Khutbah I
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Marilah, di momen hari Jumat yang istimewa di bulan yang termasuk bulan yang dimuliakan (Asyhurul Hurum) ini kita semua, terutama diri khatib pribadi senantiasa berupaya meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhkan diri dari segala yang diharamkan dan dilarang oleh Allah SWT.
Hadirin yang dirahmati Allah, saat ini kita ada di bulan Dzulqa’dah, bulan pertama dari empat bulan haram (Asyhurul Hurum). Bulan Dzulqa’dah adalah bulan ke-11 dalam kalender Islam. Oleh masyarakat awam, bulan Dzulqa’dah biasa disebut Dzulqaidah, Dzulkodah, atau Dulkangidah. Sementara oleh masyarakat Jawa, bulan ini biasa disebut bulan Apit, Hapit, atau bulan Selo. Menurut masyarakat Jawa, dinamakan bulan Apit yang berarti terjepit. Hal ini karena bulan ini terletak di antara dua hari raya besar yaitu, Idul Fitri (Syawal) dan Idul Adha (Dzulhijah). Bulan Dzulqa’dah disebut juga bulan Selo karena bulan ini menjadi jeda (sela) dari dua hari raya besar tersebut.
Secara bahasa, Dzulqa’dah terdiri dari dua kata: Dzul yang bermakna sahib; “sesuatu yang memiliki” dan Al-Qa’dah yang artinya “tempat yang diduduki”. Bulan ini disebut Dzulqa’dah karena pada bulan ini kebiasaan masyarakat Arab duduk (tidak bepergian) dari daerahnya dan tidak melakukan perjalanan atau bahkan peperangan. Secara bahasa, Dzulqa’dah juga berarti “penguasa gencatan senjata” atau Qu’ud ‘anil qitaal, karena pada saat itu bangsa Arab dilarang melakukan peperangan tatkala bulan Dzulqa’dah.
Allah memang telah melebihkan keutamaan Dzulqa’dah atas sebagian waktu yang lain sebabnya adalah karena bulan Dzulqa’dah yang saat ini kita berada di dalamnya memiliki beberapa keutamaan dan keistimewaan, di antaranya:
Pertama, Dzulqa’dah adalah permulaan dari empat bulan yang dimuliakan (Asyhur Al-Hurum). Empat bulan haram atau empat bulan yang dimuliakan itu adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah At-Taubah ayat 36:
Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang diagungkan (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab)” [Surah At-Taubah: 36]
Kedua, Dzulqa’dah adalah satu di antara tiga bulan haji, yaitu Syawal, Dzulqa’dah, dan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Oleh karenanya, dihukumi tidak sah ihram untuk haji pada selain waktu tersebut. Allah SWT berfirman:
“Musim haji itu pada bulan-bulan yang telah dimaklumi (ditentukan)” [Surah Al-Baqarah: 197]
Dalam Tafsir Ibni Katsir dikemukakan bahwa asyhur ma’lumaat (bulan-bulan yang telah diketahui) merupakan bulan dimana tidak sah ihram untuk menunaikan haji kecuali pada bulan-bulan ini. Dan ini pendapat yang benar (shahih).
Bahasa Arab
Kumpulan tulisan terkait bahasa Arab dan khazanah ilmunya bisa teman-teman temukan
di siniKetiga, Rasulullah SAW tidak pernah melakukan umrah kecuali pada bulan Dzulqa’dah.
Sahabat Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu meriwayatkan:
Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berumrah sebanyak empat kali, semuanya pada bulan Dzulqa’dah kecuali umrah yang dilaksanakan bersama haji beliau, yaitu satu umrah dari Hudaibiyah, satu umrah pada tahun berikutnya, satu umrah dari Ji’ranah ketika membagikan rampasan perang Hunain dan satu lagi umrah bersama haji” (HR Al-Bukhari)
Keempat, di bulan Dzulqa’dah ini, Allah SWT berjanji kepada Nabi Musa AS untuk berbicara dengannya selama tiga puluh malam di bulan Dzulqa’dah, ditambah sepuluh malam di awal bulan Dzul Hijjah berdasarkan pendapat mayoritas para ahli tafsir. (Tafsir Ibni Katsir). 30 malam itu sebagaimana yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
Artinya: “Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa untuk memberikan kepadanya kitab Taurat setelah berlalu tiga puluh malam (bulan Dzulqa’dah), dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam lagi (sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya menjadi empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya, yaitu Harun, “Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, dan perbaikilah dirimu dan kaummu, dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan” (Surah Al-A’raf: 142)
Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…
Walhasil, bulan Dzulqa’dah adalah bulan pertama dari empat bulan haram, yaitu bulan yang suci lagi diagungkan kehormatannya. Seluruh amal kita dilipat gandakan pahala maupun dosanya oleh Allah di bulan mulia ini. Oleh karena itu, mari perbanyak amal saleh dan hindari sekuat tenaga bermaksiat kepada Allah di bulan Dzulqa’dah ini.