Khutbah Pertama
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Mumpung masih dalam momentum Muharam sebagai bulan pertama dalam kalender Islam, marilah kita senantiasa tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT; yaitu dengan menjalankan perintah Allah dengan ikhlas, tawakal, serta sekuat mungkin menjauhi semua perkara yang dilarang oleh Allah SWT. Marilah pada momentum bulan pertama di tahun baru ini kita jadikan juga sebagai komitmen kita berhijrah dari segala kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik yang diridai Allah SWT. Shalawat dan salam juga semoga senantiasa juga tercurah limpahkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Amin...
Pada momentum bulan Muharam seperti sekarang ini, khatib ingin pula mengajak diri pribadi ini beserta para jamaah sekalian untuk bermuhasabah sekaligus menadaburkan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah perjalanan dan perkembangan agama Islam. Peristiwa itulah yang sekaligus diabadikan menjadi penanda mula kalender penanggalan oleh umat Islam. Peristiwa tersebut adalah hijrah Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah. Hijrah sendiri bisa diartikan secara harfiah maupun lebih mendalam yang kesemuannya bisa kita ambil hikmahnya untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang terus bergerak menuju arah yang lebih baik.
※ Sepercik Tata Krama Para Ulama Nahwu
Berhijrah secara etimologi, berasal dari bahasa Arab hijratan berbentuk isim mashdar dari kata hajara-yahjuru-hajran yang artinya berupa “Tarakahu” yang berarti meninggalkan, serta “Qatha’ahu” yang artinya memustuskan. Sementara menurut terminologi, hijrah dalam perspektif historis mengandung dua makna, yakni pertama, hijrah berarti berpindah dari daerah yang menakutkan ke daerah yang aman. Kedua, hijrah berarti berpindah dari daerah kekufuran menuju daerah mukmin.
Secara harfiah, hijrah memang dimaknai memindahkan atau bisa juga diartikan ‘berpindah’. Berpindah dalam konteks hijrah tidak bisa dimaknai sebagai perpindahan secara fisik semata. Namun, jika diresapi lebih mendalam, hijrah yang dilakukan Rasulullah pun merupakan perpindahan yang memiliki dimensi spiritual dalam rangka membangun masa depan umat Islam yang lebih baik di berbagai sektor kehidupan. Rasulullah sendiri berhijrah dari tanah kelahirannya bukanlah karena kalah. Bukan pula beliau pindah karena putus asa atau lari dari masalah. Melainkan hijrah Rasulullah ini adalah perintah Allah (dimensi spiritual) dan momentum untuk lebih melebarkan skala dakwah untuk meraih kesuksesan dalam syiar agama Islam di Jazirah Arab dan meluas ke seluruh penjuru dunia.
Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah…
Dalam Al-Quran, ayat tentang hijrah tersebar dalam 17 surat dan 27 ayat, serta disebutkan secara keseluruhan sebanyak 32 kali dengan berbagai derivasinya. Di antara makna yang dominan adalah ayat yang memotivasi sesorang untuk berhijrah. Seperti dalam Surah Al-Baqarah ayat 218:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah SWT. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Selain itu, Allah SWT dalam Al-Quran telah menyebutkan bahwa orang yang mau berhijrah akan mendapatkan kelapangan rezeki. Bukan itu saja, Allah menjanjikan akan menurunkan keberkahan dan menyiapkan ganjaran yang besar kepada setiap individu yang memiliki niat baik dalam hijrahnya. Hal itu dijelaskan sebagaimana dalam Surah An-Nisa' ayat 100:
Artinya: “Siapa yang berhijrah di jalan Allah niscaya akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang banyak dan kelapangan (rezeki dan hidup). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian meninggal (sebelum sampai ke tempat tujuan), sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah SWT. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
※ Mewaspadai Hijrah Salah Arah
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Dalam konteks kekinian, hijrah dapat dilakukan kapan dan di mana saja. Obyeknya bisa berupa tempat, dan bisa berupa keadaan. Bisa dilakukan secara lahiriah, bisa pula dilakukan secara spiritual. Dalam dimensi spiritual, hijrah merupakan wujud pengasingan hati manusia dari tuhan-tuhan palsu; dari berhala-berhala manusia yang berupa kekuasaan, kemilau dunia; dari kepalsuan kehidupan; dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk.
Dalam beberapa riwayat Rasulullah menjelaskan, bahwa hijrah sejati adalah ketika seseorang bertekad meninggalkan kemaksiatan, kejahatan, kebiasaan buruk dan segala larangan Allah SWT yang masih dilakukan. Yang mendesak untuk dilakukan adalah hijrah secara mental-spiritual yang bersendikan pada akhlak. Berhijrah tidak harus memutus silaturahim dengan sahabat dan kerabat yang tidak ‘berhijrah’. Berhijrah tidak pula berarti mengasingkan diri, lalu memusuhi atau memandang rendah mereka yang tidak sejalan dengannya. Justru berhijrah berarti bertekad dan berjuang keras untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, baik dalam konteks lahiriah, konteks spritual, bahkan hingga konteks sosial. Sehingga nantinya, efek hijrah akan membawa dampak kebaikan kepada masing-masing personal maupun komunal, orang yang berhijrah akan justru tepa selira terhadap orang-orang yang berbeda dengan dirinya.
Dalam proses hijrah tersebut, Istiqamah menjadi fase paling penting yang perlu dijaga ketika seseorang telah bertekad untuk berhijrah. Sebab hijrah tidak hanya dimaknai dalam pengertian sempit sebagai perubahan penampilan fisik semata. Tetapi hijrah juga harus dibarengi dengan penataan hati. Sebab jika tidak, maka yang terjadi adalah munculnya kesombongan religiusitas, merasa paling benar dan menganggap ‘rendah’ orang-orang yang belum mendapat hidayah untuk berhijrah. Seperti fenomena hijrah dewasa ini yang ramai menghinggapi kaum muda, pelajar, mahasiswa, kalangan profesional, bahkan bahkan kalangan artis pesohor.
Di sisi lain, gairah hijrah menjadi daya tarik tersendiri untuk mempromosikan kesalehan dan kesunahan secara lahiriah. Semisal dari yang tidak berjilbab sama sekali menjadi berjilbab lebar, dari yang tidak berjenggot menjadi berjenggot lebat. Maka makna hijrah harus difokuskan menuju hijrah secara substansial. Hijrah lahiriah adalah hal terendah dalam Islam, yang lebih utama adalah Istiqamah dan menggapai level hijrah spiritual. Oleh karenanya, yang terpenting dari memaknai gerakan dan fenomena ‘hijrah’ adalah menyelami substansinya. Jangan sampai kita terjebak pada gerakan euforia lahiriah semata, tanpa memahami makna sebenarnya.
※ Menelaah Makna Hijrah
Khutbah Kedua