Skip to content

Syekhul-Azhar Al-Hifni, Guru di Balik Lahirnya Kitab-Kitab Hasyiyah

Tradisi keilmuan Al-Azhar terjaga lewat peran Syekhul-Azhar Al-Hifni, guru para ulama yang melahirkan banyak hasyiyah penting dalam fikih Syafi’i.

FOTO Pemandangan Masjid Al-Azhar dari atas.
FOTO Pemandangan Masjid Al-Azhar dari atas.

Peran seorang guru dalam dunia pendidikan sangatlah penting. Selain membuka wawasan keilmuan, ia juga mampu mendorong murid untuk mengembangkan metode dan pendekatan baru dalam kajian ilmu. Karakter ini terlihat jelas dalam sosok Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni. Lewat bimbingannya, sejumlah kitab hasyiyah dalam fikih Syafi’i lahir dan menjadi bagian penting dari tradisi keilmuan Islam.

Kehidupan dan Pendidikan

Syekh Muhammad bin Salim Al-Hifni lahir di kampung Hifna, Provinsi Asy-Syarqiyyah, Mesir, pada 1100 H (1688 M). Pada usia 14 tahun, ia berangkat ke Kairo untuk menimba ilmu di Al-Azhar dari para ulama terkemuka. Di antara gurunya adalah Syekh Muhammad Al-Budairi (w. 1140 H), Syekh Syihabuddin Al-Khulaifi (w. 1127 H), Syekh Abdurrauf Al-Bisybisyi (w. 1143 H), Syekh Abdurabbih Ad-Diwi (w. 1126 H), Syekh Ahmad Al-Mallawi (1088-1181 H), Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi (1092-1171 H), Syekh Ahmad Al-Jauhari (1096-1182 H), Syekh Muhammad Al-Bulaidi (1096-1176 H), dan Syekh ‘Id An-Numrusi (w. 1140 H). Nama terakhir ini juga merupakan guru dari sejumlah ulama Nusantara, seperti Syekh Hasanuddin bin Jakfar Al-Falimbani dan putranya, Syekh Shalih bin Hasanuddin Al-Falimbani.

Setelah dididik oleh sejumlah ulama yang merupakan murid langsung dari Syekh Ali Syubramillisi (w. 1087 H) dan Syekhul-Azhar Muhammad Al-Kharasyi (w. 1101 H), Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni mulai mengajar di Al-Azhar sejak tahun 1122 H. Muridnya sangat banyak dan berasal dari berbagai generasi. Setelah wafatnya Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syubrawi, ia diangkat menjadi Syekhul-Azhar menggantikannya.

Murid-Murid dan Warisan Intelektual

Di antara murid-muridnya adalah Syekh Ali Ash-Sha’idi Al-‘Adawi (w. 1189 H), Syekh ‘Athiyyah Al-Ujhuri (w. 1190 H), Syekh Mahmud Al-Kurdi (w. 1195 H), Syekh Ahmad Ad-Dardir (w. 1201 H), Syekh Sulaiman Al-Jamal (w. 1204 H), Syekh Muhammad Ash-Shabban (w. 1206 H), Syekh Sulaiman Al-Bijirimi (w. 1224 H), Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi (w. 1227 H), Syekh Muhammad Al-Amir Al-Kabir (w. 1232 H), Syekh Abdurrahman Al-Jabarti (w. 1237 H), dan Syekh Yusuf bin Salim Al-Hifni (w. 1176 H). Melihat tahun wafat para muridnya, dapat disimpulkan bahwa ulama Al-Azhar yang belajar langsung darinya berasal dari berbagai generasi.

Pada abad ke-12 H, kajian fikih di Al-Azhar menggunakan kitab matan, syarah, dan hasyiyah. Di antara kitab matan fikih yang paling banyak dikaji adalah Tahrir Tanqih Al-Lubab dan Manhaj Ath-Thullab karya Syekhul-Islam Zakariyya Al-Anshari. Keduanya merupakan ringkasan dari Minhaj Ath-Thalibin karya Imam An-Nawawi dan Tanqih Al-Lubab karya Syekh Waliyyuddin Al-‘Iraqi. Kitab-kitab ini kemudian disyarahi oleh Syekhul-Islam dalam Fath Al-Wahhab Syarh Manhaj Ath-Thullab dan Tuhfah Ath-Thullab Syarh Tahrir Tanqih Al-Lubab. Kedua syarah ini merupakan ringkasan yang disertai berbagai koreksi dari Syarah Minhaj Ath-Thalibin, yang dikenal sebagai Kanz Ar-Raghibin karya Syekh Jalaluddin Al-Mahalli, serta dari Fathul Wahhab Syarh Tanqih Al-Lubab yang ditulis oleh Syekhul-Islam Zakariyya Al-Anshari sendiri.

Sejak kelahirannya, kedua matan ini selalu menjadi bahan ajar fikih Syafi’i. Bukti keberlanjutannya adalah lahirnya banyak hasyiyah atas kedua syarah tersebut, yang umumnya merupakan hasil dari catatan materi kajian, baik dari seorang guru maupun murid. Mulai dari abad ke-10, ke-11, ke-12, hingga ke-13 H, hasyiyah kedua syarah di atas selalu bermunculan. Di antara yang paling terkenal pada abad ke-12 dan ke-13 H adalah:

  1. Hasyiyah Al-Jamal ‘ala Fath Al-Wahhab karya Syekh Sulaiman Al-Jamal,
  2. Hasyiyah Al-Bijirimi ‘ala Fath Al-Wahhab karya Syekh Sulaiman Al-Bijirimi,
  3. Hasyiyah Asy-Syarqawi ‘ala Tuhfah Ath-Thullab karya Syekhul-Azhar Abdullah Asy-Syarqawi.

Ketiga hasyiyah ini merupakan hasil ringkasan dan komparasi antara hasyiyah-hasyiyah sebelumnya.

Resensi

Kumpulan ulasan buku dan kitab menarik dapat teman-teman baca

di sini

Pengaruh Al-Hifni dalam Penulisan Hasyiyah

Lahirnya ketiga hasyiyah ini tidak terlepas dari peran besar Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni. Dalam mukadimah Hasyiyah Al-Jamal, Syekh Sulaiman Al-Jamal menyebutkan bahwa ia mengandalkan penjelasan dari dua gurunya: Syekh ‘Athiyyah Al-Ujhuri dan Syekhul-Azhar Al-Hifni. Jika ia menyebut Syaikhuna, maka yang dimaksud adalah Syekh Al-Ujhuri, sedangkan jika merujuk kepada Al-Hifni, ia akan mencantumkan nama lengkapnya.

Dalam mukadimah Hasyiyah Al-Jamal, setelah menuliskan khutbah dan pujian terhadap Fath Al-Wahhab, Syekh Sulaiman Al-Jamal menjelaskan sumber rujukan serta metode yang digunakannya dalam menulis hasyiyah ini. Pertama, ia mencantumkan berbagai permasalahan yang terdapat dalam Nihayah Al-Muhtaj karya Syekh Syamsuddin Ar-Ramli, beserta dua hasyiyahnya, yaitu Hasyiyah Asy-Syubramillisi dan Hasyiyah Ar-Rasyidi, jika pembahasan tersebut tidak ditemukan dalam Fath Al-Wahhab. Selain itu, ia juga merangkum beberapa hasyiyah lainnya atas Fath Al-Wahhab, seperti Hasyiyah Az-Zayyadi, Hasyiyah Al-Halabi, Hasyiyah Al-Birmawi, Hasyiyah Ibnu Qasim, Hasyiyah Asy-Syaubari, dan Hasyiyah Asy-Syubramillisi. Jika dicermati lebih lanjut, Syekh Sulaiman Al-Jamal juga merujuk pada Hasyiyah Sulthan Al-Mazzahi dan Hasyiyah Abdulbar Al-Ujhuri atas Fath Al-Wahhab. Selain itu, ia membandingkan materi dari kitab-kitab tersebut dengan Nihayah Al-Muhtaj karya Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami beserta hasyiyahnya, Syarh Ar-Raudh dan Syarh Al-Bahjah karya Syekhul-Islam, serta Syarh Al-Mahalli atas Minhaj Ath-Thalibin beserta Hasyiyah Al-Qalyubi atas Al-Mahalli. Ia juga mengacu pada beberapa Hasyiyah Tuhfah Ath-Thullab serta Hasyiyah Al-Iqna’ karya Syekh Khatib Asy-Syirbini.

Hal serupa juga dilakukan oleh Syekh Sulaiman Al-Bijirimi dalam Hasyiyah Al-Bijirimi ‘ala Fath Al-Wahhab. Meski sering dianggap sebagai ringkasan dari Hasyiyah Al-Jamal, hasyiyah ini tetap memiliki beberapa tambahan penting yang tidak ditemukan dalam karya Al-Jamal. Salah satu perbedaan paling mencolok dalam mukadimah adalah makna dari kata Syaikhuna. Dalam Hasyiyah Al-Jamal, istilah ini merujuk pada Syekh ‘Athiyyah Al-Ujhuri, sedangkan dalam Hasyiyah Al-Bijirimi, yang dimaksud adalah gurunya yang lain, yaitu Syekh Muhammad Al-‘Asymawi (w. 1167 H). Namun, baik dalam Hasyiyah Al-Jamal maupun Hasyiyah Al-Bijirimi, keduanya tetap berpegang pada pemikiran dan penjelasan Syekhul-Azhar Al-Hifni.

Adapun Hasyiyah Asy-Syarqawi ‘ala Tuhfah Ath-Thullab, kitab ini lahir sebagai ringkasan dari Hasyiyah Al-Madabighi. Syekhul-Azhar Asy-Syarqawi menjelaskan bahwa ia termotivasi untuk meringkas karya gurunya setelah mendengar bahwa Syekh ‘Athiyyah Al-Ujhuri pernah mengusulkan hal serupa kepada pengarangnya. Selain meringkas, Asy-Syarqawi juga menambahkan materi dari Fath Al-Wahhab, Nihayah Al-Muhtaj, dan berbagai hasyiyah lainnya, tetap berpegang pada metodologi yang diwarisi dari Al-Hifni.

Lahirnya ketiga hasyiyah besar ini merupakan bukti nyata pengaruh Syekhul-Azhar Muhammad bin Salim Al-Hifni dalam tradisi keilmuan Al-Azhar. Meskipun namanya tidak tercantum sebagai pengarang hasyiyah-hasyiyah ini, ajaran dan metodenya terus hidup dalam karya para muridnya. Dengan demikian, ia tetap menjadi salah satu tokoh penting di balik perkembangan ilmu fikih Syafi’i. Wallahu A’lam bi Ash-Shawab.


💡
Baca juga artikel lain di rubrik BUDAYA atau tulisan menarik Munawar Ahmad Sodikin

Latest