Syekh Ahmad Umar Hasyim: Puasa Menanamkan Ketakwaan dan Menguatkan Jiwa Pejuang
TAWAZUN.ID — Syekh Prof. Dr. Ahmad Umar Hasyim, anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar, menegaskan bahwa puasa adalah ibadah agung yang diwajibkan oleh Allah agar seorang muslim mencapai derajat ketakwaan. Pernyataan ini disampaikannya dalam dars tarawih di Masjid Al-Azhar pada Senin (10/03/2025) malam.
Dalam ceramahnya, Syekh Ahmad Umar Hasyim mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Surah Al-Baqarah: 183)
Beliau menjelaskan bahwa puasa tidak sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi memiliki dampak lebih luas, yaitu menanamkan akhlak dan nilai-nilai luhur yang terus melekat dalam kehidupan seorang muslim. Menurut beliau, Ramadan adalah momentum pelatihan rohani yang membentuk karakter dan kebiasaan baik yang berlanjut setelah bulan suci ini berlalu.
Puasa sebagai Latihan Keikhlasan dan Kesabaran
Syekh Ahmad Umar Hasyim menekankan bahwa puasa mengajarkan keikhlasan karena seorang muslim menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, baik di hadapan orang lain maupun saat sendirian. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah puasa hanya diketahui oleh Allah, sebagaimana disampaikan dalam hadis qudsi:
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya.”
Selain itu, beliau juga menyoroti bahwa puasa menanamkan nilai kesabaran dan pengendalian diri. Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa adalah perisai. Maka, jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah ia berteriak-teriak. Jika seseorang mencaci maki atau menyerangnya, hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa.'”
Menurut Syekh Ahmad Umar Hasyim, ajaran ini mengajarkan bahwa seorang muslim harus tetap menjaga lisannya, bersikap pemaaf, dan menahan diri dari konflik meskipun dalam kondisi sulit.
Beliau juga menyoroti bahwa puasa melatih seorang muslim untuk memiliki sikap pemaaf dan toleran terhadap sesama. Hal ini sejalan dengan firman Allah:
“Tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan) dengan perilaku yang lebih baik sehingga orang yang ada permusuhan denganmu serta-merta menjadi seperti teman yang sangat setia.” (Surah Fussilat: 34)
Beliau menjelaskan bahwa Islam mengajarkan sikap pemaaf dan toleran di setiap waktu dan tempat, termasuk dalam menghadapi perbedaan dan perselisihan di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, bulan Ramadan menjadi momen penting untuk menumbuhkan sikap sabar, memaafkan, dan menghindari perdebatan yang tidak perlu.
Ramadan sebagai Bulan Kemenangan
Lebih lanjut, Syekh Ahmad Umar Hasyim menyebut Ramadan sebagai bulan kemenangan bagi umat Islam, baik di masa lalu maupun masa kini. Sejarah mencatat bahwa beberapa peristiwa besar terjadi di bulan Ramadan, di antaranya:
- Perang Badar – Peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang terjadi pada 17 Ramadan, di mana kaum muslimin meraih kemenangan besar meskipun jumlah mereka jauh lebih sedikit dari pasukan Quraisy.
- Fathu Makkah – Pada 20 Ramadan, Rasulullah SAW dan pasukannya berhasil membebaskan Makkah tanpa pertumpahan darah, sebuah bukti kemenangan yang diraih dengan keimanan dan strategi yang matang.
- Perang 10 Ramadan (Perang Yom Kippur/Oktober 1973) – Tentara Mesir yang berpuasa berhasil meraih kemenangan melawan pasukan Israel di Terusan Suez. Beberapa tentara Mesir bahkan mengatakan, “Kami tidak akan berbuka kecuali di surga,” yang mencerminkan semangat keimanan dan pengorbanan.
Dari berbagai peristiwa tersebut, Syekh Ahmad Umar Hasyim menekankan bahwa Ramadan bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga momentum untuk meningkatkan semangat juang, pengorbanan, dan persatuan di kalangan umat Islam.
Puasa sebagai Jalan Menuju Kemenangan atas Diri Sendiri
Menurut Syekh Ahmad Umar Hasyim, kemenangan terbesar yang dapat dicapai seorang muslim di bulan Ramadan adalah kemenangan atas hawa nafsu dan godaan dunia. Ramadan menjadi kesempatan untuk berlatih menahan diri, melatih kesabaran, serta meningkatkan hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
Beliau mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjadikan Ramadan sebagai waktu beribadah semata, tetapi juga sebagai momen memperbaiki diri, memperkuat spiritualitas, dan menanamkan kebiasaan baik yang dapat terus dipertahankan setelah Ramadan berakhir. Dengan demikian, nilai-nilai yang diperoleh dari bulan suci ini akan tetap hidup dalam kehidupan seorang muslim sepanjang tahun.
Sebagai penutup, Syekh Ahmad Umar Hasyim menegaskan pentingnya memanfaatkan Ramadan sebaik mungkin untuk meraih kemenangan dalam berbagai aspek kehidupan—baik dalam hubungan dengan Allah, sesama manusia, maupun dalam pengendalian diri. “Ramadan bukan sekadar waktu untuk berpuasa, tetapi sebuah pelatihan hidup yang membawa kita menuju ketakwaan sejati,” pungkasnya.