Syekh ‘Athaullah Al-Mishri memiliki peranan penting dalam semarak keilmuan di Al-Haramain. Namanya sering disebut dalam jejaring ulama abad ke-18 M, terutama yang berkaitan dengan ulama Nusantara. Dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, Prof. Azyumardi Azra menyebut bahwa beliau dianggap memiliki isnad unggul. Maka, wajar jika sejumlah ulama Nusantara masuk dalam daftar murid ulama Al-Azhar ini.
Meski namanya sering disebut, biografi Syekh ‘Athaullah Al-Mishri tidak tercantum dalam ‘Ajaib Al-‘Atsar karya Al-Jabarti. Padahal, Al-Jabarti kerap menyebut namanya dalam biografi ulama lain. Namun, guru Al-Jabarti, Syekh Muhammad Murtadha Az-Zabidi, memberikan gambaran yang cukup mengenai sosok Azhari ini. Az-Zabidi menyebutkan biografi Syekh ‘Athaullah dalam dua kitabnya, yaitu Al-Mu’jam Al-Mukhtash dan Tarajim Faridah. Kitab terakhir ini dihimpun oleh Sayyid Mushtafa bin ‘Abdurrahman Al-‘Aidarus dan disempurnakan oleh Az-Zabidi. Berikut adalah biografi singkat Syekh ‘Athaullah Al-Mishri.
※ Menilik Sejarah Penggunaan Nisbah Al-Azhari
Beliau bernama lengkap ‘Athaullah bin Ahmad bin ‘Athaillah bin Ahmad Al-Mishri Asy-Syafi’i Al-Azhari Al-Makki. Nisbah Al-Mishri menandakan asalnya dari Mesir, Asy-Syafi’i menunjukkan mazhab fikih yang dianutnya, sementara Al-Azhari merujuk pada tempat beliau belajar dan mengajar sebelum hijrah ke Hijaz. Kata Al-Makki menunjukkan bahwa beliau berkiprah dan menetap di Makkah. Hal ini disebutkan oleh Az-Zabidi dalam Alfiyyah As-Sanad. Dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash dan Tarajim Faridah, ia juga disebut dengan frasa Nazil Makkah (berdomisili di Makkah). Keberadaan ulama Al-Azhar di Hijaz telah berlangsung lama, terutama sejak hijrahnya Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami ke Kota Makkah.
Syekh ‘Athaullah Al-Mishri lahir di Mesir diperkirakan pada tahun 1097 H (1686 M). Hal ini didasarkan pada keterangan Az-Zabidi yang menyebut bahwa beliau wafat pada 1187 H (1773 M) dalam usia 90 tahun. Namun, keterangan ini perlu ditelaah kembali, mengingat Az-Zabidi juga menyebut bahwa beliau berguru kepada Syekh Muhammad Al-‘Anani yang wafat pada 1098 H (1687 M). Jika benar demikian, maka Syekh ‘Athaullah kemungkinan lahir sebelum tahun itu, sebab seorang bayi berusia satu tahun tentu belum memungkinkan untuk belajar ilmu, kecuali dalam konteks periwayatan sanad. Hal ini sering terjadi di kalangan ulama, seperti sanad Syekh Jalaluddin As-Suyuthi (849-911 H) yang menerima langsung dari Syekh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (773-852 H), Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami dari Syekh Jalaluddin As-Suyuthi, atau sanad Syekh Syamsuddin Al-Babili (1000-1078 H) dari Syekh Syamsuddin Ar-Ramli (919-1004 H).
Az-Zabidi tidak menyebutkan secara spesifik daerah kelahiran Syekh ‘Athaullah Al-Mishri dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash maupun Tarajim Faridah. Namun yang jelas, beliau tinggal di Kairo dan belajar kepada sejumlah ulama Al-Azhar, di antaranya Syekh Muhammad Al-‘Anani (w. 1098 H), Syekh Syihabuddin Ahmad Al-Khalifi (w. 1127 H), Syekh ‘Id An-Numrusi (w. 1140 H), Syekh Sayyid Ali As-Siwasi Al-Hanafi (w. 1148 H), Syekh Syamsuddin Muhammad As-Sijini (w. 1158 H), Syekh Mushthafa Al-‘Azizi (w. 1160 H), dan Syekh Abdulwahhab Ath-Thantadawi. Beberapa dari mereka merupakan murid langsung Syekh Syamsuddin Al-Babili dan Syekh Ali Asy-Syubramillisi.
Setelah menetap di Kairo dalam waktu lama untuk belajar dan mengajar, Syekh ‘Athaullah Al-Mishri akhirnya hijrah ke Haramain dan tinggal di Makkah. Motif hijrahnya tidak diketahui secara pasti, tetapi mungkin ia mengikuti jejak gurunya, Syekh Abdulwahhab Ath-Thantadawi, yang juga bermukim di kota suci tersebut. Di Makkah, beliau menghabiskan waktunya untuk mengajar murid dari berbagai penjuru dunia. Selain itu, beliau juga aktif dalam halaqah keilmuan yang diasuh oleh Syekh Abdullah Al-Bashri dan Syekh Ahmad An-Nakhli, dua ulama Makkah yang merupakan murid langsung dari Syekh Syamsuddin Al-Babili.
Masjidil Haram, sebelum direnovasi oleh pemerintah Arab Saudi, memiliki 26 bab (pintu), sebagaimana disebutkan oleh Husain Abdullah Basalamah dalam Tarikh ‘Imarah Al-Masjid Al-Haram. Salah satu pintunya bernama Bab Ziyadah Dar An-Nadwah, tempat di mana Syekh ‘Athaullah Al-Mishri menyebarkan ilmunya. Beberapa muridnya antara lain Syekh Ibrahim Rais Az-Zamzami, Syekh Shalih Al-Fullani, Syekh Abdullah Al-Jauhari, Syekh Sayyid Sulaiman bin Yahya Al-Ahdal, dan Syekh Muhammad Murtadha Az-Zabidi.
Dari kalangan ulama Nusantara, murid-murid Syekh ‘Athaullah Al-Mishri yang tercatat antara lain Syekh Abdushshamad Al-Falimbani, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, dan Syekh Muhammad ‘Asyiquddin bin Shafiyyuddin Al-Falimbani. Hal ini dapat ditemukan dalam An-Nafas Al-Yamani karya Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman Al-Ahdal, Al-‘Iqd Al-Farid karya Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani, dan Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII karya Prof. Azra. Bahkan, disebutkan bahwa Syekh Abdulwahhab Bugis, Syekh Abdurrahman Al-Mishri Al-Batawi, dan Syekh Daud Al-Fathani kemungkinan juga pernah berguru kepadanya. Hal ini semakin memperjelas hubungan erat antara ulama Nusantara dan Al-Azhar.
Prof. Azyumardi Azra menggambarkan Syekh ‘Athaullah Al-Mishri sebagai seorang pemilik isnad unggul. Ini menunjukkan bahwa para ulama Nusantara berguru kepadanya karena sanad yang dimilikinya. Namun lebih dari itu, beliau juga dikenal sebagai pakar ilmu logika dan disiplin ilmu ‘aqliyyah lainnya. Az-Zabidi dalam Alfiyyah As-Sanad memuji beliau dengan ungkapan:
“Di antara guru-guruku ada seorang yang sangat alim dalam ilmu aqliyyah, serta pakar dalam furu’ dan ushul.”
Kutipan ini membantah anggapan bahwa beliau hanya ahli dalam sanad dan periwayatan. Sebaliknya, ia juga memiliki kontribusi besar dalam penguatan keilmuan ulama Nusantara. Sehingga di kemudian hari, manfaat dan berkah yang ditularkan masih bisa dirasakan sampai kepada generasi kita.
Beberapa karya Syekh ‘Athaullah Al-Mishri yang disebut dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash meliputi Mathla’ Al-Burhan min Thawali’ Al-Mizan (mantik), Risalah fi Adab Al-Bahts beserta syarah dan hasyiyahnya, Tuhfah Ahli Al-‘Ashr bi Al-Maqulat Al-‘Asyr, serta Al-Ushul Al-Muhimmah min Mawarits Al-Ummah beserta syarahnya yang berjudul Al-Fushul Al-Muhimmah, Arba’una Su'alan yang membahas hadits Musalsal bi Al-Awwaliyyah dan lainnya.
Sementara itu, dalam Tarajim Faridah, disebutkan karya lain, yaitu Mansak fi Al-Madzahib Al-Arba’ah yang membahas fikih. Selain itu, Az-Zirikli dalam Al-A’lam menyebut beberapa karya tambahan, seperti Nafhah Al-Jud fi Wahdah Al-Wujud (tasawuf), Mantiq Al-Hadhir wa Al-Badi, Hasan As-Sair bi Qashidah Ka’ab bin Zuhair, Thariq Ar-Rasyad ila Tahqiq Banat Su’ad (ringkasan dari kitab sebelumnya), Nihayah Al-Arab fi Syarh Lamiyyah Al-‘Arab, dan Syarh Lamiyyah Ibni Al-Wardi. Daftar ini semakin menegaskan kedalaman keilmuan beliau. Tidak hanya dikenal sebagai pemilik sanad tinggi dan ahli dalam ilmu aqliyyah, Syekh ‘Athaullah juga merupakan pakar bahasa dan tasawuf. Bahkan, Az-Zabidi dalam Al-Mu’jam Al-Mukhtash menyebut bahwa jumlah karya yang ditulisnya mencapai lima puluh kitab.
Setelah mengabdikan hidupnya di dunia keilmuan, Syekh ‘Athaullah Al-Mishri wafat pada 1187 H dan dimakamkan di Makkah. Az-Zabidi mencatat bahwa beliau meninggal dalam usia 90 tahun, sehingga dapat disimpulkan bahwa kelahirannya terjadi pada 1097 H, sebagaimana disebutkan di awal tulisan. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan keberkahan kepadanya. Amin.
