Skip to content

Khutbah Jumat Hati yang Tenang, Hidup yang Lapang

Jaga hati di tengah hiruk-pikuk dunia. Khutbah Jumat ini bahas zikir, taubat, dan syukur sebagai kunci tenangnya hati dan selamatnya akhirat.

FOTO Masjid Jami Al Hidayah, Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. (Unsplash/Haidan)
FOTO Masjid Jami Al Hidayah, Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. (Unsplash/Haidan)

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ، اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ، الذاريات: ١٦-١٧

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Segala puja dan puji syukur marilah kita senantiasa panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kita semua sehingga kita di hari yang mulia ini masih dapat memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan salat Jumat. Kita semua dapat melaksanakan salat Jumat ini tiada lain karena kita telah mendapatkan selaksa nikmat yang di antaranya berupa kesehatan, keimanan dan kemauan untuk melaksanakan salat Jumat.

Shalawat beserta salam, semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhamad SAW, kepada para istrinya, keluarganya, Sahabatnya dan juga kepada para pengikut-pengikutnya, amin ya Rabbal ‘alamin!

Di hari Jumat yang mulia ini, marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, sebab orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa kepada-Nya. Peningkatan takwa ini sangat penting dilakukan oleh kita semua mengingat hal tersebut merupakan bekal yang harus kita bawa kelak di akhirat nanti. Selanjutnya, termasuk salah satu bentuk ketakwaan kita adalah harus menjaga konsistensi hati di tengah gempuran pesatnya perkembangan teknologi. Yakni menjaga hati dari hal-hal yang merusak dan menjauhkan hati dari sebab-sebab munculnya penyakit hati. Sebab hati adalah sumber penggerak kebaikan dan dapat memacu kita untuk beribadah kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلا وَهِيَ القَلْبُ، رواه البخاري ومسلم

Artinya: “Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh anggota badan dan jika ia rusak maka rusak pula seluruh anggota badan, ketahuilah, ia adalah hati” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…

Ada beberapa cara agar hati kita diberikan kelapangan atau ketenangan hati dalam mengarungi hidup di dunia ini. Di antara cara untuk menumbuhkan ketenangan hati yaitu menghiasi jiwa dan hati kita dengan untaian zikir kepada Allah SWT. Zikir adalah mengingat kekuasaan Allah atas apa yang Dia kehendaki. Dengan Zikir, hidup ini juga bisa selalu terkontrol. Tetap berada di jalan yang dibenarkan oleh syariat. Kalaupun ada kehendak untuk melakukan maksiat kepada Allah, maka kehendak itu dapat dikalahkan dengan zikir. Ingat bahwa dalam maksiat ada konsekuensi besar yang harus diterima, berupa balasan atau siksaan dari Allah SWT. Zikir atau mengingat Allah dapat dilakukan dengan berbagai macam. Mulai dari menggunakan lisan, hati, maupun dengan keduanya. Baik secara jahar atau suara keras maupun secara sirr atau suara pelan. Hendaknya kita juga berzikir dalam situasi apapun dan di mana pun.  Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya, bahwa zikir akan memberikan ketenangan hati.

﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾ [سورة الرعد: ٢٨]

Artinya: “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram,” (Surah Ar-Ra’du: 28)

Selanjutnya, hati kita senantiasa akan diberikan ketenangan sebab ketaatan kita kepada Allah SWT. Hamba yang taat akan dicintai Allah SWT. Dan taat ini adalah salah satu sifat orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Sebagai bentuk kecintaan Allah terhadap hambanya yang taat, Allah akan memberikan ketentraman dalam hatinya. Masalah-masalah yang dihadapi akan cepat terurai. Bahkan ia akan dilimpahi rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Surah Ath-Thalaq berikut:

﴿ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ، وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ﴾ [سورة الطلاق: ٢-٣]

Artinya: “Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga,” (Surah Ath-Thalaq: 2-3)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…

Agar hati kita tidak dijangkiti aneka sifat atau perilaku-perilaku yang dapat membuat hati rusak. Menurut Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Munabbihat ‘ala Isti’dad li Yaumil Mi’ad memaparkan bahwa setidaknya ada enam hal yang membuat hati manusia menjadi rusak.

Pertama, berbuat dosa dengan berharap kelak ia bisa bertobat. Ia secara sadar melakukan kesalahan dan kedurhakaan, tapi berangan-angan ia bisa menghapus kesalahan-kesalahan kini di kemudian hari. Ini merupakan sebuah kesombongan karena terlalu percaya diri bahwa Allah akan memberinya kesempatan bertobat lalu melimpahinya rahmat.

Kedua, berilmu tapi tidak mau mengamalkannya. Ada sebuah pepatah bijak yang mengatakan, al-‘ilmu bilâ ‘amalin kasy-syajari bilâ tsamarin (ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah). Pengertian “tidak mengamalkan ilmu” bisa dua: mendiamkannya hanya sebagai koleksi pengetahuan dalam kepala, atau si pemilik ilmu berbuat yang bertentangan dengan ilmu yang dimiliki. Kondisi ini bisa menyebabkan rusaknya hati.

Ketiga, seseorang yang beramal, tapi ia tidak ikhlas. Setelah ilmu diamalkan, urusan belum sepenuhnya beres. Sebab, manusia masih dihinggapi hawa nafsu dari mana-mana. Ia mungkin saja berbuat baik banyak sekali, namun sia-sia belaka karena tidak ada ketulusan berbuat baik.

Tasawuf

Kumpulan tulisan bertema tasawuf dapat teman-teman baca

di sini

Keempat, memakan rezeki Allah tapi tidak mau bersyukur. Karunia dan syukur merupakan pasangan yang tak bisa dipisahkan. Jika tidak ada kehidupan manusia di dunia ini yang luput dari karunia Allah, maka bersyukur adalah pilihan sikap yang wajib. Orang yang tak mau bersyukur adalah orang yang tidak memahami hakikat rezeki.

Kelima, adalah tidak rida dengan karunia Allah. Pada level ini, orang bukan hanya tidak mau mengucapkan rasa syukur, tapi juga kerap mengeluh, merasa kurang, bahkan dalam bentuknya yang ekstrem melakukan protes kepada Allah.

﴿ وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ ﴾ [سورة الشورى: ٢٧]

Artinya: "Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat." (Surah Asy-Syura: 27)

Keenam, mengubur orang mati namun tidak mengambil pelajaran darinya. Peristiwa kematian adalah nasihat yang lebih gamblang daripada pidato-pidato dalam panggung ceramah. Ketika ada orang meninggal, kita disajikan fakta yang jelas bahwa kehidupan dunia ini fana. Liang kuburan adalah momen perpisahan kita dengan seluruh kekayaan, jabatan, status sosial, dan popularitas yang pernah dimiliki. Selanjutnya, orang mati akan berhadapan dengan semua pertanggungjawaban atas apa yang ia perbuat selama hidup di dunia.

Wabakdu, yang dapat kita lakukan untuk menjadikan hati ini selalu tenang adalah mengamalkan uraian yang ada dalam tulisan ini. Setiap manusia pasti punya dosa dan kesalahan. Satu cara yang untuk menghilangkan dosa itu adalah dengan tobat. Tobat yang dimaksud tentu taubatan nashuhah atau tobat yang sebenar-benarnya. Hal ini harus disegerakan. Di samping bertobat, berserah diri kepada Allah juga perlu ditanamkan dalam diri kita. Apa pun yang datang dari-Nya, kita terima dengan keikhlasan. Berprasangka baiklah kepada Allah. Sebab, di balik sesuatu yang kurang kita senangi, ada rahasia besar dan kebaikan yang hendak Allah berikan. Allah berfirman dalam Al-Quran:

﴿ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ﴾ [سورة الطلاق: ٢-٣]

Artinya: “Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (Surah Ath-Thalaq: 2-3)

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

💡
Baca juga beragam teks khutbah Jumat di KHUTBAH atau tulisan menarik Ahmad Muhakam Zein

Latest