Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, Mufasir yang Menjadi Imam Akbar
Mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa dari kalangan Imam Akbar Al-Azhar, ada yang pernah menggapai jabatan tertinggi Al-Azhar itu dari lulusan prodi tafsir Universitas Al-Azhar, yaitu Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi.
Sosok ini bernama lengkap Muhammad bin Sayyid bin ‘Athiyyah bin Thanthawi bin Husain bin Abdulhafizh bin Hamd bin Abdunnabi bin Abbas bin Firnas As-Sulami Al-Asy’ari Al-Azhari. Nisbah As-Sulami merujuk kepada Sulaim, salah satu pemuka kabilah Hawwarah yang menetap di Jirja, Mesir. Sulaim sendiri adalah orang yang pertama kali tinggal di tempat itu hingga tempat tersebut dinamai dengan namanya. Ia dilahirkan pada 14 Jumadilawal 1347 H (28 Oktober 1928 M) di Desa Sulaim Asy-Syarqiyyah, Markaz Thima, Provinsi Suhaj, Mesir.
Pengembaraan Ilmu
Thanthawi kecil hidup dalam lingkungan keilmuan. Sang ayah telah bertekad kuat untuk mendermakan diri anaknya kepada ilmu. Sang ayah memasukkannya ke kuttāb. Sejak kecil, ia telah dibina untuk menghafal Al-Quran oleh Syekh Mahmud Khabuth. Pada umur 13 tahun, ia telah menghafal Al-Quran secara keseluruhan sambil memulai pendidikannya di jenjang Al-Awwalī di desanya.
Setelah itu, entah karena suatu hal, di umur 15 tahun, ia melanjutkan pendidikan Al-Ibtidā'ī di Ma’had Al-Azhar Al-Iskandariyyah selama 4 tahun. Tempat yang lumayan jauh dari tempat kelahirannya. Ia mendapatkan Syahādah Al-Ibtidā'iyyah pada tahun 1366 H (1947 M). Setelah itu ia melanjutkan ke jenjang Ats-Tsānawī di tempat yang sama selama 5 tahun. Saat itu, Thanthawi muda tinggal di Distrik Al-Hadhrah di Al-Iskandariyyah, Mesir. Salah satu alasan ia dimasukkan ke madrasah tersebut adalah karena di sana terdapat banyak anak-anak sekampungnya.
Sejak masuk Ats-Tsānawī, ia telah dipercaya untuk berkhutbah Jumat di salah satu masjid di Al-Iskandariyyah, karena imam masjid itu wafat. Thanthawi muda dipercaya masyarakat untuk mengimami serta berkhutbah di masjid tersebut. Ia dipercaya berkhutbah Jumat di masjid itu hingga imam dan khatib baru terpilih. Pada usia 25 tahun, Thanthawi muda berhasil mendapatkan Syahādah Ats-Tsānawiyyah pada tahun 1372 H (1953 M).
Sejumlah gurunya selama di Ma’had ini adalah Syekh Ahmad As-Sayyid Al-Kumi dan Syekh Muhammad Mushthafa Ismail Jad. Adapun kepala sekolah di Ma’had Al-Azhar Al-Iskandariyyah ketika itu adalah Syekh Muhammad Ash-Shadiq ‘Urjun yang kelak menjadi dekan Fakultas Usuludin Universitas Al-Azhar Kairo.
Setelah menyelesaikan pendidikan Ats-Tsānawī, ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Usuludin, Universitas Al-Azhar tahun 1373 H (1954 M) yang ketika itu bertempat di Madrasah Al-Khazindarah, Syubra, sebelum akhirnya dipindahkan pada masa Syekhul-Azhar Abdulhalim Mahmud ke tempat yang sekarang di kawasan Ad-Darrasah, Kairo.
Adapun guru-gurunya selama di kuliah seperti Syekh Ahmad As-Sayyid Al-Kumi, Syekh Abdulwahhab Ghuzlan, Syekh Muhammad Fathullah Badran, dan Muhammad Abdulwahhab Al-Buhairi. Thanthawi muda lulus dari fakultas ini pada tahun 1378 H (1958 M) dengan predikat Mumtāz sebagaimana diriwayatkan oleh saudara kandungnya, Hasan Thanthawi dalam Majalah Shabah Al-Khair.
Setelah itu, ia mengambil Takhashshush At-Tadrīs selama setahun. Di tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 1380 H (1960 M) ia memulai jenjang Magister sembari bekerja sebagai imam dan khatib di bawah Kementerian Wakaf Mesir. Untuk jenjang Magister, ia mengambil bidang Tafsir dan Hadits selama 4 tahun di fakultas yang sama hingga selesai pada tahun 1384 H (1964 M). Setelah itu, ia langsung mendaftarkan diri ke jenjang Doktoral dalam bidang Tafsir dan Hadits dan menulis sebuah disertasi berjudul Banū Isrā'īl fī Al-Qur'ān wa As-Sunnah di bawah bimbingan Syekh Ahmad As-Sayyid Al-Kumi.
Disertasi tersebut disidangkan pada hari Kamis, 19 Jumadilakhir 1386 H (27 Desember 1966 M). Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi memperoleh gelar doktor dengan predikat Mumtāz berkat disertasinya itu.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniJabatan-jabatan yang Diemban
Di tengah masa menulis disertasinya, tepatnya pada Zulkaidah 1383 H (April 1964 M), Syekh Thanthawi ditugaskan oleh Al-Azhar ke Irak bersama beberapa temannya untuk ikut serta berdakwah.
Pada akhir tahun 1387 H (1967 M), ia ditugaskan untuk mengajar di Universitas Al-Bashrah, Irak hingga awal tahun 1388 H (1968 M). Kemudian, ia kembali ke Mesir hingga turunlah sebuah keputusan untuk mengangkat ia sebagai dosen di Fakultas Usuludin, Universitas Al-Azhar pada tahun yang sama. Pada tahun itu, ketika Fakultas Usuludin, Universitas Al-Azhar cabang Usyuth diresmikan, ia dipindahkan ke sana setahun setelahnya.
Pada tahun 1392 H (1972 M), ia ditugaskan untuk mengajar di Universitas Islam di Provinsi Al-Jabal Al-Akhdhar di Libya. Pada tahun 1396 H (1976 M), ia kembali ke Kairo dan diangkat menjadi dekan Fakultas Usuludin di Universitas Al-Azhar cabang Usyuth setelah meraih gelar ustādz (guru besar).
Pada tahun 1400 H (1980 M), ia ditugaskan untuk mengajar di Universitas Islam di Madinah, Arab Saudi. Ia menghabiskan 4 tahun di sana menjadi kepala program pascasarjana untuk program studi Al-Quran. Setelahnya, pada tahun 1404 H (1984 M), ia kembali lagi ke Kairo. Setahun berikutnya, pada tahun 1405 H (1985 M), Syekh Thanthawi diangkat menjadi dekan Fakultas Studi Islam dan Arab Universitas Al-Azhar Kairo. Lalu, setahun berikutnya, ia diangkat menjadi Mufti Agung Mesir, tepatnya pada 23 Safar 1407 H (26 Oktober 1986 M).
Ia adalah Mufti Agung Mesir pertama yang memiliki latar belakang pendidikan dari Fakultas Usuludin, Universitas Al-Azhar. Selama menjadi mufti, Syekh Thanthawi berusaha membangun kantor baru untuk Dar Al-Ifta' Al-Mishriyyah di kawasan Ad-Darrasah yang sebelumnya berada di daerah Al-‘Abbasiyyah, Kairo. Ia menjabat sebagai mufti selama 9 tahun 8 bulan 15 hari.
Menjadi Imam Akbar
Syekh Thanthawi menjabat sebagai Mufti Agung Mesir hingga akhirnya diangkat sebagai Syekhul-Azhar pada 8 Zulkaidah 1416 H (27 Maret 1996 M), menggantikan Syekh Jadal-Haq yang wafat pada 25 Syawal 1416 H (15 Maret 1996 M).
Sejak diangkat menjadi Syekhul-Azhar, ia berpikir untuk membangun gedung auditorium Markaz Al-Azhar li Al-Mu'tamarāt (Al-Azhar Conference Center) yang digunakan untuk acara-acara penting Al-Azhar. Gedung yang diresmikan pada tahun 1418 H (1998 M) tersebut menghabiskan dana lebih dari 50 juta pound Mesir.
Selain itu, Syekh Thanthawi juga membangun gedung baru Masyakhah Al-Azhar yang difungsikan sebagai ruang kerja bagi para ulama, peneliti, serta kantor bagi sejumlah lembaga di bawah naungan Al-Azhar. Gedung ini diresmikan pada tahun 1420 H (1999 M), setahun setelah peresmian Auditorium ACC.
Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi juga menambah jumlah madrasah di seantero Mesir serta merenovasi bangunannya. Ia juga menaruh perhatian besar pada Madinah Al-Bu’uts Al-Islamiyyah Kairo dan memperluas bangunannya untuk menyambut pelajar pendatang dari berbagai negara.
Karya Tulis
Di samping perannya yang besar dalam memajukan Al-Azhar dan umat Islam, Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi juga produktif dalam menulis karya ilmiah. Beberapa di antaranya adalah:
- Tafsīr Al-Wasīth li Al-Qur'ān Al-Karīm (15 jilid);
- Banū Isrā'īl fī Al-Qur'ān wa As-Sunnah (2 jilid). Risalah doktoral;
- Al-Qur'ān Al-Karīm wa At-Tafsīr Al-Muyassar;
- Al-Qishshah fī Al-Qur'ān Al-Karīm;
- Mabāẖits fī ‘Ulūm Al-Qur'ān Al-Karīm;
- Hadīts Al-Qur'ān ‘an ‘Awāthif Al-Insān;
- Hadīts Al-Qur'ān ‘an Ar-Rajul wa Al-Mar'ah;
- Adab Al-Hiwār fī Al-Islām;
- Al-‘Aqīdah wa Al-Akhlāq;
- Ad-Du’ā';
- Al-Fiqh Al-Muyassar li Al-Madzāhib Al-Arba’ah;
- Hādzā Huwa Al-Islām;
- Aẖkām Al-Hajj wa Al-‘Umrah;
- Al-Ijtihād fī Al-Aẖkām Asy-Syar’iyyah;
- Al-Isyā’āt Al-Kādzibah wa Kaifa Hārabahā Al-Islām;
- Mu’āmalāt Al-Bunūk wa Aẖkāmuhā Asy-Syar’iyyah; dan
- As-Sarāyā Al-Harbiyyah fī Al-‘Ahd An-Nabawī.
Akhir Hayat
Setelah mengikuti acara penerimaan Penghargaan Malik Faisal di Arab Saudi kategori Khidmah untuk Islam, Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi wafat di Bandara Internasional Malik Khalid di Riyadh saat hendak pulang ke Kairo, tepatnya pada Rabu 24 Rabiulawal 1431 H (10 Maret 2010 M). Jasadnya dibawa ke Madinah Al-Munawwarah untuk disalatkan di Masjid Nabawi, lalu dimakamkan di Pemakaman Baqi’ bersama para sahabat dan ahlulbait Rasulullah. Tepatnya berada di antara makam Sayid Ibrahim, putra Rasulullah SAW, dan makam Imam Malik bin Anas.
Syekh Ahmad Ath-Thayyib yang ketika itu menjabat rektor Universitas Al-Azhar mengungkapkan, “Tidak diragukan lagi bahwa Al-Azhar telah kehilangan salah satu pondasinya, yaitu Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi. Sosok yang sangat tawaduk dan zuhud. Salah satu ulama besar dalam tafsir dan ilmu Al-Quran. Ia sangat berani dalam mengatakan kebenaran.”