Khutbah I
Alhamdulillah, puji dan syukur mari sama-sama kita panjatkan kepada Allah SWT, Sang Pemilik alam semesta, atas jutaan nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Namun kenyataannya, nikmat-nikmat itu kerap kita kufuri, bahkan sering kali tanpa ada ungkapan rasa syukur sedikit pun atas pemberian tersebut.
Salah satu tanda bahwa kita mengkufuri nikmat Allah adalah ketika kita masih berani bermaksiat, melanggar larangan-Nya, dan meninggalkan perintah-Nya. Padahal, nikmat yang Allah berikan kepada kita jauh lebih banyak dibandingkan dengan ujian yang kita alami. Benar bahwa Allah memberikan cobaan untuk menguji hamba-Nya: sejauh mana kita menerima takdir-Nya (qadha dan qadar), seberapa besar keimanan kita kepada-Nya, dan sejauh mana kesabaran kita dalam menghadapi ujian tersebut. Bukankah dunia ini memang tempat ujian?
Namun, dibandingkan dengan ujian, lebih banyak nikmat yang kita terima dari Allah. Coba renungkan: betapa nikmatnya kita bisa menghirup udara? Betapa nikmatnya ketika kita meminum air putih yang menyegarkan hingga dahaga hilang? Tapi, sudahkah kita mensyukurinya dengan ketaatan kepada-Nya?
※ Nikmat Pandai Bahasa Arab
Maka sungguh, ketaatan kepada Allah adalah wujud nyata dari rasa syukur atas nikmat-nikmat-Nya. Mensyukuri nikmat Allah yang paling tepat adalah dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, Dzat yang Maha Memberi.
Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah,
Adakah dalil bahwa taat kepada Allah adalah tanda seseorang bersyukur? Mari kita buka Al-Quran. Banyak ayat yang menjelaskan perintah ibadah yang disandingkan dengan perintah untuk bersyukur. Di antaranya:
Surah Az-Zumar Ayat 66:
Artinya: "Maka sembahlah Allah saja dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur." (Surah Az-Zumar: 66)
Surah Al-‘Ankabut Ayat 17:
Artinya: "Dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (Surah Al-‘Ankabut: 17)
Surah Al-Baqarah Ayat 172:
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah." (Surah Al-Baqarah: 172)
Ayat-ayat ini menjadi dalil betapa mulianya orang yang taat kepada Allah. Karena orang yang taat adalah orang yang benar-benar pandai bersyukur, dan orang yang bersyukur adalah orang yang terus berusaha meningkatkan ketakwaannya kepada Allah, sumber segala kebahagiaan hakiki.
Rasulullah
Kumpulan tulisan dengan spirit kecintaan kepada Rasulullah SAW dapat teman-teman temukan
di siniMari kita lihat teladan agung kita, Rasulullah SAW. Di suatu malam, Rasulullah melakukan salat hingga kakinya bengkak. Siti Aisyah RA pun bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal seperti ini? Bukankah engkau telah dijaga oleh Allah (maksum)?” Maka Rasul pun menjawab:
Artinya: “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”
Jawaban Rasulullah SAW menunjukkan bahwa syukur yang sejati diwujudkan dengan amal nyata berupa ketaatan kepada Allah SWT.
Para ulama menyebutkan empat kriteria hamba yang bersyukur:
- Meyakini bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT, dan disampaikan kepada kita melalui wasilah Rasulullah SAW.
- Menerima (qana’ah) nikmat yang diberikan, disertai dengan rasa bahagia.
- Menggunakan nikmat itu untuk taat kepada Allah.
- Menginfakkan sebagian hartanya kepada makhluk Allah.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Selain kita sendiri harus pandai bersyukur, didik juga anak-anak kita agar tumbuh menjadi pribadi yang bersyukur. Tanamkan sejak dini agar mereka tidak membuang makanan dan tidak meremehkan nikmat sekecil apa pun. Tunjukkan bahwa dengan bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya dengan berlipat-lipat.
Semoga kita dan keluarga kita dijadikan sebagai hamba-hamba yang senantiasa bersyukur dan taat kepada Allah SWT. Amin.
※ Belajar Sikap Muruah dari Imam Al-Mawardi
Khutbah II
