang bepergian ke tempat-tempat yang berisi kelakar, dan tidak mementingkan gemerlap kehidupan dunia modern sama sekali. Kebanyakan para pembesar ulama adalah muridnya.”
Melihat kedudukannya yang tinggi, beliau dinobatkan sebagai salah satu anggota Haiah Kibar Al-‘Ulama di masa awal pembentukannya sebagai representasi mazhab Maliki. Beliau dilantik pada tanggal 6 Zulkaidah 1329 H (28 Oktober 1911 M) sekaligus diberi anugerah kenegaraan, yakni Kiswah Tasyrifiyyah derajat pertama.
Karangan
Selain mengajar dan mengemban banyak amanah besar di berbagai bidang, Syekh Ahmad Nashr masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya. Di antaranya:
- Syarh Mabadi Al-‘Ulum. Sebuah buku berkenaan dengan pengantar keilmuan dari tiap-tiap bidang atau yang telah dikenal oleh pelajar agama dengan nama mabadi ‘asyrah. Masih berbentuk manuskrip di Perpustakaan Al-Azhar dengan kode umum 48877, kode khusus 2886, ma’arif ‘ammah.
- Tarjamah li Abi Zaid Al-Qairuwani Shahib Ar-Risalah. Tidak diketahui apakah tulisan ini berbentuk manuskrip atau sudah dicetak. Juga tidak ada informasi apakah karangan ini berbentuk buku, risalah kecil, ataupun hanya sekedar artikel.
- Edisi teks (tahqiq) atas kitab Mukhtashar Khalil dalam fikih Mazhab Maliki. Disebut-sebut bahwa suntingan terbagus untuk Mukhtashar Khalil adalah yang digarap oleh beliau ini. Kitab ini diterbitkan oleh Maktabah Dar Al-Fikr pada tahun 1401 H (1981 M).

Akhir Hayat
Selama hidup, Syekh Ahmad Nashr mendapat anugerah murid-murid yang cerdas dan gemilang, kelak menjadi tokoh di masanya, seperti Syekh Ahmad Ash-Shiddiq Al-Ghumari, Syekh Syihabuddin Al-Hasan Al-Idrisi Al-Maghribi, dan Syekh Isa Manun. Setelah mencetak tokoh-tokoh besar, beliau kemudian memenuhi panggilan Tuhannya di umur lebih dari 84 tahun.
Mengenai kalender wafat Syekh Ahmad Nashr, terdapat lima perbedaan riwayat di berbagai sumber yang berkisah tentang beliau:
1. 23 Muharam 1359 H (2 Maret 1940 M) sebagaimana yang tertulis di depan papan gerbang pintu pemakaman keluarga beliau. Namun, 23 Muharam tahun tersebut bertepatan dengan 3 Maret, bukan 2. Akan tetapi, bisa saja kalender yang tertera itu benar dengan anggapan bahwa beliau meninggal setelah waktu Magrib 2 Maret. Jika demikian, maka kalender Hijriah yang siang harinya 22 Muharam, ketika Magrib telah berubah menjadi tanggal 23 Muharam.
2. 28 Muharam 1359 H (28 Maret 1940 M) sebagaimana yang ada di dalam kitab Jamharah A’lam Al-Azhar Asy-Syarif karangan Syekh Usamah Al-Azhari. Namun, 28 Muharam tahun tersebut bertepatan dengan 8 Maret alih-alih 28 Maret.
3. 17 Ramadan 1360 H (5 Oktober 1941 M) sebagaimana yang ada dalam kitab Dzail Tarikh Al-Jabartikarangan Sayid Hasan Qasim.

4. Tahun 1338 H (1919 M) sebagaimana yang tercantum dalam kitab Al-Ifta Al-Mishri karangan Dr. ‘Imad Hilal. Dibandingkan dengan pendapat lainnya, pendapat ini terbilang yang paling lemah karena hanya menyertakan tahun dan tanpa argumentasi yang kokoh.
5. 22 Muharam 1359 H (2 Maret 1940 M) sebagaimana yang ada dalam kitab Haiah Kibar Al-‘Ulama fi Siyar A’lamiha Al-Qudama.
Dari kelima pendapat tersebut, nomor satu dan lima sejatinya adalah pendapat yang sama, hanya berbeda dalam menuliskan tarikh Hijriahnya. Adapun tarikh Masehinya, kedua pendapat itu sama, tanpa perbedaan. Dan sudah barang tentu, pendapat nomor satu dan lima adalah yang tepat. Yang nomor satu karena tertulis di depan gerbang makam beliau sendiri, sedangkan yang nomor lima karena sumber yang ada di kitab Haiah Kibar Al-‘Ulama langsung merujuk kepada kitab Tarikh Bani ‘Adi karangan Muhammad Ali Makhluf, orang yang sezaman dengan Syekh Ahmad Nashr Al-‘Adawi.
Jenazah beliau diiring ke tempat beliau biasa mengaji, yakni di salah satu sisi di Masjid Al-Azhar untuk disalatkan di sana. Salat jenazah langsung dipimpin oleh Syekhul-Azhar kala itu, yakni Syekh Muhammad Mushthafa Al-Maraghi. Setelahnya, jasad beliau dibawa ke pemakaman keluarganya di Qarafah Mamalik, bersampingan dengan pemakaman keluarga Syekh Abdulhakam ‘Atha. Setelah wafat, semua buku-buku koleksi perpustakaan pribadi beliau diwakafkan ke Maktabah Al-Azhar oleh para ahli waris.
