Skip to content

Syekh Muhammad Rif’at, Sang Dawai Langit, Qari' Legendaris yang Mendunia

Suara emasnya menggema di radio internasional, menginspirasi dunia Islam. Syekh Muhammad Rif’at adalah qari' legendaris dengan tilawah yang abadi.

FOTO Syekh Muhammad Rif’at yang dijuluki Sang Dawai Langit, Qari' Legendaris yang Mendunia.
FOTO Syekh Muhammad Rif’at yang dijuluki Sang Dawai Langit, Qari' Legendaris yang Mendunia.

Perbincangan di televisi terjadi antara Ahmad Samir, Kepala Televisi Mesir, dan Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi. Sang Imam Para Dai ditanya tentang empat tokoh qari': Syekh Mahmud Khalil Al-Hushari, Syekh Abdulbasith Abdusshamad, Syekh Mushthafa Ismail, dan Syekh Muhammad Rif’at. Syekh Asy-Sya’rawi menjawab, "Jika kita ingin mendengarkan tilawah sesuai hukum tajwid, maka pilihlah Syekh Al-Hushari. Jika ingin menikmati kemerduan suara, maka Syekh Abdulbasith Abdusshamad. Jika mencari napas panjang dan merdu, maka Syekh Mushthafa Ismail. Namun, jika menginginkan semuanya, maka Syekh Muhammad Rif’at."

Latar Belakang

Nama lengkapnya adalah Muhammad Rif’at bin Mahmud Rif’at bin Muhammad Rif’at. Ia lahir pada Selasa, 21 Jumadilakhir 1299 H (9 Mei 1882 M) di Hay Al-Mugharbilin, Distrik Ad-Darb Al-Ahmar, Kairo. Ketika ayahnya diangkat sebagai perwira polisi di Kepolisian Sektor Al-Khalifah, Rif’at dan keluarganya pindah ke rumah baru di Darb Al-Aghawat, Jalan Muhammad Ali, Kairo.

Pada usia dua tahun, Rif’at mengalami penyakit mata yang membuatnya buta. Menyadari kondisi putranya, sang ayah merasa bahwa anaknya ditakdirkan untuk berkhidmat kepada Al-Quran. Mahmud Rif’at pun memasukkan putranya ke kuttab Masjid Amir Basytak An-Nashiri, atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Mushthafa Fadhil Basya, di Darb Al-Jamamiz, Distrik Sayidah Zainab, Kairo.

Di usia delapan tahun, Rif’at berhasil mengkhatamkan hafalan Al-Quran beserta tajwidnya di bawah bimbingan Syekh Muhammad Al-Baghdadi dan Syekh As-Samaluthi. Ia kemudian memperdalam ilmu tajwid dan qira'at kepada Syekh Abdulfattah Hunaidi, seorang alim qira'at Al-Azhar dengan sanad tertinggi pada masa itu, hingga memperoleh ijazah sanad qira'at.

Awal Mula Ketenaran

Pada usia sembilan tahun, Rif’at kehilangan ayahnya. Tanggung jawab keluarga pun jatuh ke pundaknya, sehingga ia harus mencari nafkah dari tilawahnya dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan studi di Al-Azhar. Awalnya, ia membaca Al-Quran dalam acara pemakaman. Lambat laun, ia mulai didapuk sebagai qari' tetap di Masjid Mushthafa Fadhil Basya, dengan jadwal tilawah setiap Kamis. Seiring waktu, pada usia 15 tahun, jadwalnya dipindahkan ke hari Jumat, di mana jumlah jamaah jauh lebih banyak. Sejak saat itu, namanya mulai dikenal luas berkat keindahan suaranya. Selama kurang lebih 25 tahun, dari 1918 hingga 1943, Syekh Rif’at terus mengisi tilawah di masjid tersebut.

Masuk Siaran

Pada Kamis, 31 Mei 1934, Mesir untuk pertama kalinya meresmikan siaran radio. Saat itu, Syekh Muhammad Rif’at diminta untuk mengisi siaran radio dengan bacaan Al-Qurannya. Namun, ia menolak dengan alasan bahwa kehormatan Al-Quran tidak bisa disandingkan dengan nyanyian yang disiarkan di radio.

Permintaan siaran terus berdatangan hingga akhirnya ia meminta fatwa kepada Syekhul-Azhar Muhammad Al-Ahmadi Azh-Zhawahiri mengenai hukum membaca Al-Quran di radio. Fatwa yang turun menyatakan bahwa hal itu diperbolehkan dan justru merupakan sarana menyebarkan kebaikan kepada masyarakat. Dengan keyakinan ini, Syekh Rif’at pun menerima tawaran siaran. Ia menjadi salah satu qari' pertama yang masuk siaran, dan bacaan fenomenalnya, murattal Surah Al-Fath, mengudara untuk pertama kali.

Lantunan ayat suci Al-Quran oleh Syekh Muhammad Rif’at.

Di tengah berkecamuknya Perang Dunia Kedua, beberapa stasiun radio internasional seperti London, Paris, dan Berlin turut menyiarkan tilawah Syekh Muhammad Rif’at guna menarik lebih banyak pendengar. Bahkan, BBC Arabic mengajukan permintaan resmi untuk merekam suaranya. Awalnya, Syekh Rif’at menolak karena khawatir suaranya akan disalahgunakan. Namun, setelah meminta fatwa kepada Syekhul-Azhar Muhammad Mushthafa Al-Maraghi, yang membolehkannya, ia akhirnya bersedia merekam tilawahnya untuk BBC Arabic. Saat itu, ia membacakan Surah Maryam.

Enggan Menerima Gaji

Meski tilawahnya disiarkan di berbagai tempat dan menginspirasi banyak orang, Syekh Rif’at menolak menerima gaji dari bacaan Al-Qurannya. Ia tidak ingin menjadikan Al-Quran sebagai sumber penghasilan. Kalaupun ia menerima bayaran, jumlahnya sangat kecil, hanya tiga pound Mesir untuk satu jam tilawah.

Syekh Muhammad Rif’at dikenal sebagai sosok yang zuhud dan warak. Ia pernah berkata, "Pelayan Al-Quran tidak akan mungkin dihinakan dan direndahkan."

Zakariyya Basya Mahran

Syekh Muhammad Rif’at sebenarnya enggan suaranya direkam. Banyak orang memintanya, tetapi ia selalu menolak. Namun, pada pertengahan tahun 1930-an, Zakariyya Basya Mahran dan rekannya, Muhammad Khamis, menginisiasi proyek rekaman murattal Syekh Muhammad Rif’at. Proyek ini berlangsung selama sembilan tahun hingga sang qari' jatuh sakit. Zakariyya sendiri adalah salah satu murid kesayangan Syekh Rif’at dan sering menginap di rumah sang guru ketika ada acara tertentu.

Berkat proyek ini, murattal Syekh Rif’at dapat kita dengarkan hingga kini. Beberapa bagian rekaman yang kurang jelas kemudian disempurnakan oleh Syekh Abu Al-‘Aynayn Syu’aisya’. Syekh Syu’aisya’ dikenal sangat mengagumi nada gurunya, sehingga dalam menyempurnakan bagian yang hilang, ia meniru suara Syekh Rif’at dengan sangat mirip hingga banyak pendengar yang kesulitan membedakan mana suara asli sang guru dan mana suara Syekh Syu’aisya’.

Menghembuskan Napas Terakhir

Menjelang akhir hayatnya, Syekh Rif’at menderita berbagai penyakit komplikasi. Pada 1942, ia terserang hiccups (cegukan) yang membuatnya sulit berbicara dan membaca Al-Quran. Kondisinya semakin memburuk dengan tekanan darah tinggi, infeksi paru-paru, dan gangguan pita suara.

Para sahabat dan penggemarnya berinisiatif menggalang dana untuk membantunya, hingga terkumpul ratusan ribu pound Mesir. Namun, Syekh Rif’at memilih menjual rumahnya di Hay Al-Baghghalah, Distrik Sayidah Zainab, Kairo serta sebidang tanah miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Pada hari Selasa, 21 Rajab 1369 H (9 Mei 1950 M)—hari yang sama saat ia dilahirkan—Syekh Muhammad Rif’at, Sang Dawai Langit, menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 68 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Permakaman Sayidah Nafisah, Kairo. Pasca wafatnya, anak-anak dan keluarganya mendapat kabar bahwa sang ayah memiliki loker khusus di Bank Mesir. Ketika dibuka, di dalamnya hanya terdapat jam tangan, resep dokter, dan mushaf Al-Quran.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BIOGRAFI atau tulisan menarik Ahmad Wildan

Latest