Mendengar nama Burhanuddin Al-Laqani, pikiran kita langsung akan tertuju dengan sosok alim besar Al-Azhar pengarang nazam Jauharah At-Tauhid, sebuah nazam berisi 144 bait dalam ilmu tauhid yang kerap dipelajari hingga kini di pelbagai sarana pendidikan agama Islam di seluruh dunia.
Dalam ijazahnya yang berjudul Ithaf Dzurriyyah Sayyidi Ali Al-Bahlul bi Asanid Jawami’ Ahadits Ar-Rasul, ia menyebutkan bahwa nazam ini ia tulis setelah mendapatkan isyarat dari guru tasawufnya, yaitu Syekh Ahmad Asy-Syarnubi, lalu menyelesaikan semua nazamnya dalam satu malam. Gurunya juga berwasiat, jika ia telah menyelesaikan nazamnya, ia harus memaafkan siapapun yang menyakitinya hingga akhir hayat. “Aku tidak pernah melanggar wasiat itu selama-lamanya,” ucapnya dalam ijazah tersebut. Bisa jadi, inilah salah satu sebab nazamnya menyebar dan terus dipelajari hingga hari ini.
Kisah hidup sosok besar ini sangat banyak terekam di dalam buku-buku biografi ulama Islam. Bahkan, ketika banyak alim lain yang kisahnya ditulis setelah kewafatannya dan juga ditulis secara ringkas, jejak hidup Syekh Burhanudin Al-Laqani ditulis oleh orang sezamannya di banyak buku. Kendati demikian, kisah hidupnya dalam bahasa Indonesia terbilang minim. Bahkan tulisan yang ada pun banyak membawa kekeliruan, kekurangan, kesalahan informasi, hingga copy-paste antar satu tulisan dan tulisan lainnya. Hal ini tentu menjadi sebuah hal yang mesti ditulis ulang, agar sosok alim besar Al-Azhar ini tak hanya dikenal sebatas yang tertulis dalam berbagai media.
Nama dan Nisbah
Ia adalah sosok alim bernama Abu Al-Imdad, Abu Salim, Burhanuddin, Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan bin Ali bin Ali bin Ali bin Abdulquddus bin Muhammad bin Harun Al-Laqani Al-Asy’ari Al-Maliki Al-Azhari. Buyutnya yang bernama Muhammad bin Harun adalah seorang wali masyhur yang biografinya tertulis dalam Thabaqat Syekh Abdulwahhab Asy-Sya’rani.
Nisbah Al-Laqani (bukan Al-Laqqani dengan tasydid sebagaimana disebut oleh sebagian orang) yang ada di belakang namanya merujuk kepada sebuah desa bernama Laqanah, Markaz Syubrakhit, Provinsi Al-Buhairah, Mesir. Al-Asy’ari merujuk kepada mazhab akidah Imam Abu Al-Hasan Al-Asy’ari. Adapun Al-Maliki merujuk kepada mazhab fikih Imam Malik bin Anas. Sedangkan Al-Azhari merujuk kepada Al-Azhar, institusi tempat ia menimba ilmu.
Masa Belajar
Dari Desa Laqanah, Al-Laqani kecil pergi untuk belajar di Masjid Al-Azhar pada tahun 988 H. Sebagaimana disebutkan oleh muridnya, Zainuddin Fayed dalam Al-Qaul Al-Mukhtar, ia datang ke sana dalam keadaan benar-benar fakir. Saking fakirnya, ia hanya memiliki satu pakaian dan ‘imamah (penutup kepala) yang dibalut dengan kain kasar. Setibanya di Al-Azhar, ia tidak mengenal siapapun, layaknya orang yang linglung.
Pada malam hari, saat para santri lain tidur, ia memanfaatkan waktu untuk membaca berbagai buku dengan penerangan cempor berbahan minyak. Dengan tekad dan usaha kerasnya, ia mulai dikenal sebagai seorang yang tekun dan berprestasi. Ketekunan ini pula yang membawanya bertemu dengan banyak guru besar yang kelak akan membentuk karakter keilmuannya.
Ia kemudian mulai menghafal Al-Quran dan belajar khat yang bagus. Setelahnya, ia kemudian bekerja sebagai nassakh (penyalin naskah), sebuah profesi sebelum adanya percetakan buku. Dalam praktiknya, pemesan akan meminta penyalin untuk menuliskan ulang sebuah kitab, menyepakati harganya (tergantung ketebalan dan kesukaran naskah yang akan disalin). Setelah rampung, sang penyalin akan mendapatkan gaji sesuai harga kesepakatan di awal. Dari sinilah ia kemudian mampu membiayai hidupnya selama belajar di Al-Azhar.
Para Guru dan Murid
Selama proses belajar dengan dibarengi kerja, Al-Laqani muda menyebutkan sejumlah nama gurunya dalam Ithaf Dzurriyyah Sayyidi Ali Al-Bahlul bi Asanid Jawami’ Ahadits Ar-Rasul karyanya sendiri, yaitu:
Syekh Muhammad Al-Binufari, Syekh Burhanuddin Al-‘Alqami, Syekh Salim As-Sanhuri, Syekh Yahya Al-Qarafi, Syekh Muhammad Al-Bakri Ash-Shiddiqi, Syekh Syamsuddin Ar-Ramli, Syekh Nuruddin Al-Maqdisi, Syekh Muhammad An-Nahriri, Syekh Ibnu Qasim Al-‘Abbadi, Syekh Syamsuddin Al-Khafaji, Syekh Abu Bakar Asy-Syanawani Al-Wafai, Syekh Abu An-Nashr Ath-Thablawi, Syekh Nuruddin Az-Zayyadi, dan masih banyak lagi.
Adapun sejumlah nama muridnya, beberapa di antaranya direkam oleh Syekh Mushthafa Al-Hamawi dalam Fawaid Al-Irtihal, yaitu anaknya yang bernama Syekh Abdussalam Al-Laqani, Syekh Yusuf Al-Fisyi, Syekh Muhammad Al-Kharasyi (kelak menjadi Imam Akbar Al-Azhar), Syekh Yasin Al-Himshi, Syekh Syamsuddin Al-Babili, Syekh Nuruddin Asy-Syubramillisi, Syekh Abdulmu’thi Al-Maliki, dan Syekh Hasan An-Namawi.
Dalam Fawaid Al-Irtihal juga dikatakan, bahwa di masanya tidak ada majelis keilmuan yang muridnya lebih banyak dibandingkan dirinya. Tentu saja, nama-nama di atas juga sudah cukup untuk menunjukkan kebesaran Syekh Al-Laqani, sosok yang dididik tokoh besar dan mendidik tokoh besar pula.
Masa Mengajar
Syekh Al-Laqani senantiasa berkerja sebagai nassakh selama masa belajar. Namun setelah diberikan ijazah untuk boleh mengajar dan berfatwa oleh para gurunya, ia kemudian meninggalkan profesi itu dengan niat berkhidmah kepada ilmu dan pelajar. Ia berkeyakinan, bahwa dengan ilmu, harta hanyalah bagian kecil dari rezeki yang akan datang dengan sendirinya. Tuhan pun membukakan banyak jalan pintu rezeki baginya, hingga ia dapat fokus untuk berkhidmah kepada agama Islam.
Dalam mengajar, ia memiliki metodenya tersendiri. Tidak boleh ada pertanyaan selama belajar. Jika ada yang memotong dan bertanya, ia akan menyuruhnya meninggalkan majelis. Ia sendiri memberikan jawaban mengapa tidak boleh ada pertanyaan. “Tiap-tiap masalah yang aku terangkan, tidak pernah aku tinggalkan sedikitpun celah kecil, semuanya akan aku jelaskan dengan detail, sedetail-detailnya. Maka jika masih ada yang bertanya kepadaku setelah aku menerangkan panjang-lebar, pikirannya kemana-mana (tidak fokus) dan bandel, yang jika kuceritakan kembali, itu namanya menyia-nyiakan waktu tanpa faedah,” ujarnya.
Hal ini bukan berarti menolak pertanyaan murid, tetapi lebih untuk memastikan bahwa para murid fokus dalam menyimak dan memahami pelajaran. Syekh Al-Laqani dikenal sangat teliti dalam mempersiapkan materi. Lebih-lebih, Syekh Al-Laqani sudah bergadang dan membuka semua sumber pustaka dan referensi yang berkaitan dengan pembahasan esok saat pelajaran dimulai. Misalnya seperti diceritakan oleh muridnya, Zainuddin Fayed, “Beliau itu jika membaca Shahih Al-Bukhari, pasti akan membuka semua syarah dan hasyiahnya, lalu merangkum semua pembahasan dengan detail tanpa terkecuali. Begitupun dengan kitab lainnya.” Jadi sangat wajar jika ia tidak ingin ada pertanyaan lagi. Ketelitian inilah yang menjadikan majelisnya penuh wibawa dan dihormati.
Sosok Berwibawa
Sejak nama Syekh Al-Laqani menjadi tokoh besar Al-Azhar, ia sangat terkenal akan wibawanya. Bukan karena dibuat-buat, namun karena ia dikenal tegas, lugas, dan cerdas. Ilmu benar-benar di level yang berbeda. Padahal, saat itu masih banyak guru-gurunya yang masih hidup. Saking berwibawanya, setiap keluar rumah untuk mengajar di Masjid Al-Azhar, semua yang berpapasan dengannya akan berhenti dan menaruh hormat. Bahkan pasar yang berada di antara rumahnya dan Masjid Al-Azhar sampai berhenti beroperasi sejenak jika ia lewat, lalu para penjual akan berdiri menyambutnya dalam bentuk saf.
Selain karena ilmu, hal ini juga disebabkan rasa hormat khalayak karena Syekh Al-Laqani banyak membantu mereka dalam urusan kepemerintahan dan kemasyarakatan. Sampai-sampai dikatakan, “Tidak ada seorang pun yang datang ke rumah beliau, kecuali keluar dalam keadaan gembira, serta hajat dan aduannya akan dipenuhi.”
Pemerintah Mesir saat itu sangat hormat dan segan terhadapnya. Pernah suatu ketika Biram Basya, wazir Mesir kala itu mengundang beliau ke kantornya untuk bertabarruk dengannya, ia tidak mau datang. Sebaliknya, Biram Basya yang kemudian datang ke rumahnya, mencium tangannya, meminta doanya, lalu pamit pulang.
Jika para pemerintah dan tokoh besar datang pada saat Syekh Al-Laqani mengajar, ia tidak berdiri untuk mereka, sebagai penghormatan kepada majelis ilmu. Sebaliknya, jika mereka bersabar dan mau mendengarkan pelajaran, ia akan mau berbicara dengan mereka setelah pelajaran selesai. Namun jika tergesa-gesa dan ingin pergi, ia juga tidak akan berdiri untuk mereka, apalagi bertanya “Kenapa kalian datang? Kenapa kalian pergi?”
Karya Tulis
Selama hidup, Syekh Al-Laqani telah mengarang sejumlah kitab, yang sebagian besarnya terus diajarkan hingga detik ini, yaitu:
- Ta’liq Al-Fawaid ‘ala Syarh Al-‘Aqaid, sebuah hasyiah atas Syarah Syekh Sa’duddin At-Taftazani atas Al-‘Aqaid An-Nasafiyyah
- Nazhm Jauharah At-Tauhid
- ‘Umdah Al-Murid Syarh Jauharah At-Tauhid (syarah besar atas Jauharah At-Tauhid)
- Talkhish At-Tajrid li ‘Umdah Al-Murid Syarh Jauharah At-Tauhid (syarah sedang atas Jauharah At-Tauhid)
- Hidayah Al-Murid li Jauharah At-Tauhid (syarah kecil atas Jauharah At-Tauhid)
- Qadha Al-Wathar min Nuzhah An-Nazhar fi Taudhih Nukhbah Al-Fikar fi Mushthalah Ahli Al-Atsar
- Manār Ushūl Al-Fatwā wa Qawā’id Al-Iftā’ bi Al-Aqwā
- ‘Aqd Al-Juman fi Masail Humala Adh-Dhaman
- Khulasah At-Ta’rif bi Daqaiq Syarh At-Tashrif, atau yang dikenal dengan Hasyiyah Tashrif Al-‘Izzi li Sa’duddin At-Taftazani
- Nashihah Al-Ikhwan bi Tark Syurb Ad-Dukhan
- Taudhih Alfazh Al-Ajurrumiyyah Al-Maudhu’ah li At-Tadarrub fi ‘Ilm Al-‘Arabiyyah
- Bahjah Al-Mahafil wa Ajmal Al-Wasail bi At-Ta’rif bi Ruwat Asy-Syamail
- Hasyiyah ‘ala Mukhtashar Khalil
- Nasyr Al-Maatsir fi Man Adraktuhum min ‘Ulama Al-Qarn Al-‘Asyir
- Hasyiyah ‘ala Syarh Al-Basmalah li Nashiruddin Al-Laqani
- Takhmis Al-Burdah li Al-Bushiri
- Ittihaf Dzurriyyah Sayyidi Ali Al-Bahlul bi Asanid Jawami’ Ahadits Ar-Rasul
- Al-Budur Al-Lawami’ min Khudur Jam’i Al-Jawami’, Hasyiyah atas Syarah Jalaluddin Al-Mahalli atas Jam’i Al-Jawami’
Haji Terakhir
Syekh Al-Laqani adalah sosok berpostur tinggi, berwajah bersih, dan semua anggota tubuhnya sehat meski di usia senja. Senantiasa mengenakan pakaian ala sufi Tarekat Al-Wafaiyyah dan Al-Bakriyyah, dengan jubah wol kasar namun mahal.
Pada tahun 1040 H, ia pergi berhaji bersama keluarga dan muridnya. Beberapa hari sebelum berangkat, Ridwan Bik, ketua rombongan haji dari Mesir tahun itu mendengar kabar bahwa Syekh Al-Laqani akan pergi berhaji. Ia pun menyiapkan banyak bekal dan khidmah untuk sang syekh. Namun ditolak sembari berkata, “Jika engkau menyiapkan ini semua agar aku pergi haji bersama denganmu, aku tidak rida atas apa yang telah kamu persiapkan, karena aku tidak butuh bekal itu.”
Setelah sampai ke Tanah Suci dan memakai pakaian ihram, ia tidak banyak berbicara kecuali dengan isyarat. Lalu, setelah sampai Haram dan melihat Ka’bah, ia tak sanggup menahan diri hingga terjatuh pingsan, kemudian tersadar dan berdiri menghadap Ka’bah seraya berdoa lama, lalu melanjutkan tawaf dan diakhiri dengan mencium Hajar Aswad dan salat di belakang Maqam Ibrahim.
Pada Hari Arafah, puncak dari musim haji, ia semakin sering menangis dan berdoa. Dalam akhir doanya, ia selalu berkata, “Ya Allah, jika Engkau menerimaku, jangan pulangkan aku ke rumahku.”
Prosesi ibadah haji telah selesai. Rombongan jamaah haji dari Mesir mulai beranjak ke Madinah untuk berziarah ke makam Baginda Nabi Muhammad SAW. Sesampainya di dekat Masjid Nabawi, Syekh Al-Laqani mengganti pakaiannya dengan pakaian paling bagus yang ia punya seraya turun dari tunggangan dan berjalan kaki.
Ia kemudian duduk tepat di hadapan makam Baginda Nabi Muhammad SAW bersama anak-anaknya. Kala itu, Syekh Ibrahim Al-Maimuni (w: 1079 H) sekeluarga juga ikut menunaikan ibadah haji. Sesaimpainya di Raudhah, ia tidak kebagian tempat. Syekh Al-Laqani pun memberinya ruang di antara anak-anaknya.
“Kamu nanti akan kembali dengan selamat bersama anak-anakmu, sedangkan aku akan meninggal,” ucap Syekh Al-Laqani di depan Raudhah. “Wahai tuanku, kita berada di hadapan Baginda. Berdoalah kepada Allah agar engkau kembali bersama keluargamu,” balas Syekh Al-Maimuni. Namun Syekh Al-Laqani kembali menimpali, “Aku keluar berhaji memang untuk ini (tidak kembali ke rumah).”
Benar saja, dalam perjalanan pulang kembali ke Mesir, Syekh Al-Laqani sakit. Tidak mampu berjalan. Ia pun diusung dengan tandu oleh rombongan. Ketika ia melihat tandu, ia jadi teringat dengan apa yang dikatakan wali majedub di Mesir sebelum berhaji, “Wahai Ibrahim, jika kamu berhaji dan memakai tandu, kamu akan meninggal.” Ia pun akhirnya menaiki tandu.
Beberapa saat setelahnya, pada malam Senin, penghujung bulan Muharam 1041 H, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Jenazahnya disalatkan oleh Syekh Abu Al-Is’ad bin Wafa, lalu dimakamkan di ‘Aqabah Ailah (Yordania). Tiap tahun, masyarakat Mesir yang pulang dari berhaji melewati makam tersebut dan berziarah. Namun, semenjak adanya jalur laut (apalagi sekarang sudah ada jalur udara), makamnya sudah tidak diziarahi dan tidak diketahui posisi presisinya.
Semoga ilmu yang diwariskan oleh Syekh Burhanuddin Al-Laqani terus memberikan manfaat bagi generasi Islam berikutnya, menjadi amal jariyah yang abadi. Kita juga berdoa agar kelak dikumpulkan bersama beliau dan para ulama besar lainnya di surga-Nya.
