Segala puji bagi Allah yang telah memudahkan kita menunaikan ibadah Ramadan dan mengumpulkan kita pada hari kemenangan ini. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Pada hari yang mulia ini, kita berkumpul dalam kebahagiaan dan rasa syukur, menunaikan salat Idul Fitri sebagai tanda kemenangan rohani dan bukti keindahan agama Islam.
Hadirin yang berbahagia…
Ketahuilah bahwa hari ini adalah hari yang agung. Hari yang oleh Allah syariatkan untuk berbuka, dan diharamkan untuk berpuasa. Inilah hari yang dinamakan ‘Id Al-Fithri, hari kembali kepada kesucian. Semua kegembiraan dan kebahagiaan menyatu di antara kaum muslimin; mereka saling bersua dengan senyum, saling mengucapkan selamat dan salam, serta bertakbir memuji Allah atas segala karunia dan nikmat-Nya.
Dalam Islam, terdapat dua hari raya: Idul Fitri yang datang setelah sebulan penuh berpuasa, dan Idul Adha yang datang setelah jamaah haji menyelesaikan ibadah hajinya. Keduanya merupakan syiar dan keindahan Islam yang patut disyukuri.
Hadirin, rahimakumullāh…
Selama Ramadan, kita telah menahan diri dari makan dan minum di siang hari, serta memperbanyak ibadah malam dengan penuh penghambaan. Kita mendekatkan diri kepada Allah, memohon rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya.
Mulut ini digunakan untuk berzikir dan membaca kitab-Nya, mata menangis merenungi ayat-ayat-Nya, telinga mendengar firman-Nya, dan hati menjadi tenang dengan ketaatan. Semua ini akan menjadi saksi atas ketakwaan kita di bulan suci Ramadan. Sebagaimana firman Allah:
Artinya: “Pada hari ini (Kiamat), Kami tutup mulut mereka; tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Surah Yasin: 65)
Wahai orang-orang yang mengharap ridha Allah…
Bergembiralah di hari ini! Karena inilah hari disempurnakannya pahala dan balasan dari amal ibadah kalian selama Ramadan. Allah SWT berfirman:
Wahai orang-orang yang telah menunaikan zakat fitrah…
Sesungguhnya kalian telah menggembirakan hati saudara-saudara yang membutuhkan. Itu adalah bentuk nyata dari keimanan kepada syariat Allah, dan menjadi jalan kesucian bagi diri kalian.
Artinya: “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kotor, serta sebagai makanan bagi orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum salat, maka ia termasuk zakat yang diterima. Siapa yang menunaikannya setelah salat, maka itu hanyalah sedekah biasa.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Ma’āsyiral Muslimīn, rahimakumullāh…
Salah satu puncak harapan dari ketakwaan kita selama Ramadan adalah ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Karena itu, kita patut bergembira atas janji Rasulullah SAW:
Artinya: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA)
Artinya: “Barang siapa yang menghidupkan malam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA)
Hadirin yang dimuliakan Allah…
Setelah sebulan penuh kita dididik oleh Ramadan, bukan berarti nilai-nilai Ramadan ikut berlalu bersama hilalnya. Ramadan adalah madrasah kehidupan. Kita yang telah ‘lulus’ dari madrasah Ramadan, seyogianya menjaga nilai-nilai dan amal ibadah yang telah dibiasakan.
Hari raya adalah momen menebarkan kegembiraan, membangun silaturahmi, dan memperkuat kasih sayang antar sesama. Ia adalah momen syukur kepada Allah atas segala nikmat yang kita terima.
Karena itu, mari kunjungi keluarga dan sahabat, bagikan kebahagiaan kepada tetangga dan masyarakat sekitar. Bantu orang-orang lemah dan fakir miskin. Juga perbaiki hubungan dan singkirkan kebencian dalam hati.
Artinya: “Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat dan jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” (Surah An-Nisa': 36)
Dan jika di antara kita masih ada dendam, permusuhan, atau pertikaian, maka hari ini adalah waktu terbaik untuk berdamai dan saling memaafkan. Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, dan setiap hamba yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni, kecuali seorang yang antara dia dan saudaranya ada permusuhan, maka dikatakan, ‘Tangguhkanlah keduanya sampai mereka berdamai.’” (HR. Muslim)
Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita selama Ramadan dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bersih, bersyukur, dan istikamah. Amin.