Skip to content

Syekh Jamaluddin Abdullah bin Ali Al-Kharasyi, Sosok Ayah Syekhul-Azhar Pertama

Riwayat hidup ulama besar Al-Azhar dari abad ke-11 Hijriah. Seorang tokoh mazhab Maliki di zamannya. Ayah Syekhul-Azhar Muhammad Al-Kharasyi.

FOTO Kompleks Makam Syekh Abdullah Al-Kharasyi dan putranya, Syekhul-Azhar Muhammad Al-Kharasyi.
FOTO Kompleks Makam Syekh Abdullah Al-Kharasyi dan putranya, Syekhul-Azhar Muhammad Al-Kharasyi.

Ia bernama lengkap Jamaluddin Abdullah bin Ali Al-Kharasyi Al-Maliki. Kata Jamaluddin merupakan nama laqab (julukan) yang melekat dengan nama aslinya. Kata Al-Kharasyi merupakan sebuah nisbah yang merujuk pada sebuah desa yang bernama Abu Kharasy. Secara administratif, desa tempat Al-Kharasyi berasal berada di Provinsi Al-Buhairah, Mesir. Sedangkan kata Al-Maliki merupakan nisbah yang merujuk pada mazhab fikih Maliki yang dianutnya.

Tahun kelahiran, masa kecil, dan pertumbuhan Al-Kharasyi terbilang jarang disorot dalam kamus biografi klasik. Bahkan buku-buku yang menjelaskan biografi para tokoh Malikiyyah tidak ada yang menyebutkan secara spesifik biografinya.

Fakta ini menyisakan ironi tersendiri, sebab putranya yang namanya sangat harum di kemudian hari, yakni Muhammad bin Abdullah Al-Kharasyi belajar kepadanya, sebagaimana disebut oleh Al-Jabarti dan sejarawan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa Abdullah Al-Kharasyi merupakan ulama besar Al-Azhar. Namun mengapa namanya cenderung sulit ditemukan di buku-buku biografi klasik?

Kegundahan ini juga dirasakan oleh beberapa kawan peneliti lain. Dan bahkan oleh para peneliti biografi spesifik Syekhul-Azhar Muhammad Al-Kharasyi, Syekhul-Azhar pertama. Hal ini terus berlanjut hingga suatu hari ada kawan yang menyodorkan sebuah dokumen berisi manuskrip yang berjudul Mufakahah Al-Kurama karya Syekh Ibrahim bin Amir Al-‘Ubaidi. Sungguh karya ini mampu membuat dahaga yang telah kian lama bersemayam menjadi sirna. Di dalamnya terdapat cahaya cerah yang mampu menyinari langkah untuk menuliskan lebih lanjut biografi Abdullah Al-Kharasyi, Sang Ayah dari Syekhul-Azhar Pertama.

Meski dalam manuskrip ini tidak ada penyebutan tahun kelahiran Abdullah Al-Kharasyi, namun daftar nama guru dan muridnya disebutkan secara jelas. Ia belajar kepada beberapa ulama Al-Azhar terkemuka. Di antaranya adalah sebagai berikut :

1- Syekh Muhammad bin Salamah Al-Binufari (w. 998 H).

Beliau merupakan murid dari Syekh Nashiruddin Al-Laqani (w. 958 H) dan Syekh Abdurrahman Al-Ujhuri (w.957 H). Di akhir hayatnya, Syekh Al-Binufari menjadi ulama Malikiyyah yang paling senior. Sehingga mayoritas ulama Malikiyyah di masa itu adalah muridnya. Abdullah Al-Kharasyi pernah pergi haji bersama sang guru.

2- Syekh Salim bin Muhammad As-Sanhuri (945-1015 H).

Beliau merupakan salah satu murid dari Syekh Al-Binufari, Syekh Nashiruddin Al-Laqani dan Syekh Najmuddin Al-Ghaithi (910-983 H)

3- Syekh Abu Bakar Asy-Syanawani (959-1019 H).

Beliau merupakan murid dari Syekh Syamsuddin Ar-Ramli (919-1004 H), Syekh Ahmad bin Qasim Al-‘Abbadi (w. 994 H) dan Syekh Ibrahim Al-‘Alqami (923-997 H).

Tiga ulama ini adalah guru yang disebutkan oleh Al-‘Ubaidi. Namun, hal ini bukan berarti gurunya hanya tiga pembesar ulama Al-Azhar ini. Sebab, jika melihat para tokoh yang hidup sezamannya, hal ini tidaklah wajar. Pada umumnya para talib Al-Azhar saat itu mendatangi banyak halakah yang digelar oleh para ulama Al-Azhar.

Alim Ulama Sezaman

Di antara ulama Al-Azhar yang sezaman dengan Syekh Abdullah Al-Kharasyi adalah sebagai berikut:

Ulama Malikiyyah

1- Syekh Burhanuddin Ibrahim Al-Laqani (w. 1040 H)

2- Syekh Nuruddin Ali Al-Ujhuri (w. 1066 H)

3- Syekh Jamaluddin Yusuf Al-Fisyi (w. 1061 H)

Ulama Syafi’iyyah

1- Syekh Nuruddin Ali Az-Zayyadi (w. 1024 H)

2- Syekh Nuruddin Ali Al-Halabi (w. 1044 H)

3- Syekh Salim Asy-Syabsiri (w. 1019 H)

Budaya

Kumpulan tulisan dengan topik kebudayaan Islam dapat kalian temukan

di sini

Ulama Hanafiyyah

1- Syekh Muhammad Al-Muhibbi Al-Hanafi (w. 1041 H)

2- Syekh Abdul Qadir Ath-Thuri Al-Hanafi (w. 1026 H)

Ulama Hanabilah

1- Syekh Abdurrahman bin Yusuf Al-Buhuti Al-Hanbali (w. 1089 H). Beliau merupakan ulama umurnya mencapai 130 tahun lebih. Beliau merupakan murid Syekh Khatib Asy-Syirbini, Syekh Taqiyyuddin Al-Futuhi Al-Hanbali, Syekh Yusuf putra Syekh Zakariyya Al-Anshari sekaligus murid dari beberapa murid Imam As-Suyuthi.

2- Syekh Yahya bin Musa Al-Hajjawi Al-Hanbali

3- Syekh Manshur Al-Buhuti Al-Hanbali (w. 1051 H)

Setelah beberapa tahun belajar kepada para guru tersebut di atas, Abdullah Al-Kharasyi berhasil mencapai puncak keilmuan. Sehingga Al-‘Ubaidi mengatakan bahwa "Syekh Abdullah Al-Kharasyi berhasil mencapai puncak dalam hal keilmuan, amal, keadilan, dan kemanfataan. Di mana puncak ini tidak bisa dicapai oleh ulama lain."

Bahkan, Al-‘Ubaidi melanjutkan berkata, "Para ulama di masa itu sepakat untuk mengagungkan dan memuliakannya, di mana penghormatan semacam ini tidak dimiliki oleh ulama lain. Setiap kali namanya disebut di hadapan ulama, pasti ulama yang mendengarnya akan mendoakan beliau dengan mengucap Hafizhahullah."

Ulama Karismatik Al-Azhar

Ada satu hal lagi yang menarik untuk kita dengar dari Al-‘Ubaidi terkait Syekh Abdullah Al-Kharasyi. Ia mengatakan bahwa beliau merupakan pemimpin segenap ulama Malikiyyah. Hal ini tentu bukanlah julukan yang main-main. Sebab yang selama ini kita ketahui adalah adanya dua pucuk pembesar ulama Malikiyyah di masa itu, yakni Syekh Ibrahim Al-Laqani dan Syekh Nuruddin Ali Al-Ujhuri. Sehingga dengan adanya penuturan Al-‘Ubaidi di atas bisa disimpulkan bahwa pucuk pembesar Malikiyyah saat itu ada tiga: Syekh Nuruddin Ali Al-Ujhuri, Syekh Burhanuddin Ibrahim Al-Laqani, dan Syekh Jamaluddin Abdullah Al-Kharasyi.

Syekh Abdullah Al-Kharasyi kemungkinan memiliki kedekatan khusus dengan guru utamanya, yakni Syekh Muhammad Al-Binufari. Syekh Al-Binufari sendiri merupakan pembesar ulama Malikiyyah pada zamannya. Kedekatan ini dibuktikan dengan momen ibadah haji bareng bersama sang guru. Biasanya hal ini hanya dilakukan oleh guru dan murid yang mempunyai hubungan dekat.

Al-‘Ubaidi juga mencatat bahwa Syekh Abdullah Al-Kharasyi pernah berkata, "Anakku Muhammad (yang di kemudian hari menjadi Syekhul-Azhar), kelak akan menjadi seperti Syekh Al-Binufari." Kita bisa memahami ucapan ini sebagai bentuk dari rasa kagum seorang murid kepada guru sekaligus harapan yang tinggi (tafa'ul) dari seorang murid agar keturunannya kelak bisa seperti gurunya. Di sisi lain, ucapan ini juga bisa kita tafsirkan sebagai sebuah karamah dari Syekh Abdullah Al-Kharasyi, di mana beliau mampu mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Sebab pada saatnya nanti, putranya, Syekh Muhammad Al-Kharasyi benar-benar menjadi seorang yang seperti dikatakan oleh sang ayah tadi.

Para Murid

Sebagai ulama besar Malikiyyah juga pembesar ulama Al-Azhar, Syekh Abdullah Al-Kharasyi mempunyai halakah pengajian yang dipadati oleh para talib. Halakah ini beliau selenggarakan di Madrasah Al-Aqbughawiyyah, sebuah madrasah bersejarah di dalam kompleks Masjid Al-Azhar. Di antara murid Syekh Al-Kharasyi yang menghadiri halakah itu adalah sebagai berikut:

1- Syekh Utsman At-Tallawi

2- Syekh Yasin Al-Himshi Asy-Syami (w. 1061 H)

3- Syekh Ali Al-‘Ubaidi

4- Syekhul-Azhar Abu Abdillah Muhammad Al-Kharasyi (1010-1101 H), putra beliau sendiri.

5- Para pelajar Mesir dan Maghrib (Libya, Tunisia, Aljazair, Maroko dan belahan barat Islam sekitarnya).

Perawakan

Syekh Abdullah Al-Kharasyi merupakan seseorang yang berkulit putih, ganteng, bermata lebar, dan memiliki pembawaan yang tenang. Ketika keringat berkucur dari kening beliau, seolah mutiara berjatuhan dari keningnya. Putih rambutnya memancarkan cahaya terang.

Beliau gemar menghidupkan siang dan malamnya dengan beribadah. Kebanyakan hari-hari beliau dilalui dengan berpuasa.

Di antara kebiasaan beliau adalah mengkhatamkan kitab Mukhtasar Khalil (kitab fikih dalam mazhab Maliki) sekali dalam setahun. Di samping itu, beliau juga mengajarkan kitab-kitab ilmu nahwu, hadits, mantik, faraid dan lainnya.

Dalam pengajian fikih, Syekh Al-Kharasyi sering kali menyampaikan pendapat ulama Malikiyyah yang sezaman. Misalnya, beliau berkata "telah sampai kabar kepadaku bahwa Syekh Al-Ujhuri berfatwa seperti ini, Syekh Yusuf Al-Fisyi dalam Hasyiyah-nya menuturkan penjelasan seperti ini," Dan banyak lagi ulama lain yang disebut. Hal ini menunjukkan sebuah pengakuan dari beliau akan keutamaan ulama yang sezamannya. Sebab beberapa ulama yang sezaman dan mempunyai fokus kajian yang sama seringkali terjebak dalam persaingan yang berujung pada fanatisme pendapat.

Kompleks Makam Syekh Abdullah Al-Kharasyi di Qarafah Mujawirin, Kairo, Mesir
Kompleks Makam Syekh Abdullah Al-Kharasyi di Qarafah Mujawirin, Kairo, Mesir

Hari Terakhir

Pada tahun 1048 H, Syekh Abdullah Al-Kharasyi menghembuskan nafas terakhirnya. Bacaan Mukhtashar Khalil yang menjadi wiridan tahunan beliau di Madrasah Al-Aqbughawiyyah baru sampai pada bab rahn (gadai). Sehingga kemudian pengajian ini dan halakah beliau di Madrasah Al-Aqbughawiyyah dilanjutkan oleh putranya, yakni Syekhul-Azhar Muhammad Al-Kharasyi.

Setelah selesai disalatkan, jasad beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Qarafah Mujawirin, Kairo, Mesir. Di dekat makam guru beliau, yakni Syekh Muhammad bin Salamah Al-Binufari. Semoga rahmat Allah senantiasa mengucur di tanah kuburnya. Amiiin...

💡
Baca riwayat hidup alim ulama di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Munawar Ahmad

Latest