Setelah sekian lama menemui jalan buntu, akhirnya gencatan senjata antara Palestina dan Israel tercapai pada 19 Januari kemarin. Kabar ini menjadi angin segar bagi rakyat Palestina dan nurani umat Islam di seluruh dunia. Saudara-saudara kita di Gaza akhirnya tersenyum kembali, merayakan momen ini dengan sukacita. Kemenangan perlahan mulai terlihat di pihak perjuangan: masyarakat Gaza.
Sebagaimana dirilis, proses gencatan senjata ini tidak dilakukan secara instan. Terdapat tiga tahap dalam rentang 50 hari ke depan: penghentian pertempuran, pertukaran sandera, penarikan pasukan, dan yang terpenting adalah upaya rekonstruksi Gaza paska kerusakan perang.
Paska peresmiannya, warga Gaza mulai berbondong-bondong kembali ke tempat tinggal mereka setelah berbulan-bulan berada dalam pengungsian. Di saat yang sama, tentara Israel (IDF) mulai menarik pasukannya dari pusat kota Rafah. Terlihat juga 600 truk pembawa bantuan kemanusiaan mulai memasuki jalur Rafah setelah sebelumnya ditutup rapat.
Kita sebagai warga Indonesia tentu menyambut dengan senang gencatan senjata ini. Menjelang 15 bulan lebih upaya genosida tersebut dilakukan, sebenarnya tak ada yang berubah dari realitas intrinsik masyarakat Gaza. Tekad, kesabaran, dan jiwa mereka tak pernah menyerah untuk memperjuangkan tanah mereka yang dirampas. Dengan jerih payah tersebut, Palestina mendapat dukungan penuh dari seluruh dunia. Sebaliknya, impian dan agresi Israel selama kurang lebih 15 bulan tak berbuah apa-apa kecuali kecaman dari seluruh dunia, bahkan dari masyarakat mereka sendiri.
Kegagalan Total Strategi Israel
Refleksi ini senada dengan yang diutarakan oleh David Hearst, Pimpinan Redaksi Platform Middle East Eye, dalam ulasannya berjudul, "Gaza Ceasefire: After 15 Months of Brutality, Israel has Failed on Every Front". Dalam amatannya, hambatan utama dalam proses gencatan senjata selama ini adalah Benjamin Netanyahu, bahkan bagi para negosiatornya, yaitu Amerika Serikat. Menurut pengakuan jurnalis Israel, Netanyahu sendiri-lah yang menolak gencatan senjata dan semua kesepakatan sebelumnya. Tak heran terdapat sedikit hambatan saat proses penyetujuan gencatan senjata 19 Januari kemarin.
※ Komponen Kemanusiaan dalam Al-Quran
Sejak awal serangan Oktober 2023, menurut David, tidak ada satu pun dari tujuan ekstrem Israel yang tercapai. Israel berupaya membasmi gerakan Hamas dengan membunuh pemimpin mereka dan membombardir markas mereka. Namun, regenerasi dan perekrutan Hamas ternyata jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan. Strategi Israel untuk mematikan gerakan Hamas selama rentang 15 bulan ini gagal total.
Israel tidak hanya kehilangan wilayah selatan yang ingin mereka rebut, tetapi juga kehilangan dukungan dari seluruh dunia. Fakta mengejutkan adalah perubahan opini publik di Amerika Serikat. Menurut dokumentasi Parting Shot, lebih dari sepertiga remaja Yahudi Amerika menyuarakan simpati pada Hamas: 42% percaya Israel melakukan genosida di Gaza, dan 66% bersimpati pada Palestina. Secara keseluruhan, ini adalah kerugian strategis besar bagi negara yang semula mengira akan menguasai Gaza dan dunia.
Menurut David, gencatan senjata di Gaza sekarang bukanlah akhir dari mimpi buruk Palestina, tetapi awal dari penarikan pasukan Israel di Gaza, Lebanon, dan Suriah. Hal ini sekaligus menjadi delusi bagi impian kemenangan Israel ke depan. Rakyat Gaza telah menunjukkan bahwa mereka dapat bertahan total dan tidak bergeming dari tanah yang mereka pijak. Dunia kini menyadari bahwa kekuatan total penjajah tidak cukup untuk mengalahkan tekad dan kemauan rakyat Palestina.
Gaza Telah Mengubah Dunia
Matt Kennard, seorang jurnalis dan penulis, berkomentar, "I Believe Gaza Has Changed the World" dalam sebuah acara Solidaritas Palestina di London pada Sabtu, 16 November 2024. Menurutnya, selama ini pemerintah Barat pro-Israel telah melakukan kebohongan besar. Mereka yang menyuarakan kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia, diam-diam menyokong Israel dengan mengirim bantuan senjata, mata-mata, dan peralatan logistik. Berkat Gaza, kita semua sadar bahwa apa yang Barat sebut sebagai kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia hanyalah kepalsuan belaka. Yang mereka pedulikan hanyalah kepentingan politis mereka.
Kennard juga menyoroti peran media dalam menyebarkan kebohongan dan propaganda isu Palestina. Sebagai seorang jurnalis, ia memahami bagaimana media arus utama Barat sudah tidak kritis dan objektif terhadap pemerintah. Sebaliknya, mereka membantu menyuarakan propaganda Israel agar menjadi arus utama. Namun, hari ini, berkat Gaza, dunia menyadari kebenaran di balik propaganda tersebut.
Apa yang disampaikan oleh David dan Kennard adalah suara kebenaran yang dapat menjadi renungan kita semua. Gaza, sejak awal, tidak pernah kalah. Meski 15 bulan ini mereka melalui ujian hidup yang amat berat, tekad mereka tidak pernah surut.
Penutup: Harapan dan Pelajaran dari Gaza
Gaza paska perang adalah harapan untuk dunia yang lebih manusiawi, politik internasional yang tidak munafik, dan perlawanan global terhadap misi terorisme Netanyahu. Gaza telah membuktikan bahwa perang bukan hanya soal persenjataan, tetapi juga soal kemauan untuk terus berjuang. Kini saatnya bagi kita untuk terus menyuarakan kebenaran, mendukung perjuangan Palestina, dan menciptakan dunia yang lebih adil.
Tabik!
